
Nadia tersadar dari pingsan nya.
Kepalanya terasa amat berat.
Dahi kirinya tersa panas dan berdenyut kencang sekali. Ada darah yang mengalir cukup deras disana.
"Ya ALLAH.. Dahiku terluka... Sakit sekali!!" ujarnya meringis menahan sakit.
"Tok..tok..tok" terdengar dari arah luar suara ketukan pintu.
Dengan sisa tenaga yang masih ada, Nadia tergopoh-gopoh berjalan kearah pintu dan membukanya.
"Astagfirullah Diah.. Ada apa???" tanya Mak Tua berdiri kaget di depan pintu ketika melihat wajah dan tangan kiri Nadia di penuhi darah.
"Mak..." jawab Nadia pelan lalu kembali jatuh pingsan di depan Mak Tua dan Bang Sugi.
Mak Tua dan Bang sugi segera membawa Nadia kerumah sakit terdekat.
Ketika tersadar, Nadia sudah berada di kamar perawatan pasien.
"Mak.." ujar Diah memanggil Mak Tua yang dengan sabar duduk disamping nya menunggunya sadar.
"Diah.. Kamu sudah sadar Nak??" tanya Mak Tua lagi sembari mengusap pelan ubun-ubun Nadia.
__ADS_1
Nadia mengagguk pelan.
Mak Tua segera memberi tahu perawat yang berjaga.
"Selamat malam.." sapa seorang dokter perempuan yang menangani kondisi Nadia.
"Malam Dok.." jawab Nadia setengah berbisik.
"Alhamdulillah Mbak Nadia udah sadar ya.. Tadi kita ambil tindakan untuk memberikan 5 jahitan pada dahi mbak Nadia yang luka. Kalau boleh tahu kok bisa sampai Dahi nya luka begitu??" tanya dokter pada Nadia.
"Terakhir yang saya ingat saya berusaha bangun dari tempat tidur, kepala saya terasa sangat sakit dan perut saya juga melilit. Mual sekali. Dan tiba-tiba saya terjatuh pingsan. Ketika sadar, dahi saya sudah luka berdarah. Sepertinya terbentur sudut ranjang atau meja rias yang berada tidak jauh dari tempat tidur. Dengan tergopoh kemudian saya membuka pintu untuk Mak Tua dan Bang sugi. Denyut dikepala semakin sakit tak tertahankan. Lalu semua gelap. Dan tiba-tiba saya udah berbaring disini Dok" jawab Nadia sambil mengingat kembali kejadian yang telah menimpa nya.
" Ada banyak faktor yang membuat Mbak Nadia mengalami pingsan. Pertama karena terlalu kelelahan, Kedua karena stres, Ketiga karena Mbak Nadia sedang berbadan dua. Selamat ya.. Alhamdulillah Mbak Nadia positif hamil. Masih sangat muda, baru 3 minggu. Jadi saya sarankan Mbak Nadia di rawat dulu beberapa hari di rumah sakit sampai kondisi kesehatan Mbak Nadia pulih ya...!! Dan sebaiknya Mbak Nadia benar-benar bedrest yang dalam artian benar-benar santai, dan tidak memikirkan banyak hal yang membuat fikiran Mbak Nadia terganggu karena akan sangat berpengaruh pada janin yang sedang Mbak Nadia kandung" ujar Dokter memberi kabar yang begitu mengagetkan Nadia.
Dia tertegun dan tidak tau apa yang harus iya lakukan.
Haruskah iya merasa bahagia dengan kehamilan nya ini?
Atau malah sebaliknya?? Nadia merasa sangat takut.
Air mata nya menetes setitik demi setitik.
Lalu terus menjadi sangat deras.
__ADS_1
Tangisnya sudah tak terbendung.
Mak Tua memeluknya erat.
Mencoba menenangkan dan memberinya kekuatan.
"Istigfar Nak.." ujar Mak Tua.
"Astagfirullah...Astagfirullah.." ucap Nadia pelan disela tangisnya.
"Mak dah bagi tau Pakcik perihal Diah?" tanya Nadia ketika tangisnya sudah mulai reda.
"Mak cuma bagi tahu kalau Diah pingaan dan sedang dalam perawatan Dokter.." jawab Mak Tua pula.
"Perihal kehamilan ni Pakcik dah tau?" tanya Diah lagi.
"Belum.. Mak pun baru je tahu pas dokter capak tadi" jawab Mak Tua sambil menggelengkan kepalanya.
"Mak.. Pelase jangan bagi tau siapapun ya.. Termasuk Pakcik. Biar nanti Diah yang bagi tau sendiri. Oke!?" pinta Diah.
"Baiklah sayang... Sekarang Diah istirahat ya.." ujar Mak Tua lagi sambil memperbaiki selimut yang menyelimuti tubuh Nadia.
"Mak pulang jelah istirahat dengan Bang Sugi. Diah takpa sendiri. Lagipula ada perawat yang jaga di luar. Besok pagi Mak kesini lagi ya.. tolong bawakan perlengkapan Diah ya Mak!!" ujar Nadia lagi pada Mak.
__ADS_1
"Baiklah.. kalau gitu Mak pulang. Diah istirahat ya.." jawab Mak tua kemudian lalu berpamitan pada Nadia.