
Nadia uring-uringan di dalam kamarnya.
Merasa bingung dan terlalu gugup.
"Apa yang harus Aku lakukan??Balas apa ya??" ucapnya pada diri sendiri.
Pesan WA yang masuk dari Encik Rafiq membuatnya menjadi tidak karuan.
"Mulai malam ini tidur di kamar Abang ya..!" ucap Nadia lagi membaca pesan singkat dari Encik Rafiq suaminya.
"Ya ALLAH apa yang harus Aku lakukan?? Jawab apa ya??" ujar nya lagi berbisik pada diri sendiri.
Nadia menghempaskam tubuh nya di atas tempat tidur lalu memejam kan mata nya yang tidak mengantuk sama sekali.
Nadia benar-benar merasa bingung.
Pesan WA Encik Rafiq yang meminta untuk tidur di kamar nya mulai malam ini, membuat Nadia bingung dan tidak tau harus berbuat apa.
Sejak awal Nadia datang dan tinggal di istana Datuk Iskandar ini, tidak pernah sekalipun Nadia menginjakkan kakinya di kamar Encik Rafiq. Bahkan untuk memegang ganggang pintu nya pun Nadia tidak pernah.
Lalu bagaimana mungkin iya sanggup keluar, mengetuk dan masuk kedalam kamar itu dengan sendirinya.
Mustahil Nadia mampu melakukan itu.
Membayangkan nya saja Nadia panas dingin.
Kamar itu terlalu asing baginya.
"Kringg.." suara dering HP membuyarkan lamunan Nadia.
Dengan gugup diangkatnya telepon Encik Rafiq.
"Kok gak dibalas? Gak mau tidur dikamar Abang?" tanya Encik Rafiq langsung tanpa basa basi melalui sambungan telepon.
"Bukan begitu By.. Diah kan belom pernah sekalipun tidur di kamar lelaki.." jawab Nadia polos.
Terdengar suara Encik Rafiq terkekeh dari seberang telepon.
Lalu suaranya hilang.
Encik Rafiq mematikan teleponnya.
Nadia jadi merasa aneh dan takut Encik Rafiq salah mengartikan maksud nya.
"Tok..tok..tok.." terdengar suara ketukan pintu dari arah luar kamar.
Nadia segera bangkit dan bergegas membuka pintu.
__ADS_1
"By.." Sapanya manja ketika melihat Encik Rafiq berdiri di depan pintu kamar nya.
By adalah singkatan dari kata Hubby, panggilan sayang yang Nadia sematkan untuk Encik Rafiq sang suami.
Encik Rafiq sangat senang ketika mendengar Nadia memanggilnya dengan panggilan itu. Terdengar begitu menggemaskan dan manja ditelinga nya.
"Abang nak jemput bini Abang untuk tidur dikamar pribadi Abang..!!" Ujar Encik Rafiq lalu meraih Nadia dalam gendongan nya.
Nadia kaget namun tidak mampu berbuat apapun.
Tubuh mungilnya dengan mudah di bopong oleh Encik Rafiq yang bertubuh tinggi kekar menuju kedalam kamarnya.
"Mulai malam ini.. Kamar ini jadi kamar kita berdua..!!" ucap Encik Rafiq sembari menurunkan Nadia tepat di depan tempat tidur yang berukuran besar.
Nadia kemudian memandangi sekeliling kamar yang ukiran nya dua kali lebih besar dari kamar tidurnya.
Kamar dengan konsep klasik terlihat begitu maskulin dan nyaman.
Sangat megah dan indah.
"Kenapa?" tanya Encik Rafiq lagi pada Nadia.
Nadia menggeleng dan tersenyum.
"Yaudah, besok sebagian pakaian kamu pindahin kekamar ini ya.." ujar nya lagi sembari mengelus pipi mulus Nadia lalu beranjak kekamar mandi.
Foto pernikahan Encik Rafiq dan Zizi terpampang besar di sisi sebelah kanan tempat tidur.
Nadia terus memandangi foto itu.
Tiba-tiba perasaan nya mendadak perih dan sakit.
Rasa bersalah dan takut membayang di fikiran nya.
Tak tebayangkan oleh nya bagaimana reaksi Zizi ketika mengetahui hubungan nya dengan Encik Rafiq.
