Menikahi Duda Tampan

Menikahi Duda Tampan
BAB 78


__ADS_3

Perjalanan satu jam sudah terlewati rute Yogyakarta-Jakarta. Alysa, Mira dan Edward segera turun dari pesawat. Si kecil Edward menangis, membuat Alysa tidak bisa apa-apa lagi selain menimangnya. Mereka segera masuk ke dalam taxi menuju kediaman Angga. Alysa tidak sabar untuk bertemu dengan suaminya. Perjalanan dari Bandara menuju kediaman Angga membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit.


"Mir, coba telepon Abangmu." perintah Alysa dengan nada cemas.


"Oke.." Mira langsung menelpon Angga, kali ini tersambung membuatnya tersenyum.


"Assalamu'alaikum, Bang."


"Waalaikumsalam. Gimana study tour-nya? Menyenangkan?"


"Kami gak ikut, ini sekarang lagi di jalan mau pulang!"


"Apa, pulang? Kenapa emangnya?"


"Kakak ipar sangat mengkhawatirkan Abang. Abang kemana sih? Ditelepon selalu saja gak aktif. Kakak ipar nangis terus gara-gara Abang!"


"Maafkan Abang, kemarin Abang sibuk banget sampai lupa ngabarin."


"Abang gak kasihan sama, Kakak ipar? Nih Edward juga nanyain Papanya terus. Abang jahat, cuma ditinggal satu hati aja udah ilang ditelan bumi!"


"Berikan ponselnya pada Alysa!"


"Mas...Hiks..."


"Sayang...Mas ada disini, Mas gak kenapa-kenapa. Kemarin Mas sibuk banget sampe lupa ngabarin."


"Hiks...Pekerjaan lebih penting ya, Mas?"


"Bukan gitu sayang. Sekarang kamu dimana?"


"Bentar lagi aku nyampe ke rumah!"


"Ya udah, Mas tunggu di rumah ya."


Alysa memutuskan teleponnya. Ia masih menangis mengingat ia sangat mengkhawatirkan suaminya. Entah mengapa firasatnya selalu padanya.


"Kakak jangan nangis terus. Nanti kita marahin Abangnya."


Angga masih terus menangis membuat supir taxi pun ikut merasa iba. Ia memberikan tisu untuk Alysa.


"Terima kasih, Pak!"


Sementara itu, Angga bergegas segera pulang dengan menaiki taxi. Karena tadi ia ikut ke mobil Willy selepas pertengkaran hebat antara dirinya dan juga ibu kandungnya.


"Alysa gak boleh tau mengenai ini. Kalau dia tau, pasti dia akan minta diceraikan. Ya Tuhan, bantulah."


Taxi melaju dengan cepat, Angga sudah tidak sabar untuk bertemu dengan istri dan putranya. Tidak berapa lama, taxi pun tiba di kediaman Angga. Angga segera membayar dan masuk ke area rumahnya. Alysa masih belum terlihat karena Bandara lumayan cukup jauh.


Angga masih memikirkan cara untuk menutupi masalah ini dan mencoba mencari solusinya dengan menunggu bukti yang kuat dari Willy. Kenapa sih harus kayak gini?


Angga duduk di sofa sembari menelpon seseorang.


"Kau cari si pecundang Adryan sampe dapat dan bukti yang kuat, untuk masalah CCTV biarkan Willy yang menanganinya. Ingat, harus segera di pecahkan, saya gak mau istri saya tau masalah ini." perintah Angga.

__ADS_1


Tatapannya begitu tajam. Amarahnya kembali memuncak.


Awas kau wanita gila. Setelah saya dapatkan bukti yang kuat, saya tidak akan segan-segan memasukkan kau dalam sel tahanan dan membungkam disana. Bukan karena saya diam saya akan menikahi kau, kau bersiaplah untuk menanggung rasa malumu.


Angga menghela nafasnya yang kini mulai tidak beraturan. Ia meremas kedua tangannya dan menyandarkan kepalanya.


Terdengar suara bel rumah berbunyi, membuat Angga segera beranjak dan segera menemuinya.


TING TONG TING TONG


"Sebentar." ucapnya lantang.


CEKLEK


"Mas..." Alysa menangis kembali dan segera memeluk Angga dengan erat.


