Menikahi Duda Tampan

Menikahi Duda Tampan
BAB 72


__ADS_3

Angga menghentikan mobilnya di halaman carport rumahnya. Ia masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa. Ia mengeluarkan ponselnya dan membuka pesan yang sudah dikirim istrinya.


"Pa, jangan pulang malam ya. Kalau udah selesai kerjanya langsung pulang, jangan nongkrong dulu. Dan satu lagi, jangan ngedeketin cewek lain. Kalau Mama tahu, Mama bakalan ngambek sampai kapanpun. Ingat itu!" Angga membaca semua pesan yang dikirimkan istrinya membuatnya tertawa geli. Istrinya begitu sangat mengkhawatirkannya.


Angga segera membalasnya. "Iya Mamaku sayang. Papa tidak akan main-main sama cewek lain. Papa setia sama Mama. Mama harus percaya sama Papa. Edwardnya tidur enggak?"


Belum satu menit, Alysa segera membalasnya. "Awas ya, kalau Papa main-main disana. Mama disini hanya dua hari kok, besok sore juga pulang. Belum tidur, lagi mainin iPadnya sama Mira. Papa kok belum berangkat kerja?"


Angga membacanya sembari tertawa. "Iya ihh...Cemburuan banget. Papa cintanya sama Mama. Jagain anak kita ya Ma. Dan juga calon adiknya hehe. Ini mau ganti pakaian dulu Ma, abis itu langsung ke kantor."


"Ya udah, cepat ganti pakaiannya terus langsung kerja. Makanan di atas meja bawa ya. Mama udah siapin."


"Oke Ma..."


Setelah membalas pesan dari Alysa, Angga segera pergi menuju kamarnya. Ia akan berganti pakaian dan langsung pergi ke kantor.


KANTOR


Angga duduk di kursi lobby sembari memainkan ponselnya. Willy yang melihat pun segera mendekatinya.


"Pagi, Pak." sapa Willy. Willy duduk di samping Angga.


"Pagi." tanpa melihat orang yang ada disampingnya dan fokus dengan ponselnya.


"Katanya, nanti Bapak akan meeting di Hotel. Apa perlu saya temani?" tanya Willy.


"Tidak usah, Will. Kau bekerja saja di kantor," jelas Angga masih pada kesibukannya.


"Tapi, Pak..." belum sempat melanjutkan, Angga langsung memotongnya.


"Kau disini saja, biar meeting saya yang akan kesana. Kau tidak perlu khawatir!" Angga langsung pergi membuat Willy merasa ada yang begitu aneh dengan Direkturnya.


Aneh banget sih, Pak Angga. Saya harus benar-benar menelusurinya. Aneh juga sih si klien minta meeting di Hotel segala, kayak ada yang mau direncanakan.


***


Perjalanan masih jauh, Alysa memeluk Edward yang kini sudah tertidur. Mira memakaikan headset dan menyalakan musik. Alysa tidak bisa tenang, pikirannya selalu pada Angga. Sebenarnya, ia juga tidak ingin pergi meninggalkan Angga sendiri. Namun ia tidak punya pilihan lain selain menemani putranya.

__ADS_1


Kenapa perasaanku gak enak ya? Aku takut kalau Papa sama wanita lain. Walaupun itu mustahil, tapi fikiranku selalu kesana.


Perjalanan dari Jakarta menuju Yogyakarta membutuhkan waktu sekitar 10 jam. Waktu yang begitu panjang dan tentunya sangat melelahkan. Alysa mencoba tidur, namun tetap saja ia tidak bisa. Kini bis yang ia tumpangi sudah berjalan sekitar 6 jam dan jalanan pun terlihat sangat macet. Mobil kecil melintas dan membuat kemacetan semakin parah.


Alysa merasa gerah dan ia segara berdiri lalu menyalakan AC-nya. Bu guru sudah mengintruksikan jika perjalanan masih panjang sekitaran 4 jam lagi. Semua penumpang bersorak dan segera melanjutkan tidur yang sempat tertundanya.


Alysa mengambil cemilan di dalam tas kecil, ia membukanya dan langsung menyantapnya. Perutnya sangat lapar dan mengharuskannya untuk segera mengisinya. Tiba-tiba Edward bangun dan menangis membuat Alysa segera menenangkannya.


"Mama...Papa mana...?" tanya Edward menangis.


"Cup, cup, cup...Papa lagi kerja sayang, ayo tidur lagi, perjalanannya masih jauh." Alysa mencoba membujuk Edward agar tidur kembali, tapi Edward masih terus saja menanyakan kabar Papanya.


"Edwald mau sama Papa...Huaaa..."


"Iya nanti sama Papa ya. Jangan nangis, nanti Papanya ikut nangis. Mau minum susu?" Edward mengangguknya dan Alysa segera mengambilnya yang berada di dalam tas kecil.


Edward segera meminumnya dan tangisnya pun mulai reda. Tidak berapa lama, Edward tidur kembali dengan sebotol susu yang masih berada di dalam mulutnya.


Alysa mengusapi rambut putranya dan menciuminya. Perasaan was-wasnya pun kini dirasakan oleh putranya sendiri. Alysa mengatur nafasnya dan membuang semua fikiran negatifnya. Mira terbangun dan mengambil alir mineral karena dalam bis cukup panas.


