Menikahi Duda Tampan

Menikahi Duda Tampan
BAB 54


__ADS_3

Kini Alysa, Angga, Edward dan kedua adiknya sudah berada di rumah. Hari ini, hari yang cukup buruk bagi Alysa. Entah mengapa setelah ia menikah, masalah terus muncul. Entah itu masalah kecil ataupun besar. Alysa hanya bersabar dan kuat menjalaninya.


Si kecil Edward pergi ke kamarnya sendiri dan mengganti pakaian bersama neneknya. Alysa dan Angga duduk di sofa untuk istirahat. Alysa menyandarkan kepalanya di bahu Angga, dan tangannya seperti menulis hati yang retak di dada bidang Angga. Angga bisa membacanya dan menggigit ujung jari Alysa karena gemes.


"Tangannya nakal," ucap Angga dan langsung menggigit tangan Alysa.


"Aww...Mas, sakit! Kenapa di gigit ahh," mengaduh kesakitan.


"Kenapa kamu gambar hati yang retak?" tanya Angga menatap Alysa.


"Enggak kok. Alysa gambar hati untuk, Mas."


"Jangan bohong, Mas bisa merasakannya kok."


"Enggak, Mas."


Tiba-tiba Edward datang dengan pakaian rapinya. Sepertinya ia akan menagih janji jalan-jalannya pada Papanya. Alysa menoleh dan segera mendekat.


"Anak Mama udah tampan kayak gini. Papa lihat nih," ucap Alysa tersenyum membuat Angga berpura-pura tidur.


"Mama-Mama...Kita jadi jalan-jalankan? Jalan-jalan ke Mall?" tanya Edward membuat Angga mendongakkan wajahnya.


"Enggak jadi. Papa capek banget!" sahut Angga dengan memelas.


"Kok enggak jadi sih? Katanya tadi mau jalan-jalan!" Edward ngambek menyilangkan kedua tangannya dengan gemes. "Papa bohong sama Edwald!".


"Emangnya tadi Papa ngajakin jalan-jalan?" tanya Angga menampilkan wajah datarnya.


"Mas..." ucap Alysa menatap Angga.


"Stttt...Diem, ya" bisik Angga dengan mengedipkan mata kirinya.


"Kata Mama, Papa mau ngajakin Edwald jalan-jalan kok. Iya kan, Ma?" tanya Edward membuat Alysa tidak bisa berbohong. Ini semua gara-gara dirinya berkata seperti itu, untuk membuat Edward bangun di pagi hari.


"Hmm...Iya. Tadi Papa bicara kayak gitu sama, Mama. Iya kan, Pa?" tanya Alysa dengan melototkan matanya.


"Aduhh...Pusing banget. Kayaknya hari ini batal aja deh jalan-jalannya!" Angga pura-pura pusing dengan memegangi dahinya.


"Papa, pula-pula. Kok ngikutin Edwald sih, kalau pagi-pagi suka pusing?" ucap Edward tatapannya begitu mengintimidasi.


"Oh berarti kalau Mama bangunin Edward, berarti Edward suka pura-pura pusing ya? Pantesan gak bangun-bangun," ucap Alysa memalingkan wajahnya agar Edward mengakuinya. Sebenarnya, ia ingin sekali tertawa.


"Enggak kok, Ma. Edwald benelan pusing," Edward segera mencium pipi Alysa.


"Tuh, Ma. Papa yang pula-pula pusing," mengadu dombakan pada Mamanya dengan menunjuk Angga yang sedang memegangi dahinya.


"Hmmm... Mengadu domba," ucap Angga mengerutkan dahinya menatap Edward.


"Haha...Ya udah Mas kita kabulin permintaannya, tapi nanti kalau udah ada Ryan kesini, sekalian ajak juga."


"Iya, nanti saja ya jalan-jalannya."


"Iya," ucap Edward masih ngambek.


"Jangan ngambek dong...Nanti gak dibeliin mainan baru lho sama, Papa."


"Enggak kok. Janji ya Pa, nanti beliin mainan balu."


***


Sementara itu, laki-laki yang tadi meneror Alysa dengan mengatakan bahwa Edward di culik, kini ia segera menelpon Destia. Bahwa dirinya dan juga anak buahnya sudah gagal mencelakai targetnya.

__ADS_1


"Nyonya, maaf hari ini kita gagal."


"APAAA? GAGAL?"


