
Seperti biasa, di pagi hari Alysa sudah berada di dapur untuk memasak. Ia hari ini harus menyiapkan semuanya karena Angga pasti akan berangkat kerja pagi-pagi. Setelah selesai masak, ia segera membereskan ruangan yang lain, mulai dari menyapu, ngepel, membuka tirai jendela dan membersihkan halaman depan.
Setelah kepergian Siska dan Ibunya, Alysa benar-benar harus bekerja sendirian. Rumah yang begitu besar membuatnya kewalahan. Angga tidak mencari pembantu lagi, ia takut jika ada sesuatu lagi yang terjadi dengan istrinya.
Angga bangun dan mendapati Alysa sudah tidak berada di dalam kamarnya. Ia pun segera pergi menuju lantai bawah, yaitu dapur. Pasti istrinya sedang memasak di dapur, fikirnya. Tiba di dapur, ia tidak menemukan Alysa. Angga mencari ke area taman belakang, tapi tidak ada. Mencari ke ruangan-ruangan lainnya pun tidak ada.
Tiba-tiba terdengar suara di depan membuatnya segera pergi untuk mengeceknya. Angga membuka pintu dan tersenyum. Ia mendekati sang istri dan mencium keningnya.
"Selamat pagi istriku," ucap Angga tersenyum sembari mencium kening istrinya.
"Pagi juga suamiku. Tumben udah bangun?" tanya Alysa dan langsung fokus menyapu halaman rumah.
"Papa ngerasa tulang rusuknya ada yang hilang, jadi langsung bangun." Angga tertawa geli sembari menggaruk tengkuknya.
"Mulai nih bucinnya."
"Sini, biar Papa bantu." Angga mengambil alih sapu yang sedang di pegang oleh Alysa.
"Enggak usah, Pa. Siniin, biar Mama aja!"
"Udah diem aja. Mama sudah melakukan kewajiban Mama sebagai istri. Jadi sekarang Papa yang akan melakukannya. Mama kan masih terlihat sakit, ayo duduk aja."
Alysa mengangguk setuju, ia duduk di lantai sembari memperhatikan suaminya yang sedang menyapu halaman depan rumah. Ia tersenyum melihatnya. Andaikan kenangan ini akan terus seperti ini, mungkin keluarganya akan terlihat bahagia.
Alysa beranjak dan segera masuk ke dapur membuat secangkir kopi untuk suaminya. Setelah itu ia kembali lagi ke teras depan dan menyuruh Angga untuk meminumnya.
"Pa, di minum dulu kopinya," perintah Alysa dan Angga pun segera meletakkan sapunya. Ia mendekat dan duduk di samping Alysa.
"Makasih ya, Ma. Mama baik sekali," puji Angga dan segera memeluk pinggang istrinya.
"Iya Pa, sama-sama. Papa mau berangkat jam berapa ke kantor? Ini udah mulai siang," tanya Alysa.
"Papa hari ini gak akan ke kantor, biar nanti Willy yang mengantar berkas-berkas kesini."
"Kok enggak ke kantor sih? Emang Papa kenapa?" tanya Alysa mengerutkan dahinya sembari menempelkan punggung telapak tangannya pada dahi Angga. "Papa sakitkah?" lanjutnya.
"Papa mau nemenin Mama di rumah. Kita butuh 'me time' bersama orang tercinta."
"Gimana kalau nanti kita bikin kue? Papa juga harus ikut andil ya, jangan mau makannya doang haha..."
"Okelah siap. Apasih yang enggak buat orang tercinta."
"Hmm...Mulai deh bucinnya."
Setelah berbincang-bincang, mereka segera pergi ke kamar untuk membangunkan Edward. Alysa membangunkan Edward karena hari ini hari sabtu terahkir sekolah.
"Sayang, bangun yuk? Ini hari terakhir sekolah lho...Nanti jalan-jalan lagi sama, Papa."
__ADS_1
"Sebental lagi."
"Ayo dong. Nanti kalau pulang sekolah kita jalan-jalan lagi." Edward pun akhirnya bangun dan Alysa segera memandikannya.
Setelah memandikan putranya, Alysa segera memakaikan seragam sekolahnya. Ia juga menata rambutnya dan memasukkan buku-bukunya.
Angga sudah siap dan kini sedang duduk di tepi ranjang sembari memperhatikan istri dan anaknya. Alysa menghampiri Angga dan segera menata rambutnya yang masih terlihat acak-acakan menurutnya. Angga memeluk pinggang Alysa dan menciumnya.
"Ayo Pa kita berangkat," ajak Alysa.
"Ayo sayang sini. Biar Papa gendong." perintah Angga dan Edward pun mengangguknya.
Angga memasangkan safety belt-nya pada Alysa. Setelah itu ia mengitari mobil dan segera melajukannya. Edward diam di pelukan Alysa dan Alysa memeluknya dengan erat. Tidak berapa lama, akhirnya mereka pun sampai di sekolah. Saat mereka akan melangkah ke arah gerbang, mereka berpapasan dengan Bu Ira.
