Menikahi Duda Tampan

Menikahi Duda Tampan
S2-BAB 90


__ADS_3

Setelah sarapan dan berbincang-bincang dengan Ibu penjual nasi, Angga melanjutkan perjalanannya menuju kantor. Ia harus bekerja dan mengkondisikan beberapa karyawannya. Hidupnya kini semakin tidak terurus, bahkan putranya saja ia tidak begitu mengurusnya.


Sampai di kantor, Angga masuk ke lobby dan beberapa staff beserta resepsionis menundukkan wajahnya memberi hormat pada sang Direktur.


"Selamat pagi, Pak."


Angga tak menjawab sedikitpun, ia berlalu saja tanpa melirik ke arah mereka. Sampai di ruangannya, Angga langsung membuka dokumen dan beberapa list produk miliknya.


"Kenapa ada yang salah. Apa karyawan disini tidak bisa bekerja secara profesional? Kenapa karyawan seperti itu bisa masuk ke perusahaan saya."


Angga langsung mengambil telepon kantor dan mencoba menghubungi Willy.


"Kumpulkan semua karyawan, staff dan resepsionis di ruang meeting!" ucap Angga dengan penuh penekanan.


"Ba-baik, Pak."


Semua karyawan sudah berada di ruang meeting. Angga masuk dengan wajah datarnya. Semua orang tertunduk. Mereka sudah mengira, jika akan ada masalah yang akan mereka hadapi.


"Pasti ada yang aneh karena saya mengumpulkan semuanya disini?" tanya Angga lalu duduk dan memulai perbincangannya membuat semuanya tersentak. "Apa kalian menyadarinya? Membuat kesalahan? Atau yang lainnya?" pertanyaan dari Angga tak ada yang mereka jawab sedikitpun. Namun, sepertinya ada seseorang yang memang tidak mengetahui apa yang di ucapkan oleh Angga.


"Maaf, Pak. Saya tidak mengerti apa yang Bapak ucapkan," ucap salah satu karyawan setelah mengangkat tangan kanannya ke atas.


"Oh, bagus. Jika kalian tidak mengerti silahkan tanyakan. Dan untuk yang sudah mengerti, harap simak baik-baik. Saya akhir-akhir ini jarang masuk ke kantor, karena saya ada urusan yang lebih penting dari pekerjaan disini. Dan saya sudah menyimpulkan jika kalian tidak bisa bekerja dengan baik," ucap Angga sedikit menggantung dan penuh penekanan. "Apa kalian tidak menyadarinya? Atau kalian hanya mencoba membodohi saya? Ingat! Saya tidak masuk ke kantor, tapi saya punya bukti jika kalian tidaklah becus dalam bekerja!"


Emosinya semakin memuncak dan tidak bisa dikendalikan. Willy yang saat itu merasa sangat bersalah dan ini mungkin karena kecerobohannya, ia segera mendekati Angga dan mencoba memberikan air putih yang sedari tadi ia pegang.


Willy, dirimu sangatlah ceroboh.


***


Alysa dan Devi segera masuk ke ruang pemasaran. Ia mulai mengecek hasil dan beberapa produk yang sudah terjajar dengan rapi. Saat Alysa hendak mengambil satu barang disana, tiba-tiba seekor kecoa melintas di dekat kakinya. Alysa langsung menjerit membuat seisi ruangan itu pun kebingungan. Entah darimana kecoa itu masuk ke dalam ruangan itu.


"Aaaa...Kecoa...Kecoa...Awas itu ada kecoa!" teriak Alysa sembari menutupi wajah dengan tangannya. Seisi ruangan itu dibuat Kebingungan dan mencoba mencari keberadaan kecoa.


"Mana kecoa?" tanya Devi.


"Iya, dimana kecoanya."


"Itu Mbak, kecoanya dilantai." Alysa bergidik ngeri. Ia berusaha menjauh ke belakang dan mencoba membalikkan tubuhnya untuk segera keluar. Namun, belum sempat ia pergi, tiba-tiba saja ia menabrak tubuh laki-laki kekar berotot sampai ia akan tersungkur di dada bidangnya. Dengan sigap laki-laki itu menahannya.


BRUK


Alysa terkejut hingga menutup matanya dan menghentikan langkahnya lalu mencoba melihat ke depan. Perlahan ia membuka mata, dan tepat sasaran saat sepasang mata itu saling bertemu dengan cukup lama.


DEG


Pak Deffa? Oh, astaga. Alysa, kau telah menabrak Direkturmu sendiri. Alysa tersadar dan melihat tangannya di pegang oleh Deffa dengan sangat erat.


