
"Kita kekantor dulu ya.. Setelah itu baru kita kerumah sakit. Soalnya ada beberapa dokumen yang ingin saya selesaikan dulu sebentar. Gakpa kan?" tanya Encik Rafiq dengan pandangan yang tetap fokus ke arah jalan.
"Datuk gimana? Kalau gitu Diah telepon dulu ya..?" tanya Nadia balik mengkhawatirkan Datuk Iskandar yang di rawat dirumah sakit.
"Saya udah telepon tadi. Dia gak masalah kok. Tapi nanti malam kita mesti nginap di rumah sakit karena Thamrin masih belom bisa, anaknya masih sakit. Dan saya tidak mau jaga Papa sendirian tanpa ditemani kamu!!" jawab Encik Rafiq sambil mencubit gemas hidung Nadia.
"Aauuhhh..." Keluh Nadia kesakitan.
"Tapi pakaian Diah gimana? Besok pagi Diah sudah mulai kuliah..!?!" ujar Nadia lagi.
"Nanti minta tolong Mak Tua aja ambilin trus biar Sugi antar kerumah sakit ya!" jawan Encik Rafiq lagi membujuk istrinya.
"Baiklah kalau begitu" Nadiapun menyetujui saran suaminya.
Ini adalah kali kedua Nadia mengunjungi Belibis group, Perusahaan yang berdiri cukup megah milik keluarga Encik Rafiq yang kini telah menjadi suaminya.
Nadia berjalan pelan mengikuti langkah encik Rafiq.
Nadia selalu merasa risih ketika mata para karyawan tertuju pada nya.
Mereka seolah tidak suka melihat kedatangan Nadia bersama Encik Rafiq.
"Kamu mau makan apa? Biar nanti saya minta Meri untuk memesankan nya buat kamu" tanya Encik Rsfiq ketika mereka sudah masuk keruang kerja pribadi nya.
"Taklah Pakcik, Diah tadi sudah makan di kantin kampus. Sekarang masih kenyang" jawab Nadia sembari duduk di sofa panjang berwarna hitam yang berada disudut ruangan.
"Baiklah kalau begitu saya selesaikan kerjaan dulu ya.." ucap Encik Rafiq sambil mengelus lembut rambut sang istri.
"Srlupp" Encik Rafiq tidak kuasa menahan godaan didalam dirinya.
Dilumatnya dalam bibir Nadia.
Nadia pun balik membalasnya.
Lama.
Mereka terus saling ***** sampai sebuah ketukan mengagetkan mereka.
__ADS_1
"Tok..tok..tok.." Permisi Pak.
Terdengan suara Meri sekertaris Encik Rafiq mengetuk pintu dari luar.
Nadia dan Encik Rafiq segera menghentikan aksi nya.
Nadia memperbaiki duduk nya.
Encik Rafiq berdiri membuka pintu lalu menyuruh Meri masuk kedalam ruangan nya.
Dengan pakaian nya yang begitu feminim dan seksi, terlihat jelas iya berusaha menggoda Encik Rafiq.
Lalu melirik tajam kearah Nadia yang memperhatikan nya dari sofa yang berada di sudut ruangan.
Nadia menjadi sangat kesal.
Nadia kembali mengingat ketika Meri mengancam nya untuk tidak ikut bersaing mencari perhatian Encik Rafiq beberapa bulan lalu ketika Nadia pertama kali diajak Encik Rafiq ke kantor ini.
"Pakcik.. Tetiba Diah rasa lapar dan hauslah" Ujar Nadia dengan logat melayu dan di buat begitu manja.
"Mau makan apa?" tanya Encik Rafiq sambil memandang kearah Nadia.
"Oke.." jawab Encik Rafiq sambil tersenyum lalu memerintahkan Meri untuk membelikan pesananan Nadia.
Dengan muka masam Meri keluar dari ruangan Encik Rafiq sembari menggerutu didalam hati nya.
"Diah tidak suka dengan sekertaris Pakcik itu" ujar Nadia mendekat kearah Encik Rafiq yang sibuk memeriksa kelengkapan dokumen-dokumen nya.
"Kenapa?? Kamu cemburu? kamu takut tersaingi oleh Dia? Meri sudah lama menjadi sekertaris saya. Pekerjaan nya sangst teliti dan Rapi. Memang sih kalau di bandingkan atara kamu dengan Meri tentu saja perbandingan nya jauh sekali. Ibarat Gitar spanyol dengan ukulele. Hahahaha" ucap Encik Rafiq terkekeh mengolok sang istri.
Nadia malu dan merasa sangat tersinggung.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Dengan kesal Dia kembali duduk di sofa menghadap kearah jendela.
Encik Rafiq menyadari sikap nya yang berlebihan sehingga menyinggung perasaan sang istri.
__ADS_1
"Sayang.. Maaf.. Saya kan cuma bercanda.." ujar nya mendekat dan meminta maaf.
Nadia tidak lagi bisa membendung air mata nya.
Dia terus diam tanpa menjawab permintaan maaf Encik Rafiq.
Sedikit memaksa Encik Rafiq kemudian membalikkan tubuh Nadia menghadap kearah nya.
"Sayang... Abang cuma bercanda.. Secantik apapun dan seseksi apapun Meri tidak membuat Abang tertarik sama sekali pada nya. Seumur hidup Abang, baru 2 kali Abang mencintai perempuan. Pertama almarhumah Mama dan yang kedua kamu. Bahkan Zizi pun tidak pernah bisa membuat abang mencintainya. Bagi Abang.. bukan fisik tapi hati. Cuma kamu perempuan yang berhasil membuat Abang merasa nyaman dan kembali bergairah. Cuma kamu satu dan insyaallah untuk selamanya. Abang janji, sesegera mungkin mengurus perceraian dengan Zizi dan segera mendaftarkan pernikahan kita kepemerintahan. Oke?!.Jangan nangis lagi please.. Im sorry.. I love you.. So much.." ujar Encik Rafiq membujuk Nadia yang sedang merajuk.
Nadia akhirnya mengangguk menerima permintaan maaf sang suami.
Encik Rafiq kemudian mencium mesra istrinya.
Nadia pun sudah tidak segan untuk membalasnya
Mereka kemudian saling mengeratkan pelukan.
Encik Rafiq tidak mampu lagi menahan hasrat nya yang bergelora.
Dia berdiri mengunci pintu dan menutup semua tirai jendela.
Lalu kembali menggagahi Nadia yang sudah pasrah menerima semua tindakan suaminya.
Encik Rafiq berubah menjadi seekor singa yang siap menerkam habis mangsa nya.
Dia sudah tidak perduli dengan dokumen-dokumen yang semestinya iya selesaikan.
Bahkan dering telepon di HP nya pun tidak lagi iya gubris.
Baginya yang terpenting saat ini adalah meluahkan segala hasratnya yang memuncak.
Menikmati tiap sudut kemolekan tubuh sang istri.
Tanpa terkecuali.
Helaan nafas dan keringat yang bercucuran mengantarkan mereka pada titik kepuasan surga dunia.
__ADS_1
Mereka pun kemudian berbalas senyum puas.