Menikahi Duda Tampan

Menikahi Duda Tampan
BAB 48


__ADS_3

Setelah mengantar Alysa ke Rumah Sakit, Angga langsung ke Perusahaan. Alysa ikut karena Angga akan membawanya ke Mall untuk nonton. Alysa berjalan dibelakang Angga dengan memegangi tangan Edward. Semua mata tertuju pada mereka dan segera memberi hormat pada CEO-nya.


Tiba di ruangan, Angga membuka laptop untuk melihat data-data Perusahaan. Alysa duduk di sofa sembari membaca novel di ponselnya. Edward tidak bisa diam, ia lari-lari dengan memegangi robot-robotannya.


"Apa kamu mau sesuatu?" tanya Angga masih fokus pada laptopnya.


"Aku pengen seblak, Mas," jawab Alysa masih terus membaca novel di ponselnya.


"Seblak? Makanan apa itu?" tanya Angga tidak mengetahui makanan yang diucapkan oleh Alysa.


"Ya ampun, Mas. Masa Mas gak tahu sih," pekik Alysa menatap tajam pada Angga.


"Mas gak pernah makan seblak." ucapnya.


"Hmm...Pokoknya Alysa pengen seblak, Mas," ucap Alysa membuat Angga menatapnya.


"Ya sudah, Mas panggil Willy dulu."


Tidak berapa lama setelah Angga menelpon Willy. Akhirnya Willy pun datang dengan membawa berkas dari Pak Aryo.


"Will. Kau carikan seblak untuk Istri saya, Istri saya ingin memakannya," perintah Angga.


"Seblak itu apa ya Pak?" tanya Willy merasa asing dengan nama makanan itu. Lalu segera menyerahkan berkas yang ada di tangannya.


"Saya juga gak tahu. Pokoknya carikan saja,"


Willy menatap Alysa dan setelah itu ia segera pergi untuk mencari seblak. Angga membuka berkas-berkas dari Perusahaan Pak Aryo, lalu menandatanganinya. Edward masih lari-lari membuat Alysa segera memangkunya dan menciuminya.


"Mama...Jangan cium-cium telus. Nanti Edwald gak tampan lagi," Edward memberontak.


"Haha...Ada-ada saja anak Mama. Kenapa gemes banget sih?" tanya Alysa sambil terus memciuminya.


"Kan kayak, Papanya. Papanya juga gemes," celetuk Angga sembari menandatangani berkas.


"Enggak. Papanya galak," ucap Alysa.


"Lho kok galak? Emang Mas pernah galak sama kamu?" tanya Angga mendongakkan wajahnya.


"Pernah..." ucap Alysa datar.


"Kapan? Gak pernah sama sekali," ucap Angga.


"Serius amat sih Mas haha..." kekeh Alysa.


"Ya lagian kamu gitu. Katanya, Mas galak."


"Tapi waktu pertama kali ketemu galak sih, sampai-sampai Alysa nangis."


Angga terdiam, matanya menatap Alysa yang sedang menciumi Edward. Ia beranjak dan segera mencium Alysa. Ia menciumi kening Alysa dengan lembut dan Edward segera melepaskan diri dengan lari sekencang mungkin hingga Alysa dan Angga pun ikut tertawa melihat tingkah anaknya.


Angga menatap Alysa dan tiba-tiba deringan telepon membuatnya harus segera mengangkatnya. Ternyata itu adalah telepon dari Ryan. Tanpa berpikir panjang, Angga segera mengangkatnya dan beranjak dari sofa.


"Assalamualaikum. Bagaimana Pak Ryan?" tanya Angga.


"Waalaikumsalam Pak. Ahh, iya Saya mau kesana lusa. Hmm...Mau ketemu adik iparnya Bapak hehe."


"Kabar yang sangat bagus. Nanti saya akan mengabari adik ipar saya,"


"Baik Pak. Kalau begitu terima kasih," Ryan menutup teleponnya. Angga segera menyimpan ponselnya dan duduk kembali di samping Alysa.

__ADS_1


"Bicara apa saja Mas?" tanya Alysa.


"Katanya, Ryan lusa akan kesini. Dia mau ketemu sama Azkia," kata Angga.


"Berarti besok Azkia harus sudah ada disini Mas."


