Menikahi Duda Tampan

Menikahi Duda Tampan
BAB 67


__ADS_3

Alysa sedari tadi membaringkan tubuhnya. Angga sudah bekerja kembali dan Edward sudah pergi ke sekolah. Alysa pergi dari kamarnya untuk membuat teh hangat. Mungkin kalau ia meminumnya pasti tubuhnya merasa lebih baik. Setelah membuat teh, ia pun langsung duduk dan meminumnya.


"Ini pasti masuk angin aja! Gak usah ke Dokter."


Alysa kembali ke kamarnya dan akan membaringkan tubuhnya. Ia merasa mengantuk dan ingin tidur kembali. Ketika sudah terlelap, deringan telepon membuatnya bangun dan mengeceknya.


"Hallo, Pa. Gimana?"


"Udah merasa baikan, Ma?"


"Mama udah minum teh anget barusan, tapi udah lumayan sih sedikit-sedikit. Mama tutup teleponnya mau tidur!"


"Eh-eh, jangan ditutup dulu."


Mengalikan panggilan telepon menjadi video call.


"Ma, jangan tidur dulu. Papa mau bicara nih!"


"Mau bicara apa, Pa?"


"Nanti satu Minggu ke depan, Papa pasti pulangnya telat. Maksudnya itu, pasti pulang malam. Tidak apa-apa kan?"


"Ah, iya tidak apa-apa, Pa. Nanti Mama gak bisa jemput Edward, apa Papa bisa menjemputnya?"


"Nanti Papa suruh sekretaris yang menjemput Edward." Angga sengaja menyuruh sekretarisnya yang menjemput putranya, jika menyuruh Willy sudah dipastikan akan bertemu dengan istrinya.


"Ya udah, Mama tidur dulu. Dahhhh..."


"Daahhh...Selamat tidur istriku, hehe..."


"Selamat bekerja suamiku..."


Alysa menutup sambungan video call dengan suaminya. Ia segera melanjutkan tidurnya yang selalu saja ada yang mengganggunya.


Pukul 11.40 WIB, Alysa bangun dari tidurnya. Ia merasa semakin menggigil dan tubuhnya merasa sakit. Ia berjalan menuju kamar mandi hendak mencuci wajahnya dan akan mempersiapkan diri untuk shalat dzuhur. Setelah selesai ia segera mengambil sajadah dan mukena sembari menunggu adzan berkumandang.


Setelah selesai menunaikan kewajibannya, Alysa pergi ke lantai bawah karena ia harus memasak, walaupun tubuhnya masih terasa lemas dan kepalanya sedikit pusing. Ia mengambil celemek dan beberapa macam bahan masakan.


Ketika sedang fokus masak, suara bel rumah terdengar membuat Alysa menghentikan kesibukannya. Ia mencuci tangannya dan segera menuju pintu utama rumah.


CEKLEK


"Mama..." ucap Edward memeluk kaki sang Mama dengan antusias. Alysa pun langsung men-sejajarkan tubuhnya dan merangkul putranya.


"Anak Mama udah pulang." ucap Alysa tersenyum lalu segera berdiri kembali untuk mengucapkan terima kasih kepada wanita yang sudah menjemput putranya.


"Mbak Fia, terima kasih sudah menjemput anak saya."


"Iya, Bu. Tadi saya di suruh Bapak untuk menjemputnya. Tapi, biasanya sih sama Pak Willy ya?" tanya Fia membuat Alysa tersenyum.

__ADS_1


"Saya tidak tahu hal itu. Mungkin Pak Willy masih sibuk, Mbak!"


"Ya sudah, kalau begitu saya pamit ya, Bu. Dadah anak tampan," Fia mencium Edward dan melambaikan tangannya.


"Bilang apa sama tante Fia?" tanya Alysa pada Edward.


"Makacih tante...!" ucap Edward dengan gemas.


"Iya sama-sama anak tampan. Dadah..."


Setelah kepergian Fia dari rumahnya, Alysa kembali lagi ke dalam rumah untuk mengurus Edward. Ia memandikannya dan membawanya kembali ke dapur untuk melanjutkan masaknya yang tertunda.


Setelah masakan terhidang di meja makan, Alysa segera mengambil nasi dan lauknya untuk menyuapi Edward. Edward tidak bisa diam, ia lari-lari sembari menceritakan kejadian-kejadian yang ada disekolahnya.


"Mama...Tadi di cekolah Edwald ada yang bawa adik kecil, lho...Terus Edwald kapan?" sembari berlari mengitari meja makan.


"Jangan lari-lari, sini makan dulu sayang," Alysa mencoba meraih tangan Edward.


