Menikah Siri

Menikah Siri
BAB 71. Kemarahan Nadia


__ADS_3

"Diah.. Istigfar Nak.. " ujar Mak Tua mencoba menenangkan Nadia yang terus saja menangis terisak.


"Diah yang kuat ya... Diah harus kuat demi anak yang sedang Diah kandung.. Semua ini adalah cobaan untuk Diah.. Insyaallah semua akan ada hikmah nya" ujar Mak Tua menasehatkan.


Nadia diam tidak menjawab. Dia masih larut dalam tangis nya yang begitu memilukan hingga akhirnya iya tertidur dengan posisi masih bersandar pada pundak Mak Tua.


Mak Tua kemudian memegang erat jari Mak Nadia guna memberikannya kekuatan dan semangat.


Seolah meyakinkan Mak bahwa mereka akan baik-baik saja.


Mak hanya mengangguk pelan dengan sebaris senyum lalu membalas genggaman Mak Tua lebih erat lagi.


"Makasih" ucapnya pelan pada Mak Tua.


Mereka pun akhirnya tiba di apartemen menjelang magrib.


Mak Tua dan Bang sugi segera berpamitan setelah mengantar mereka sampai kedalam apartemen.


Nadia bergegas mandi dan mengerjakan shalat magrib.


Selesai shalat, Nadia kembali menangis sejadi-jadi nya meluahkan semua perasaan sakit hati nya di atas sajadah yang tebentang dalam kamar sepi dan temaram.


"Kuatkan Aku ya ALLAH.. Sehatkan selalu kandunganku.. Beri Aku petunjukmu ya ALLAH.. Jika memang ini ujian mu beri Aku kesabaran dan kekuatan untuk dapat melaluinya dengan tegar.. Namun jika ini adalah suatu murkamu atas semua dosa-doda yang telah Aku perbuat, Aku mohon ampukan ya ALLAH... Ampunkan Aku.. Ampunkan segala dosa-dosa yang telah Aku perbuat.. Aamin Ya Robbal a'lamiin.." ujar nya sambil menangis.


Lalu iya membaringkan tubuhnya yang masih berbalut mukena di atas sajadah nya.


Namun belum lama iya berbaring, terdengar sama suara Mak dari luar seperti sedang marah-marah.


Nadia bergegas keluar kamar untuk melihat.


Tampaklah oleh nya Mak sedang mencoba mengusir Encik Rafiq yang berjongkok memeluk kedua kaki Mak, memohon ampun.


Nadia mendekat.

__ADS_1


Encik Rafiq berdiri.


"Plaakk..." Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Encik Rafiq.


" Abang yang keluar dari sini atau Diah dan Mak yang keluar?!" teriak Nadia tanpa menghiraukan memar di sudut bibir Encik Rafiq akibat tamparan kerasnya.


"Baik..Abang yang akan keluar.. Tapi Please.. Abang janji ini adalah kali terakhir Abang menemui Diah dan Mak.. Jadi tolong izinkan Abang sebentar saja disini.." ujar Encik Rafiq sembari meringis menahan sakit.


"Apa lagi yang Abang mau? Bukankah kita sudah selesai? masih belum cukupkah Abang membuat Diah menderita?" tanya Nadia mulai menangis.


Encik Rafiq menunduk.


"Abang minta maaf.. Maafkan Abang.. Abang memang lelaki jahat dan tidak pantas untuk Diah.. Abang kesini untuk mengembalikan ini semua" ujar Encik Rafiq meletakkan sebuah bingkisan di atas meja.


"Abang mohon Diah mau menerimanya dan tidak menolaknya. Cuma ini yang dapat Abang kasih sebagai pertanggung jawaban Abang pada Diah dan calon anak kita yang sedang dalam kandungan Diah" ujar nya lagi sedikit terbata.


Nadia diam tidak menjawab.


Mak duduk di kursi sofa yg tidak jauh dari mereka.


Sedangkan Nadia masih berdiri terpaku dengan genangan air mata yang sekuat tenaga di tahan nya.


"Abang mohon kali ini saja.. Please.. Izinkan Abang untuk menyapa calon baby kita.. Sekali saja... Abang janji setelah ini Abang akan pergi dari hadapan Diah dan Mak.. Abang janji tidak akan pernah muncul lagi di hadapan Diah tanpa seizin Diah. Sekali ini saja.. Abang mohon!!" ucap Encik Rafiq kemudian melangkah sedikit maju, mendekat kearah Nadia yang tidak menjawab sedikitpun.


Perlahan Encik Rafiq berjongkok tepat di depan perut Nadia yang tampak semakin membesar.


Dengan gemetar di letakkan nya kedua tangan nya pada perut Nadia yang terbalut mukena.


"Hai.. Assalamualaikum baby sayang... ini Papa.. Papa minta maaf untuk semua yang sudah terjadi akibat ulah Papa.. Kamu sehat-sehat ya nak di perut mama.. Kamu yang kuat.. jangan nakal ya... Papa sangat mencintaimu Nak.. Papa sangat mencintai kalian.. Maafkan Papa.. Jaga Mama ya.. I love you.." ucap Encik Rafiq berbisik di perut Nadia dengan suara yang bergetar hebat menahan tangis nya.


Dikecupnya lama perut Nadia.


Betapa sesungguhnya iya ingin berdiri meminta maaf dan memeluk Nadia yang begitu iya cintai.

__ADS_1


Tapi itu tidaklah mungkin lagi.


Sekuat tenaga Encik Rafiq berdiri bangkit menahan kepedihan hati nya.


Nadia diam tidak bergeming.


Air mata nya mulai mengalir perlahan.


Namun iya tahan.


Encik Rafiq lalu berjalan kearah Mak.


Meraih kedua tangan nya dan menciumnya.


"Maafkan Rafiq Mak.. Rafiq telah mengecewakan Mak.. Rafiq gagal memenuhi janji Rafiq... Titip Nadia dan anak kami ya Mak.. Maafkan Rafiq" Ucap Encik Rafiq sambil menangis menunduk mencium kedua tangan mantan Mak mertuanya.


"Mak benci kamu Fik!!!" jawab Mak sembari memukul punggung Encik Rafiq berulang kali meluahkan kekesalan dan kekecewaan nya.


"Abang pamit... Assalamualaikum" ujar Encik Rafiq lagi sebelum pergi meninggalkan apartemen.


Tangisan Nadia tumpah dalam pelukan Mak.


Mak juga menangis memeluk Nadia.


"Diah tau Abang masih mencintai Diah, tapi kenapa Abang menceraikan Diah Mak?? Sebentar lagi kami akan memiliki anak.. Tapi Abang benar-benar meninggalkan Diah Mak.. Padahal Diah cuma butuh permintaan maaf Abang dan bilang jika iya menyesal dan ingin kembali pada Diah.. Diah pasti memaafkan nya Mak.. Diah sangat mencintai nya Mak.." ucap Nadia terisak dalam pelukan Mak.


Mak tak mampu berucap apapun.


Iya begitu memahami kepedihan anak semata wayang nya.


Iya membiarkan Nadia meluahkan semua kekecewaannya dalam tangisan nya.


Mak hanya terus membelai punggung Nadia untuk menguatkannya.

__ADS_1


__ADS_2