
Karena foto itu terbalik jadi Alysa tidak tahu itu foto siapa. Tanpa berpikir panjang, Alysa membalikkan foto itu dan alangkah terkejutnya. Foto perempuan cantik bak seperti ratu dengan rambut tergerai yang sedang duduk manis disebuah kursi, memang sangat cantik. Alysa terus-menerus memperhatikan foto itu dengan lekat. Tiba-tiba ada seseorang masuk ke dalam kamarnya membuat Alysa terkejut dan segera menyembunyikan foto itu ke belakang tubuhnya.
"Kok belum mandi?" Tanya Angga melihat Alysa yang sedang berdiri dengan wajah yang terlihat panik dengan kedatangan dirinya. Angga lalu duduk di tepi ranjang dan menyilangkan kedua tangannya di dada bidangnya.
"I-iya pak ini mau ma-mandi!" Sahut Alysa terbata-bata.
"Ayo cepat mandi sekarang, saya sudah lapar nih!" Ucap Angga tanpa menaruh curiga dengan Alysa. Alysa segera pergi dari kamarnya untuk mandi.
Di dalam kamar mandi, Alysa terus menatap foto itu yang membuat dirinya menjadi penasaran dengan wanita cantik itu. Dan ia berpikir untuk menanyakan langsung pada Angga, agar ia tahu kejelasannya. Tidak berapa lama, Alysa sudah berganti pakaian dengan handuk di atas kepalanya untuk mengeringkan rambut basahnya. Alysa kembali ke kamarnya untuk menanyakan perihal yang membuatnya penasaran. Tampak Angga sedang tidur-tiduran di ranjang sembari memainkan ponselnya. Alysa menghampirinya.
"Pak?" Alysa memulai pembicaraannya dengan duduk ditepi ranjang.
"Iya?" Sahut Angga.
"Sini dong pak, Alysa mau bicara sesuatu nih penting banget!" Ucap Alysa.
Angga segera bangun dan duduk disamping Alysa. "Mau bicara apa?" Tanya Angga menatap Alysa dengan keheranan.
"Hmm.. Tapi bapak enggak akan marahkan?"
Angga menghela nafasnya. "Ayo katakan?"
Alysa mengambil foto itu di saku celananya dan memberikannya pada Angga. "Nih tadi enggak sengaja jatuh ke lantai pak! Cantik banget ya pak perempuannya!" Ucap Alysa tersenyum kecut, Alysa sangat cemburu dengan foto yang berada di koper Angga itu.
Angga pun menerimanya dan segera melihatnya. Angga terdiam sejenak dengan menatap foto itu, lalu menatap Alysa dengan sendu membuat Alysa bertanya-tanya entah apa yang ada dipikiran Angga saat ini.
"Pacarnya ya pak hehe?" Tanya Alysa.
"Bukan!" Jawab Angga singkat.
"Lah terus ini foto siapa kalau bukan pacar bapak?" Tanya Alysa merasa tidak puas dengan jawaban dari Angga.
Sebenarnya itu adalah foto perempuan yang sama dengan yang ada di kamar Angga. Foto itu milik Sarah, istri pertama Angga yang meninggal dunia sejak empat tahun yang lalu. Angga pun menceritakannya dan membuat Alysa malu atas apa yang ia lakukan pada Angga.
"Apa kamu tidak melihat foto yang besar di kamar saya?" Tanya Angga tersenyum.
"Iya Alysa lihat, foto yang sebesar gaban itu! Ohh iya Alysa ingat pak, ini foto almarhum istri bapak, Alysa benar-benar lupa. Maaf ya pak, Alysa tidak bermaksud seperti itu!" Ucap Alysa merasa bersalah.
"Iya tidak apa-apa. Lagian sekarang saya adalah milik kamu, jadi kamu tidak usah meminta maaf. Almarhum istri saya sudah tenang disana!"
"Tapi Alysa benar-benar minta maaf pak!"
"Udah ahh jangan kayak anak kecil. Kita makan aja yuk? udah lapar nih haha!"