"Gak tahu, tapi tadi kata Bu guru udah 6 jam perjalanan." sahut Alysa.


"Jauh banget ya?"


"Iya, kayaknya jauh banget. Kamu tidur lagi aja, nanti kalau udah sampai kakak kasih tahu lagi."


"Kak, Mira laper!" ucap Mira dengan memegangi perutnya. Alysa tersenyum dan segera membuka cemilan yang tersisa di tasnya.


"Nih (menyodorkan cemilan). Makannya jangan terlalu berisik ya, Edwardnya mau tidur lagi." perintah Alysa membuat Mira tersenyum dan mengacungkan kedua jempolnya.


Mira merasa kasihan dengan Alysa. Usianya hanya terpaut 1 tahun dengannya. Alysa masih terbilang anak kecil sama seperti dirinya. Alysa harus menanggung semua beban keluarga, hingga menerima jika suaminya adalah seorang duda. Mira tak terasa meneteskan air matanya. Alysa sangat mandiri, mengurusi keponakannya dan juga Abangnya tanpa bantuan orang lain.


Andaikan, jika aku ada di posisinya. Mungkin aku juga akan sama sepertinya, mengurusi semuanya sendirian tanpa bantuan orang lain. Aku salut sama kakak ipar. Walaupun usianya beda satu tahun denganku, tapi kedewasaannya yang membuatku merasa tertegun. Abang mengapa kau menikahinya? Kasihan dia harus menanggung semuanya.


Mira menyantap makanannya dengan keheningan. Alysa sudah tertidur dengan memeluk putranya. Terasa pegal di bagian pahanya, namun ia tidak pernah mengatakannya.


Waktu menunjukkan pukul 18.15 WIB. Bis berhenti di depan sebuah Hotel bintang 3. Ibu guru dan pengawas lainnya segera memberitahukan jika mereka sudah sampai di tempat tujuan. Alysa dan Mira pun bangun. Mereka mengucek matanya dan perlahan menyadarkan dirinya karena merasa sedikit pusing karena perjalanan jauhnya.

__ADS_1


Setelah pusing itu semakin menghilang, Alysa tidak membangunkan Edward dan segera beranjak untuk keluar dari bis. Mira bertugas membawa koper dan berjalan mengekori Alysa yang kini sudah mendahuluinya.


Tak lupa mereka mengucapkan lafadz ayat kursi atas perintah Pak Ustadz sewaktu berdo'a tadi. Mereka terlihat bahagia akhirnya sampai di tempat tujuan dengan selamat. Wajah-wajah ceria itu menghiasi malam yang kelam. Semua ibu-ibu dan juga anak-anaknya segera memasuki area Hotel bintang 3 itu melewati beberapa objek taman bermain.


"Mir, ayo." ucap Alysa saat melihat Mira yang sedang membawa koper.


"Iya, Kak. Tungguin!" sahut Mira.


Ibu guru memberikan kunci kamar pada setiap orang tua. Alysa mendapat kunci kamar bernomor 156 di lantai 12. Mereka menaiki lift sesuai dengan nomor kamar. Tiba di lantai 12, Alysa mencari keberadaan kamarnya.


"Kok, gak ketemu-ketemu kamarnya!" ucap Alysa.


"Tuh, Kak (menunjuk kamar bernomor 156)."


"Ayo-ayo..."


Saat ini mereka sudah terbaring diatas ranjang. Alysa membereskan pakaiannya dan juga cemilan yang belum sempat ia habiskan. Edward masih tertidur dengan lelap. Mira memainkan ponselnya sembari bercanda ria.


Alysa duduk di tepi ranjang, ia membuka ponselnya dan melihat notifikasi. Notifikasi dari suaminya tidak ada sama sekali, membuatnya semakin cemas. Biasanya kalau saat-saat seperti ini, suaminya akan mengabarinya atau sekedar menanyakan sudah sampai atau belum.


Alysa mencoba menghubungi suaminya, namun tak ada jawaban apapun. "Papa kemana ya? Apa dia masih belum pulang? Ini kan udah pukul 7 malam!" gumam Alysa.


Alysa tak menyerah dan mencoba menghubunginya kembali. Mira yang melihat kakak iparnya sedang khawatir, ia langsung mendekati dan menanyakannya. "Kenapa kak?" tanya Mira.


"Ini, Mas Angga kok enggak ngabarin ya?" ucap Alysa murung.


"Coba telepon lagi atau mungkin Abang masih kerja, Kak." jawab Mira.


"Tapikan, biasanya juga kalau pukul segini udah pulang."


"Kakak sabar aja. Nanti Abang pasti telepon kok."


Alysa mengangguknya dan mencoba menunggu hingga Angga akan menelponnya.


Saatnya jam makan malam pun tiba. Seluruh murid dan juga tentu orangtuanya di harapkan untuk segera turun ke lantai 5 yang sudah menyediakan berbagai macam makanan lezat. Alysa memanggil Mira dan mencoba membangunkan Edward. Setelah Edward bangun, mereka segera pergi.


***

__ADS_1


__ADS_2