Menikahi Duda Tampan

Menikahi Duda Tampan
BAB 24


__ADS_3

Satu jam tiga puluh menit sudah berlalu, kini mereka sudah berada di bandara yang di tuju. Alysa tersenyum senang, ketika ia menginjakkan kembali kakinya di kota kelahirannya. Namun ada rasa kekhawatiran dalam diri Angga, dia hanyalah seorang duda anak satu yang menginginkan Alysa untuk menjadi ibu sambung bagi anaknya. Alysa yang begitu senang langsung terdiam sejenak ketika menatap raut wajah Angga yang sedang memikirkan sesuatu, Alysa mendekatinya dan menatap Angga dan menanyakannnya.


"Kenapa pak? " Tanya Alysa menatap Angga, namun Angga seolah-olah merasa luluh dengan tatapan Alysa.


"Apa orangtuamu akan menerima saya sebagai menantunya? Dan sisi lain saya berstatus duda anak satu!" Ucap Angga.


Alysa tersenyum dan memberi kekuatan untuk Angga. Ia menggenggam tangan Angga dengan erat membuat Angga sedikit lebih tenang jika dibanding tadi.


"Insha Allah, Ibu sama Ayah akan menerima keadaan bapak. Bapak harus yakin!" Ucap Alysa dengan yakin jika orangtuanya pasti akan menerima keputusannya.


Mereka bertiga segera pergi menuju rumah Alysa dengan mengendarai mobil yang telah di sewa oleh Angga. Mobil memasuki kawasan perkampungan kecil dan melewati beberapa sawah asri nan hijau, dan tepat di depan rumah minimalis mobil itu pun berhenti.


"Udah sampai pak! Maaf rumahnya seperti ini!" Ucap Alysa.


"Ini lumah siapa tante?" Tanya Edward menunjuk rumah kecil tepat di depan matanya.


"Ini rumah tante, Edward mau masuk ke rumah tante kan? "


"Mau tante! Nanti Edwald mau main di lumah tante! " Ucap Edward tersenyum senang.


"Ayo pak! " Ajak Alysa pada Angga yang sedari tadi memperhatikan dirinya. Angga mengangguknya dan segera keluar dari mobil, begitu juga dengan Alysa dan Edward.


Angga membawa satu koper yang berisikan pakaian Dirinya, Edward dan juga Alysa. Dan tak lupa membawa dua buah kotak kecil yang berisikan perlengkapan Edward. Alysa menggendong tubuh Edward dan segera mengetuk pintu rumahnya.


Setelah beberapa kali ketukan, pintu pun terbuka oleh wanita paruh baya yang tak lain adalah ibunya Alysa. Alysa segera menghampirinya dengan tangan yang masih menggendong Edward. Ibunya terlihat senang melihat kedatangan anaknya. Ia menciuminya dan mendekapnya.


"Assalamualaikum bu! Alysa kangen sama Ibu. Ayah sama adik-adik dimana bu? " Alysa mencium tangan Ibunya dengan tersenyum.


"Waalaikumsalam Nak. Ayah ada di dalam lagi tidur, adik-adikmu lagi main sama teman-temannya!" Ucap ibu dengan membelai rambut Alysa.


"Assalamualaikum bu!" Angga segera mencium tangan Ibunya Alysa dengan lembut membuat Ibunya tersenyum.


"Waalaikumsalam!" Balas ibu tersenyum pada Angga, membuat Angga tersenyum puas. "Ini siapa Nak? Ini anak siapa? " Tanya ibu memandang Angga dan Edward dengan penuh tanda tanya. Karena baru kali ini anaknya pulang membawa orang asing ke rumahnya.


Alysaa tersenyum. "Bu masuk dulu ya, Alysa pegal nih, nanti kita bicara di dalam saja! " Ucap Alysa dengan tingkah yang membuat Ibunya tertawa dan segera menyuruhnya masuk. Angga yang tadinya diam jadi ikut tertawa.


