
Alysa bersama suami, adik dan orangtuanya kini sedang asyik menonton film di bioskop. Ia sengaja menitipkan Edward pada Azkia dan Ryan. Biar mereka tahu kalau sudsh menikah nanti, akan merasakan bagaimana susahnya mengurus anak kecil. Ayah, Ibu dan Zaki duduk di area bawah, Alysa dan Angga duduk di area tertinggi. qAlysa memegang tangan Angga dengan erat membuat Angga menolehnya.
"Kenapa?" tanya Angga.
"Gak apa-apa, Mas," sahut Alysa dengan tatapannya masih ke depan.
Angga segera mendekatkan wajahnya dan tiba-tiba ia mencium pipi Alysa. Alysa benar-benar tidak menoleh dan masih tetap fokus pada pendiriannya. Ia hanya membungkam mulut Angga dengan tangannya.
"Geli, Mas," ucap Alysa dan tangannya membungkam mulut Angga.
"Haha...Yang mau," bisik Angga, namun tidak ada reaksi apapun dari Alysa.
Karena Alysa tidak berkata apa-apa, matanya mulai menyeringai seperti ingin menerkamnya disaat itu juga. Tangannya mulai masuk ke dalam pakaian Alysa. Sontak saja Alysa terkejut dan segera menepis tangan Angga.
"Mas, geli. nanti aja di rumah!"
"Pengen sekarang, yang!"
"Malu lho, Mas."
"Nanti, Papa," menatap tajam pada Angga. "Diam ya, Pa. Jangan ganggu Mama dulu."
"Tumben manggilnya, Papa? Haha..."
"Kalau manggilnya Mas kan bosen, Pa."
"Nanti malam olahraga ya. Jangan nolak!"
Di sisi lain, Azkia dan Ryan dibuat kelelahan oleh Edward. Edward lari-lari kesana kemari sembari bermain bola kecil. Karena begitu kelelahan, Azkia memilih untuk duduk sembari mengatur nafasnya dengan menggibas-gibaskan tangannya.
"Kak, aku duduk dulu. Sekarang gantian jagain Edward," perintah Azkia.
"Ya sudah. Aku kesana dulu ya, awas jangan kemana-mana!" Ryan segera pergi mendekati Edward.
Ryan berjongkok di pinggiran kolam yang berisikan bola-bola kecil. Ia melihat Edward yang sangat antusias membuatnya menghela nafasnya dengan berat. Bagaimana ia tidak begitu kelelahan? Sedangkan Edward tidak bisa diam sedari tadi. Minta digendong, dilempari bola tepat diwajah Ryan membuatnya sangat kelelahan.
"Udahan yuk? Om Ryan capek banget," ajak Ryan, namun Edward seakan-akan tuli tak mendengar ucapannya.
"Anak tampan. Yuk sini yuk?" Ryan melambaikan tangannya.
"Om, susu Edwald mana? Yang di tas," pinta Edward, ia sangat kehausan.
__ADS_1
"Susu yang mana? Emangnya Edward bawa tas?" tanya Ryan yang tidak mengetahui Edward membawa tas yang berisikan susu.
"Ambilin...Om!"
Aduh, baru juga istirahat. Kalau punya anak nanti, pasti sebelas duabelas sama ini.
"Ya udah, diam disini."
Ryan segera pergi menemui Azkia dan menanyakan tas yang berisikan susu.
"Tasnya Edward mana?" tanya Ryan.
"Tas? Tas yang mana?" tanya Azkia yang tidak mengetahuinya karena tadi ia sudah berada di mobil bersama Ryan sewaktu Edward memberi tahu jika Ryan menyuruhnya masuk ke dalam mobil.
"Pokoknya tas punya Edward. Di dalamnya ada susu," jelas Ryan.
"Aku gak tahu, Kak. Kan tadi langsung naik mobil. Apa jangan-jangan ketinggalan di mobil? Atau di bawa sama Kak Alysa?" ucap Azkia menebak-nebak.
"Kalau gitu, kamu ke ruang bioskop dan aku ke basement.
Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya tas Edward pun ketemu dan di bawa Alysa ke dalam bioskop.
"Pulang aja yuk, udah malam Kak," ajak Azkia.
"Ya udah, tapi Pak Angga gimana?" tanyanya.
"Nanti juga pulang. Kalau kita nungguin terus, mau sampai kapan kita disini?"
Setelah berdebat sedikit, akhirnya merekapun pulang juga. Azkia memangku Edward yang sudah tertidur di pahanya. Ryan mengemudikan mobilnya menuju kediaman Angga. Tiba-tiba Azkia teringat sesuatu.
Aku telepon Kak Alysa aja ya, kalau aku udah pulang.
"Hallo, Kak dimana?"
