
KEDIAMAN DESTIA
Pukul 08.40 WIB, Destia masih belum juga bangun dan membuat Mamanya segera mengecek ke kamarnya untuk memastikan. Ia membuka pintu dan tampak Destia masih tertidur dengan pulasnya hingga ngorok. Mamanya yang overprotektif selalu membuat Destia tidak merasa nyaman. Mamanya segera membangunkan Destia.
"Pagi Nyonya. Masih belum bangun juga ya," ucap Mamanya Destia dengan lembut dan tatapan tajamnya.
"Hmmm...Masih subuh kayak gini Mama udah bangunin Tia," sahut Destia dengan mata yang masih tertutup.
"Oh iya ini masih subuh, kira-kira jam delapanan subuh ya," ucap Mamanya membuat Destia segera bangun dan segera pergi ke kamar mandi untuk melakukan ritual mandinya agar Mamanya tidak mengomel lagi.
Astaga, gue kira masih subuh. Kalau gue gak bangun, pasti udah disiram pakai air dingin nih. Batin Destia.
***
Perusahaan Angga kali ini dipegang oleh Willy untuk sementara waktu, karena Angga masih berlibur bersama keluarga kecilnya. Willy tampak sibuk didepan laptopnya dengan berkas-berkas yang masih menumpuk di mejanya. Terdengar pintu diketuk, membuatnya segera menghentikan kesibukannya dan segera pergi untuk membuka pintu. Tampak kekasihnya datang dengan tersenyum.
"Sayang, nanti kita makan siang di Caffe yang baru yuk?" ajak Fia membuat Willy menyibikkan bibirnya.
Selalu saja mengganggu, dasar wanita. Batin Willy.
"Hmm...Saya harus bekerja, jangan mengganggu," ucap Willy dan segera menutup pintunya kembali membuat Fia mendengus kesal.
Willy benar-benar kesal dengan sikap Fia yang seperti kekanak-kanakan seperti itu. Sebenarnya la tidak mencintai Fia, namun karena cinta pertamanya telah kandas, akhirnya ia berusaha melupakannya walaupun itu sangat susah bari dirinya. Willy segera kembali ke kursi besarnya dan kembali fokus dengan laptopnya. Tiba-tiba Willy teringat pada Alysa cinta pertamanya. Cinta pertama yang tidak akan pernah ia lupakan ketika ia melihatnya di ruangan Angga. Ia mencoba bergurau dan menjodohkannya dengan Angga. Dan benar saja, mereka berjodoh dan sudah menikah membuat dirinya tidak rela.
Alysa sedang apa ya? Apa di bahagia menikah dengan Pak Angga? Kalau memang dia tidak bahagia, saya siap jadi penggantinya. Batin Willy tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
***
Kini Angga dan Alysa sudah berada dikediamannya setelah dua hari yang lalu ka berada di Raja Ampat untuk berbulan madu. Bulan madu yang begitu singkat menurutnya, tapi juga sangat terkesan. Alysa mulai merasakan tidak enak badan dan sepertinya ingin mual membuat Angga segera membantunya ke kamar mandi.
OKK OEK..
Angga yang khawatir segera mengambil handuk yang tersimpan dekat pintu kamar mandi untuk menyelimuti Alysa. Alysa mengeluarkan isi perutnya dan tubuhnya mulai lemas, hingga membuat Angga memangkunya ala bridal style dan membaringkan tubuh Istrinya dengan pelan. Edward yang tadinya sedang bermain pun ikut melihat kondisi Mamanya yang sepertinya sedang sakit. Edward mendekati Alysa dan tangannya memegangi pipi Alysa lalu menciumnya.
Angga segera ke dapur untuk mengambil air hangat dan mengompreskannya ke dahi Alysa agar sedikit lebih baik. Namun belum sempat ia meletakkan kompresan di dahi Alysa, Alysa langsung berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya lagi. Angga dan Edward menghampiri Alysa dengan keadaan panik.
"Sayang, kita ke Dokter saja yuk? Takutnya kamu kenapa-kenapa," ucap Angga khawatir melihat wajah Alysa yang semakin pucat karena terus mengeluarkan sesuatu dari perutnya.
