
Setelah makan malam, Alysa, Mira dan Edward segera pergi ke area taman yang berada di area perhotelan itu. Taman yang indah dengan di kelilingi ribuan lampu membuat Alysa yang tadinya murung pun kembali ceria. Ia duduk sembari menatap ke atas langit yang begitu berseri. Langit dengan ribuan bahkan jutaan bintang menghiasi malam sunyi ini.
Edward bermain dengan teman-temannya mengelilingi lampu taman dengan raut wajah yang begitu ceria. Alysa yang melihat putranya pun ikut bahagia. Andaikan suaminya juga ikut melihat putranya yang kini sudah membesar.
Pa, putra kita sekarang sudah besar. Mama juga gak nyangka, kalau Edward akan besar secepat ini. Mama hanya ingin keluarga kita bisa terus bersama.
Air matanya tiba-tiba menetes. Terasa haru jika melihat putranya yang kini sudah besar. Alysa hanya memohon, ia bisa terus mengurusnya hingga Edward dewasa. Mira yang sedang memotret Edward bersama teman-temannya pun langsung menghampiri Alysa. Ia duduk dan merangkulnya. Alysa yang sedang menangis pun tiba-tiba memeluk Mira dengan erat.
"Mir?" panggil Alysa.
"Iya, Kak. Kakak kenapa nangis? Abang udah telepon?" tanya Mira dan terus mendekap tubuh Alysa.
"Belum...Mungkin Mas Angga lagi sibuk kerja. Apa kamu tidak membenci, Kakak?" tanya Alysa, entah apa pertanyaannya itu begitu tiba-tiba keluar dari mulutnya.
"Kakak bicara apa? Mira tidak membenci, Kakak. Mira sayang kok sama, Kakak. Kenapa Kakak bicara seperti itu?"
"Enggak apa-apa. Kakak cuma tanya aja!"
"Ada apa? Ayolah cerita, sekarang kita temenan. Ya, aku juga bisa dibilang teman curhat kalau Kakak ada masalah."
"Tapi jangan benci sama Mama kamu ya? Janji gak?"
Mira dengan semangat segera mengangguknya. "Ayo katakan saja!"
"Sebenarnya, Kakak nikah sama Mas Angga itu cuma 3 bulan..." ucap Alysa terpotong.
"Hah? 3 bulan?"
"He'em. Mama mertua tidak menyukai Kakak. Ya memang Kakak hanya orang kampung, derajat kita gak sama."
__ADS_1
"Jangan bicara kayak gitu, Kak. Derajat kita di dunia memanglah beda, tapi akhirat nanti derajat kita sama. Mau orang kaya, miskin, banyak uangnya atau banyak mobilnya kalau di akhirat semua akan sama."
Alysa terdiam mendengar ucapan Mira. Memanglah benar, walaupun hidup kita di dunia sangatlah berbeda, tapi diakhirat nanti samua akan terlihat sama. Alysa mendongakkan wajahnya menatap Mira. "Iya, Kakak juga tahu. Tapi pernikahan Kakak udah mau 3 bulan, kalau dalamq 3 bulan Kakak gak hamil, Kakak harus pergi. Hiks..."
Mira yang mendengar itu langsung menangis.Ia merasa simpati dengan kakak iparnya. "Tenang ya, Kak. Kakak enggak usah khawatir, Mira akan bantu Kakak biar Mama juga gak akan memisahkan kalian." Alysa tersenyum, hanya Mira yang bisa mengerti keadaan hatinya. Ia memeluknya dengan erat, semakin erat. Mira mengusapi punggung Alysa dengan lembut. Hingga Edward yang sedang bermain pun melihatnya dan menghampirinya.
"Mama ngapain peluk-peluk tante Mila?" tanya Edward menatap kesal pada Alysa.
"Sini sayang. Mama juga mau peluk anak tampan." Edward mendekat dan Alysa segera memeluknya.
***
Angga masih memegangi kepalanya, rasa kantuk yang begitu menyerangnya membuatnya tidak bisa berbuat sesuatu. Perlahan ia mulai tertidur dan tak sadarkan diri. Adryan langsung memanggil anak buahnya untuk mengangkat tubuh Angga ke dalam kamar yang di dalamnya sudah ada Destia.
"Cepat bawa dia!" perintah Adryan.
"Ba-baik!" mereka segera mengangkat tubuh Angga ke dalam kamar. Kamar yang ditempati Destia sangat jauh, dan itu membuat anak buah Adryan kesulitan dan juga takut jika ada orang yang akan melihatnya.