"Mama...Kok adik kecilnya lama banget kelualnya? Edwald kan mau ketemu adik kecil, mau main sama adik kecil!" marah dan seketika tidak mau ketika Alysa menyuapinya.


"Adik kecilnya masih kecil sayang. Nih ada di perut Mama." jelas Alysa, entah harus sampai kapan ia berbohong lagi pada anaknya.


"Gak kelihatan, ahh. Edwald mau lihat!"


"Ayo makan dulu, nanti adik kecilnya tumbuh besar." yang dimaksud Alysa mungkin Edward biar cepat besar.


Mungkin Edward sangat menginginkan adik. Makanya dia terus-menerus memintanya.


***


"Tante, ini udah mau mendekati tiga bulan. Tante harus merencanakan sesuatu agar Mas Angga segera pisah!" perintah Destia.


"Iya sayang. Tante juga akan rencanain sesuatu. Kamu tenang aja ya?" sahut Mama.


Tenang, tenang. Mau sampai kapan gue bisa tenang? Sebenarnya tante tua ini mau nikahin gue sama anaknya enggak sih?


"Aku mau dalam waktu seminggu ini, wanita kampung itu harus pergi dari kehidupan Mas Angga. Aku gak rela tante." air mata palsunya keluar.


Tiba-tiba, Destia merasa mual dan membuatnya segera pergi ke toilet belakang. Ia memuntahkan semua isi perutnya. Mamanya Angga merasa khawatir dan segera mengikutinya.


"Kamu kenapa sayang? Sakit?" tanyanya.


"E-enggak apa-apa, tante. Aku hanya masuk angin saja! Tadi malam aku keluar rumah sama keponakan aku," ucap Destia berbohong.


Bahaya nih kalau gue keceplosan. Bisa-bisa tante tua ini ngerestuin pernikahan anaknya.


"Tante buatin teh anget ya? Biar agak enakan badannya." Destia mengangguk setuju.


Destia kembali dari toilet menuju taman belakang yang berada di pojok. Ia mengeluarkan pomselnya hendak menelpon seseorang.

__ADS_1


"Lo harus rencanain sesuatu!"


"Jelaskan rencananya."


"Gini, lo harus masuk ke perusahaannya Mas Angga. Nama perusahaannya Hardware Group. Lo pasti tahukan? Perusahaan yang terkenal ini?"


"Iya gue tahu, gue sering lewat ke perusahaannya."


"Nah terus lo harus berbohong pada resepsionis yang ada disana. Lo bilang katanya mau ketemu Direktur perusahaan ini."


"Terus abis gitu gimana?"


"Nah setelah masuk ke ruangannya, lo harus kasih pernyataan yang logis padanya, ya semisal mau kerjasama gitu."


"Ya 'elah. Gampanglah kalau gitu mah."


"Dengerin dulu. Terus kan lo udah tanya-tanya, lo harus janjian sama dia di hotel malam-malam. Terserah sih mau malam ini atau pun malam selanjutnya."


"Oh jadi, gue sama dia harus ketemuan di hotel. Terus abis itu lo masuk ke hotel, gitu?"


"Nah gitu. Lo harus tawarin dia minum ya? Lo tahukan maksud gue?"


"Ya biarkan dia tak sadarkan diri. Terus tugas gue selesaikan?"


"Pinter juga lo..." ucap Destia terpotong karena Mamanya Angga memanggilnya.


"Sayang..." panggil Mamanya Angga.


"Iya, tante." teriak Destia.


"Udah dulu, calon mertua gue manggil."


***


Disisi lain, Angga sedang berkutat dengan laptopnya. Ia sedang sibuk karena minggu-minggu ini banyak sekali klien-klien yang akan meminta bekerjasama dengan perusahaannya. Termasuk penjualan dari perusahaanmya sendiri kini sedang meningkat secara drastis.


Para karyawan diminta untuk lebih profesional lagi dalam bekerja. Perusahaannya kini sedang naik daun alias semua produk bisa terjual dengan baik. Angga yang sedang fokuspun langsung menghentikan kesibukannya setelah mendengar deringan telepon.


"Ya ada apa?"


"Maaf Pak, mengganggu waktunya. Di ruang tamu ada yang mau bertemu dengan, Bapak" ucap resepsionis.


"Siapa? Pentingkah?"


"Saya rasa penting, Pak."


"Ya sudah, saya kesana sekarang."


Sebenarnya Angga sangat sibuk, karena ada yang ingin menemuinya jadi sebisa mungkin ia harus lebih berprofesional dengan kliennya.

__ADS_1


__ADS_2