
Angga duduk di dekat pintu dengan mengacak rambutnya. Ia mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi Mama dan Papanya, karena orangtua Sarah berada di America. Tidak berapa lama mereka pun datang, wajahnya terlihat sangat khawatir, mengingat jika ketuban Sarah pecah. Mamanya memeluk Angga dengan erat.
"Kenapa bisa seperti ini? ada apa Ga!" tanya Mama dengan memeluk
"Enggak tahu Ma, dia nelpon Angga dan tahu-tahu udah begini. Angga yang salah, kenapa Angga gak ada di sampingnya argghhh... " Angga menepuk dahinya dengan keras.
"Sudah jangan menyalahkan seperti itu. Kita do'akan saja yang terbaik" Ucap Mama menenangkan.
Seorang Dokter memanggil Angga dan memintanya ke dalam ruangan. Angga melangkahkan kakinya mengikuti Dokter, perasaannya kini menjadi tak tenang.
"Silahkan pak duduk dulu!" ucap Dokter paruh baya yang bernama Hasan.
"Bagaimana keadaan istri saya Dok? apa dia baik-baik saja dan bayinya tidak apa-apa kan Dok?" tanya Angga khawatir.
"Istri bapak pingsan karena tidak kuat menahan kontraksi hebat, dan kami sudah mengusahakannya namun masih belum juga siuman. Sekarang kondisi istri bapak sangat mengkhawatirkan, terlebih ketubannya sudah pecah di usia kandungan 8 bulan dan harus segera di lakukan operasi caesar" jelas Hasan.
"Tapi Dok...!" ucap Angga terpotong.
"Kasihan istri bapak, kalau ketubannya sudah pecah kita harus melakukan operasi untuk menyelamatkan ibu dan bayinya!"
"Baik Dok lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya! "
Angga keluar dengan tatapan kosong, ia terus mengingat Sarah dan anaknya. Melihat Angga berjalan dengan lunglai, Mamanya bisa menduga jika Sarah sangat membutuhkan pertolongan yang serius. Kemudian Angga duduk di samping Mamanya dan memeluknya.
"Ma, Sarah harus di operasi. Hiks... hiks.. " Angga menangis.
"Tidak apa-apa. Semoga dia baik-baik saja!" ucap Mama mengusapi rambut Angga dengan lembut.
Papanya mendekati Angga dan ikut memeluknya. "Istrimu sudah ada yang menanganinya, Papa tadi bicara sama Dokter, dan ia akan mengusahakannya!" ucap Papa.
"Makasih Pa!" ucap Angga dengan sendu.
Operasi membutuhkan waktu satu jam setengah, karena harus extra hati-hati agar tidak terjadi kesalahan. Angga menundukkan wajahnya dan menekuknya pada tangannya. Ia sebenarnya ingin masuk dan melihat kondisi istrinya, namun operasi bukan tontonan dan tidak diperbolehkan oleh Dokter.
Angga menghela nafasnya dengan kasar, pikirannya selalu berubah-ubah ketika Dokter tak kunjung keluar. Tiba-tiba terdengar suara tangis bayi dari ruangan operasi. Angga terkejut haru dan lega saat tangisan bayi terdengar dengan keras, ia memeluk Mama dan Papanya secara bersamaan. Mereka menangis haru, akhirnya seorang bayi bisa terselamatkan.
__ADS_1
"Ma, Pa, Angga jadi seorang ayah sekarang!" Angga menangis haru membuat Mama dan Papanya ikut merasakan kesenangan anaknya.
"Jadi ayah yang baik buat anak kamu, Papa sama Mama ikut bahagia!" ucap Papa memeluk erat Angga dengan menepuk-nepuk punggung Angga.
Sementara itu, seorang suster membuka pintu membuat Angga memutar bola matanya dan menghampirinya dengan gesa. Angga begitu bahagia saat suster tersenyum kepadanya. "Suster bagaimana kondisi istri dan anak saya!" Tanya Angga dengan antusias.