Alysa dan Angga segera masuk. Alysa mendudukkan Edward di sofa sederhananya, lalu ia duduk disampingnya. Begitu juga dengan Angga, ia meletakkan semua barang yang dibawanya dan duduk di samping Edward. Edward mulai mengoceh kembali membuat Angga menutup mulut anaknya karena takut mengganggu orang-orang yang ada dirumah ini.


"Papa! Edwald suka disini. Nanti kalau sekolah Edwald mau disini sama tante cantik!" Ucap Edward mengoceh.

__ADS_1


"Sttt diam ya. Ini kan bukan rumah Papa nanti Ibunya tante cantik marah! " Ucap Angga menutup mulut Edward dengan telapak tangannya membuat Ibunya dan Alysa tersenyum.


"Biarin aja Nak, dia masih kecil! " Ucap ibu membuat Angga segera melepaskan tangannya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hehe iya bu! Maaf anak saya suka seperti ini. Ayo Nak salim dulu sama Nenek" ucap Alysa menyuruh Edward untuk mencium tangan Ibunya Alysa.


"Acalamualaikum Nek!"


"Waalaikumsalam! Anaknya lucu dan tampan ya. Sebentar Ibu panggil Ayah dulu!" Ucap Ibu dan segera beranjak dari tempat duduknya menuju kamar.


Alysa menatap Angga dengan senyum dan membisikkan sesuatu pada telinga Angga. "Apa bapak tidak akan menyesal menikahi saya?" Tanya Alysa lirih.


Angga memutar bola matanya dan membisikkannya. "Alysa! Kalau saya sudah serius, saya tidak akan menyesal" Bisiknya.


Tidak berapa lama, Ayahnya Alysa datang dan segera duduk. Angga segera berdiri mendekatinya Ayah Alysa dan mencium tangannya dengan lembut. Ayahnya tersenyum karena ia tahu maksud anaknya kesini membawa laki-laki tak lain adalah meminta restunya. Ayah Alysa pasti akan merestui siapa laki-laki yang akan meminang anaknya, karena itu demi kebahagiaan anaknya semata.


"Assalamualaikum Yah!" Angga mencium tangan Ayahnya Alysa dan menirukan gaya bicara Alysa dengan menyebutnya Ayah.


"Waalaikumsalam Nak!" balas Ayah. Begitu juga dengan Alysa segera bangkit dan mendekati Ayahnya lalu mencium tangannya.


"Nak ada apa ini datang membawa laki-laki ke rumah?" tanya Ayah berpura-pura tidak tahu maksudnya kedatangannya.


"Yah? Ayah gak akan marah kan?" ucap Alysa lirih dengan nada memohon dan menoleh oada Ibunya yang datang dengan membawa nampan yang berisikan air putih.


"Sebenarnya maksud Alysa datang kesini dengan pak Angga dan juga anaknya, Alysa mau minta restu dari Ayah dan Ibu. Jadi Alysa mau menikah sama pak Angga!" Jelas Alysa.


"Menikah? Apa tidak terlalu terburu-buru Nak? Usiamu masih 20 tahun!" Tanya Ibu menatap tajam pada Alysa.


"Iya but, Alysa mau menikah. Dan maaf calon suami Alysa sudah punya anak dari istri pertamanya!" ucap Alysa menundukkan kepalanya.


"Kamu merebut suami dari istri pertamanya?" Tanya Ayah membuat Alysa tidak bisa berkata apa-apa.


"Bukan Yah.. " ucap Alysa terpotong.


"Yah maaf saya sudah lancang berbicara seperti ini. Saya akan menikahi Alysa untuk menjadi ibu sambung bagi anak saya. Alysa tidak merebut saya, melainkan saya yang menginginkan anak Ayah untuk saya. Saya hanyalah seorang duda anak satu, karena istri pertama saya sudah meninggal dunia. Dan saya bermaksud untuk meminta restu pada Ayah dan Ibu!" Jelas Angga, membuat Ayah dan Ibu tertegun dengan keberaniannya.


