
Pagi hari, Alysa bangun dengan mengucek matanya lalu membukanya perlahan-lahan dan ia melihat Angga masih tertidur dengan memeluk dirinya. Alysa meraba-raba rambutnya yang berantakan dan wajahnya terlihat sembab. Ia merasakan perih dibagian i***m dan pahanya. Ini semua gara-gara ulah Angga yang menerkamnya seperti singa yang kelaparan. Bisa dibayangkan selama 4 tahun ia tidak menyalurkan hasratnya, dan semalam Alysa benar-benar merasakan keganasan dan kejantanan Angga. Angga berkali-kali melakukannya hingga membuat Alysa kelelahan dan tertidur.
Alysa mencoba mengangkat tangan Angga, namun ia tidak bisa karena tangan Angga cukup besar, dan ia tidak punya tenaga lagi. Alysa ingin sekali melihat Edward di kamar sebelah. Ia mencoba menggoyangkan tangan Angga agar bangun.
"Mas? Mas? Ayo bangun!" lirih Alysa dengan menggoyangkan tangan Angga.
Angga menggeliat dan membuka matanya, namun itu sangat susah bagi dirinya. Ia masih mengantuk dan tidak tahu sampai pukul berapa ia melakukannya. "Hmmmpp..".
"Ayo bangun Mas. Kita lihat Edward dulu, habis itu kita sholat subuh berjamaah" Ucap Alysa. "Mas, ini sakit banget gara-gara ulah kamu Mas" lanjut Alysa mengaduh kesakitan pada bagian pangkal pahanya.
"Hehe, abisnya enak banget sayang. Ya udah nanti kita ke dokter yuk, kita periksain takutnya kenapa-kenapa," sahut Angga terkekeh dengan ulahnya sendiri.
"Gak mau Mas, malu!" Alysa menutupi tubuhnya dengan selimut yang tidak ada satupun pakaian ditubuhnya itu.
"Jangan ditutupin kayak gitu, saya sudah melihatnya dan kamu juga sudah melihat milik saya," ucap Angga membuat pipi Alysa memerah karena malu.
"Ihh...Ayo bangun!" lanjut Alysa.
Dengan berat hati, Angga pun segera bangun dan segera memakai kolor. Alysa melilitkan selimutnya ditubuh kecilnya dan mencoba untuk berjalan, namun itu sangat susah dan juga perih dibagian pangkal pahanya, "Jangan kemana-mana dulu, duduk aja ya, biar saya yang lihat Edward," ucap Angga dan Alysa pun mengangguknya. Angga segera pergi ke kamar sebelah untuk memastikan Edward.
Perih banget nih, gimana mau jalan? Masa iya aku harus ke dokter?. Batin Alysa.
Alysa mencoba meraih pakaiannya dan segera memakaikannya. Namun tiba-tiba, ia melihat bercak darah di spray dan tepat di tempat ia tidur. Alysa terkejut dan segera menutupinya agar Angga tidak mengetahuinya. Namun Angga sudah mengetahuinya dan mendekati Alysa.
"Gak usah ditutupin kayak gitu, nanti kita cuci. Ini darah kamu sayang, ketika seorang wanita pertama kali melakukan hubungan suami istri, maka akan terjadi seperti ini. Itu tandanya kamu benar-benar masih perawan!" jelas Angga membuat Alysa mengernyitkan dahinya dan segera mengeceknya pada celana yang sudah ia pakai. Dan memang benar saja, ada sebagian darah yang menempel di bagian celananya.
"Mas, ini gak apa-apakan?" tanya Alysa dengan nada khawatir.
"Tidak apa-apa sayang. Ya sudah kita mandi yuk?" ajak Angga dan Alysa pun mengangguknya. Angga memangkunya dan membawanya ke dalam bathtub yang sudah berisi air hangat. Angga melucuti pakaian Alysa, membuat Alysa menutupi tubuhnya.
"Ayo mandi, saya mau mandi disini" ucap Angga dengan menunjukkan tempat shower.
"Iya Mas" sahut Alysa.
Dua puluh menit kemudian, Angga dan Alysa sudah berpakaian dan akan melaksanakan sholat subuh berjamaah. Sholat berjamaah kali ini merupakan pertama kalinya bagi Alysa setelah berstatus menjadi istri. Ia begitu bahagia mengingat Angga sangat baik padanya, padahal Angga terlihat kejam. Setelah selesai sholat, Alysa mencium tangan Angga dan Angga mencium kening Alysa.
"Jadi istri yang baik ya sayang. Dan tuntunlah saya agar bisa menjadi imam yang baik untuk kamu!" ucap Angga lalu mengusapi kepala Alysa dengan lembut dan segera merapikan sajadah dan sarungnya.
