
Alysa duduk di sofa sembari menonton televisi. Angga baru saja selesai mandi dan segera menuruni anak tangga mendekati sang istri. Si kecil Edward sudah tidur akibat kelelahan setelah tadi lari-lari di pinggiran danau. Sesuatu kebahagiaan terpancar di bibir Alysa yang tak bisa dijelaskan. Bahagia? Ya, mungkin cukup bahagia dengan jalan-jalan di pinggiran danau dekat hutan bersama keluarga kecilnya.
Sosok Angga yang mampu membuat dirinya merasa berharga. Laki-laki tangguh dan pekerja keras. Angga bisa saja membeli wanita secantik apapun, tapi itu tidak ia lakukan. Hanya istrinya saja yang kini sudah ada di dalam hatinya. Hanya dia seorang yang mampu membuat Angga merasa lebih baik dari sebelumnya.
Alysa menyapu pandangannya pada sosok suami yang kini ada di sampingnya. Ia tersenyum dan membulatkan matanya.
"Mama cantik gak, Pa?" tanya Alysa tiba-tiba. Angga yang fokus menonton televisi pun ikut menoleh ke arah sampingnya.
"Kenapa nanya kayak gitu?" tanya balik.
"Mama nanya aja. Mama cantik gak?" tanyanya keras kepala.
"Iya,"
"Kok iya doang sih?" kesal.
"Sangat cantik, cup!" Angga mencium pipi Alysa membuat Alysa bersemu merah.
"Sayang gak sama, Mama? Kalau Mama tiba-tiba pergi apa Papa akan mencarinya atau menikah dengan wanita lain?"
"Tidak, itu tidak akan terjadi. Jangan aneh-aneh deh Mama." Angga merebahkan kepalanya pada paha Alysa. "Ma, pijitin." pintanya.
Alysa segera memijitnya dan pandangannya fokus ke depan. Angga menatap wajah Alysa dari bawah, ia tersenyum dan memegang dagu Alysa.
"Kenapa?" tanya Alysa.
"Kok Mama mau sama Papa?" tanya Angga membuat Alysa menatap sang suami dengan lekatnya.
"Papa lupa ya? Dulu siapa yang ngajakin nikah pas di toilet kantor," ucap Alysa ingin sekali tertawa.
"Lho, Papa kan cuma boongan. Ternyata Mama menimpalinya dengan serius," canda Angga.
"Oh, jadi Papa cuma boongan ngajakin Mama nikah?"
"Ngambekan. Ya enggaklah, Papa ngajakin Mama nikah karena Papa cinta sama Mama." ucap Angga menggoda. "Kita bikin dedek yuk?" ajaknya.
__ADS_1
"Mama capek banget, Pa. Lain kali aja," tolak Alysa segera merentangkan kedua tangannya. "Kita tidur yuk?"
Angga segera bangkit dan langsung memangku istrinya dan berjalan menaiki anak tangga menuju kamar.
***
Malam hari Destia bangun, ia merasakan nyeuri pada bagian perutnya akibat tadi ia menonjoknya. Perlahan membuka matanya dan melihat ke sekelilingnya. Ia menatap tangan kirinya yang memakai selang infus. Di ruangan tidak ada siapa-siapa hanyalah dirinya. Bodyguard yang mengantarnya ke Rumah Sakit kini sedang menjemput pembantu, karena Nyonya besar sedang berada di luar kota untuk menemani suaminya.
Destia ingin sekali bangun, namun itu sangat susah. "Kenapa bisa ada disini sih? Menyebalkan!"
"Arghhh...Tolong yang ada di luar, tolong, tolong..." teriaknya sembari mencabut selang infusan di tangan kirinya.
"Tolong...Ada siapa di luar?" teriaknya lagi.
Beberapa orang yang melewati ruangan Destia mendengar teriakannya dari dalam. Mereka mencoba membuka pintunya, namun itu tidak bisa sepertinya di kunci dari luar. Di kunci siapa?
"Ini orang kenapa sih teriak-teriak gak jelas? Kayak orang gila. Pantesan pintunya di kunci," ucap seorang laki-laki dan berusaha membuka pintu itu. "Mbak, jangan teriak-teriak! Ini di Rumah Sakit!"
