
"Tante! Hiks....!" Destia pura-pura menangis dengan memeluk Mama Angga yang sedang memainkan ponsel.
"Destia sayang! Lho kenapa nangis ayo duduk, tante buatin minum dulu ya! " ucapnya, lalu segera pergi ke dapur setelah Destia duduk di sofa.
Gue harus terus mendesaknya!. Batin Destia tersenyum misterius.
Lima menit kemudian, Mamanya Angga segera kembali dengan membawa nampan yang berisi air putih dan beberapa cemilan makanan ringan, lalu segera duduk kembali di samping Destia.
"Ada apa? ayo cerita sama tante!" Mama memulai pembicaraannya dengan menatap keheranan pada Destia.
"Tante hiks.. Sebaiknya tante cepat-cepat nikahin aku sama Mas Angga! Hiks.."
"Tenang sayang! Tante akan segera menikahkan kamu sama Angga. Tapi, masalahnya dia mau nikah sama wanita kampungan itu!" jelas Mama dengan tatapan tajam tanpa melirik Destia.
"Aku gak rela tante, gak rela kalau Mas Angga nikah sama wanita lain!" Destia terus-menerus mencoba agar ia segera dinikahkan dengan Angga.
"Sabar ya, tante akan berusaha untuk segera menikahkan kalian. Tante juga gak setuju kalau Angga nikahin wanita kampung itu, mau ditaruh dimana wajah tante!" ucap Mama lalu mengelus-ngelus kepala Destia dengan lembut, Destia memiringkan wajahnya di dada Mama dengan wajahnya tersenyum misterius.
Acting lo bagus banget Destia, lo harus mendesak tante tua ini. Kalau bukan karena Angga kaya dan tampan, mana mau gue sama dia. Gue harus cepat-cepat menikah, biar uang gue aman dikantong. Maaf ya tante tua! kalau tante enggak sekaya ini, saya tidak akan menginjakkan kaki dirumah ini dan mengemis-ngemis seperti ini. Batin Destia.
"Tante! Kalau Mas Angga enggak mau nikahin Destia gimana? " Tanya Destia dengan menampakkan wajah memelasnya.
"Kita buat perjanjian aja gimana? biarkan Angga nikah sama gadis kampungan itu sampai dalam waktu tiga bulan, kalau dalam waktu tiga bulan dia tidak hamil, maka Angga harus menikah denganmu! gimana setuju kan?" ucap Mama serius dengan idenya.
"Terus kalau wanita kampungan itu hamil gimana tante? " sahut Destia menatap tajam pada Mamanya Angga.
"Tante akan kasih dia pil agar tidak hamil!" ucap Mama mengedipkan satu matanya dan Destia sepertinya akan menyetujuinya.
"Ya udah tante, Destia setuju. Tapi benar ya tante, tante akan nikahin aku sama Mas Angga? "
"Iya sayang, tenang saja. Tante akan usahain semuanya untukmu!"
***
Sementara itu, Angga, Alysa dan Edward sudah berada di bandara. Angga membawa dua buah kotak kecil untuk keperluan Edward selama dalam perjalanan, dan Alysa hanya menggendong Edward. Mereka menunggu keberangkatan dengan duduk santai dikursi, Angga terus menerus memperhatikan Alysa. Terlihat di wajahnya, sepertinya Alysa benar-benar sangat senang bertemu dengan keluarganya di kampung.
Angga menggenggam tangan Alysa dengan erat, membuat Alysa memutar bola matanya dan menampakkan wajah terkejutnya. Angga tersenyum lalu membisikkan sesuatu di telingan Alysa. "Saya sangat mencintaimu, apa kamu juga mencintai saya? " Bisik Angga membuat Alysa salah tingkah, Edward yang sedari tadi memainkan kancing pakaian Alysa membuatnya menatap Papa dan calon Ibunya dengan keheranan.
"Papa bicala apa sama tante cantik? Kok Edwald enggak dikasih tahuuuu...! " ucap Edward dengan penasaran.
__ADS_1
"Edward anak Papa yang tampan, kalau tante cantik jadi Mamanya Edward mau enggak? "
"Mauuuu, bial Edwald bisa main baleng sama tante cantik! "
Angga mengusapi kepalanya Edward yang kini sedang antusias. Alysa tersenyum melihat tingkah anak kecil yang ada di depannya, membuat Angga membisikkan sesuatu kembali. "Ayo jawab!".
Alysa menghela nafasnya dan memutar kepalanya ke arah Angga. Karena Angga belum berpindah posisi membuat Alysa mencium bibir Angga dan wajah mereka begitu dekat. Alysa membelalakkan matanya dan segera memalingkan wajahnya, jantungnya berdetak dua kali lebih kencang. Angga hanya tersenyum, akhirnya Alysa mencium dirinya.
" Ayo jawab, saya butuh jawaban darimu!"
Alysa mencoba menghela nafasnya. "Bapaknya jangan dekat-dekat! " Angga menuruti perintah Alysa dan menjauhinya.
"Ayo katakan!" lanjutnya.
"Iya, A-Alysa sa-sangat mencintai ba-bapak" jawab Alysa terbata-bata, membuat Angga menyibikkan bibirnya.
