
Zizi dan Encik Rafiq tiba di Bintan pukul 16.05 Wib. Mereka langsung menuju hotel Belibis yang jarak nya tidak jauh dari lokasi rencana proyek pembslangunan resort.
Dengan nafas berat, Encik Rafiq langsung membaringkan tubuh nya di atas kasur springbad berukuran besar yang ada di kamar hotel.
Sementara Zizi memilih untuk ke kamar mandi membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket akibat keringat.
Zizi dan Encik Rafiq berada dalam kamar VVIP hotel yang merupakan kamar spesial yang memang dipersiapkan bagi para orang-orang penting dalam Belibis group ketika hendak menginap di hotel.
Dan tentu saja tidak ada alasan untuk Zizi dan Encik Rafiq tidur di kamar terpisah mengingat mereka masih merupakan pasangan suami istri yang sah.
Dan sejujurnya Encik Rafiq juga Zizi merasa agak canggung karena setelah beberapa tahun lamanya berpisah, ini adalah kali pertama bagi mereka kembali tidur di atas pembaringan yang sama.
Kamar yang mereka tempati saat ini merupakan kamar yang cukup bersejarah bagi mereka berdua.
Kamar yang pernah di sulap menjadi kamar pengantin sebagai hadiah untuk bulan madu mereka ketika mereka baru saja menikah.
Mereka memang sempat menikmati kebersamaan bersama selama hampir setahun lamanya.
Namun ketika Zizi memutuskan untuk melanjutkan kuliah nya di Sidney, disitulah mulai awal keretakan hubungan mereka.
Encik Rafiq masih ingat dengan jelas betapa hancur hati nya waktu itu ketika Zizi mengatakan kalau iya telah berusaha untuk menerima dan mencintai Encik Rafiq sebagai suaminya tetapi ternyata iya tetap tidak bisa.
S
__ADS_1
dan akhirnya Sidney merupakan keputusan final Zizi untuk meninggalkan Encik Rafiq hingga bertahun-tahun lama nya.
"Astagfirullah.." ujar Encik Rafiq didalam hatinya lalu bangkit menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, bergantian dengan Zizi.
Setelah shalat magrib, Encik Rafiq dan Zizi bersiap untuk menghadiri jamuan yang dibuat oleh salah satu investor dalam proyek pembangunan resort.
Zizi yang memang cantik selalu membuat takjub tiap lelaki yang memandang nya.
Begitupun Encik Rafiq.
"Kamu cantik sekali" puji nya pada Zizi yang mengenakan dress merah panjang membentuk jelas lekukan tubuhnya lalu dipadukan dengan sentuhan lipstik yang senada membuat kesan seksi dan sangat sensual di tubuh Zizi.
"Terimakasih" jawab Zizi tersenyum bahagia mendapatkan pujian.
Sepanjang acara jamuan, Encik Rafiq selalu menggandeng mesra sang istri.
Mereka terlihat begitu mesra.
Memang itulah tujuan nya, agar gosip yang menyebar tentang permasalahan pernikanhan mereka segera hilang dan terbukti tidak benar.
Mereka kemudian semakin mesra ketika beberapa wartawan tabloid bisnis meminta mereka untuk berfoto bersama.
Dengan senang hati Encik Rafiq memeluk mesra dan mencium pelan pipi sang istri ketika di foto.
__ADS_1
Kemesraan itu akhirnya berlanjut sampai ke dalam kamar hotel.
Encik Rafiq meluahkan segala kerinduan nya yang terpendam terhadap Zizi.
Kemarahan nya telah menghilang.
Dikalahkan oleh hasrat kelelakian nya.
Zizi pun tidak menolak sama sekali.
Dibiarkan nya sang suami melucuti gaun merahnya dan membaringkan nya di ayas temlat tidur lalu bergeriliya menikmati tiap lekukan tubuh nya yang padat dan sintal.
Encik Rafiq benar-benar telah dibutakan hawa nafsu. Kekaguman akan kecantikan wajah dan kemolekan tubuh Zizi benar-benar telah membuat pertahanan nya runtuh.
Lagipula apa yang mereka lakukan tentu saja tidaklah berdosa.
Mengingat mereka memang masih pasangan suami istri yang sah dimata hukum dan agama.
Sejenak Encik Rafiq benar-benar terlupa akan Nadia, wanita sederhana yang telah iya nikahi secara siri.
Wanita yang telah memberikan nya cinta yang tulus tanpa pamrih.
Wanita yang sedang gelisah sendirian menanti kabar yang tak kunjung tiba dari sang suami.
__ADS_1
Di Bintan Encik Rafiq menghabiskan malam yang panjang dengan nikmat bersama Zizi istri pertamanya.
Sementara Nadia, menghabiskan malam yang sunyi di apartemen dengan tangisan pilu karena lelah menanti kabar yang tak kunjung ada. Dalam tangisnya Nadia berdoa semoga sang suami tercinta dalam keadaan baik-baik saja.