Menikah Siri

Menikah Siri
BAB 52. Kecewa


__ADS_3

Nadia keluar dari rumah sakit di jemput oleh Mak Tua dan Bang Sugi.


Lisa juga ada dengan setia untuk menemani nya.


Sesampainya dirumah, Nadia langsung diminta untuk beristirahat oleh Mak Tua.


Sementara dirinya dan Lisa membersihkan apartemen Nadia yang telah 5 hari ditinggal.


Selesai membersihkan apartemen dan memasak, Mak Tua kembali membangunkan Nadia untuk makan siang bersama.


"Mak.. Lis.. Terimakasih untuk semua bantuan nya.. Diah tak dapat balas semua kebaikan Mak dan Lisa.. Diah sangat bersyukur memiliki kalian.. Terimakasih" ucap Nadia pada Mak Tua dan Lisa.


"Bagi Mak.. Diah dah Mak anggap sebagai anak Mak sendiri.. Tak payah ucap terimakasih.. Mak bahagia bisa berada disini membantu Diah" ujar Mak tua dengan senyuman yang amat tulus.


"Aku juga.. Bagiku kamu tidak hanya sekedar sahabat.. Tapi sudah seperti saudara kandung.. Jadi tak perlu merasa sungkan.. Biasa aja kali saayyy.." ucap Lisa pula menggoda.


Mereka tersenyum bahagia bersama-sama.


Mak dan Lisa menemani Nadia hingga sore hari.


Setelah jam 16.05 Wib barulah Lisa dan Mak Tua berpamitan.


"Nanti Tuan Muda akan segera kesini setelah pulang kerja.. Diah tak apa kan di tinggal dulu sendiri?" tanya Mak Tua masih agak khawati.


"Tak apa Mak.. Diah dah Oke.." jawab Nadia sambil menggandeng manja lengan Mak Tua.


Nadia mengantar Mak Tua dan Lisa sampai keluar kepintu apartemen.

__ADS_1


Dengan sedikit senyuman Nadia melambaikan tangan sebelum mereka benar-benar hilang dari pandangannya.


Nadia kembali merasa sangat sepi di apartemennya.


Iya duduk di tepi ranjang lalu meraih HP nya yang terletak diatas Nakas kecil di sudut bagian atas kepala tempat tidur.


sudah tak terhitung berapa banyak panggilan telepon tidak terjawab dari Encik Rafiq suami nya.


Bahkan ada lebih dari 50 Pesan permintaan maaf Encik Rafiq pada nya.


Namun tidak satupun dibalas oleh Nadia.


Nadia begitu kecewa terhadap sikap Encik Rafiq.


Nadia membaringkan tubuhnya yang masih lemas dan mencoba untuk tidur agar dapat melupakan sejenak kepedihan didalam hati nya.


Nadiapun tertidur.


Dia yakin dengan pasti yang datang adalah Encik Rafiq suaminya.


Nadia hafal betul suara langkah kaki Encik Rafiq sang suami.


Encik Rafiq masuk kedalam kamar.


Mendekat kearah Nadia yang berbaring menghadap tembok.


Dengan ragu-ragu Encik Rafiq duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


"Sayang... Maafkan Abang.." ucapnya sangat lembut.


Nadia diam tidak menjawab.


"Sayang.. Please .. Abang minta maaf.. Jangan diam seperti ini.. Abang siap untuk sayang maki.. sayang caci.. sayang pukul.. Apapun itu yang bisa membuat sayang memaafkan Abang.. Please..." ucap Encik Rafiq dengan suara bergetar.


Nadia terus diam tidak menoleh sedikitpun.


Kekecewaan nya sudah teramat dalam.


Tubuhnya sedikit tergoncang menahan tangisan nya.


Dia tidak ingin Encik Rafiq tau kalau dirinya sedang menangis.


"Astagfirullah.." ucap Nadia dalam hati mengumpulkan segenap kekuatan nya untuk mengeluarkan suara.


"Pergilah By.... Diah butuh waktu.. Diah butuh istirahat.. Diah capek.." jawab Nadia mengusir Encik Rafiq dari dalam kamar.


"Sayang... Abang minta maaf..!!" ucap Encik Rafiq lagi.


" Tega nya kamu By... Kamu dulu janji akan menceraikan Zizi dan mendaftarkan pernikahan kita pada negara. Tapi kenyataan nya jauh berbeda.. Demi proyek itu kamu lupakan semua nya.. Bahkan terang-terangan memberitakan tidak ada orang lain selain Zizi.. Lalu Aku apa By?? Bahkan selama Aku sakit pun kamu tidak pernah menjenguk ku.. Dan lagi.. itu hanya karena kamu takut orang lain tau tentang Aku.. Begitu hina nya Aku By..??!! Sampai kapan kamu mau menyembunyikan pernikahan kita?? Aku rasa Kamu tidak akan pernah siap untuk memberitahu pada semua tentang Aku yang hanya sorang istri siri mu!! " tanya Nadia di sela isak tangis nya.


"Tidak begitu sayang.. Abang minta maaf.. Semua tidak seperti yang sayang bayangkan.. Semua memang sangat sulit.. Abang minta maaf!!" ucap Encik Rafiq lagi memohon.


"Sudahlah By.. Pergi lah..!!" ujar Nadia lagi dengan nada yang lebih tinggi. Lalu iya menutupi seluruh wajah nya dengan bantal dan meluahkan semua kemarahan nya disana.


Sayang... Abang minta maaf..!!" ucap Encik Rafiq lagi.

__ADS_1


Tapi Nadia tetap diam tidak bergeming.


Encik Rafiq mengalah dan pergi keluar kamar meninggalkan Nadia yang terisak menahan pilu.


__ADS_2