"Alhamdulillah pak! Istri bapak sedang dalam tahap baik dan akan segera sadar, dan akan dipindahkan kedalam ruang perawatan. Anaknya tampan pak seperti bapak, cuma berat badannya kurang normal dikarenakan bayi bapak prematur. Tapi bayinya sehat!" ucap suster tersenyum.
"Alhamdulillah tidak apa-apa sus yang penting bayinya sehat! suster apa saya bisa masuk untuk melihat anak saya? "
"Sebaiknya tunggu dulu pak, kami akan membawa bayinya kedalam inkubator. Bapak bisa melihat istri bapak sekarang!" ucap suster lalu pergi.
Angga segera pergi mengikuti suster untuk melihat kondisi Sarah yang berada diruang perawatan. Angga masuk ke dalam ruangan dan menatap Sarah dengan haru, ia segera mencium dahi istrinya dengan lembut dan air matanya jatuh di pipi istrinya. Seorang ibu sudah mempertaruhkan nyawanya demi anaknya, Angga duduk dengan menatap lekat wajah istrinya dan sesekali memegangi tangannya lalu menciumnya. Sarah masih belum juga sadar, karena obat biusnya. Angga bisa melihat nafas Sarah yang masih beraturan, akhirnya ia lega karena mungkin istrinya masih dalam pengaruh obat bius.
Mama dan Papanya pun datang ke dalam ruangan perawatan beserta Dokter yang akan mengecek kembali keadaan Sarah. Angga segera berdiri. "Dok istri saya kapan sadarnya? " tanya Angga.
"Tunggu ya pak. Mungkin masih dalam pengaruh obat bius! Bapak bisa melihat anak bapak sekarang di ruangan inkubator!" ucap Hasan.
Tanpa berpikir panjang Angga segera pergi menuju ruangan inkubator untuk melihat anaknya. Angga membuka pintunya dan segera melangkahkan kakinya dengan tangisan haru ketika mendengar tangisan bayinya.
"Anak Papa tampan sekali, Papa janji akan selalu membahagianmu Nak. Papa ingin sekali Mama melihatmu, namun Mama masih belum juga sadar" ucap Angga tersenyum.
Tiba-tiba bayinya menangis kembali membuat Angga kebingungan dan entah apa yang harus ia lakukan agar bayinya tidak menangis lagi.
"Suster ini bayinya nangis terus, saya harus gimana?" tanya Angga bingung.
"Bayinya mau minum ASI pak, biar saya bawa bayinya ke ruang perawatan untuk disusui oleh ibunya!" ucap suster lalu segera memangkunya. Namun belum sempat mengambil bayi ke tangannya, tiba-tiba pintu terbuka dengan agak keras, tampak Dokter datang dengan panik. Melihat Dokter datang membuat Angga terkejut. "Ada apa Dok? apa baik-baik saja?" tanya Angga khawatir dengan menaikkan satu alisnya.
"Maaf pak...Istri bapak sudah meninggal barusan" ucap Hasan dengan nada melemah membuat Angga menatap tajam.
"Apa? jangan becanda Dok, istri saya tadi baik-baik saja" ucap Angga dengan wajah datar Dan tatapan tajam menusuk.
"Bapak bisa melihatnya".
Angga bergegas pergi menuju ruang perawatan dan benar saja Sarah sudah meninggal. Angga menangis histeris dengan memeluk Sarah. Perasaan bersalah menyelimutinya, semua ini gara-gara dirinya yang meninggalkan Sarah sendirian. Semenjak kepergian istrinya itu Angga menjadi bersikap dingin dan kejam, namun masih memiliki sikap baik pada putranya yang bernama Edward Putra Pradifta. Angga juga merasa tidak punya ketertarikan dengan wanita-wanita sampai 4 tahun lamanya. Namun, suatu hari ia bertemu dengan wanita yang membuatnya merasa dia yang akan menjadi ibu sambung untuk anaknya.
