
Angga bergegas pergi dari ruangannya untuk menemui seseorang. Ia berjalan sembari menatap arloji di tangan kirinya. Berpapasan dengan beberapa karyawan yang berlalu lalang. Hingga akhirnya pun sampai di ruang tamu khusus. Angga menyandarkan pandangannya pada sosok laki-laki berpakaian jas seperti dirinya.
Angga mendekatinya dan duduk di seberangnya. "Selamat siang, Pak!" ucap Adryan mengulurkan tangannya tersenyum ramah.
Oh, yang ini wajahnya. Tampan sih.
"Siang juga. Maaf menunggu lama," membalas uluran tangannya.
"Tidak apa-apa, Pak. Saya datang kesini mau bekerjasama dengan perusahaan, Bapak. Tapi untuk meetingnya saya adakan di hotel X, tidak apa-apa kan?" tanya Adryan.
Angga tampak berfikir. Karena ini pertama kalinya ia meeting di sebuah hotel. Ia menatap Adryan dengan seksama, mencari sesuatu dari tatapannya.
Angga mengangguk setuju dan akan menemuinya. "Baiklah. Kapan?" tanya Angga.
"Kalau hari ini saya tidak bisa, Pak. Bagaimana dua hari kemudian kita bertemu di hotel X. Mungkin, sepertinya Bapak juga sedang sibuk."
"Ya sudah, kalau begitu saya permisi. Nanti sekretaris saya yang akan memberitahunya!" Angga langsung kembali ke ruangannya.
Gak tega gue ngajak Pak Angga minum. Sepertinya, dia orang baik-baik dan tidak pernah menyentuh barang haram itu. Ya, gue harus gimana lagi? Gue juga harus bantuin teman gue.
Angga duduk dikursi kebanggaannya. Ia merasa ada yang aneh dengan kliennya satu ini. Biasanya para klien akan meeting di perusahan dirinya atau di perusahaan yang meminta.
"Ngapain meeting di hotel? Mau tidur apa mau meeting?" gumam Angga.
***
Waktu menunjukkan pukul 22.30 WIB. Angga masih sibuk dengan kerjaannya. Berkas-berkas masih menumpuk di mejanya. Matanya tajam lurus ke arah laptop. Tangannya berkutat tak berhenti. Secangkir kopi yang menemani kesendiriannya malam itu.
"Mama udah tidur belum ya? Hari ini aku sibuk sekali, sampai-sampai aku tak mengabarinya." ucap Angga di dalam keheningan.
Setengah jam kemudian, Angga membereskan kembali berkas-berkas. Ia memasukkan laptop dan beberapa dokumen berisikan berkas-berkas penting pada tas kerjanya. Ia melihat arloji sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Tanpa berfikir panjang, ia segera bergegas pulang.
Sementara itu, Alysa kini sedang gelisah. Angga tidak biasanya pulang selarut ini. Ia mondar-mandir dan berharap suaminya akan cepat pulang. Sesekali ia melihat putranya yang sudah tertidur dengan lelap di bawah selimutnya. Alysa menutup pintu kamar dan pergi ke lantai bawah. Tiba disana dia duduk di sofa sembari melihat jam dinding. Karena malam itu sangat mencekam baginya, ia pun mengambil ponselnya dan akan menelpon suaminya.
Angga tak menjawabnya dan membuat Alysa semakin gelisah. Kemana dia? Apa pekerjaannya begitu banyak? Kenapa dia pulang selarut ini? fikirnya.
"Mas Angga kemana sih? Udah malem banget!"
__ADS_1
Karena Alysa sangat mengantuk, akhirnya ia tertidur di sofa sembari menunggu kedatangan suaminya.
Setengah jam berlalu, Angga datang dan membuka pintunya. Ia berjalan menuju ke arah keluarga untuk menaiki anak tangga. Tiba-tiba ia melihat seseorang sedang tidur disofa, ia mendekatinya.
"Ya Allah, sayang. Kenapa tidur disini?" Angga mencium pipi sang istri yang sedang terlelap. Ia memeluknya dan terus menciumnya.
"Maafin, Papa ya Ma. Papa sibuk sekali hari ini," Angga melihat ponsel Alysa yang sedang menelpon ponselnya. Ia mengambilnya dan juga mengambil ponselnya. Angga merasa bersalah karena tidak mengabari istrinya yang sedang sakit seperti ini harus menunggu kedatangannya.
Angga mencium bibir merah istrinya dan membuat istrinya bangun karena terkejut. "Papa, udah pulang?" tanya Alysa sembari mengucek matanya.
"Iya, Ma. Papa baru pulang. Maafin Papa ya Ma? Papa sibuk banget." Angga memohon membuat Alysa tersenyum dan memeluk suaminya.