"Ya udah ayo hehe"
Angga dan Alysa segera pergi ke ruang makan. Disana sudah tersedia berbagai macam hidangan yang menggiurkan lidah. Alysa duduk dekat Ibunya dan begitu juga dengan Angga duduk di sebelah Alysa. Alysa mengambil piring dan menyiapkan nasi untuk Angga, tak lupa juga ia mengambilkan nasi untuk Edward yang sedari tadi sudah ada disana.
"Ayo dimakan. Edward, mau tante suapin? apa mau makan sendiri?" Tanya Alysa pada Edward yang berada didepannya.
"Sendili tante!" Sahut Edward.
"Kok gemes banget sih dede Edwardnya! Kalau nanti kak Alysa punya anak, pasti mirip deh sama Edward hehe!" Ucap Azkia terkekeh yang berada di sebelah Edward.
"Dek!" Pekik Alysa, karena ia tidak mau memperbincangkan dirinya.
"Iyakan benar pasti miriplah, kan anaknya!" Ucap Zaki.
"Iya pasti bakalan mirip sama Edward ya. Om mau bikin kak Alysa cepat hamil haha!" Sahut Angga terkekeh membuat Alysa memutar bola matanya dengan kesal.
__ADS_1
"Pak makan dulu pak. Udah jangan ngegosipin kakak mulu dek, nanti kakak marah beneran lho!"
"Kak Alysa merajuk nih, kebiasaan suka gitu kalau dibicarain haha!" Ucap Zaki.
Ayah dan Ibu ikut tertawa melihat tingkah lucu anak-anaknya dan juga calon menantunya. Sepertinya orangtua Alysa benar-benar menyetujuinya jika Alysa segera menikah.
Acara makan sore pun sudah selesai, Alysa membereskan piring-piring yang kotor dan mencucinya. Angga duduk diteras depan bersama Ayah dan memperbincangkan sesuatu dengan tertawa seperti sudah akrab. Melihat ada tamu dirumah Ayahnya Alysa, para tetangga pun bermunculan dan membaur untuk menanyakannya. Alysa sangat terkejut ketika mendengar suara-suara yang begitu ramai didepan rumahnya, ia segera membereskan piring-piring dan pergi untuk menemui asal suara itu.
Para tetangga menyambutnya dengan tersenyum ketika Alysa duduk disana. Alysa bersalaman dan ikut berbincang-bincang disana. Tiba-tiba, Ibunya datang dengan membawa nampan yang berisikan air putih dan beberapa cemilan yang sudah dipersiapkannya ketika Alysa pulang tadi.
"Lysa?" Ucap Bu Farida tetangganya.
"Iya bu?" Sahut Alysa lalu memangku Edward untuk duduk di atas pahanya.
"Hebat banget kamu baru beberapa hari kerja udah bawa anak orang nih!" Tanya Bu Farida
Iya bu ini anak orang Alysa bawa. Batin Alysa.
"Calon suaminya bu!" Celetuk Angga membuat Alysa memutar bola matanya.
Enggak usah dikasih tahu juga pak, mereka udah tahu. Batin Alysa kesal.
"Hehe iya bu. Ehh si Rania udah tunangan katanya bu?"
"Iya udah dua hari yang lalu. Tapi kayaknya Rania terpaksa menerima tunangan itu! Karena setahu Ibu, Rania itu tidak mencintainya!"
"Kok terpaksa bu? Apa Rania punya masalah sesuatu?"
"Katanya waktu SMA dulu, laki-lakinya itu cinta sama Rania, namun Rania tidak mencintainya! Dan sekarang malah tiba-tiba tunangan, rada aneh!"
"Hati-hati bu, bisa jadi di guna-guna itu. Lebih baik tanyain aja bu ke Rania nya. Kalau dia benar-benar mencintainya pasti ia akan bahagia dengan pilihannya!"
"Iya, Ibu juga berpikiran seperti itu. Tapi ya mau gimana lagi, dua minggu lagi mereka akan menikah!"