"Alysa tidak apa-apa Mas. Alysa kecapekan saja," ucap Alysa lalu berjalan dengan lunglai membuat Angga segera membantunya. Edward sedari tadi tidak bisa diam dan terus menerus mendekati Alysa.
"Mama hanya masuk angin saja sayang. Mama tidak apa-apa," sahut Alysa.
Angga yang semakin khawatir dengan keadaan Alysa, ia segera menelpon seorang dokter dan menyuruhnya untuk segera ka rumahnya dan memeriksa kondisi Istrinya. Tidak berapa lama, Dokter pun datang dengan membawa alat-alat untuk memeriksa Alysa. Dokter segera memeriksa tubuh Alysa dan mengecek darahnya. Saat Dokter sedang memeriksa, ia tersenyum membuat Angga segera menanyakannya.
"Kenapa Dok? Istri saya sakit apa?" tanya Angga dengan mendekati sang Dokter yang beridentitas wanita itu.
Dokter tersenyum dan segera menyimpan alat stetoskopnya dan berkata. "Selamat ya Pak. Istri bapak sedang berbadan dua," ucap Dokter Rima tersenyum membuat Angga segera memeluk tubuh Istrinya dengan bahagia.
"Sayang makasih. Kamu sedang mengandung anak kita, ada adiknya Edward didalam perutmu," Angga mencium kening Alysa karena bahagia. Alysa ikut tersenyum saat mengetahui dirinya sedang berbadan dua. Ia benar-benar tidak percaya akan hamil secepat ini.
"Iya Mas. Sekarang Alysa sudah pas untuk menjadi seorang Istri dan keluarga kita akan lengkap," sahut Alysa membuat Dokter segera pamit dan tidak mau menyaksikan kembali adegan romantis itu.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi dulu ya Pak, Bu. Saya saranin untuk Ibu Alysa jangan terlalu kecapekan karena kandungannya masih muda, dan juga pola makannya diatur jangan sembarangan, biar calon bayinya sehat," ucap Dokter membuat Angga dan Alysa menganggukkan wajahnya. Dokter itupun segera pergi. Angga masih terus didekat Alysa, dan tidak mau berjauhan dengannya. Edward yang tidak mengerti dengan ucapan Dokter tadi membuatnya menanyakan kembali pada Papanya.
"Papa, Mama sakit apa? Kata Doktel tadi gimana?" tanya Edward merasa ingin tahu.
"Sini dulu.." ucap Angga menyuruh Edward untuk mendekat. "Ayo pegangi perut Mama, didalam perut Mama ada adiknya Edward," ucap Angga membuat Edward menangis.
Hiks.. Hikss..
"Kenapa nangis? Masa anak laki nangis sih," ucap Angga lalu segera mendekap Edward dalam pelukannya. Hanya yang sedari tadi diam, ia segera mengusapi rambut Edward.
"Hikss...Hiks...Kalau nanti ada adik Edwald, nanti Mama gak sayang lagi sama Edwald!" ucap Edward membuat Angga dan Alysa tersenyum melihat tingkah lucu anaknya itu.
"Nak, Mama sayang banget sama kamu. Mama tidak akan meninggalkanmu sayang," ucap Alysa bangkit dan Angga segera membantunya.
"Edwald gak mau kalau didalam pelut Mama ada adik kecil,"
"Mas tolong tenangin Edward dulu. Ajak jalan-jalan kemana gitu, atau gak beliin ice cream kesukaannya," perintah Alysa lalu berjalan menuju toilet.
Angga segera menggendong Edward, ia mencoba menenangkannya dan menghiburnya agar tidak menangis lagi. Setelah reda, Angga segera membawanya ke ranjang dan menidurkan Edward yang sudah kelelahan setelah menangis tadi. Alysa kembali dari kamar mandi dan mendekati Edward lalu menciumnya.
"Mama sayang banget sama kamu Nak," ucap Alysa dengan mengusapi rambut Edward. Angga tersenyum dan mendaratkan kecupan dikening Alysa lalu memegangi perut Alysa yang masih datar.
"Mas bikinin susu dulu ya." ucap Angga.
"Iya Mas," sahut Alysa.
__ADS_1