
Pagi itu di rumah besar tampak si Tuan sedang memarahi putranya. Ia sangat marah karena putranya selalu saja menangis dengan menyebut-nyebut nama istrinya yang sampai saat ini tidak pernah ditemukan.
"Jangan nangis, jangan cengeng. Kamu itu laki-laki!" bentak Angga membuat Edward langsung menjerit histeris.
"Aaaa...Papa jahat. Papa boong sama Edwald!!" Edward langsung lari menuju kamarnya dengan keadaan marah dan air matanya sudah mengalir dengan deras.
Edward menutup pintunya dan naik ke atas ranjang. Ia menangis kembali dengan menonjokkan tangan ke bantal. Ia merindukan sosok Ibu yang selalu membuatnya ceria. Ia ingin bertemu dengannya, menciuminya dan bermanja-manja dengannya.
"Mama...Edwald lindu sama, Mama. Mama dimana? Mama gak kangen ya sama Edwald? Ma, Pa jahat sama Edwald. Papa selalu tampal Edwald. Huaaa....!"
"Katanya, Mama janji gak akan tinggalin Edwald disini!"
Edward menyembunyikan wajah sembabnya di bantal hingga ia tertidur karena terlalu banyak mengeluarkan air mata. Sementara itu, Angga saat ini sedang menelpon seseorang. Dari raut wajahnya ia begitu sangat marah.
"Kerja gak becus! Saya rugi udah gaji kalian besar. Mana dedikasi kalian pada perusahaan saya? Semua kerjakan kembali sesuai aturan yang berlaku. Tidak ada penolakan, tidak ada cuti selama pekerjaan kalian belum tuntas. Saya tidak mau menerima hasil pekerjaan yang masih belum kalian kerjakan selama satu minggu ini." Angga langsung memutuskan teleponnya dan pergi ke area taman belakang dengan wajah kesal.
Angga duduk di sebuah kursi yang menghadap ke area kolam renang. Pemandangan yang indah dan angin pagi yang sejuk membuatnya teringat kembali pada sosok istri yang selalu duduk disana sembari melihat putranya main. Kini sang istri entah ada dimana keberadaannya. Tanpa kehadiran sosok Alysa, Angga menjadi pria kejam dan juga menakutkan. Tak ada yang bisa membuat hatinya menjadi lemah selain Alysa. Ia merindukan sosok wanita cantik itu.
Sayang, kamu dimana sekarang? Kamu baik-baik aja? Kamu gak kangen sama, Mas dan Edward? Kenapa gak bilang kalo mau pergi? Kamu pergi kemana, sama siapa? Mas mohon pulanglah. Mama sudah merestui hubungan kita sayang. Air matanya tak bisa ia bendung lagi. Pria itu sangat lemah dengan tangan yang menopang dagunya.
Angga tidak akan menyangka, pernikahan yang kedua kalinya harus berakhir seperti ini. Ia merindukan sosok istri yang selalu memberinya support dan cinta untuk dirinya. Ia juga merasa bersalah pada putranya. Ia harus berbohong untuk melihat putranya tidak menanyakan keberadaan Ibu tirinya itu.
Angga mengambil ponselnya dan membuka galeri. Satu per satu kenangan bersama Alysa pun kini sudah memenuhi fikirannya. Ia menangis kembali dan menciumi foto itu.
"Pulanglah, sayang. Edward sangat merindukan dirimu."
Tiba-tiba pembantu rumah datang, dan segera menyuruh Angga untuk sarapan terlebih dahulu.
"Permisi, Tuan. Sarapannya sudah siap," ucap pembantu.
Angga memutar bola matanya. "Iya, Bi. Saya makan di luar aja. Dan tolong Edwardnya mandiin dulu. Soalnya mau saya ajak ke rumah, Mama."
"Baik, Tuan."
Setelah pembantunya pergi, Angga segera pergi menuju kamar. Hari ini ia akan mengantarkan Edward ke rumah Mamanya, karena ia harus pergi ke perusahaannya. Jadwalnya kini semakin padat, dan membuatnya sedikit prustasi. Jika saja istrinya masih ada didekatnya, mungkin saja ia masih bisa tersenyum walaupun pekerjaannya di kantor semakin menumpuk.
Perjalanan menuju rumah Mamanya, Angga menoleh ke arah Edward yang masih cemberut dan matanya sembab akibat menangis tadi. Angga mengusapi rambut putranya. Edward yang merasa masih marah sama Papanya, ia langsung memalingkan wajahnya.
"Kenapa? Masih marah sama, Papa?" tanya Angga dan pandangannya kembali ke depan.
"Gak...!" ketus Edward.
"Ayolah, kita berdamai. Tadi Papa marah lagi banyak pekerjaan."
__ADS_1
"Mana Mama? Edwald ingin Mama pulang hali iniiii...!" teriak Edward.
"Mama tidak ada! Lain kali gak usah nanyain Mama lagi."
Semua ini gara-gara wanita busuk itu. Saya pastikan, dia akan membungkam dipenjara seumur hidupnya.
Perbincangan diantara Papa dan putranya pun berakhir. Angga melajukan mobilnya dengan cepat. Amarahnya kali ini memuncak kembali. Setelah tiga puluh menit perjalanan, mobil berhenti di depan rumah bergaya Eropa. Angga turun dan segera membawa Edward masuk.