"Iya besok suruh dia kesini sama Ayah dan Ibu. Mas akan mentransfer uang untuk perjalanan kesini."


Tiba-tiba pintu diketuk dan Angga segera membukanya. Willy sudah mendapatkan makanan yang Alysa inginkan. Ia menyerahkannya pada Angga, lalu setelah itu langsung pergi. Angga kembali ke sofa dan menyerahkannya pada Alysa. Alysa tampak berbinar, makanan yang membuat pikirannya menjadi lebih cemerlang. Seblak yang sangat menggiurkan.


Alysa segera menyantapnya. "Mas mau gak?" tanya Alysa.


"Gak ahh pedas."


"Enak lho Mas. Ini gak pedas kok


Setelah Alysa memakan seblaknya. Angga segera membawanya keluar dari Perusahaannya. Ia akan membawa Alysa ke Mall untuk nonton. Sesampainya di sebuah Mall, Alysa segera berlari kecil dengan memegangi tangan Edward. Hari yang menyenangkan baginya. Bisa bersama dengan keluarga kecilnya.


Alysa, Angga dan Edward melangkahkan kakinya menuju bioskop. Saat ini mereka sedang mengantri tiket. Antrian sangat panjang membuat Alysa mendesis. "Mas, panjang banget antriannya. Lewat aplikasi aja."


"Ya sudah bentar."


Saat ini mereka sudah duduk di depan teater sembari menunggu bioskop itu dimulai, karena mereka beli tiket lewat aplikasi yang di suruh oleh Alysa. Angga berdiri dan hendak membeli cemilan saat menonton nanti. Angga kembali dengan membawa dua cup popcorn dan minuman. Lalu ia memberikannya pada Alysa dan juga Edward.


Alysa menerima popcorn itu dan segera menyantapnya. Angga mengambil popcorn milik Edward, karena sedari tadi Edward tidak bisa diam dan makanannya tidak di makan. Edward menaiki kursi pengunjung membuat Angga segera memangkunya di pangkuan. Edward teriak-teriak membuat semua pengunjung yang sudah masuk ke dalam menatapnya lalu tertawa. Alysa dan Angga tidak tahu harus bagaimana lagi mengatasinya. Mereka malu dan untung saja kursinya berada di atas.


"Mas tadi pilih film apa?" tanya Alysa.


"Film horor," sahut Angga tersenyum sembari menatap Alysa yang kini mulai ketakutan.


"Apa? Kenapa film horor sih, Mas? Alysa takut."


"Gak mau ahh."


"Enggak ihh. Film romantis-romantis gitu, biar kamu juga bisa lebih romantis sama Mas ketika di kamar," ucap Angga tersenyum membuat pipi Alysa merah merona karena malu.


"Emangnya Alysa gak pernah romantis gitu sama Mas?" tanya Alysa ingin sekali ia memukul lengan Suaminya.


"Gak pernah romantis."


Saat ini lampu teater mulai meredup dan itu artinya teater akan segera dimulai. Terlihat di layar ternyata benar yang mereka tonton adalah film romantis membuat Alysa memeluk lengan Suaminya dan mencium pipinya. Angga menoleh pada Alysa.


"Makasih ya Mas. Mas baik banget sama Alysa," ucap Alysa lalu pandangannya pada film yang sudah di mulai.


"Untuk Istri tercinta, Mas akan memberikan yang terbaik. Asal nanti malam..." bisik Angga.


"Nanti malam mau ngapain?" tanya Alysa ia benar-benar tidak fokus melihat film yang sedang disaksikannya.


"Buat dedek," bisiknya lagi membuat Alysa memutar bola matanya dan menatap Angga.


"Libur dulu aja," kesal Alysa dengan memalingkan wajahnya.


"Kalau soal itu, Mas gak bisa libur."


"Hmm..."


Mereka kembali fokus menonton film. Ceritanya begitu romantis. Namun tiba-tiba sang pemain utama diselingkuhi oleh kekasihnya dan tiba-tiba Alysa menangis merasa kasihan dengan cerita film itu. Angga menoleh pada Alysa yang sedang menghapus air matanya. "Kenapa nangis? Emang ceritanya sedih?" tanya Angga.


"Emangnya Mas gak lihat? Kan itu diselingkuhi Mas, pasti sakit banget itu diselingkuhi."

__ADS_1


"Orang cuma bohongan gitu."