HIKS...


"Sayang, maafkan Mas ya?" Angga mengeratkan pelukannya dan tak terasa bulir-bulir air matanya mengalir di rambut sang istri.


Mira yang saat itu merasa kesal dengan Abangnya, ia pun akhirnya menangis karena harus melihat sepasang suami istri yang ada didepannya. Si kecil Edward menangis membuat Alysa melepaskan pelukannya dan Angga segera menggendongnya.


"Anak Papa yang tampan!" Cup, Angga menciuminya. "Ayo masuk."


Saat ini mereka sudah duduk di sofa. Angga masih menggendong Edward di pangkuannya. Alysa tidak jauh-jauh dari Angga, ia masih kesal dan tentunya juga sangat merindukan suaminya. Perasaan khawatirnya kini mulai menghilang.


"Mas...Kemarin kemana sih? Ayo jelasin, jangan boong!" pinta Alysa dengan menekuk wajahnya.


Angga yang mendengar hal itu langsung terdiam. Ia bingung menjelaskan semua yang terjadi padanya.


"Mas..." panggil Alysa karena laki-laki yang sedang diajaknya berbicara malah terdiam membisu.


"Ha...Iya?" tanya Angga


"Ihhh...Tau ahh, males bicara!" kesal Alysa.


"Jangan marah dong, kan Mas sibuk banget kemarin sayang." mengecup istrinya berkali-kali.


"Mas gak main sama cewek lainkan?" tanya Alysa dengan tatapan yang begitu mengintimidasi.


"Enggak sayang. Mas main sama cewek yang mana coba?" tanya Angga meyakinkan. Ia rela harus berbohong agar Alysa tidak semakin membencinya.


"Mulai sekarang, aku gak bakal ninggali Mas Angga lagi. Aku takut kalo Mas Angga main sama cewek lain di belakangku!" pekik Alysa masih dengan raut wajah yang kesal.


"Iya, Mas gak main sama cewek lain. Udah-udah, jangan ngambek terus. Nanti cantiknya ilang lho..." Angga mencoba menghibur istrinya agar tidak menginterogasinya lagi.


"Mas udah makan? Biar Aku yang buatin." Alysa segera pergi ke dapur untuk memasak, walaupun kepalanya masih sedikit pusing karena perjalanan jauhnya.


Angga menatap kepergian Alysa ada rasa bersalah dalam dirinya. Ia sudah membohonginya agar keluarganya masih bisa bertahan seperti sebelumnya. Mira yang masih berada disana menatap Angga dengan sendu.


"Bang?" panggil Mira.


"Iya, kenapa?" memutar bola matanya dan menatap adiknya.

__ADS_1


"Hmm...Abang benerkan gak main cewek?" tanya Mira sedikit ragu.


Kenapa Mira bicara seperti ini? Apa dia sudah mengetahuinya? Pertanyaan-pertanyaan itu kini selalu menghantui Angga.


"Enggak. Kan Abang sibuk kerja. Mana mungkin Abang sama cewek di belakang Alysa."


"Hmm...Bang aku mau pulang, anterin!" rengek Mira.


"Ya udah sebentar, Abang izin dulu sama Alysa."


Angga segera pergi menemui Alysa yang sedang masak di dapur.


"Ma, Papa nganterin Mira dulu ya. Papa gak akan lama, cuma nganterin doang," ucap Angga dan segera mencium kening istrinya. Alysa tampak ragu, namun setelah beberapa saat akhirnya ia pun mengizinkannya.


"Ya udah, hati-hati di jalannya ya, Pa. Jangan lama-lama, nanti makanannya keburu dingin," Alysa tersenyum.


Angga segera kembali ke ruang tamu untuk mengantarkan Mira. Edward sudah di ambil alih istrinya. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Diperjalanan, Angga tak banyak bicara. Ia tidak ingin anggota keluarga yang lainnya mengetahui masalah ini.


Tiga puluh menit sudah terlewati, Angga menghentikan mobilnya di depan carport rumah Mamanya. Angga mengambil koper dan membawanya ke dalam rumah. Mira mengekorinya di belakang.