TING TONG TING TONG.
"Pada kemana nih? Lama banget yang buka pintu!" gumam Angga.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya pintu terbuka dengan lebar. Angga dan Edward langsung masuk ke dalam.
"Bi, Mama dimana? Di kamar?" tanya Angga.
"Iya, Tuan. Nyonya besar ada di kamarnya."
"Oh, ya sudah. Saya titip anak saya disini. Saya harus ke kantor. Jangan biarkan dia main sendiri," titah Angga pada pembantu.
"Baik, Tuan."
Angga melajukan mobilnya kembali. Dalam perjalanan, ia masih memikirkan Alysa. Sudah dua Minggu ini ia tidak melihat wajah cantik istrinya. Ingin sekali ia berjumpa, namun apalah daya semua hanyalah sia-sia. Angga mengeluarkan ponselnya, dan hendak menelpon Willy.
"Baik, Pak. Tapi, Bapak masuk ke kantor kan untuk hari ini? Karena ada masalah serius mengenai karyawan."
"Iya. Saya hanya sebentar." Angga menutup teleponnya dan segera melajukan mobilnya menuju suatu tempat.
Sayang, jangan khawatir ya. Mas, akan mencari keberadaanmu. Mas, akan membawamu pulang ke rumah.
Mobil berhenti tepat di depan warung nasi. Ya, Angga mengunjungi warung nasi yang sempat ia tanyakan beberapa hari yang lalu. Angga turun dan segera melangkah masuk ke dalam.
"Bu, pesan nasi sama lauknya telur aja."
"Baik, Mas."
Tidak berapa lama, nasi yang sudah dipesan Angga pun kini sudah terhidang di meja. Angga langsung menyantapnya dan mencoba mengajak penjual nasi itu untuk berbicara sedikit dengannya.
"Bu, apa kita bisa bicara sebentar?" ucap Angga, saat Ibu penjual nasi hendak pergi.
"Boleh. Oh, ini Mas yang waktu itu nanyain istrinya ya?" tanya Ibu penjual nasi, laku segera duduk di samping Angga.
"Iya, Bu. Apa ibu pernah melihat keberadaan istri saya lagi?" tanya Angga dan menghentikan acara sarapannya.
__ADS_1
"Ibu gak pernah lihat lagi, Mas. Mungkin istri Masnya masih di sekitaran sini."
"Kirain, Ibu lihat. Soalnya anak saya selalu nanyain Ibunya."
"Mas ke rumah orangtuanya aja."
"Udah, Bu. Tapi orangtuanya juga udah pindah rumah. Dan tetangganya pun gak ada yang tau pindah kemana."
*FLASHBACK ON*
Seminggu yang lalu, Angga berniat untuk pergi ke rumah orangtuanya Alysa. Ia berfikir untuk bertemu dengan istrinya, dan membawanya kembali ke rumah. Namun naas, saat ia sampai disana, mertua dan istrinya sudah tidak ada disana. Namun karena ia ingin mengetahui kebenarannya, Angga pun menanyakannya langsung pada tetangga disana.
"Permisi, Bu. Saya mau nanya," ucap Angga saat hendak melihat tetangga Alysa yang sedang duduk di teras rumah.
"Iya, Mas. Oh, ini suaminya Alysa ya? Ganteng banget to, Mas. Alysa pasti bahagia ya, punya suami ganteng kayak gini. Andaikan, Mas jadi menantu saya," guyon Ibu itu dengan tersenyum membuat Angga mengerutkan dahinya.
Astagfirullah, kenapa ibu-ibu selalu saja begini?
"Hehe, iya Bu. Saya mau nanya, kalo orang tua Alysa kemana ya?"
"Lho, emangnya Mas belum tau? Orangtuanya Alysa udah pindah ke Kota," jelas Ibu itu membuat Angga terkejut.
"Yang bener, Bu? Pindah ke Kota mana sekarang?"
"Ibu kurang tau. Soalnya pas ditanya jawabnya gini, 'mau pindah Bu, ke Kota', kayak gitu, Mas."
Ibu sama Ayah mertua pindah ke Kota mana ya? Mau nanyain juga susah. Nomor ponsel saya pun udah di blokir sama Alysa.
"Ya sudah, Bu. Terima kasih, saya permisi pulang dulu."
"Mas, gak mampir dulu disini?"
"Enggak, Bu. Saya harus bekerja lagi. Assalamu'alaikum," Angga langsung pergi dengan keadaan tidak tenang. Kenapa semua ini terjadi seperti ini?
*FLASHBACK OFF*
"Bu, kalau misalnya Ibu lihat istri saya. Ibu bisa telepon saya, dan ini nomor ponselnya," Angga menyerahkan secarik kertas pada Ibu itu.
"Iya, Mas. Ibu juga yakin, kalo istrinya masih ada di Kota ini. Nanti kalo misalnya Ibu lihat, Ibu kabarin ke Mas-nya."
"Iya, Bu. Sebelumnya terima kasih." Angga tersenyum dan segera melanjutkan kembali acara sarapannya.
***
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, comment sebanyak-banyaknya ❤