"Jangan panggil bapak! "
"Lah terus Alysa harus panggil apa? "
"Mulai detik ini, kamu harus panggil sayang pada saya! "
"Iya kena... Sebentar Mama saya menelpon" ucap Angga terpotong, karena ponselnya berdering. Terlihat di layar ponsel, jika Mamanya menelponnya, Angga segera mengangkatnya dan berpindah tempat menjauhi Alysa.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam. Ga, Mama mau bicara sesuatu!"
"Bicara apa Ma?"
"Mama menyetujui dan merestui jika kamu menikah dengan wanita itu. Tapi dalam waktu tiga bulan kalau istri kamu tidak hamil, maka kamu harus menceraikannya dan menikah dengan Destia!"
Menikah dalam waktu tiga bulan? kalau Alysa belum hamil gimana?. Batin Angga.
"Maksud Mama gimana? Ma, disini Angga yang akan menikahi Alysa, dan Mama tidak berhak mengatur sampai kapan Angga bersama dengan Alysa! "
"Iya, Mama tahu. Tapi kalau wanita itu tidak hamil alias mandul, kamu harus menceraikannya dan menikah dengan Destia! "
"Baik, Angga menerima tawaran Mama. Dan ingat kalau Alysa hamil, Mama tidak usah ikut campur dengan urusan rumah tangga Angga! " Angga menutup teleponnya dengan wajah kesal, dan kembali duduk. Alysa menatap Angga dengan penasaran dengan yang dibicarakan antara Ibu dan anak itu.
__ADS_1
"Mama bicarain apa pak? " Tanya Alysa ketika Angga sudah duduk disampingnya.
"Mama bicara kalau dia merestui hubungan kita dengan satu syarat, kalau kamu tidak hamil maka saya harus menikahi Destia!"
DEG
Alysa memutar bola matanya dan menatap orang-orang yang berlalu lalang didepannya. Ia memikirkan ucapan Angga yang membuatnya tidak berdaya. Semua wanita pasti menginginkan pernikahan yang sakral itu cuma satu kali seumur hidupnya, dan bagaimana dengan nasib dirinya? Hanya menikah dalam waktu tiga bulan jika ia tidak segera hamil.
Angga mendekati Alysa dan mendekapnya dengan erat. "Jangan khawatir, saya tidak akan membuatmu jadi janda muda. Kita akan berusaha dalam waktu tiga bulan untuk menunjukkan pada Mama saya, jika kamu benar-benar mengandung anak saya! " Pekik Angga meyakinkan.
"Tapi pak, ini terlalu singkat kalau misalnya saya enggak hamil gimana? " tanya Alysa.
"Alysa dengarkan saya! Kita akan berusaha setiap hari biar adik kecil untuk Edward segera ada di dalam perutmu!" ucap Angga tersenyum dengan memegangi perut datar Alysa.
"Tapi pak...!"
"Sttt...Kamu harus segera hamil dan saya akan membuatnya!"
Alysa memasang wajah memelasnya agar Angga tidak akan membuatnya hamil dalam waktu dekat.
"Udah jangan gitu! Ayo kita berangkat, sebentar lagi pukul 09.00" lanjutnya.
Angga berdiri melangkahkan kakinya dengan merangkul Alysa yang sedang menggendong Edward. Mereka pun masuk kedalam pesawat dengan kelas mahal yang berisi tiga kursi. Angga memilih tempat duduknya dan segera menyuruh Alysa untuk duduk dekat jendela, Alysa duduk dan segera melepas Edward untuk duduk disampingnya.
"Pak?"
"Iya? kenapa? "
"Perjalanannya membutuhkan waktu berapa jam? saya harus menelpon ibu sama ayah dirumah! "
"Kira-kira satu jam tiga puluh menit! Nanti saja nelponnya ya, kalau dipesawat tidak boleh menggunakan ponsel! "
"Iya pak! "
Tidak berapa lama, pesawat pun segera melaju membuat Alysa ketakutan karena ini pertama kalinya ia naik pesawat. Angga mencoba menenangkannya agar Alysa tidak takut, akhirnya Alysa sedikit tenang ketika Angga memegangi tangannya. Edward yang sedari tadi sudah tidur membuat Angga sedikit lega, karena Edward suka mengoceh dan mengganggu kenyamanan orang-orang yang berada dekat dengannya.
Pesawat kini sudah berada di atas dengan ketinggian 32.000 kaki. Pemandangan diatas terlihat sangat indah, Alysa hanya bisa takjub melihat keindahan ini. Sesekali ia melirik pada Angga yang sudah tertidur dengan nyaman membuat Alysa tersenyum.
Pak? Kenapa bapak baik banget sama Alysa?. Dan ini pertama kalinya Alysa naik pesawat, kalau bukan karena bapak, mungkin sampai kapanpun Alysa tidak akan pernah naik pesawat. Terima kasih atas kasih saying dan kebaikanmu pak, Alysa mencintai bapak!. Batin Alysa menatap lekat pada Angga dan tersenyum kecil dibibirnya.
__ADS_1