Nadia juga tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi ketika orang-orang mengetahui bahwa dirinya adalah istri kedua yang dinikahi secara siri oleh Encik Rafiq.
Nadia begitu takut ketika membayangkan akan di cap sebagai pelakor dalam rumah tangga Encik Rafiq dan Zizi.
Mumgkin orang-orang akan menghujat nya dan berfikir Nadia adalah perempuan licik yang hanya menhejar harta Encik Rafiq.
Nadia menangis tersedu membayangkan hal-hal buruk yang akan terjadi pada nya di kemudian hari.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Encik Rafiq yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Namun belum sempat Nadi menjawab, Encik Rafiq menyadari perubahan sikap Nadia yang tiba-tiba menangis karena melihat foto pernikahan nya dengan Zizi yang tepampang dengan jelas.
__ADS_1
"Maaf.. seharusnya Foto itu Abang turun kan.." ucap nya masih sambil memeluk Nadia.
"Tidak By.. tidak perlu.. Diah hanya takut.. Diah takut di cap pelakor.." ujar Nadia pula masih menangis tersedu dalam pelukan Encik Rafiq.
"Tidak sayang.. Kamu bukan lah pelakor.. Kamu wanita yang begitu baik yang pernah Abang kenal. Abang janji, setelah proyek pembangunan resort di Bintan selesai, Abang akan segera mengurus perceraian dengan Zizi lalu mendaftarkan pernikahan kita ke pemerintah. Tolong bersabarlah sedikit ya..!! Abang janji, nanti ketika peresmian Resort, Abang akan memperkenalkan mu kepada semua nya sebagai istri Abang yang sah. Jadi Abang mohon, bersabarlah sedikit lagi, Ok..!!" ujar Encik Rafiq membujuk Nadia istrinya.
Nadia mengangguk pelan dan sedikit merasa lega mendengar janji Encik Rafiq padanya.
"Sayang... Seumur hidup Abang, ini adalah pertama kalinya Abang merasakan begitu bahagia karena dicintai dan mencintai. Kehadiran sayang merubah semua kesunyian dan kepedihan Abang menjadi hari-hari yang penuh dengan kebahagiaan. Abang merasa kembali bersemangat tiap harinya. Rasa yang begitu kuat dan menyenangkan. Rasa yang belum pernah sekalipun Abang rasakan sebelumnya dengan perempuan lain, bahkan dengan Zizi. Percayalah. I love you.. Really loce you.." Ujarnya lagi lalu mencium kening Nadia.
Lama...
Nadia memejamkan matanya.
Menikmati desiran haru bahagia yang mengalir di sekujur tubuhnya
"I love you too By.." jawab nya kemudian sambil mendongakkan kepalanya menatap sang suami.
Encik Rafiq tersenyum.
Dihapusnya sisa air mata yang tertinggal di pipi sebelah kiri Nadia dengan sebuah kecupan lembut.
Lalu mereka kembali berbalas senyum.
Encik Rafiq meraih jemari Nadia yang membeku.
"Dingin sekali?" tanya nya pada Nadia.
"Sebab Diah gugup.. ini kan pertama kali nya Diah masuk kedalam kamar ini.." jawab Nadia dengan polos.
Encik Rafiq tersenyum dan sangat suka melihat ekspresi culun Nadia yang begitu polos.
Diciumnya jemari itu, lalu disematkan nya kedalam jari-jari nya yang hangat dan kekar.
"Srlupp" dengan sigap diraup nya bibir mungil sang istri sembari membaringkan nya d atas tempat tidur.
Tangan nya yang semula tersemat, kini bergerak dan mulai bergeriliya.
"Ohh.. By...!!!" ucap Nadia yang hanya pasrah menikmati tiap kecupan yang di berikan Encik Rafiq disetiap inci tubuh mungilnya.
Dan lagi, malam yang sunyi menjadi saksi betapa indahnya cinta yang kini semakin erat terjalin antara dirinya dan Encik Rafiq suaminya.
"I love you..." bisik Encik Rafiq sembari tersenyum puas di telinga Nadia setelah mereka selesai menggapai puncak ternikmat malam ini.
Nadia kemudian tertidur dalam hangat nya pelukan sang suami di balik selimut tebal berwarna biru.
"I love you too By.." jawab Nadia pula sebelum terlelap dalam mimpi indahnya.
__ADS_1