"Masih di Mall, lagi makan,"
"Lama banget. Kia udah pulang duluan, lagian Edwardnya udah tidur."
"Ya udah, pulang aja. Kunci cadangan rumah ada di dekat pintu yang ke belakang yang ada kotak kecil ya."
"Oke, Kak."
__ADS_1
***
Keesokan paginya, hari ini Alysa akan pergi ke kantor setelah beberapa hari yang lalu ia tidak pernah masuk sama sekali. Dimas selalu menelponnya dan membuatnya harus pergi kesana. Setelah mengantarkan Edward ke sekolah, ia segera pergi ke kantornya dengan menaiki taxi tanpa ikut dengan Angga, karena kantornya lebih jauh dari perusahaan Angga.
Kini Alysa sudah berada di ruangannya. Ia menatap isi berkas yang begitu menumpuk di mejanya. Ia membacanya satu per satu. Karena begitu fokus dengan berkas-berkas, sampai ia tidak menyadari kalau Dimas sudah berada di ruangannya.
"Ehem...Permisi, Bu," Dimas memulai pembicaraannya.
"Ahh... Iya, maafkan saya," sahut Alysa.
"Duduklah," perintah Alysa dan Dimas pun segera duduk.
"Jadi gini, Bu. Satu pekan yang lalu dari hotel X akan melakukan observasi ke proyek yang ada di sebelah hotel ini. Namun karena Ibunya tidak ada, jadi saya selaku sekretaris Ibu hanya bisa mengcancelnya," jelas Dimas.
"Ya sudah, sekarang saja. Kamu panggil lagi yang akan kesini dari pihak hotel X. Oh ya satu lagi, usahain hari ini harus beres semuanya termasuk berkas-berkas. Saya harus mengecek yang di lokasi lain," jelas Alysa.
"Baik, Bu. Bagaimana, kalau kita kesana sekarang?" ajak Dimas.
Akhirnya mereka pun segera pergi untuk mengecek hotel yang sedang di bangun. Alysa memakai topi berwarna orange (topi proyek) dengan memakai alat pelindung di tubuhnya. Setelah itu ia bertemu dengan Direktur dari hotel X. Mereka berbincang-bincang mengenai proyek yang akan segera di bangun dalam beberapa bulan terakhir ini.
"Untuk bangunannya sendiri, apa akan lebih besar dari hotel sebelumnya?" tanya Pak Dirga, selaku Direktur hotel X.
"Saya pribadi mungkin seharusnya begitu, Pak. Karena hotel yang sebelumnya masih ada di tahap pertengahan yang tidak terlalu besar," jelas Alysa.
"Baik, Bu Alysa. Nanti di sebelah sana (menunjuk lahan bangunan yang masih kosong) akan dibuatkan kolam pribadi dari hotel ini, jadi orang-orang yang sudah membeli hotel di kawasan hotel ini akan disediakan berbagai macam tempat yang bagus dan tentunya bisa menarik perhatian orang luar akan tempat ini. Saya nanti akan bekerja sama dengan Arsitek untuk mengelola bangunan ini. Apa Ibu setuju usulan dari saya?"
"Saya sangat setuju, Pak. Kita harus menyediakan berbagai wahana dan tempat yang cukup bagus. Dan untuk di lantai basement, kita harus menyediakan Mall bagi pemilik hotel, agar mereka tidak terlalu jauh belanja. Dan sudah banyak hotel yang menyediakan Mall di bawahnya. Antara basement dan Mall hanya berjarak satu ruangan setelahnya,"
"Bagus, Bu. Baiklah kalau begitu, nanti akan saya sampaikan pada Arsitek yang akan merancangnya. Terima kasih untuk hari ini, semoga kita bisa terus bekerja sama. Saya pamit dulu, mungkin satu pekan ke depan, saya akan kesini lagi untuk merencanakan fasilitas dan budget yang harus kita persiapkan," ucap Pak Dirga dengan menjabat tangan Alysa. Begitu juga dengan Alysa yang membalasnya.
Setelah pertemuan itu, Dimas yang berada di belakang Alysa segera menuntun Alysa keluar dari area bangunan tersebut.
"Bu, untuk budget bisa mencapai triliunan dengan fasilitas yang lengkap," ucap Dimas tiba-tiba sembari menuntun Alysa.
"Tidak apa-apa. Lagian kita akan bekerjasama dengan mereka, jadi ya kita hanya setengahnya saja."
"Baik, Bu. Apa Ibu membutuhkan sesuatu?" tanya Dimas saat sudah keluar dari area bangunan.
"Air mineral aja ya, Dim. Saya keruangan dulu," ucap Alysa dan segera pergi.
Gila, si Ibu makin cantik aja nih. Pantesan pak Angga menikahinya. Batin Dimas.
__ADS_1