"Wanita itu berteriak dan membuat semua orang segera membantunya. Dan anak buah saya di bawa ke polisi."


"Dasar gak becus. Kembalikan uang saya!"


"Hey, saya udah bekerja dari tadi pagi. Enak aja uangnya dikembaliin. Situ yang harus mencelakai wanita itu, kenapa harus saya? Dasar wanita!"


"Heh...Gue atasan lo ya. Hargai gue!"


"Ya udah hargai saya juga, Nyonya. Saya capek dari pagi buat ngintilin wanita itu. Udah ya, tugas saya selesai bye!"


"Heh...Balikin uang gue...!"


Sialan. Gak becus banget kerjanya. Padahal cuma kerjaan kecil dan gue juga bisa. Gue udah bayar mahal lagi.


Destia melempar ponselnya ke ranjang. Ia tidak ada cara lain untuk mencelakai Alysa. Satu-satunya cara yang bisa ampuh adalah harus bicara dengan Mamanya Angga. Ia harus terus mengelabui pikirannya untuk segera menikahkan dirinya dengan Angga.


Gue harus ke rumah tante tua itu. Gue paksa suruh nikahin gue sama Mas Angga, jadi istri ketiganya.


***


Waktu menunjukkan pukul 15.30 WIB. Semuanya sudah bersiap-siap untuk menerima tamu yang cukup istimewa bari Azkia. Ia tidak bisa dipungkiri, bahwa pangerannya akan bertemu dengannya. Haha, pangeran berkuda kayak si Rafa yang minta nai kuda-kudaan wkwk.


Alysa memakai pakaian hanbok se-betis dengan warna coklat tua di bagian rok-nya, dan bajunya warna cream yang begitu senada dengan rok-nya. Angga memakai pakaian kaos dan celana jeans. Karena menurutnya, ia tidak akan menerima tamu yang begitu formal. Alysa juga memakaikan pakaian Edward dengan kemeja kotak-kotak mini dengan celana jeansnya.


Sementara itu, Azkia kini sedang bingung. Entah apa yang harus ia pakai. Ia mengetuk pintu kamar Alysa menbuat Alysa segera menyuruhnya masuk, karena sedang menata rambut Edward.


"Hmm...Kak, aku pakai pakaian yang mana? Yang ini atau yang ini?" tanya Azkia dengan menunjukkan dua pakaian yang ada di tangan kiri dan kanannya.


Alysa berfikir, "Nah, yang kanan pasti cocok deh."


"Iya, itu bagus bangetkan?"


"Ya udah, yang ini aja deh." Azkia segera pergi.


Kini mereka sudah siap di ruang tamu. Alysa dan Azia sangat cantik dan wajahnya juga sangat mirip membuat Angga menelan ludahnya sendiri melihat kecantikan istri dan adik iparnya. Edward sudah terlihat tampan dengan pakaian kemejanya dengan pipi gembul yang menggemaskan. Zaki memakai kaos seperti Angga. Sebenarnya ia tidak begitu bahagia dengan acara yang dilakukan ini. Ia tidak ingin jika adiknya (Azkia) akan menikah begitu cepat.


"Kak, lama banget sih pangerannya. Kia gak sabar nih!"


"Paling sebentar lagi datang kok. Ingat! Yang anggun dan juga jangan kelihatan bobroknya. Ketawanya jangan terlalu besar, takutnya si pangeran gak mau sama kamu, haha."


"Ish, gitu banget ceramahnya. Ya tapikan aku enggak bobrok-bobrok amat, Kak. Emang bisa kelihatan ya?" ucap Azkia dan tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti di depan carport membuat jantung Azkia berdetak dengan kencang. Semua orang merapikan pakaiannya dan juga mengatur nafasnya.


Azkia melihat kesekeliling dan tampaknya mereka juga merasakan hal yang sama dengan perasaan dirinya. Azkia gusar, dan segera mengatur nafasnya berulang kali.


Azkia, tenang. Pangeranmu ada di depan. Kau harus terlihat anggun dan tidak kelihatan bobroknya. Dan satu lagi, ketawanya jangan terlalu besar, kata Kak Alysa. Batin Azkia.