Mereka masuk setelah pintu dibuka oleh pembantu. Angga membawa koper sampai di kamar Mira, karena koper itu sangat berat. Mamanya Angga datang ke kamar Mira setelah mengetahui kedatangan anak-anaknya.


"Udah pulang, Mir?" ucap Mama membuat Angga dan Mira cukup terkejut.


"Iya, Ma. Assalamu'alaikum." Mira mencium tangan Mamanya, begitu pun dengan Angga.


Raut wajah Mamanya tiba-tiba berubah, Angga pun memilih untuk segera pergi. Namun belum sempat ia keluar kamar, Mamanya menarik tangannya.


"Tunggu!" Angga membalikkan tubuhnya. Wajah datarnya kembali terlihat. Antara amarah dan kebencian sudah mendarah dalam dirinya.


"Cukup, Ma. Angga tidak bersalah! Mama lebih percaya sama wanita itu?" tatapan tajam Angga membuatnya Mamanya semakin marah. Mira yang tidak mengetahui semuanya pun langsung mendekati dan mencoba menanyakan yang terjadi antara Mama dan Abangnya.


"Ada apa ini?" tanya Mira dengan tatapan begitu mengintimidasi.


"Abang kamu udah bermain dengan wanita yang bukan istrinya!"


"APAA? (Mira langsung menatap tajam pada Angga). Jadi firasat ku dan kakak ipar memang benar. Abang sudah bermain cewek dibelakangnya? Ku kira, Abang tidak punya sifat seperti ini! Kasihan kakak ipar, dia menangis saat study tour kemarin!" Mira langsung marah dan emosinya langsung membludak.


Angga yang mendengar ucapan adiknya langsung akan menamparnya. "Cukup, Mira. Itu tidaklah benar, wanita itu yang sudah menjebak Abang! Abang tidak pernah bermain cewek di belakang Alysa. Kau tidaklah tau kebenarannya!" Angga langsung pergi begitu saja. Mira yang saat itu masih ingin menanyakannya, langsung saja ia berlari mengikuti langkahnya.


"Bang, jelaskan semuanya! Aku kasihan sama Kakak ipar! Kenapa Abang bisa seperti ini? Apa Kakak ipar tidak pernah memuaskan hasratmu? Jelaskan, Mira butuh penjelasan dari masalah ini!" Mira menahan tangan Angga dan Angga langsung menjelaskan semuanya. Mulai dari pertama ia pergi ke Hotel hingga sampai ia terbaring di Rumah Sakit.


Mira langsung menangis mendengar semua itu. Papa yang baru saja masuk ke rumahnya, ia pun langsung mendekati sumber suara. "Ada apa ini? Mira kamu sudah pulang?" tanya Papa dengan raut wajah yang sulit di artikan.


"Iya, Pa. Barusan Mira pulang!" jawab Mira.


"Kenapa kamu nangis? Ada apa semua ini?" tanya Papa. Mira pun langsung menjelaskan semuanya yang sudah di katakan oleh Abangnya sendiri. Papa begitu syok, karena ia benar-benar tidak mengetahui jika Angga malam itu sudah bermain dengan wanita lain. Ia tahunya, jika Angga mengkonsumsi obat tidur saja untuk mengatasi kelelahannya saat bekerja.


Angga hanya diam, masalahnya kini semakin besar. "Jadi seperti ini, Ga? Kamu dijebak sama wanita pilihan Mama kamu sendiri?" tanya Papa marah dan segera mengedarkan pandangannya pada istrinya. "Ma, ini calon yang ingin Mama berikan untuk anak kita? Bagus ya! Sangat bagus. Kau itu seorang ibu, kau seharusnya tau apa yang terbaik untuk anak kita! Dia sudah menikah dengan wanita baik-baik, bukan seperti wanita yang Mama inginkan. Dia anak kampung, tapi tidak dengan wajahnya! Lihat kedewasaan menantu kita, walaupun dia masih kecil, dia bisa mengurus semuanya dengan benar! Apa Mama punya bukti jika Angga sudah bermain dengan wanita lain?" Papa semakin marah. Istrinya terdiam dan tidak bisa menjawab semua pertanyaan yang di lontarkan oleh suaminya.


***


Maaf alur ceritanya seperti ini, tapi nanti semua kebusukan Destia akan terbongkar🤧

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, comment nya❤


__ADS_2