"Nontonnya pakai perasaan Mas biar ceritanya itu benar-benar kita yang ngalami,"


"Dasar..Hahah.."


Alysa semakin fokus menonton sembari memakan popcornnya. Angga mengedarkan pandangannya pada Edward yang sudah tertidur karena kelelahan akibat tadi lari-lari. Alysa begitu fokus hingga akhirnya Angga mencium bibirnya dengan lembut. Alysa melototkan matanya dan memberontak. Ia tidak akan mengira jika Angga akan melakukan hal ini di depan umum. Ia takut jika orang lain akan melihat adegan dirinya.


"Ma-mas..." ucap Alysa tidak jelas dan Angga masih **********. Tangan Angga menggerilya hingga masuk ke dalam pakaian Alysa. Ia membuka bra-nya dan segera meremasnya. Alysa menggigit bibir Angga, hingga membuat ciuman itu berakhir. Angga mengaduh kesakitan pada bibir bawahnya. Alysa tersenyum dan segera mengalihkan pandangannya ke depan untuk menonton lagi.


"Jahat banget, digigit."


"Ya lagian Mas-nya gitu. Gak tahu tempat maen nyosor-nyosor aja. Kalau orang lain lihat gimana?" kesal Alysa.


"Kan gak bakalan ada yang lihat, sayang."


"Mas, biarkan aku nonton."


"Hmm..."


Film sudah selesai dan kini mereka segera keluar dari bioskop untuk makan siang terlebih dahulu. Angga jalan terlebih dahulu dengan memangku Edward, Alysa membuntutinya dari belakang dan tampak sedang menelpon seseorang.


"Dek, besok kesini sama Ibu dan Ayah."


"Iya Kak. Tapi Kia harus bicara dulu sama Ibu."


"Ada sesuatu penting yang harus Kakak bicarakan sama kamu."


"Mau bicara apa? Kenapa enggak di telepon aja Kak?"


"Ini penting banget. Mengenai calon suamimu."


"Apa? Apa itu Pak Diki datang kesana Kak? Hahah..."


"Hushh...Bukan, laki-laki tampan dan pasti kamu menyukai. Udah dulu ya, jangan lupa kasih tahu Ibu dan Ayah. Dan satu lagi, nanti Mas Angga akan transfer uang untuk perjalanan."


Alysa segera mempercepat langkahnya karena Angga sudah mendahuluinya. Angga memasuki Restoran yang berada di dalam Mall untuk makan siang. Alysa duduk dan segera beralih untuk memangku Edward dipangkuannya.


Setelah makan siang, mereka melanjutkan untuk berbelanja bulanan. Alysa memilih berbagai macam daging, sayur-mayur, buah-buahan dan juga kebutuhan yang lainnya. Setelah selesai belanja, mereka segera pulang karena tubuhnya sudah kelelahan setelah berkeliling mencari bahan masakan.


***


Alysa merebahkan tubuhnya di ranjang. Angga baru saja keluar dari kamar mandi dan kini sedang mengambil pakaian di almari. Alysa mencoba memejamkan matanya namun itu sangat susah. Angga mendekati Alysa dan ikut membaringkan tubuhnya di samping Alysa. Ia menyampingkan tubuhnya dan menatap Alysa.


"Ayo tidurlah. Kamu kelelahan," ucap Angga.


"Aku gak bisa tidur Mas," ucap Alysa.


"Apa mau berolahraga malam dulu?" ucap Angga tersenyum nakal dengan menaikkan kedua alisnya.


"Libur dulu. Perutku terasa sakit, apa aku sedang menstruasi?"


"Coba Mas lihat," ucap Angga tersenyum membuat Alysa melototkan matanya.


"Gak mau Mas. Ini memalukan," ucap Alysa dan segera beranjak dari ranjang pergi ke kamar.


Tiba di kamar, Alysa segera membuka celananya dan benar saja ia sedang menstruasi. Ia pun segera mengganti c*lana dalam dan mengambil softex. Setelah itu ia kembali ke ranjang dan melihat Angga sudah tertidur dengan memeluk guling. Alysa memasukan kakinya ke selimut dan ikut berbaring disamping Angga.


***

__ADS_1


Jangan lupa dukung Author dengan cara Vote, Like, Comment dan Tip😘


__ADS_2