Menikahi Duda Tampan

Menikahi Duda Tampan
S2 - BAB 88


__ADS_3

Sudah dua minggu ini setelah pergi dari rumah Angga, Alysa habiskan waktunya untuk bekerja dan mengubah kehidupannya seratus delapan puluh derajat. Walaupun hatinya masih belum menerima kenyataan hidup, tapi ia selalu optimis akan datang hari esok bahagia untuk dirinya.


Orang tua dan kedua adiknya sudah pindah ke Kota untuk menemani Alysa yang kini sangat membutuhkan support dari mereka. Mereka tidak akan mengira jika Alysa akan berpisah dengan suaminya. Semua ini di luar dugaan mereka. Mereka sangat menyayangkan atas perpisahan anaknya. Walaupun Alysa dan Angga belum resmi bercerai, namun Alysa tetap mengira jika dirinya sudah bercerai dan tidak punya lagi hubungan apapun dengan Angga.


Kehidupan Alysa kini berubah. Begitu pula dengan pekerjaannya sekarang, ia merasa lebih baik walaupun harus kerja lembur untuk menambah uang gajinya dan meminta Deffa (Direktur perusahaan) untuk memberinya pekerjaan lebih. Ia harus menghidupi keluarganya yang kini sudah berada dekat dengannya.


Alysa sudah bersiap dengan pakaian kantornya. Menjadi seorang sekretaris adalah pekerjaan yang tidak bisa ia bayangkan sebelumnya. Ia mengira, ia akan bekerja sebagai cleaning service kembali, namun takdir kali ini memang sangat baik padanya.


Alysa keluar dari kamarnya dan segera mendekati Ibu, Ayah dan kedua adiknya di ruang makan. Alysa duduk dan menyimpan ponselnya di meja. "Selamat pagi," sapa Alysa sembari tersenyum.


"Pagi, Kakak tercantik ku..." sahut Azka dan Zaki secara bersamaan. Ibu dan Ayah hanya tersenyum saja.


"Ehh, Kak? Nanti pulangnya jangan malam terus! Aku mau jalan-jalan," ucap Azkia dengan lemas dan pandangannya tertuju pada Alysa yang berada di depannya.


"Kakak kan harus kerja lembur. Nanti deh kalo malam Minggu, gimana?" tanya Alysa.


"Hmm...Gimana ya? Jadi dua hari lagi dong?" jawab Azkia masih wajah lemasnya.


"Iya. Nanti kalo malam Minggu, kita jalan-jalan sekeluarga ya?" ucap Alysa meyakinkan.


"Ayo sarapan dulu, nanti aja bahas jalan-jalannya." Ibu langsung mengambil piring dan menyiukkan nasi beserta lauknya.


Setelah selesai sarapan, Alysa segera pamit pada Ayah dan Ibunya. Adik-adiknya sudah pergi sedari tadi karena ada kegiatan piket di hari Kamis. Alysa mencium tangan Ayah dan Ibunya dengan lembut. Setelah itu, ia segera pergi menaiki sepeda motornya dari uang hasil kerjanya menjadi sekretaris. Ia merasa bahagia bisa membeli sebuah motor matic hasil dari keringatnya sendiri. Walaupun tidak begitu mahal, namun setidaknya bisa mengantarkan ia pergi kemanapun.


Seperti biasa, sampai di kantor Alysa langsung pergi menuju ruangannya. Di area dekat lift, Deffa sang Direktur perusahaan pun langsung masuk ke dalam lift, dan hanya ada mereka berdua. Alysa langsung menyapanya dengan tersenyum.


"Selamat pagi, Pak," sapa Alysa.


"Pagi," jawab Deffa.


"Hmm, Pak. Malam Minggu nanti saya gak bisa kerja lembur, adik-adik minta jalan-jalan katanya," jelas Alysa.


"Iya tidak apa-apa, lagian kan kamu yang minta kerja lembur." Deffa langsung tertawa membuat Alysa yang masih terdiam pun ikut tertawa bersama.


"Hehe."


TING


Alysa dan Deffa segera keluar. Alysa pergi ke ruangannya, namun tiba-tiba Deffa menarik tangannya. Alysa yang terkejut, lalu segera membalikkan tubuhnya menatap Deffa.


"Ikut ke ruangan saya, karena ada berkas yang harus kamu cek kembali," titah Deffa membuat Alysa menganggukkan kepalanya.


Alysa mengikuti langkah Deffa menuju ruangannya. Berkas-berkas sudah menumpuk dan Alysa segera mengambilnya untuk di cek kembali. Deffa segera duduk sembari memperhatikan Alysa.


Kenapa makin hari, makin cantik ya? Kalo di ingat-ingat waktu dia melamar kerja masih biasa aja, saya juga tidak terlalu tertarik. Deffa terus saja memperhatikan Alysa. Alysa yang sedang membuka berkas-berkas pun merasa risih dengan Deffa yang selalu saja memperhatikan dirinya.


Aku harus segera pergi dari sini!

__ADS_1


"Pak, berkasnya saya bawa ke ruangan saya aja ya. Saya juga harus menyiapkan jadwal meeting dengan klien dari luar Kota," ucap Alysa dengan wajah sedikit ragu.


"Oh, iya. Usahakan, untuk meeting dipercepat aja ya," jawab Deffa Alysa mengangguk dan segera pergi.


Kalo lama-lama di ruangannya bisa berabe nih.


Sampai di ruangannya, Alysa langsung bekerja kembali. Sekretaris satu yang bernama Devi segera mendekatinya dan mencoba membantunya.


"Sini, biar aku bantu ya," pinta Devi.


"Lho, gak usah, Mbak."