"Ini orangtuanya Edward, ya?" tanya Bu Ira, wali kelasnya Edward.
"Iya Bu, saya Mamanya Edward," ucap Alysa tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya.
"Apa kalian sudah tahu?" tanya Bu Ira bertele-tele sembari membalas uluran tangannya, membuat Alysa dan Angga memandang satu sama lain.
"Tahu gimana, Bu?" tanya Angga.
Bu Ira menatap Edward dan berkata, "Edward sayang, kok Mama sama Papanya enggak di kasih tahu?" tanya Bu Ira tersenyum manis pada Edward.
"Hehe...Edwald lupa Bu gulu..." sahut Edward nyengir.
Alysa menatap Angga, "Pa, Mama besok mau ikut. Papa mau ikut juga?" tanya Alysa.
Kalau aku ikut, pasti besok meeting di Hotel.
"Kayaknya Papa enggak akan ikut, Ma. Besok Papa harus meeting," jelas Angga.
"Ya sudah biar Mama saja."
Alysa kembali menghadap Bu Ira. "Besok saya akan mengantar anak saya, Bu."
"Baiklah, untuk administrasi bisa langsung ke ruang tata usaha ya, Bu. Saya permisi dulu. Ayo Edward sayang, kita masuk ke kelas yuk?" Bu Ira dan Edward pun segera pergi setelah mendapat ciuman dari sang Mama.
Angga dan Alysa mengikuti langkah Bu Ira menuju ruang tata usaha untuk melakukan administrasi study tour besok.
Kini mereka sudah berada di perjalanan menuju Mall, untuk membeli beberapa cemilan dan kebutuhan lainnya di Yogyakarta selama dua hari. Tiba-tiba deringan telepon membuat Angga menghentikan mobilnya di tepi jalan.
"Hallo, Bang!"
"Ada apa, Mir?"
"Aku udah di Bandara nih, jemput Bang!"
__ADS_1
"Lho, kenapa gak ngabarin dulu dari kemarin?"
"Mira udah coba hubungi Abang, tapi gak di jawab-jawab!"
"Kemarin Abang sibuk banget. Ya sudah Abang kesana sekarang!"
"Mira pulang, Pa?" tanya Alysa.
"Iya, Ma. Kita sekarang kesana."
Angga melajukan kembali mobilnya menuju Bandara. Tiba di Bandara, mereka segera menuju ruang tunggu. Angga berlari kecil agar segera sampai disana. Mira yang sedang duduk pun menoleh ke arah Angga dan Alysa yang sedang berlari menuju ke arahnya. Mira tersenyum dan segera melambaikan tangannya.
"Bang...!" teriak Mira.
"Mira...!" sahut Angga dan segera mendekat. Mereka berpelukan, terasa haru melihatnya. Alysa tersenyum.
"Bang, aku rindu banget. Udah hampir tiga bulan lebih kita gak ketemu lagi." ucap Mira sembari terus memeluk sang Kakak.
"Abang juga rindu." Angga melepaskan pelukannya.
Mira menyeka air matanya dan melirik Alysa yang berada di samping Kakaknya. "Ini siapa, Bang? Oh Kakak ipar..." Mira memeluk Alysa dengan erat. Alysa yang mendapat pelukan tiba-tiba membuatnya terkejut dan tak terasa air matanya keluar.
"Kakak ipar cantik banget," ucap Mira masih terus memeluk Alysa.
"Kamu juga cantik, Mira." Alysa melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Mira. "Kamu nginep aja di rumah Mas Angga ya?" ajak Alysa tersenyum.
"Hmm...Gimana ya? Kalau Mama ngizinin, Kak!"
"Kamu harus akur ya sama, Kakak ipar." perintah Angga membuat Mira dan Alysa menatapnya.
"Abang ngapain sih? Emang Mira jahat ya sama Kakak ipar?" kesal Mira.
"Haha...Udah-udah, kita ke Mall dulu yuk? Besok keponakanmu mau study tour. Ehh kamu mau ikut sekalian piknik," tanya Angga.
"Ayo, Mira juga mau piknik."
Setelah berbincang-bincang, mereka segera pergi menuju Mall. Mira duduk di belakang bersama Alysa dan sepertinya Mira sangat menyukainya. Lantaran Alysa juga sangat terbuka dengannya. Mereka menceritakan semua yang terjadi sampai-sampai Angga yang sedang menyetir pun menoleh ke belakang.
"Kayaknya bahagia banget! Sampai-sampai aku disini di kacangin kayak martabak!" celetuk Angga.
"Haha...Abang gak usah tahu urusan wanita, iyakan Kak?"
"Iya tuh. Udah fokus nyetir aja!"
***
Vote, like, comment sebanyak-banyaknya ya❤
__ADS_1