Destia masih berusaha untuk bangkit dan ingin keluar dari ruangan itu. Hingga akhirnya suara pintu di buka pun terdengar. Mungkin itu adalah Dokter yang sudah menanganinya? fikirnya. Pintu pun terbuka dengan lebar membuat Destia menatap tajam padanya.
"Maaf, Nyonya. Saya di suruh Dokter untuk menjaga Anda." ujarnya.
"Kenapa gue ada disini?" tanya Destia.
"Tadi Nyonya pingsan, dan saya langsung membawanya ke sini," ucap bodyguard itu dengan wajah yang ditekuk. "Apa Nyonya sudah merasa baikan? Bagaimana perutnya, apa tidak terasa sakit?" merasa khawatir.
"Kenapa kau begitu khawatir tentang kesehatanku? Kau urusi saja tugasmu!" ketus Destia memalingkan wajahnya, merasa muak dengan bodyguardnya itu.
Punya bodyguard gini amat.
Saya khawatir karena Anda sedang mengandung anak saya, kata Dokter tadi!
"Bukan begitu, Nyonya. Saya harus tahu bagaimana kondisi Nyonya sekarang. Saya di tugaskan Dokter untuk merawat Anda," mendekati Destia dan mencoba mengaitkan kembali cairan infusan yang sudah tergeletak.
"Aku baik-baik saja. Bisakah kita pergi dari tempat ini? Sangat menjijikkan!" pinta Destia.
__ADS_1
"Jangan, Nyonya. Lebih baik Nyonya istirahat saja, besok kita tanyakan pada Dokter," jawab bodyguard.
"Menyebalkan...Mama? Papa? Kalian ada dimana?" menonjok kasur di ranjang pasien.
"Apa Nyonya membutuhkan sesuatu? Hmm..Mau makan yang pedas? Atau yang dingin-dingin?" tanyanya, ia sudah membaca di situs pencarian bagaimana yang dirasakan wanita hamil muda. Apa dia menginginkan makanan pedas, dingin, ataupun tidak sama sekali.
"Ada apa dengamu? Apa kau baik-baik saja? Kenapa kau begitu baik padaku hari ini? Apa kau ingin menaikan gajimu untuk bulan ini?"
Tentu saja bukan. Ini semua karena anak kita di dalam perutmu. Sebenarnya, saya merasa ragu dengan anak yang sedang di kandungmu, Nyonya. Entah itu anak saya, atau anak dari laki-laki lain.
"Bukan, Nyonya. Ya sudah, saya akan menunggu Nyonya di sofa sana (menunjuk sofa dekat pintu), kalau ada yang mau di makan atau membutuhkan sesuatu katakan saja!" ucapnya langsung pergi.
"Hmm...Fan...?" panggil Destia pada bodyguard yang sedang duduk di sofa. Orang yang dipanggil pun menyaut dan segera mendekat.
"Ya? Apa Nyonya membutuhkan sesuatu? Lapar? Mau ke toilet?"
"Pesan makanan yang pedas!" entah apa yang diinginkannya itu sama yang dikatakan bodyguardnya. Mungkin hormon kehamilannya kini sedang ada reaksi.
"Seblak? Bakso? Mie ayam?"
"Seblak super pedas, chicken, burger, rujak. Sama satu lagi, minuman boba," ucap Destia dengan lembut seakan-akan sedang bermanja dengan suaminya.
"Baiklah, Nyonya. Saya akan segera kembali," ucapnya dan segera pergi.
Kok gue jadi mau makanan pedas sih? Ada apa dengan diri gue? Si Ifan juga jadi perhatian kayak gini sama gue.
***
Maaf kalau ceritanya agak tidak menyambung dan juga agak berantakan dari segi tulisan dan ketypoan'nya. Aku udah revisi sebelumnya. Dan maaf juga kalau cerita kepotong-kepotong gitu, biar cerita gak cuma ada di pemain utamanya ajaš¤§
Nanti di BAB selanjutnya akan dipertemukan dengan laki-laki misterius yang sudah membuat Destia hamil. Siapa sih ya, yang udah buat Destia hamil? Penasaran bangetkan? Apa laki-laki itu akan menikahinya atau membiarkannya?
Kasihan kan si bodyguard harus menerima kenyataan bahwa dia yang sudah membuat majikannya hamil:(
Jangan lupa untuk dukung novel ini yaā¤
__ADS_1