"Tidak apa-apa, ini juga sudah tugas saya," jawab Devi dengan tersenyum. Alysa pun segera memberikan berkas yang ada ditangannya pada Devi. Devi adalah sosok teman yang begitu akrab dengannya. Bagaimana mungkin ia tidak akrab? Mereka satu ruangan dan itu membuat mereka menjadi lebih akrab.


DEERRTT


Terdengar ponselnya berdering, Alysa mengedarkan pandangannya pada ponselnya dan segera mengambilnya. Ia menatap layar ponselnya yang bertuliskan nama "Kak David". Selama Alysa pergi dari rumah Angga dan tidak bekerja lagi diperusahaan itu, David selalu saja mengabarinya dan menanyakan keberadaan Alysa. Alysa hanya memutuskan teleponnya dan enggan mengangkatnya. Namun kali ini, ia merasa kasihan dan mencoba mengangkatnya.


Ada apa nih? Apa Mas Angga minta bantuan sama dia? Sebelum akhirnya, ia menggeserkan tanda hijau ke atas.


"Assalamu'alaikum. Lysa?"


"Waalaikumsalam. Iya Kak, gimana?"


"Kamu dimana sekarang? Kok gak pernah masuk ke kantor?"


"Dimana sekarang?"


"Aku lagi kerja."


"Dimana? Apa kita bisa ketemu hari ini?"


"Tapi aku masih kerja. Nanti aja!"


"Ya sudah. Nanti saya ke tempat kerja kamu. Kirim aja alamatnya."


Alysa memutuskan teleponnya dan segera bekerja kembali. Alysa mengatur nafasnya dan mengedarkan pandangannya pada Devi.


"Mbak?"


"Iya, kenapa Lysa?"


"Hmm...Apa kita bisa berbicara sebentar?"


Devi mengatur nafasnya. "Boleh."


"Apa Mbak Devi pernah menikah?"

__ADS_1


Mendengar pertanyaan seperti itu membuat Devi terkejut. "Saya udah nikah 2 tahun yang lalu. Tapi, saya belum punya anak."


"Mertua Mbak Devi, gak marah atau menanyakan kapan Mbak akan hamil?" tanya Alysa dengan tatapan penasaran.


"Mertua saya gak pernah memaksakan saya untuk segera punya anak. Dan lagi pula, saya dan suami bekerja, jadi kita menundanya dulu. Mungkin satu tahun lagi saya bekerja disini dan harus memberikan cucu untuk mertua saya," jelas Devi.


Alysa tampak terdiam mendengar ucapan Devi. Devi lebih berharga dari pada dirinya. Andaikan Ibu mertuanya merestui hubungannya dan Angga tidak bermain wanita dibelakangnya, mungkin saja hubungannya kini masih baik-baik saja.


"Kenapa nanya kayak gitu? Kamu udah nikah? Atau mau nikah?" tanya Devi.


"A-aku udah nikah, Mbak," ucap Alysa spontan.


"Yang mana suaminya? Kok, saya gak pernah liat ya?"


"Hmm...Jadi, aku dan suami udah cerai karena mertuaku gak pernah merestuinya. Dan...( Alysa terdiam mengingat Angga yang sudah menduakan cintanya dengan meniduri wanita lain)."


"Dan apa? Ayo ceritain aja?"


Alysa langsung menangis dan memeluk Devi dengan erat. Ia tidak bisa membendung air matanya lagi jika mengingat kejadian waktu itu. Devi yang mendapat serangan pelukan tiba-tiba dari Alysa, ia segera merangkulnya dan mengusapi punggung Alysa.


"Jangan nangis. Ayo cerita aja Alysa, saya akan mendengarkannya."


Alysa melepaskan pelukannya dan segera duduk kembali. Ia mengatur nafas dan menyeka air matanya. "Suamiku udah menduakanku, Mbak."


"Yang bener? Jadi selama ini kamu gak pernah dianterin sama suami, karena suami kamu pergi dengan wanita lain?"


"I-iya. Sebenarnya aku dan suami belum resmi bercerai, hanya saja aku udah gak mau punya hubungan lagi dengannya. Jadi saran Mbak gimana?"


"Apa sudah dibicarakan dulu? Gini ya, kalo memang kalian belum resmi bercerai itu tandanya kalian masih suami istri. Apa suamimu pernah mencari keberadaanmu? Atau dari pihak keluarganya?" pertanyaan dari Devi membuat Alysa terdiam dan mencoba menelaahnya.


"Hmm...Aku langsung diusir sama mertuaku. Andaikan aku dan suami tidak seperti ini, mungkin saja aku tidak akan bekerja disini. Tapi, nasi udah jadi bubur. Dia sekarang milik orang lain dan akan segera mempunyai anak," Alysa begitu pasrah dengan nasibnya.


"Udah jangan dipikirin lagi. Mungkin, dia bukan yang terbaik untukmu. Masih banyak laki-laki yang bisa menerima keadaan kita. Kita harus bersabar aja. Ikhlasin yang dulu, dan mulai membuka hati yang baru dan temukan laki-laki yang bisa mengerti dengan keinginan kita."


Bagaimana aku gak kepikiran terus, aku masih cinta sama Mas Angga. Apa benar kata Mbak Devi, aku ikhlasin aja? Ikhlas gak ikhlas, tetep aja aku gak ikhlas suamiku diambil orang lain.


"Makasih ya, Mbak. Mbak selalu dengerin curhatan aku."


"Ke kantin yuk? Sekalian nanti ikut saya ke ruang pemasaran, katanya ada produk baru yang akan di rilis."


Alysa dan Devi segera pergi.


***


Maaf baru update lagi😂


Jangan lupa dukung Author ya><

__ADS_1


__ADS_2