"Ma-maaf, Pak. Sa-saya tidak sengaja." Alysa menundukkan wajahnya dan segera menjauh dari Deffa dengan wajah sedikit ditekuk. Deffa sangat enggan melepaskan Alysa begitu saja, namun ia tidak punya pilihan lain, karena karyawannya sudah mengetahui itu.


"Tadi yang teriak siapa? Suaranya sampe kedengeran ke luar," tanya Deffa dengan lantang membuat Alysa menundukkan kembali wajahnya. Ia sangat malu, karena itu ulahnya.


"Sa-saya, Pak," Alysa mengangkat tangan kanannya ke atas.


"Ikut ke ruangan saya sekarang." Deffa langsung menarik tangan Alysa, membuat Alysa sedikit tersentak.


Alysa habis sudah hidupmu. Direkturmu akan memarahimu.


Alysa mengikuti langkah Deffa menuju ruangannya. Deffa masih saja tidak melepaskan tangan Alysa sampai diruangannya. Tepat di depan ruangan itu, mereka masuk dan Deffa mengunci ruangannya.

__ADS_1


Kenapa dikunci? Mau ngapain dia?


Deffa melepaskan tangan Alysa dan mencoba mendudukkannya di sofa. Lalu, ia duduk di kursinya yang tidak begitu jauh.


"Pak, maafkan saya. Saya gak bermaksud membuat onar disini. Tadi saya lihat ada kecoa, beneran deh Pak," Alysa memulai percakapannya dan memohon agar Deffa tidak memarahinya.


"Saya tidak akan memarahimu. Sebagai hukuman untukmu, nanti temani saya makan siang di luar," ucap Deffa dengan tersenyum. Wajah laki-laki tidak begitu menakutkan seperti yang Alysa kira.


Apa? Dia tidak marah padaku? Dan dia malah minta untuk ditemani saat makan siang? Benarkah dia tidak marah sedikitpun?


Alysa, mana mungkin saya memarahimu. Kamu terlalu cantik dan manis untuk saya marahi.


"Beneran, Pak? Bapak gak marah sama saya?" tanya Alysa dengan sedikit kegirangan.


"Emangnya yang kamu lihat barusan, saya lagi bercanda?" tanya Deffa mengalihkan pandangannya ke laptop sembari membuka satu dokumen penting perusahaan.


"Ya udah, Pak. Kalo gitu, saya keluar ya." Alysa hendak beranjak dan pergi dari ruangan itu. Namun, Deffa menghentikan langkahnya.


"Tunggu! Kamu disini, temani saya bekerja."


"Temani Bapak bekerja?" tanya Alysa membulatkan matanya saat sudah membalikkan tubuhnya menghadap Deffa yang juga sedang menatapnya.


"Ada yang salah, yang saya ucapkan barusan?" tanya Deffa.


"Oh, e-enggak, Pak. Hehe..."


Ya Tuhan, bantulah hambamu ini. Keluarkanlah hamba dari tempat ini.


Alysa duduk kembali lalu mencoba engeluarkan ponselnya untuk mengirimi sebuah pesan pada Devi.


"Mbak, aku gak bisa ke ruang pemasaran." Belum satu menit, Devi segera membalasnya.


"Aku harus nemenin, Pak Deffa disini."


"Wahh, bagus dong."


"Kok, bagus sih Mbak?"


"Pak Deffa lagi cari calon bini, mungkin kamu mau dijadiin bininya haha."


"Ngarang deh, Mbak. Mana mau Pak Deffa sama aku."


Alysa menutup ponselnya dan mengedarkan pandangannya pada Deffa. Laki-laki itu pun menoleh membuat Alysa memalingkan wajahnya.


"Kenapa? Suka?" tanya Deffa tiba-tiba.


Alysa membulatkan matanya, "Lho, kata siapa saya suka sama, Bapak?" ucap Alysa sedikit tidak suka.


"Dari tatapanmu. Sepertinya, kamu menyukai saya," ucap Deffa lalu mengedarkan pandangannya kembali pada laptop. Sepertinya akan ia gombal Alysa habis-habisan.


"Jangan geer, Pak. Contohnya, saya gak suka sama Bapak." Alysa memalingkan wajahnya dengan kesal.


"Terus, kalo misalnya saya suka sama kamu, gimana?" tanya Deffa, lalu beranjak dan mendekati Alysa yang saat ini sedang dilanda kebingungan. Ahh, menyebalkan.


Suka? Gak usah baper Alysa, semua cowok tuh sama, sama-sama suka gombalin wanita dan ujung-ujungnya ditinggalin juga.


"Jangan pura-pura, Pak. Saya gak mempan di gombalin."


