Menikah Siri

Menikah Siri
BAB 23. Tentang Anak


__ADS_3

"Saya tidak pulang kerumah malam ini. Thamrin tidak bisa datang, anaknya sedang demam. Ba'da isya nanti Sugi akan datang menjemputmu, jadi sekarang kita keluar pergi cari makan malam dulu yuk!" Ucap Encik Rafiq pada Nadia setelah mereka mengerjakan shalat magrib berjamaah.


Nadia mengangguk menuruti ajakan sang suami.


Mereka berjalan menuju lift yang akan membawa mereka menuju Healty cafe & Bistro. Sebuah restoran yang berada di lantai 8 rumah sakit.


Kali ini mereka memilih untuk duduk di bagian balkon depan restoran.


Semilir hembusan angin malam sedikit membuat bulu kuduk merinding.


Restoran ini pernah mejadi tempat mereka membuat kesepakatan sebelum memutuskan untuk menikah.


Dan kini kesepakatan bodoh itu telah mereka ganti untuk berjanji selalu bersama dalam suka dan duka.


Nadia duduk disisi sebelah kiri Encik Rafiq.


Jari tangan mereka saling terpaut dan sesekali berbalas sentuhan lembut dengan begitu mesra.


Mereka berdua benar-benar telah di mabuk cinta.


"Kringg.." Hp Nadia berdering.


Segera di ambil nya HP yang berada di dalam tas selempang nya.


"Pak Cik.. Ngapain telepon?" tanya Nadia heran ketika melihat nama Pak Cik tertera di layar HP nya.


"Saya mau lihat nama saya di Hp kamu.. Ganti dong.. Kan udah suami istri.. kok masih 'Tuan Muda?" pinta Encik Rafiq pada Nadia.


"Memang nya nama Diah sudah di ganti di hp Pak Cik?" tanya Nadia balik.


"Sudah..ini!!" jawab Encik Rafiq sambil menunjukkan nama ' My love' di layar Hp nya.

__ADS_1


"Ya ALLAH... ternyata lelaki tua dan dingin ini sweet banget" bisik Nadia dalam hati.


Nadia tersenyum melihat nama nya di layar HP Encik Rafiq.


"Baiklah Diah ganti ya.." ujar Nadia pada Encik Rafiq.


Lalu kemudian menuliskan sebuah nama di layar Hp nya.


"Sudah.." jawab Nadia sambil tersenyum.


"Siapa? Coba liat?" ucap Encik Rafiq penasaran.


"Tebaklah.." jawab Nadia lagi sambil menggeleng dan tersenyum.


"Suamiku? My husband? atau kekasihku?" tebak Encik Rafiq pula.


"Bukan.." jawab Nadia menggeleng lagi dan sedikit menahan tawa.


"Jadi siapa?" ucap Encik Rafiq lagi bertanya sambil mengacak dengan gemas rambut lurus istrinya.


Dan Hp nya segera berpindah tangan di genggaman Encik Rafiq.


'My lovely Pakcik Husband'


Encik Rafiq memandangi nama yang telah diganti oleh Nadia dipanggilan telepon nya.


Dia tersenyum manis lalu memandang kearah Nadia.


"I love you" bisik nya lalu mencium kening Nadia lembut sekali hingga menimbulkan getaran yang luar biasa dalam hati Nadia.


Mereka kemudian menikmati makan malam dengan perasaan yang berbunga-bunga.

__ADS_1


Setelah makan malam dan berpamitan, Nadia kemudian pulang bersama Bang Sugi yang datang menjemputnya di rumah sakit.


"Bang.. boleh mampir ke apotik sebentar? Diah mau beli obat?" ucap Nadia pada Bang Sugi.


"Oke.." jawab Bang Sugi singkat.


Sampai di depan apotik, Nadia segera turun dan membeli vitamin beserta pil KB.


Nadia sudah memikirkan hal ini dari kemarin.


Nadia belum siap untuk menjadi seorang ibu.


Usia nya masih terlalu muda.


Bahkan kuliah nya baru saja mau di mulai.


Dia tidak ingin memiliki anak terlalu cepat.


Sementara itu dirumah sakit, Datuk Iskandar sedang berbincang ringan bersama Encik Rafiq anaknya.


"Papa benar.. Rafiq butuh seorang pendamping yang bisa menerima Rafiq apa adanya. Dan Nadia memang pilihan terbaik. Terimakasih Pa.. Berkat perjodohan Papa akhirnya Rafiq bisa kembali merasakan bagaimana bahagianya dicintai dan mencintai" ujar Rafiq pada Datuk Iskandar Papa nya.


"Papa harap setelah ini kamu akan terus berbahagia bersama Nadia ya nak.. Dia masih terlalu muda.. kamu sebagai suami harus banyak mengalah dan membimbing dia agar menjadi istri terbaik untuk kamu. Papa yakin.. Nadia mampu menjalani peran nya sebagai istri yang akan mendampingi kamu selamanya. Aamiin" ucap Datuk Iskandar ikut merasa bahagia atas hubungan Encik Rafiq anaknya dan Nadia.


"Aamiin.. Insyaallah.." jawab Encik Rafiq membalas doa Papa nya.


"Bagaimana dengan cucu saya?? Apa kalian sudah merencanakan nya?" tanya Datuk lagi pada Encik Rafiq.


"Kami belum membahas masalah itu Pa.. Rafiq ragu Nadia setuju untuk segera mendapatkan anak.. Usia nya terlalu muda.. Dia bahkan baru akan masuk kuliah.. Rafiq tidak ingin menghancurkan cita-cita nya" jawab Encik Rafiq kemudian.


Datuk Iskandar mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


"Papa juga tidak akan memaksa.. Bagi Papa yang terpenting adalah kebahagiaan kalian.. Papa sangat memahami nya.. Papa akan selalu berdoa yang terbaik untuk pernikahan kalian" ujar Datuk Iskadar lagi.


Lalu mereka tersenyum bahagia.


__ADS_2