Sore berubah menjadi malam, para tetangga sudah pulang ke rumahnya masing-masing dan meninggalkan Angga dan Ayah yang masih duduk di teras. Alysa kembali ke kamarnya untuk menidurkan Edward, karena sedari tadi ia tidak tidur siang. Alysa mengusapi rambut Edward dengan lembut dan mendaratkan ciuman kecil di pipi gembulnya. Ia berpikir, jika inilah saatnya kehidupan yang baru akan dimulai. Kehidupan setelah menikah yang pasti akan membuat siapapun akan terlihat sangat bahagia. Namun, entah mengapa Alysa berpikir negative tentang rumah tangganya. Lantaran dalam pernikahannya itu hanya seumuran jagung yaitu tiga bulan.
Tiga bulan yang sangat berarti bagi dirinya, dan ada secercah kehidupan yang akan membuat ia merasa lebih baik dari sebelumnya. Sebenarnya jika ia sudah menikah nanti, ia ingin menunda kehamilannya, namun karena desakan dari mertuanya membuat Alysa seperti hidup dalam kekangan. Terlebih jika ia tidak bisa hamil, maka Angga harus menceraikan dirinya.
Harus gimana nih? Aku benar-benar belum siap hamil. Mau tidak mau, pasti pak Angga akan membuatku cepat hamil. Batin Alysa.
Setelah menidurkan Edward, Alysa pun menghampiri Angga yang masih berada di depan rumahnya dengan Ayahnya. Alysa mengajak Angga masuk ke kamarnya, sepertinya ia ingin membicarakan sesuatu mengenai kehamilan yang akan segera menantinya. Alysa dan Angga duduk di tepi ranjang. Dari raut wajah Alysa terlihat seperti menahan sesuatu.
"Pak kalau kita udah nikah, boleh ditunda dulu gak kehamilannya. Alysa benar-benar belum siap, lagian Edward masih membutuhkan kasih sayang dari kita sebagai orangtuanya!" Alysa memulai pembicaraannya.
Angga menghela nafasnya. "Alysa? Dengarkan saya! Kalau kamu enggak cepat hamil, nanti kita harus cerai dan saya menikahi wanita liar itu. Memangnya kamu enggak cemburu kalau saya nikahi wanita liar itu? " Tanya Angga terkekeh dengan ucapannya sendiri. Tapi tidak dengan Alysa, wajahnya terlihat sangat memikirkan sesuatu.
"Iya juga sih. Alysa enggak rela kalau bapak nikah sama orang lain! " Ucap Alysa memalingkan wajahnya.
"Udah mulai cemburu nih yee..!".
"Bukan cemburu, tapi...! " Ucap Alysa terpotong dengan menutup mulutnya sendiri.
"Tapi apa? Tapi cemburu? Haha!" Angga terkekeh.
"Alysa takut hamil.. " Ucap Alysa lirih agar tidak terdengar orang lain.
Angga mendekati Alysa dan membisikkan sesuatu. "Lho ngapain takut? Kalau hamil itu enak kata orang-orang! ".
"Enak apanya?" Tanya Alysa melototkan matanya.
__ADS_1
"Ya enak. Kamu enak, saya lebih enak haha!" Lirih Angga membuat Alysa mendorong tangannya agar Angga menjauhinya.
"Dasar mesum!" Alysa mendorong tangan Angga dengan kesal.
"Pokoknya kamu harus secepatnya hamil sayang. Biar Edward ada teman mainnya!".
"Tapi...!" Ucap Alysa terpotong.
"Stttt....Tidur yuk?" Ajak Angga.
"Bapak jangan disini tidurnya!" Pekik Alysa kesal.
"Terus dimana? " Tanya Angga.
"Bapak tidurnya sama Zaki ya, di kamar sebelah. Alysa tidur disini sama Azkia dan Edward!" Ucap Alysa.
"Lho? kenapa enggak sekamar aja! " Ucap Angga ngotot.