__ADS_1
*Flashback off*
Lama menatap foto-foto yang ada di kamar Angga membuat Alysa mengantuk dan segera tidur. Alysa lupa mengunci pintu kamarnya dan langsung tidur. Sementara itu, Angga tidak bisa tidur di kamar yang bersebelahan dengan Alysa. Ia menatap langit-langit kamar dan mulai memikirkan pernikahannga hanya tinggal 6 hari. Ia mencari cara agar Mamanya bisa merestui hubungannya, namun Mamanya pasti tidak akan berubah.
Gimana caranya agar Mama bisa menerima Alysa sebagai menantunya? Lagian kalau dipikir-pikir, Mama gak akan segampang itu kalau di bujuk. Aha...Aku bohongin Mama aja deh, kalau Alysa itu hamil dan harus cepat-cepat dinikahin, dan pastinya Mama akan merestuinya. Ide yang bagus Angga. Ehh tapi, kalau Mama minta bukti bahwa Alysa hamil terus gimana? sementara Alysa belum hamil. Batin Angga.
Lama memikirkan, tidak berapa lama Angga pun terlelap. Sementara Alysa tidur dengan memeluk Edward yang berada di sampingnya.
***
Keesokan paginya, waktu menunjukkan pukul 5 subuh. Alysa bangun dan segera ke kamar mandi untuk wudhu. Setelah itu ia langsung mencari keberadaan mukena, namun ia tidak menemukannya, akhirnya ia pergi ke kamar sebelah yang dihuni Angga. Alysa mengetuk pintunya, dan tidak ada jawaban dari Angga. Akhirnya ia pun membuka pintu kamarnya, dan terbukalah. Angga masih tertidur tanpa menggunakan pakaiannya yang menampakkan dada kotaknya membuat Alysa menahan ludah.
Kenapa pak Angga bisa mencintaiku? kalau di bilang aneh, ya memang aneh. Secarakan pak Angga itu tampan, kaya dan pastinya banyak wanita-wanita yang mendekatinya. Dan kenapa ia memilih aku untuk menjadi istrinya?. batin Alysa menatap wajah Angga, sialnya wajahnya itu terlihat sangat tampan membuat Alysa mendaratkan senyuman kecil dibibirnya.
Alysa melangkahkan kakinya untuk membangunkan Angga yang masih terlelap dalam mimpinya. Alysa mencoba menggoyangkan tangannya, namun ia ragu dan takut jika Angga akan marah karena membangunkannya.
Duh gimana nih? pak Angga nyenyak banget lagi tidurnya.
Alysa menghela nafasnya dengan kasar dan mencoba membangunkan Angga.
"Pak? pak Angga? " ucap Alysa dengan menggoyangkan tangan kekar Angga membuat Angga sedikit bergerak. "Pak bangun, ini udah subuh!" lanjutnya.
"Iya....!" ucap Angga serak dengan suara khas bangun tidur. Ia menggeliat dan mulai membuka matanya perlahan-lahan. Angga menatap wajah Alysa yang sangat cantik membuat jantung Alysa berdetak dengan kencang.
Ngapain sih pak Angga ngelihatin aku kayak gitu? apa ada yang salah dengan wajahku?.
"Pak!" Alysa menatap keheranan, tiba-tiba Angga menarik tangan Alysa dan membuatnya jatuh di pelukan Angga. Alysa begitu terkejut dan jantungnya benar-benar serasa akan copot. Alysa menghela nafasnya ketika Angga terus menatapnya. Alysa berusaha bangun, namun Angga terlebih dahulu mengunci pergerakkannya membuat Alysa tidak bisa berbuat apa-apa
"Pak lepasin pak. Saya kesini untuk menanyakan mukena!" Ucap Alysa ketakutan dengan wajah Angga yang super misterius.
"Sayang! Aku benar-benar tidak tahan!" Ucap Angga tersenyum membuat Alysa semakin ketakutan dan berusaha kabur.
"Pak mukenanya dimana? Saya akan shalat subuh!"
"Ahh iya maaf-maaf. Saya tadi hanya... Hanya mengigau saja!" Ucap Angga dan segera melepaskan Alysa membuat Alysa keheranan dengan Angga.
__ADS_1
Ada apa sih dengan pak Angga? apa dia mau itu, astaghfirullah pak gak sabaran banget haha.