Tiba-tiba, bel rumah berbunyi dan Angga segera pergi untuk membukanya. Tampak seorang laki-laki tampan rupawan tanpa brewok dengan senyuman manisnya. Ia memakai kemeja putih dengan jas yang di selempangkan ditangan kirinya. Berperawakkan sangat tinggi, dan lebih tepatnya sepantar dengan Angga. Senyuman manis itu membuat semua orang tersenyum, tapi tidak dengan Azkia. Azkia menatap lekat wajah pangeran itu. Hingga tatapannya bertemu membuat jantungnya berdetak sangat kencang.


Bibirnya kelu tidak bisa bicara hanya bisa bicara dalam hati saja. Sungguh ini di luar dugaannya bisa bertemu dengan seorang pangeran dari istana, mungkin?


Pangeran! Ini benarkan seorang pangeran? Pangeran berkuda kah? Atau...Atau apa ya?


Angga segera mempersilahkan Ryan duduk di dekat Azkia. Alysa yang sedari tadi duduk di samping Azkia, ia bisa merasakan deta jantung Azkia. Ia ingin sekali tertawa. Azkia masih memperhatikan Ryan yang begitu sangat tampan.


Mimpi apa ya semalam? Kok aku bisa ketemu sama pangeran dari kayangan. Pangeran dari planet tajik kali.


"Biasa aja kali, lihatinnya. Kayak baru lihat aja!" bisik Alysa membuat Azkia ingin sekali memukul tangan Kakaknya.

__ADS_1


"Ya, emang baru lihat kok."


Ryan beranjak dari duduknya dan segera mencium tangan Ibu dan Ayah, "Assalamualaikum," Ryan mencium tangan Ibu dan Ayah secara bergantian. Setelah itu ia bersalaman dengan Angga, Zaki, Alysa dan terakhir Azkia.


Sumpah demi apa, aku megang tangannya ahhh.


"Ehemm...Jadi adik iparnya yang mana, Pak? Soalnya wajahnya sama persis," ucap Ryan tersenyum kikuk.


"Yang ini, nih," ucap Alysa dengan mendorong tubuh Azkia agar mendekat.


"Kak, aku malu."


"Biasanya juga malu-maluin."


"Apa kita bisa bicara sebentar?" tanya Ryan dan Azkia pun segera mengangguknya. Bibirnya terasa kelu untuk berucap.


Ryan dan Azkia sudah pergi ke taman depan dan mereka sedang duduk di gazebo. Alysa yang penasaran, ia bermaksud untuk menguping percakapan mereka. Namun, itu sangat jauh dan tidak memungkinkan.


"Mas, kita ngintilin mereka yuk? Aku mau tahu," ajak Alysa.


"Privasi sayang," bisik Angga dengan memeluk pinggang Alysa dari samping.


"Tapi aku mau tahu, Mas," kekeh Alysa dengan pendiriannya.


"Kita tunggu mereka aja."


"Papa-papa, Om tadi mau ngapain ngajakin tante Kia?" tanya Edward dengan menarik kaos Angga.


"Mau buat dedek, haha," celetuk Angga sembari terkekeh.


"Mas...Kok ngajarin gak bener sama anaknya."


"Udah berhenti belum?"


"Berhenti apanya?"


"Itu, yang tiap bulan."


"Belum, masih lama."


"Hmm...Lama banget. Edward katanya mau adik, yang."


"Kalau akunya gak hamil lagi gimana, Mas?"


"Jangan mendahului takdir. Pasti hamil lagi, asalkan bikinnya tiap hari."


"Mesum," Alysa memukul lengan Angga.


Alysa, Angga dan Edward masih memperhatikan Ryan dan Azkia yang sedang berbincang-bincang. Alysa yang begitu penasaran, ia langsung pergi ke dapur membawa dua gelas jus, dan akan memberikannya pada mereka.


"Ayo diminum dulu. Pasti capek banget, kan?" ucap Alysa.


"Kakak mau ngapain?" tanya Azkia.


"Mau dengerin percakapan kalian, hahaha." Alysa segera pergi, karena mungkin saja kalau ia masih ada disana pasti Azkia akan memukul lengannya.


"Hmm.. Maafkan Kakak, aku. Dia emang suka kayak gitu, Kak," ucap Azkia memasang wajah memelasnya.


"Gak apa-apa. Besok aku akan datang kesini lagi."


"Mau ngapain? Apa belum puas introgasinya?"

__ADS_1


"Haha..Bukan, jadi saya mau ngajakin kamu ke rumah, Mama. Ya semacam bawa calon istri."


***


__ADS_2