"Gak muat lho pak ranjangnya! " Balas Alysa menyibikkan bibirnya.
Gini nih kalau kelamaan menduda. Baru jadi pacar aja udah neko-neko minta sekamar, apalagi kalau udah jadi suami istri, pasti tiap hari minta inilah, itulah. Batin Alysa.
"Tapi saya takut. Disini aja ya! Boleh ya? Gak apa-apa deh tidur di lantai juga" Ucap Angga memohon-mohon.
Tidur di lantai? Emangnya pak Angga beneran mau tidur di lantai? Aneh!. Batin Alysa.
" Ya udah deh boleh disini, tapi ingat jangan macem-macem ya pak!".
"Iya, kan saya jagain kalian tidur,! ".
Alysa mengambil kasur lantai dan meletakannya dekat ranjang untuk Angga tidur. Lalu mengambil bantal di almari dan memberikannya pada Angga. Angga menerimanya dan langsung membaringkan tubuhnya. Alysa pergi ke kamar sebelah untuk menyuruh Azkia tidur dengannya.Setelah itu, ia kembali ke kamarnya lalu membaringkan tubuhnya membelakangi Angga. Alysa mengusapi rambut Edward, wajah Edward sangat tampan seperti Angga, namun rambut pirangnya seperti Mamanya.
Tidak berapa lama, Azkia tertidur dengan pulas dan meninggalkan Alysa yang sama sekali tidak bisa tidur. Ia takut jika Angga akan melakukan sesuatu yang tidak pernah ia duga-duga. Dan sama halnya dengan Angga, ia tidak bisa tidur di lantai yang beralaskan kasur lantai yang tipis, membuatnya sakit di bagian punggungnya. Di dalam kamar tidak ada suara apapun, Alysa mencoba menoleh ke belakang dan melihat ke bawah untuk memastikan Angga sudah tidur. Dan begitu terkejutnya dia mendapati Angga belum tidur dengan satu tangannya masuk ke dalam celananya yang menimbulkan sesuatu yang berdiri dibalik celana itu.
Alysa hanya bisa menelan ludah melihat kejadian di depan matanya sendiri. Ia segera menutupi wajahnya dengan selimut agar tidak teringat kejadian yang barusan terjadi itu. Alysa benar-benar tidak bisa melupakannya dan terus memikirkannya. Tiba-tiba terdengar suara aneh yang diucapkan Angga membuat jantung Alysa berdegup dua kali lebih cepat. Sepertinya Angga ingin menuntaskan hasratnya yang selama ini ia pendam. Keringat dingin mulai bercucuran bersamaan dengan suara-suara aneh itu. Alysa mencubit pipinya dengan keras dan berpikiran bahwa ini hanyalah mimpi saja, namun cubitan itu memang nyata dan terasa sakit.
Pak Angga lagi ngapain sih? Jadi ngeri kayak gini! Pakai suara-suara aneh lagi. Batin Alysa gemeteran.
Tiba-tiba ia terpikir untuk menggeliatkan tangannya ke atas agar Angga tidak melakukan hal menjijikan seperti yang sekarang sedang dilakukannya. Alysa menghela nafasnya dengan lemah agar Angga tidak curiga kalau ia sebenarnya belum tidur sama sekali.
"Hmmm... mmm...!" Alysa pura-pura menggeliat agar Angga menghentikan perbuatan yang memalukan itu. Dan benar saja, Angga langsung menoleh ke atas ranjang yang mendapati Alysa sedang menguap dan menggeliatkan tangannya. Angga langsung memberhentikannya dan langsung tidur.
Malam yang terasa panjang membuat Alysa merasa dihantui dengan pemandangan yang barusan terjadi. Tidak berapa lama, Alysa pun tertidur dengan pulas setelah beberapa menit yang lalu terus-menerus memikirkan hal yang menjijikkan itu.
*
*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
Jangan lupa untuk Like, Vote, Comment, and Tip nya biar Author semangat nulisnya❤
Terima kasih yang sudah setia dengan novel ini🤗❤