
Setelah saling membuat kesepakatan, akhirnya Zizi dan Encik Rafiq berdamai.
Hari ini mereka tampak berangkat kerja bersama.
Wajah Encik Rafiq pun terlihat sedikit lebih bergairah, mungkin karena permasalahannya dengan Zizi sudah terselesaikan.
Mereka berencana untuk bercerai secara baik-baik setelah proyek resort Bintan selesai.
"Kriingggg.." suara dering HP Encik Rafiq berbunyi ketika iya baru saja duduk di kursi.
Encik Rafiq segera mengangkat nya.
"Halo Tuan.." terdengar suara Bang Sugi menyapa dari seberang telepon.
"Iya sugi.. ada apa?tanya encik Rafiq pula.
"Tuan, Istri saya barusan telepon memberi kabar kalau Nadia dan Emak nya di usir dari kampung" cerita Bang Sugi mengagetkan Encik Rafiq.
"Kok bisa? Salah Nadia dan Mak apa?" tanya Encik Rafiq dengan wajah panik.
"Masyarakat menuduh Nadia sebagai pelakor dalam rumahtangga Tuan Muda dan Nona Zizi. Mereka juga menuduh Nadia hamil diluar Nikah.. "Ujar Bang Sugi menjawab
"Sepertinya masyarakat disana terpengaruh oleh berita yang kemarin terbit Tuan" ungkap Sugi lagi menjelaskan.
"Lalu bagaimana keadaan mereka sekarang ?" tanya Encik rafiq sangat risau.
__ADS_1
"Untuk sementara mereka tinggal di rumah saudara istri saya di kampung sebelah Tuan" jawab Sugi lagi.
"Kalau begitu pergilah kesana Sugi.. Dan bawa mereka kembali ke apartemen.. Aku tidak ingin Nadia dan Mak kenapa-kenapa. Apalagi Nadia sekarang sedang mengandung. Tolong pastikan mereka baik-baik saja.." ujar Encik Rafiq lagi pada Bang Sugi.
"Baik Tuan.. Saya izin pergi ya.." jawab Sugi pula.
"Pergilah.. bawa Mak Tua bersama mu... Agar Mak Tua dapat membujuk Nadia dan Mak nya untuk kembali ke apartemen" ujar Encik Rafiq lagi sebelum menutup telepon nya.
"Astagfirullah.... Ya ALLAH.... " Ujar Encik Rafiq lagi penuh sesal.
"Tolong jaga mereka ya ALLAH... Aku tidak ingin mereka kenapa-kenapa.. Dia sedang mengandung anakku ya ALLAH...!" bisik Encik di dalam hati nya.
"Akulah yang salah... Nadia tidak salah apapun... Dia hanya korban.. Aku sangat mencintainya.. Jaga Dia ya ALLAH.. jika ingin menghukum, hukum saja Aku.. Akulah yang salah.. Tolong jaga mereka ya ALLAH.." ucapnya lirih berdoa dengan pilu.
Encik Rafiq begitu cemas.
Encik Rafiq kemudian meraih telepon genggamnya dan menghubungi Mak Tua.
"Assalamualaikum Mak.." ucap Encik Rafiq membuka pembicaraan.
"Waalaikumsalam Tuan.. ini saya sudah di jalan bersama Sugi Tuan" jawab Mak Tua seakan tau benar tujuan Encik Rafiq menelepon dirinya.
"Tolong bujuk Nadia dan Mak nya ya... Lakukan apapun yang mereka mau.. Bantu saya ya Mak.. Pastikan Nadia baik-baik saja.." ujar Encik Rafiq lagi pada Mak Tua.
"Insyaallah Nadia baik-baik saja Tuan.. Mak Tua usahakan sebisa mungkin membujuk mereka agar mau kembali ke apartemen. Tuan tenang saja ya.." Ujar Mak Tua lagi mencoba menenagkan hati Encik Rafiq.
__ADS_1
"Terimakasih Mak.." ujar Encik Rafiq lagi menutup teleponnya.
Sahrul masuk kedalam ruangan kerja nya.
"Boss.. Saya sudah menemukan pelaku penyebar berita itu" ujar nya pada Encik Rafiq.
"Siapa? " tanya Encik Rafiq segera, sangat penasaran.
"Meri Boss.." jawab Sahrul mengagetkan Encik Rafiq.
"Kamu tidak salah menuduh kan Rul? " tanya Encik Rafiq tidak percaya.
"Tidak Boss, Saya sudah mengumpulkan semua bukti-bukti nya" ujar Sahrul dengan yakin.
"Astagfirullah..." ucap Encik Rafiq menggeleng kuat tidak percaya.
Meri yang merupakan seksrtaris pribadinya dan telah bekerja bertahun-tahun dengan nya, mengapa begitu tega menyebar berita murahan dan berusaha untuk menghancurkan Belibis Grup.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang Rul? Aku benar-benar tidak menyangka Meri mampu melakukan hal seburuk itu. Padahal Dia adalah salah satu orang yang paling Aku percaya di perusahaan ini selain kamu Rul" ujar Encik Rafiq lagi dengan wajah masih terlihat shock.
"Mau tidak mau Meri terpaksa kita beri sangsi Boss, Sangsi nya pun harus sesuai dengan kesepakatan dari hasil rapat dewan direksi nantinya" jawab Sahrul memberi penjelasan
"Meri hari ini tidak masuk, Dia izin sakit.
Kita akan adakan rapat direksi jam 2 siang nanti. Saya sudah menyiapkan segalanya" ujr nya lagi menjelaskan.
__ADS_1
"Baiklah.. Terimakasih Rul" balas Encik Rafiq pula.