
Encik Rafiq kembali muntah-muntah akibat efek dari cuci darah yang baru setengah jam lalu selesai iya lakukan.
Perutnya terasa begitu sakit dan mual.
Tubuhnya juga begitu lemas tak bertenaga.
Mak Tua dan seorang perawat perempuan dengan sabar dan telaten mendampingi Encik Rafiq yang terbaring lemah tampak pucat.
"Kriinngg... " dering HP Mak Tua berbunyi.
Nama Tati, Mak nya Nadia terpampang jelas di layad HP mak Tua.
"Assalamualaikum... "Ujar Mak Tua mengangkat telepon.
Mak Tua berbicara dengan nada sedikit berbisik sekitar kurang lebih lima menit lama nya.
Lalu Mak Tua segera mematikan teleponnya dengan wajah panik dan pucat.
"Tuan.. Diah dan Mak nya ada di sini... Diah jatuh di kamar mandi dan mangalami pendarahan dan harus segera di operasi" ucap Mak Tua mengagetkan Encik Rafiq.
Rasa kaget dan mual kembali menyerang tubuh Encik Rafiq.
__ADS_1
Encik Rafiq kembali memuntahkan semua isi perutnya tak bersisa.
Encik Rafiq di landa panik.
"Pergilah segera lihat kondisi Diah Mak.. Segera beri tahu saya tentang kondisi nya..! " ujar Encik Rafiq menyuruh Mak Tua segera melihat keadaan Nadia.
Mak mengangguk meninggalkan Encik Rafiq yang terlihat begitu gelisah terbaring di tempat tidur nya ditemani seorang perawat.
Mak Tua berlari menuju arah ruang operasi di lantai satu rumah sakit.
"Tati...! " teriak kecil Mak Tua memanggil nama Mak Nadia.
Mak Nadia setengah berlari kearah Mak Tua lalu memeluknya erat dan menangis.
"Diah sedang menjalani operasi Mak.. Bayi nya harus di lahikrkan sekarang juga.. kalau tidak akan berbahaya untuk mereka berdua... " cerita Mak Nadia sambil menangis terisak.
"Astagfirullah.. " jawab Mak Tua kaget mendengar ucapan Mak Nadia.
" Tolong doakan semua nya lancar ya Mak...! "ucap nya lagi menangis sambil melonggarkan pelukannya.
"Aamiin ya ALLAH.. Kita doakan sama-sama ya.. " ucap Mak Tua pula membimbing Mak Nadia untuk duduk di kursi tunggu yang berada tepat di bagian depan ruang operasi.
__ADS_1
"Rafiq kemana Mak? Saya dah coba hubungi Dia berkali-kali tapi Hp nya tidak aktif. Dia benar-benar lari dari tanggung jawab nya?? Asal Dia tau Mak.. Bukan harta yang melimpah seperti saat ini yang di butuhkan Diah Mak.. Diah butuh semangat dari Rafiq Mak.. Diah butuh Rafiq ada di samping nya.. Bahkan ketika sebelum Diah pingsan tidak sadarkan diri tadi, Diah masih berteriak memanggil nama Rafiq Mak.. Rafiq dimana??" tanya Mak Nadia sambil mengguncang kedua lengan Mak Tua yang terdiam tak mampu menjawab.
"Maaf.. Tuan Muda belum dapat kemari.. Dia bukan lari dari tanggung jawab.. Dia hanya.. " ucap Mak terhenti mengingat permintaan Encik Rafiq yang memohon untuk tidak memberitahu siapapun tentang penyakit nya.
"Dia hanya apa Mak?? Dia hanya lagi sibuk mengurus perusahaan nya?? Apakah perusahaan nya lebih penting dari anak nya? " tanya Mak Nadia sedikit emosi.
Mak Tua menggeleng kuat.
Dan baru saja Mak Tua berencana untuk mengatakan yang sejujurnya tentang Encik Rafiq, tetapi tertahan dan batal.
Tampak oleh nya dari kejauhan Encik Rafiq berjalan tergopoh menyusuri lorong rumah sakit menuju arah Mak Tua dan Mak Nadia.
Dengan pilu Mak Tua menunjuk ke arah Encik Rafiq pada Mak Nadia yang masih dipenuhi amarah karena merasa sangat kecewa dengan sikap Encik Rafiq.
"Assalamualaikum Mak.. " sapa Encik Rafiq mencoba memberi salam ketika langkah nya sudah berdiri tepat di depan mantan Mak mertuanya.
Mak Nadia berdiri dengan wajah merah menahan amarah.
"Plaaakk!! " sebuah tamparan keras mendarat di pipi Encik Rafiq.
"Jika terjadi sesuatu hal buruk terhadap Diah dan anak nya, Mak tidak akan pernah memaafkan mu!! " ucap Mak Nadia meluahkan emosi nya.
__ADS_1
Encik Rafiq terdiam meringis mengelus pipi nya.