"Tidak apa-apa. Mau makan dulu? atau mandi dulu? Biar Mama siapin sekarang." tanya Alysa melepas pelukannya dan beranjak.
"Mau mandi dulu, Ma." jawab Angga beranjak mengikuti sang istri.
"Ya udah, Mama siapin air angetnya ya, Pa," Alysa berbalik mengambil tas kerja Angga yang sedang dipegang oleh Angga dan berjalan mendahuluinya. Angga dengan cepat segera memangku istrinya ala bridal style.
"Pa..."
"Udah, Pa. Tidurnya dikamar kita," Alysa mengalungkan tangannya di leher Angga.
Tiba di kamar, Angga menurunkan Alysa. Alysa menyiapkan air hangat untuk suaminya dan kembali lagi ke kamar. Ia menyiapkan pakaiannya dan juga membukakan pakaian kerja yang masih di kenakan oleh suaminya.
"Mama kan lagi sakit, udah biar Papa aja."
"Enggak. Mama harus menyiapkan semua kebutuhan suami. Kalau kebutuhan suami sudah tercukupi, berarti istri pun akan senang melihatnya." ucap Alysa tersenyum kecil membuat Angga mencium keningnya.
Ia merasa beruntung memiliki istri seperti Alysa. Walaupun Alysa masih sangat kecil, tapi tidak kalah dewasa dari dirinya. Alysa mengurus semuanya dengan baik. Mengurus suaminya, anaknya dan juga rumah sendirian. Angga benar-benar sangat bersyukur. Ia tiba-tiba menangis, karena ia merasa belum menjadi suami dan ayah yang baik untuk istri dan anaknya. Alysa yang melihat itu langsung menghapus air mata suaminya.
"Kenapa nangis?" tanya Alysa menatap Angga.
"Papa sangat beruntung memiliki Mama. Walaupun Mama masih kecil dan tidak pernah membantah keinginan suaminya. Mama mengurus semuanya dengan baik. Papa rasa, Papa belum bisa memberikan yang terbaik untuk, Mama."
"Udah, Pa. Mama ikhlas melakukan ini semuanya. Mama melakukannya untuk keluarga kita. Ibu pernah bilang, jangan pernah membantah ucapan suami, urusi kebutuhannya dan juga turuti perintahnya. Mama masih mengingatnya, mungkin dengan cara seperti ini, Mama bisa berbakti pada suami. Papa udah lebih dari cukup membahagiakan Mama sampai saat ini. Papa tidak pernah kasar sama Mama, Papa baik sama Mama dan juga anak kita (menangis sembari menatap putranya yang sedang tertidur)"
"Papa merasa bersalah. Selama kita menikah, mungkin Mama merasa tertekan dengan ucapan Mama waktu itu. Papa janji, Papa tidak akan pernah meninggalkan Mama sampai kapanpun."
__ADS_1
"Iya, Pa. Ya sudah, ayo mandi dulu. Nanti airnya keburu dingin."
"Cium dulu..." ucap Angga dengan manja.
"Jangan aneh-aneh deh, Pa. Ini udah malam."
"Cepat cium dulu, nanti Papa langsung mandi." Alysa mendekat dan mencium pipi suaminya dengan wajahnya yang memerah menahan malu.
"Yang kanan juga dong. Kasihan dia iri..."
"Udah sana (mendorong tubuh suaminya). Mau dibuatin kopi gak, Pa?" tanya Alysa saat Angga sudah berada di ambang pintu kamar mandi.
"Buatin, Ma. Plus tambah cinta dan sayangnya biar lebih enak hehe..." Angga tersenyum geli dan segera menutup pintu.
"Dasar lebay..."
Alysa segera pergi ke dapur membuatkan secangkir kopi untuk suaminya. Ia juga mengambil piring beserta nasi dan lauknya untuk suaminya makan nanti.
Angga tiba di ruang makan. Ia duduk di sebelah istrinya dan menyeruput kopinya.
"Mama udah makan?"
"Udah tadi, Pa."
"Kapan? Ayo kita makan lagi." langsung menyuapi istrinya.
Merekapun makan malam bersama dengan suasana romantis di malam hari.
Pukul 24.00 WIB, mereka pergi ke kamar untuk merebahkan tubuhnya. Alysa yang sudah mengantuk langsung tidur dengan memunggungi suaminya. Angga memeluknya dari belakang dan wajahnya menempel di leher Alysa. Alysa bisa merasakan nafas suaminya.
"Ayo tidurlah, Papa tidak akan memintanya malam ini."
***
Andaikan ada suami kayak gitu di dunia ini? Istri pun pasti senang sekali sampai mau saltoš¤§š¤£
Jangan lupa Vote, Like, Comment dan Tip sebanyak-banyaknya ya kakak-kakak tercintaā¤
__ADS_1