Menikahi Duda Tampan

Menikahi Duda Tampan
BAB 81


__ADS_3

Tidak berapa lama, Willy sampai di kantor dan segera menuju ruangan Direkturnya. Ia bergegas pergi hingga menabrak salah satu karyawannya. Hingga akhirnya, ia pun sampai di ruangan itu. Ia menghela nafasnya dan tersenyum.


Willy, setelah ini kau harus istirahat. Tubuhmu sangatlah lelah.


Willy mengetuk pintu, tapi tidak sahutan dari dalam ruangan.


"Permisi, Pak." ucap Willy dari luar ruangan.


Kemana, Pak Angga ya?


Akhirnya Willy pun menelponnya kembali. Setelah mengetahui Angga di rumahnya, akhirnya ia pun memutuskan untuk pergi ke ruangannya.


"Besok aja aku kirim filenya. Lagi pula sekarang banyak urusan penting."


***


Setelah makan, Alysa, Angga dan Edward kini sedang istirahat sembari duduk di gazebo depan rumahnya. Alysa tersenyum saat melihat anak dan suaminya yang begitu ceria. Raut wajahnya yang menggambarkan tidak ada masalah, namun sebenarnya masalah nampak di depan matanya.


"Pa, Edward makin besar aja ya?" tanya Alysa tersenyum.


"Iya, Ma. Apalagi kalo nanti ada adiknya, pasti ia akan senang sekali," sahut Angga sembari melirik istrinya.


"Kenapa Mama belum isi juga ya? Mama sangat berharap akan hamil lagi."


"Kita harus tiap hari buatnya, Ma."


"Itukan maunya, Papa. Enak di Papa, gak enak di Mama!"


"Lebih enak Mama lho cuma diem aja. Dari pada Papa yang harus olahraga haha..."


"Ish...Fikirannya malah kemana! Pa?"


"Iya, Ma?"


"Pernikahan kita udah tiga bulan lebih, apa Mama mertua mau nanyain soal pernikahan kita?" tanya Alysa membuat Angga langsung mendekatinya.


"Papa tidak mau pisah sama, Mama. Papa akan usahain kalo Mama pasti akan mencabut ucapannya dan kita akan terus bersama." jelas Angga.


"Mama harap juga begitu. Tapi Mama gak bisa maksa kok, kalo memang Mama harus pergi, ya berarti Mama harus pergi," jelas Alysa dengan nada terisak. Angga memeluknya dari samping.


"Mama gak usah mikirin masalah kayak gitu. Mama tenang aja ya, Papa akan berusaha." Angga mencium kening istrinya dan membuat Alysa menolehnya.


"Makasih ya, Pa." Alysa membalas pelukan suaminya.


"Ma, liburan yuk?"

__ADS_1


"Kemana? Papa kan sibuk kerja."


"Enggak. Maukan liburan? Sekalian bulan madu lagi," Angga tersenyum kikuk.


"Kapan? Tapikan Papa kayaknya sibuk banget."


"Kita ke Villa punya Kakek yuk? Viewnya enak lho ada kolam ikannya. Besok kita pulang." Alysa langsung tersenyum dan menganggukkan wajahnya.


"Ya udah, kita kita beres-beres dulu yuk? Sayang sini, mau jalan-jalankan?" Edward langsung menoleh dan menghampiri sang Mama.


"Benelan, Ma? Holeeee..."


Perjalanan menuju Villa membutuhkan waktu sekitar kirang lebih dua jam. Villa cukup jauh dan tempatnya pun seperti di desa-desa. Alysa menatap takjub melihat pemandangan asri nan menyejukkan. Rasanya ingin berlama-lama disana.


Mobil terparkir di area depan Villa. Alysa dan Edward langsung berlari melihat pemandangan di sore hari.


"Wahh...Bagus banget pemandangannya. Gemericik airnya pun tak kalah indah. Pa, sini...!" panggil Alysa. Angga yang sedang membawa koper pun langsung berlari kecil menemui sang istri.


"Kita foto bertiga yuk? Kalo dedek gak keguguran, pasti foto berempat sama perut Mama." Angga tersenyum kecil membuat Alysa menatapnya sendu.


"Kita ikhlasin aya ya, Pa. Dedek udah tenang surga." Alysa mencoba menghibur hatinya, dadanya terasa sakit mengingat keguguran satu bulan yang lalu. Ia selalu menangis jika mengingatnya.


Mereka berfoto dengan sangat bahagia. Selepas itu mereka segera masuk ke dalam Villa untuk merebahkan tubuhnya. Alysa segera memasak dan membuatkan secangkir kopi untuk suaminya. Si kecil sedang bermain air di kolam ikan. Terasa sangat bahagia. Andaikan pernikahannya di restui mungkin ia akan sangat berterima kasih.


Alysa pergi mengantarkan secangkir kopi pada suaminya yang kini sedang menonton acara televisi. "Pa, diminum dulu kopinya," ucap Alysa.


Angga mengedarkan pandangannya dan segera memperdekat jaraknya. Angga mengecup bibir merah Alysa dan mengulumnya. Alysa mulai memberontak, karena ia harus memasak. Namun Angga malah memperdalam ciumannya itu hingga tangannya mulai menggerilya ke area sensitif istrinya.


"Udah basahkan?" tanya Angga setelah melepaskan ciumannya sembari tersenyum nakal. Alysa mengangguknya dan mencoba kabur ke arah dapur. Angga lagi-lagi menahan kepergiannya.