"Iya Mas" ucap Alysa tersenyum.
Alysa beranjak dan segera melihat Edward ke kamar sebelah. Angga duduk di sofa lalu membuka laptopnya karena Willy mengirimkan sesuatu lewat e-mail. Tidak berapa lama, Alysa kembali dengan menggendong Edward yang masih mengantuk. Alysa menidurkannya kembali diranjangnya dan melucuti pakaian Edward satu per satu. Ia harus memandikannya.
Angga tampak serius dengan laptopnya membuat Alysa menolehnya dan setelah itu ia langsung membawa Edward ke dalam kamar mandi. Alysa memandikan Edward, kali ini Edward tidak bisa diam dan terus berlari membuat Angga yang tadinya sibuk di depan laptop, kini ia segera membantu Alysa dengan memegangi tubuh Edward.
__ADS_1
"Diam ya sayang" ucap Alysa dengan menyabuni tubuh Edward.
"Iya Mama. Mama, Mama kemalin Edwald mimpiin Mama lho...Tapi Mama gendong adik kecil, Edwald gak suka Mama gendong-gendong adik kecil!" ucap Edward menceritakan mimpinya semalam membuat Angga tersenyum.
"Mama gendong adik kecil? Adik kecil siapa? Kan Mama udah punya adik kecil, yaitu kamu sayang" ucap Alysa seraya mengernyitkan dahinya.
"Bukan Mama. Mama gendong-gendong dia, Mama gak sayang lagi sama Edwald" ucap Edward dengan nada sedih.
Alysa benar-benar tidak mengerti dengan ucapan Edward. Adik kecil siapa? Pikirnya. Angga hanya tersenyum, ia mengerti maksud yang diucapkan oleh Edward.
"Maksud Edward itu kalau kamu nanti hamil, kamu gak sayang lagi sama Edward. Tapi kayaknya kamu harus cepat-cepat hamil sayang. Biar Edward enggak kayak gini terus," ucap Angga membuat Alysa menatapnya dalam.
"Nanti saja Mas, Edward aja masih susah kita mandiin gimana kalau Alysa hamil? Pasti repot banget" kata Alysa membuat Angga tersenyum. "Mas, kita nginap disini berapa hari?" tanya Alysa.
"Hari ini kita pulang ke rumah. Tapi saya harus ke perusahaan sebentar, kamu mau ikut?" tanya Angga.
"Ikut Mas, takutnya Mas ada yang ambil hehe" kekeh Alysa.
"Udah mulai cemburu nih. Saya tunggu di sofa, kita sarapan dulu" Ucap Angga dan langsung pergi. Alysa melilitkan handuk di tubuh Edward dan segera menggendongnya.
Dimeja makan sudah terhidang beberapa macam makanan membuat Angga memepercepat langkahnya dan duduk di kursi. Alysa segera memakaikan pakaian pada Edward, namun Edward tidak bisa diam dan terus berlari. Alysa merasakan kesakitan pada bagian pangkal pahanya dan segera duduk, membuat Angga yang sedang mengamati makanan yang terhidang di meja ia segera menghampirinya Alysa.
"Kenapa sayang?" tanya Angga dengan menjongkokkan punggungnya seraya menegangi lutut Alysa.
Angga pun langsung berlari kecil dan membawa Edward yang sedang memainkan mainannya tanpa menggunakan pakaian sehelai apapun ditubuhnya. Setelah itu, Alysa segera memakaikan pakaiannya dan merapikan rambutnya. "Udah tampan aja nih anak Mama sama Papa. Ayo sarapan dulu" ucap Alysa, lalu mendudukkan Edward di kursi disamping Angga.
Alysa mengambil piring, dan mengambil nasi beserta lauk pauknya dan memberikannya pada Angga, Edward dan juga untuk dirinya. Mereka segera menyantap makanan itu dengan suasana harmonis.
***
Beberapa jam kemudian, mereka sedang dalam perjalanan menuju perusahaan. Angga hanya fokus menyetir, Alysa memeluk Edward yang sedang memainkan iPadnya. Hanya butuh waktu tiga puluh menit, merekapun sampai di perusahaan Angga dan segera turun dari mobil. Angga menggendong Edward dengan memegangi tangan Alysa. Ketika melewati lobby kantor, semua mata tertuju pada mereka membuat Alysa menundukkan wajahnya. Semua karyawan menundukkan kepalanya dan tersenyum ramah.
"Selamat pagi pak, bu" ucap karyawan.
"Pagi pak, bu".
"Iya" jawab Angga tersenyum tanpa menoleh pada karyawannya.