"Tubuhnya berat, lagian kamarnya jauh lagi!"
Willy kembali dengan membawa minuman ke dalam Hotel. Ia mulai berjalan ke tempat semula ia berdiri. Saat Willy menatap ruangan yang ditempati Angga, ia tidak melihat Angga disitu.
"Kemana, Pak Angga? Dan laki-laki itu juga kemana?" gumam Willy agar suaranya tidak terdengar. Willy celingak-celinguk tatapannya kesana kemari melihat sosok yang ia kenal. Namun sosok itu tak terlihat.
Argghhh...Mobilnya kan ada diluar! Saya harus mencarinya ke dalam.
Willy berjalan dengan cepat dan fikirannya menjadi tidak tenang. Ia menggenggam minumannya tadi dengan kuat. Keadaan nampak sangat sepi dan tidak ada orang disana. Willy mengambil ponselnya sembari berjalan dan akan menelpon Angga.
TUT TUT TUT
__ADS_1
Shit. Willy terus berjalan hingga ia mendengar suara-suara yang cukup berisik di dalam kamar yang sedang ia lewati. Willy terdiam dan gerakan kakinya terhenti. Telinganya mulai mendengar satu per satu suara di dalamnya.
Apa, Pak Angga disini? Ngapain Pak Angga masuk ke kamar? Apa disini ada Alysa? Bagaimana mungkin, pasti Alysa di rumahnya.
Karena Willy semakin penasaran, akhirnya ia mendobrak pintu kamar itu dan membuat orang-orang yang berada di dalamnya cukup terkejut hingga berlari keluar, namun Willy dengan sigap langsung menghadang mereka.
"Dimana Pak Angga? Kau sembunyikan dia dimana hah?" tanya Willy dengan amarah, wajahnya sangat menakutkan.
"Ehh, itu bukan urusan lo!!" jawab salah satu anak buah Adryan.
"Itu urusan saya. Dimana kau menyembunyikannya?" Willy sudah tidak bisa mengontrol emosinya lagi, akhirnya ia memukul wajah-wajah itu dengan sekali pukul. Karena merasa tidak terima pukulan dari Willy, akhirnya mereka pun membalasnya.
Pertarungan 1 lawan 2 kini semakin mengkhawatirkan, lantaran Willy hanya seorang diri. Willy tidak menyerah dan terus memukulnya lebih keras, hingga akhirnya Willy bisa mengalahkan mereka hingga babak belur.
Dua anak buah Adryan tak sadarkan diri setelah mendapat pukulan maut dari Willy. Willy menghela nafasnya dengan kasar. Wajahnya bonyok akibat serangan dari mereka. Darah segar mengalir di dekat bibirnya. Namun ia tidak akan menyerah untuk menemukan Angga.
Willy bergegas pergi untuk mengecek satu per satu ruangan, namun ia tidak melihat Angga disana. Dapur, ruang tamu, toilet, namun tidak ada. Hingga tinggal satu ruangan lagi yang belum ia lihat, yaitu kamar yang menghadap ke area balkon. Willy menghapus darah yang terus mengalir di area bibirnya dengan dasi yang masih terlilit di lehernya.
Ia melangkahkan kakinya menuju kamar itu. Ia mendengar suara yang sedang menelpon dari balik pintu. Suara wanita yang ia kenal, namun juga ia tidak begitu yakin dengan suara itu.
Siapa dia?
Willy mendobrak kembali pintu kamar itu, hingga wanita yang berada di dalam kamar pun terkejut bukan kepalang. Ia melepaskan ponselnya dan menutup mulutnya. Willy menatap ranjang dan ia melihat Angga tertidur disana. Setelah itu, Willy metanap wanita itu dengan tatapan seperti ingin menerkamnya. Matanya menjadi merah, amarahnya sudah tidak bisa ia bendung lagi.
Willy mendekati dan...PLAK...
"WANITA GILA!!" ucap Willy membuat wanita itu merasa ketakutan dan segera menjauh dengan memegangi dinding.
"Jangan mendekat, a-aku tidak melakukan apapun." teriak wanita itu dengan memegangi perut buncitnya.
__ADS_1
"Haha...Kau takut padaku?" Willy tersenyum misterius melihat mangsanya yang begitu ketakutan karenanya. Willy semakin mendekatinya hingga mereka tak berjarak.
***