"Pa, Mama harus masak!" tolak Alysa. Angga tidak akan. membiarkannya begitu saja.


"Nanti aja, Ma. Papa lagi pengen sekarang."


"Masih sore. Lagian Edward ada diluar takut kenapa-kenapa."


"Papa keluar dulu dan bawa Edward ke kamarnya. Nah setelah itu kita olahraga ya? Jangan nolak lho, nanti dosa." Angga berlalu membuat Alysa menelan salivanya dengan kuat.


Mending aku ngumpet aja di toilet. Aku harus kesana!


Alysa segera berlari sebelum Angga menemukannya. Ia mengumpat di toilet belakang walaupun ada sedikit kendala di bagian pintunya yang sudah mulai rapuh. Sementara itu, Angga hendak memanggil Edward dan membawanya ke dalam. Angga terkejut ketika Edward sudah tercebur ke dalam kolam ikan. Edward bermain air disana dengan mengejar ikan-ikan yang mencoba menghampirinya.


Angga menggelengkan kepalanya dan tertawa melihat tingkah lucu anaknya.


"Untung aja kolamnya gak dalem, coba kalo dalem? Ahh sudah..."

__ADS_1


"Sayang, yuk udahan yuk? Ini udah sore." ajak Angga, namun Edward seolah-olah tuli dan tetap asyik dengan mengejar ikan-ikan. "Ayo dong!"


"Gak mau...Ayo Papa kejal ikannya. Nanti Edwald yang makan."


"Ini ikan hias gak bisa dimakan, lagian ikannya juga kecil."


"Aaahhhh...Pokoknya nanti Edwald makan!" teriak Edward dan segera menduduk ditepian kolam. Angga yang melihat itu tidak bisa membantah keinginan anaknya. Mau tidak mau, Angga harus menangkap ikan-ikan itu dan menggorengnya.


Kalo bukan anakku, mungkin sudah aku gigit.


Angga melepas sandalnya dan mencoba turun ke dasar kolam ikan. Edward yang melihat itu langsung tersenyum antusias. Akhirnya sang Papa bisa ikut andil mencari ikan.


"Papa yang banyak ya tangkap ikannya!" teriak Edward.


"Ikannya kan kecil, jadi susah ditangkap!"


"Tu, tu...Itu ikannya deket kaki, Papa. Kejal Pa nanti kabul...!"


"Susah! Harus pake jala!"


"Huaaa...Edwaldkan mau ikan-ikan itu." Edward langsung menangis.


Anak ini bisanya cuma nyusahin.


Sementara itu, Alysa masih menunggu kedatangan Angga. Namun ia tidak mendengar suara apapun. Alysa memutuskan untuk keluar dan mencarinya. Sampai di depan Villa, Alysa disuguhkan pemandangan dua laki-laki yang sedang menangkap ikan. Ia tertawa melihat suaminya yang kesusahan mengejar ikan-ikan.


"Yang semangat ngejar ikannya!" teriak Alysa sembari tertawa puas.


"Ma, Edwardnya bawa ke dalam. Terus mandiin!" perintah Angga. Alysa pun segera mengangkat tubuh anaknya dan membawanya ke dalam untuk segera dimandikan.


Angga naik dan segera mengikuti langkah Alysa. Setelah selesai memandikan Edward dan Angga pun sudah siap. Mereka segera pergi ke kamar dan merebahkan tubuhnya. Alysa melanjutkan masaknya dan mencoba menghindari suaminya.


Malam pun tiba, Alysa segera membereskan piring setelah makan malam. Edward sudah tertidur di ranjang dengan sebotol susu yang masih menempel di mulutnya. Angga mendekati Alysa dan memeluknya dari belakang.


Alysa terkejut mendapat serangan tiba-tiba. Ia segera mempercepat menyelesaikan pekerjaannya dan mencoba menjauhi Angga. Angga terus saja mengikuti langkah.


"Ma, ayo? Tadi sore enggak jadi." pinta Angga dengan manja seperti anak kecil sedang meminta sesuatu pada Ibunya.


Mau tidak mau, Alysa harus mengiyakan ajakah suaminya. Ia tidak ingin suaminya terus-menerus memintanya. Hingga akhirnya, mereka pun sama-sama menuntaskan hasrat terpendamnya. Angga menciumi leher Alysa dan meningalkan beberapa tanda merah disana. Tangannya menggerilya setiap inci milik Alysa. Alysa hanya pasrah.


Angga memainkan area sensitif Alysa membuat Alysa mendesah dan sesuatu miliknya kini sudah basah. Angga tersenyum dan segera melepaskan pakaiannya sampai tidak tersisa. Ia membuka celana Alysa dan hanya meninggalkan bra dan juga celana dalamnya.


Dengan sekali hentakan, kini bagian tubuhnya sudah menelusup ke dalam. Alysa mengerang kesakitan dan membuat Angga menyumpal mulutnya dengan ciuman. Keduanya saling menikmati. Angga memainkannya dengan sangat lembut. 20 menit, 30 menit, namun Angga masih belum juga mengeluarkan cairannya.


"Sabar ya sebentar lagi." Angga masih berusaha dan mempercepat gerakan tubuhnya. Hingga akhirnya mereka sama-sama merasakan kenikmatan tiada tara. Tubuh mereka gemetar dan Angga segera menciumi kening istrinya.

__ADS_1


__ADS_2