Setelah sampai di depan lift, Angga segera memencet tombol itu dan masuk. Sementara itu, Alysa masih saja menundukkan kepalanya karena ia benar-benar malu dengan statusnya sekarang, yaitu menjadi Nyonya Angga. Tidak berapa lama, pintu lift terbuka Angga dan Alysa melangkahkan kakinya menuju ruangan Angga. Angga membuka pintu ruangannya dan segera masuk di ikuti Alysa dibelakangnya.
"Mas" panggil Alysa.
"Iya sayang kenapa?" tanya Angga, lalu mendudukkan Edward di sofa.
__ADS_1
"Mas disininya bakalan lama gak? Soalnya Alysa harus ke kontarakan dulu, Ibu sama Aya mau pulang sekarang," ucap Alysa.
"Tidak akan lama, saya mau menandatangani berkas-berkas saja" jelas Angga. Angga segera menelpon Willy untuk datang keruangannya. Tidak lama, Willy pun datang dengan membawa berkas-berkas yang ada di tangannya. Willy menatap sendu pada Alysa membuat Angga segera memanggilnya kembali.
"Will cepat!" panggil Angga.
"Iya pak" ucap Willy dan segera memalingkan pandang Alysa.
"Kau nanti urus berkas dari perusahaan pak Aryo. Untuk meeting kita tunda dulu selama dua hari. Dan untuk investasi perusahaan elektronik dari cabang ke dua, kau pegang dulu berkas-berkasnya, nanti saya baca," perintah Angga dan Willy pun menganggukkan kepalanya. Setelah itu ia keluar dari ruangan Angga dan sesekali ia menatap Alysa dengan penuh cinta yang sedang bermain dengan Edward.
Kenapa Willy lihatin Alysa seperti itu? Apa dia mencintainya?. Batin Angga.
Setelah menandatangani berkas-berkas, Angga dan Alysa segera pergi. Angga melajukan mobilnya menuju kontrakan Alysa untuk menemui Ibu dan Ayah mertuanya. Diperjalanan, Alysa mengingat Willy yang entah mengapa selalu mengganggu pikirannya itu. Alysa merasa Willy menyembunyikan sesuatu yang membuat Alysa khawatir jila Angga akan mengetahuinya.
Pak Willy kok jadi aneh ya ngelihatinnya kayak gitu. Kalau Mas Angga tahu bisa berabe nih. Batin Alysa.
Mobil sudah terparkir di depan kontrakan Alysa. Angga turun dengan di ikuti Alysa yang sedang menggendong Edward. Ibu, Ayah, Azkia dan Zaki sudah menunggunya sedari tadi. Alysa mencium tangan orangtuanya, dan begitu juga dengan Angga.
"Assalamualaikum Bu, Yah" Alysa mencium tangan Ibu dan Ayahnya.
"Waalaikumsalam Nak. Kamu kok mukanya pucet kayak gitu, kamu sakit Nak?" tanya Ibu dengan memperhatikan wajah Alysa yang terlihat pucet dan matanya yang sembab seperti habis menangis.
"Itu tidak apa-apa Bu. Mereka itu kan pengantin baru, jadi ya wajar, masa Ibu gak tahu haha" kekeh Ayah membuat Alysa dan Angga tersenyum malu.
"Wahh, pasti abis itu ya kak hehe" celetuk Azkia.
"Dek gak sopan bicaranya" pekik Alysa menutup mulutnya dengan jari telunjuknya.
"Kamu sih, diem aja gak usah bicara," sahut Zaki.
"Cucu Nenek, sini" ucap Ibu lalu menggendong Edward dan menciuminya. "Nenek sayang banget sama cucu Nenek. Nenek mau pulang, kamu jangan nakal ya sama Mama dan Papa,".
"Iya Nenek, Edwald juga cayang cama Nenek. Nenek, Nenek Edwald mimpiin Mama gendong-gendong adik kecil. Edwald gak cuka, nanti Mama gak cayang lagi cama Edwald" ucap Edward ceplas-ceplos membuat Alysa dan Angga tersenyum.
"Berarti Edward mau punya adik kecil ya" tanya Ibu dan Edward mengangguknya.
"Iya Nek, tapi Edwald gak cuka" pekik Edward dengan memonyongkan bibirnya.
"Kenapa gak suka? Nanti Edward ada teman main lho".
"Nanti Mama gak cayang lagi sama Edwald"
"Mama Alysa pasti tetap sayang sama Edward. Peluk Nenek dulu, soalnya Nenek suka kangen" ucap Ibu dan Edward segera merentangkan kedua tangannya dan memeluk Ibu dengan erat.
__ADS_1
***