"Setiap wanita pasti pada suka kalo di gombalin, terutama kalo saya yang gombalin. Tapi, yang ini sedikit tidak begitu menyukainya." Deffa langsung duduk di samping Alysa.

__ADS_1


"Jelas dong, Pak. Saya udah gak mempan sama hal-hal yang begituan. Laki-laki yang suka begitu pasti gak bener-bener cinta."


"Dirimu memang aneh, tapi saya menyukainya."


Mulai aneh. Kenapa belum nikah juga sih Pak Deffa? Batin Alysa geram.


"Pak, biarkan saya keluar dari sini. Saya harus bekerja, mengecek produk-produk, mengecek berkas-berkas dan dokumen, file perusahaan. Nanti kalo ada apa-apa, pasti saya juga yang kena." Alysa menyunggingkan bibirnya dengan kesal.


"Kamu kerjanya cuma temenin saya disini. Masalah gaji, saya akan membayarnya dua kali lipat. Jadi?"


"Tapi, saya gak betah lama-lama disini. Panas banget!"


"Dari tadi, AC nyala terus kok. Masa masih panas?" tanya Deffa membuat Alysa terkekeh.


Alysa, jangan pernah membodohi orang pintar. Nanti, kamu sendiri yang balik dibodohin.


"Hehe. Pak, bolehlah saya keluar. Nanti di temenin deh makan siangnya, sekalian saya juga mau makan."


Akhirnya, karena Alyaa terus mendesaknya, ia pun bisa pergi dari penjara perusahaan itu. Ahh, menyebalkan. Bagaimana mungkin ia bisa di gombalin sama Direkturnya?


Alysa pergi ke ruangannya, karena sepertinya ia merasa sedikit mual dan ingin sekali memuntahkan isi perutnya. Ia masuk ke kamar mandi dalam, dan mengeluarkannya.


OEKK...


"Kenapa muntah ya? Apa aku sakit? Perasaan, dari tadi juga baik-baik aja. Apa karena aku kecapekan?" gumam Alysa. Ia segera keluar dan duduk di sofa untuk membaringkan tubuhnya. Tubuhnya begitu lemas dan tidak bersemangat. Alysa mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Devi untuk membantunya.


Tidak berapa lama, Devi sampai di ruangannya. Ia segera membantu Alysa dan mencoba memberikan minyak kayu putih untuk merilekskannya.


"Kok, bisa muntah-muntah? Tadi kamu makan apa?" tanya Devi, lalu mencoba membuka kayu putih itu dan mengoleskan nya ke perut Alysa dengan lembut.


"Aku gak makan apa-apa, Mbak. Apa aku masuk angin ya?" tanya Alysa balik. Ia masih tidak percaya dengan kondisinya sekarang. Apa mungkin ia sakit? Atau...Ada hal lainnya?


"Kita periksa ke Dokter aja yuk?" ajakan dari Devi membuat Alysa terdiam sejenak.


Ke Dokter? Gak-gak, aku gak apa-apa kok. Lagian cuma masuk angin aja paling, kan disini ruangannya ber-AC semua.


"Gak usah, Mbak."


"Nanti kenapa-kenapa. Apa mau pulang aja? Untuk hari ini kamu istirahat aja. Biar ini, Mbak yang selesain."


"Mbak gak apa-apa nih kalo aku pulang?"


"Enggak apa-apa. Yuk, Mbak anter ke depan."


Alysa dan Devi segera pergi menuju ke lantai bawah. Devi memboyong tangan Alysa ke pundaknya dan Alysa tampaknya begitu lemas tak berdaya. Beberapa karyawan lain yang juga melihat itu langsung membantunya dan membawa Alysa ke lantai bawah.


Saat sampai di lantai bawah, Alysa langsung di masukkan mobil perusahaan. Devi, Annisa, dan Fitri masuk. Mereka akan mengantarkan Alysa ke rumahnya. Dalam perjalanan, mereka sangat mengkhawatirkan kondisi Alysa yang semakin pucat wajahnya.


"Kita ke Dokter aja?" tanya Fitri.


"Gak usah, Mbak. Nanti aku istirahat aja di rumah," jawab Alysa.


"Tapikan, nanti kamu kenapa-kenapa, Ca." umpat Annisa.


"Iya, Lysa. Ke Dokter aja yuk?" ucap Devi.


Mereka berdebat kecil, namun sampai akhirnya mereka tidak jadi ke Dokter, lantaran Alysa tidak ingin merepotkannya. Tiga puluh menit berlalu, mobil pun berhenti di depan rumah Alysa. Ibu dan Ayah yang mengetahui itu langsung segera membantunya.


***

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya. Like, Comment anda Vote❤


__ADS_2