Menikah Siri

Menikah Siri
BAB 63. Suram


__ADS_3

Encik Rafiq menjambak rambut nya kuat-kuat.


Dia bahkan berulang kali menghantamkan kepalan tangannya pada stir mobil yang berada tepat di depan nya.


Sudah hampir menjelang magrib, namun Encik Rafiq tetap tak beranjak dari parkiran rumah sakit.


"Abang minta maaf.... Maafkan Abang..." ucap nya pelan dengan penuh penyesalan.


Encik Rafiq sangat menyesali atas perbuatan nya yang telah menceraikan Nadia.


"Tidak seharusnya Aku melakukan hal itu.. Tapi Aku tidak punya pilihan lain.. Sekarang Dia pasti sangat membenciku.." ujar Encik Rafiq lagi dalam hati nya.


Suara azan magrib membuyarkan lamunan panjang nya.


Perlahan Encik Rafiq membawa mobil nya ke arah Mesjid yang terletak tidak jauh dari rumah sakit.


Encik Rafiq mengerjakan shalat magrib berjamaah bersama para jemaah mesjid.


Setelah itu barulah Encik Rafiq pulang kerumah nya.


"Fik.. Kemana saja kamu?? Kenapa tiba-tiba kamu menghilang sebelum jam istirahat kantor? Kamu lupa tadi sore kita ada rapat penting?" Sosor Zizi dengan banyak psrtanyaan ketika Encik Rafiq baru saja tiba dirumah.


Encik Rafiq tidak menanggapinya.


Dia terus berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya yang letih.

__ADS_1


Hampir dua jam lama nya Dia berada di dalam kamar mandi.


Merendam seluruh tubuh nya pada bathub yang air nya di beri tetesan aroma terapi.


Encik Rafiq menangis disana.


Meluahkan semua penyesalan yang membuat sesak didadanya, sampai puas.


"Fik.. Kamu kenapa sih??" Tanya Zizi lagi mendekat ke arah Encik Rafiq yang sedang mengancing baju piyama nya.


Lagi-lagi Encik Rafiq tidak menjawabnya sama sekali.


Dia hanya diam dan terus diam.


"Fik...!!!" Teriak Zizi di depan wajah Encik Rafiq dengan sangat kesal.


Ditatap nya wajah Zizi dengan sangat sinis.


"Pergilah.. Aku sedang tidak ingin bertengkar!" usir Encik Rafiq.


"Kamu memang benar-benar sudah tidak waras hanya karena perempuan kampungan itu??!! Jangan sampai Aku muak dengan semua nya dan benar-benar meninggalkanmu.!! Berhentilah mencari nya..Berhentilah memikirkan nya!! Luapakan Dia..!!! Ingat Fik.. Cuma Aku yang pantas menjadi istri kamu. Kamu punya beban dan tanggung jawab besar terhadap perusahaan yang sedang goyah sekarang. Dan Aku bisa menghancurkan nya dalam sekejap jika Kamu masih saja seperti ini!!" ancam Zizi pada Encik Rafiq.


Encik Rafiq mengepalkan tangan nya.


Ingin sekali rasanya iya menampar dengan keras wajah wanita cantik yang begitu arogan ini.

__ADS_1


Namun dengan sekuat tenaga di tahan nya.


"Cukup... Cukup sudah Zi.. Pergilah.. " Ujar Encik Rafiq lagi mengusir Zizi dari kamarnya.


Dengan penuh amarah Zizi berjalan keluar dan menutup pintu kamar dengan sangat keras hingga mengagetkan Mak Tua dan Bik Sari yang sedang membereskan dapur.


"Ada apa lagi dengan mereka Mak?" tanya Bik Sari pada Mak Tua.


"Entahlah.. Mak pun tak tau" jawab Mak Tua pula mengangkat kedua bahu nya.


"Lama-lama Sari rasa tidakk betah lagi kerja disni Mak.." ujar Bik Sari lagi.


"Kalau berhenti kerja disini, Sari nak kemana?" tanya Mak tua pula.


"Sari nak pulang ke kampung ajalah Mak.. Kembali bersawah.. " ucap Bik Sari lagi.


"Memang Pak Rital mau pulang kampung?" tanya Mak Tua lagi.


"Nanti Sari bujuk.. Dia kan suami Sari mestilah mau mendengarkan permintaan istrinya.." jawab Bik Sari lagi.


"Kalau Sari pergi dari rumah ni.. Mak tinggal sendirian lah" Ujar Mak tua lagi dengan raut sedih.


" Maafkan Sari ye Mak.." ujar Bik Sari pula merasa tidak tega pada Mak Tua.


"Mak Rindu dengan Diah, Sar.." ujar Mak Tua pula mengenang masa-masa indah ketika Nadia ada di rumah ini.

__ADS_1


"Sari juga Mak" jawab Bik Sari pula.


Rumah yang sejak kedatang Nadia penuh dengan canda tawa dan lagu-lagu indah yang mengalun dari pita suara Nadia kini berubah menjadi suram dan sepi. Sesekali hanya terdengan teriakan keras dari Zizi yang bertengkar hebat Dengan Encik Rafiq suaminya.


__ADS_2