"Apa kamu benar-benar mencintai anak saya?" Tanya Ayah.


"Iya Yah, saya sangat mencintai Alysa. Saya menginginkan dia dan selalu ada disamping saya! " Ucap Angga menatap pasrah pada Ayah dan Ibu laku menatap Alysa yang sedari tadi memperhatikannya.

__ADS_1


"Kalau mau dapat restu dari Ayah, kamu harus bisa nangkap ikan di kolam!" Ucap Ayah membuat Angga, Alysa dan istrinya menatap terkejut dengan ucapannya.


"Ayah, kok gitu? kasihan pak Angga, kalau pak Angga enggak bisa nangkap ikan gimana? berarti gak dapat restu!"


"Iya Yah kasihan calon mantu kita!" Ucap ibu.


"Dia adalah calon suamimu. Kalau dia benar-benar menginginkanmu, pasti dia akan berusaha mendapatnya walaupun banyak rintangan!"


"Tidak apa-apa Alysa, saya akan menerimanya. Jangan sedih, kalau nanti saya dapat ikannya, kita bakar aja kan enak haha!".


"Ihh bapak, orang lagi sedih".


***


Acara menangkap ikan diadakan di kolam ikan milik Ayahnya Alysa yang berada di belakang rumahnya. Angga sudah bersiap-siap mengganti pakaian dengan menggunakan pakaian kaos dan celana kolor milik Ayahnya. Alysa yang tadinya sedih menjadi tertawa melihat Angga berpakaian seperti itu. Tak hanya Alysa saja, bahkan Ibu dan kedua adiknya pun ikut tertawa melihatnya.


Alysa mendekati Angga dengan tawanya yang tidak berhenti-henti. "Hahaha! Semangat cari ikannya ya calon suami. Kalau nanti dapat ikannya, kita bakar aja kan enak!"


Angga mendengus kesal, karena ini pertama kalinya ia menangkap ikan di kolam. Ada rasa ketakutan dalam dirinya, ia takut jika ada ular di dalam kolam ikannya. Tiba-tiba Alysa mencium pipi Angga dengan lembut membuat Angga sedikit tersenyum dan Angga pun mencium pipi Alysa kembali. Tidak lama kemudian, Ayahnya Alysa memanggil Angga untuk segera bersiap, Angga dan Alysa menghampirinya. Alysa duduk dengan memangku Edward dan duduk di pahanya, Ibu serta kedua adiknya duduk di sebelah Alysa.


"Ayo sekarang bersiap untuk turun ke kolam!" ucap Ayah menyuruh Angga dengan menyilangkan kedua tangannya.


"Tapi Yah, di kolam ini gak ada ularnya kan? kalau tiba-tiba ada ular gimana? kalau ularnya matuk saya gimana?"


"Hahaha! Ada-ada saja kamu. Ya enggak ada lah, masa di kolam ada ular! Berdo'a dulu, dan ingat nangkap ikannya jangan pakai barang apapun, harus pakai tangan kosong!"


"Iya Yah!" jawab Angga lirih


Angga segera turun ke kolam ikan dengan sangat hati-hati karena licin. Namun belum sempat sampai di dasar kolam, tiba-tiba Angga terpeleset dan ada tangan yang kuat untuk membantunya.


BRUG


Angga menolehnya dan ia langsung tersenyum ketika tangan yang menolongnya adalah kekuatannya saat ini. Ya, dia Alysa yang sedari tadi memperhatikannya sampai Angga terjatuh, ia langsung membantunya.


"Semangat sayang! Ayo tunjukkan kehebatanmu, aku sangat menyayangimu!" Ucap Alysa memberi semangat.


"Wah!! Makin semangat nih!" Pekik Angga tersenyum menatap Alysa.


"Ehemm... Jangan deket-dekatan terus belum muhrim!" Celetuk Zaki adiknya membuat Alysa segera menjauhi Angga.

__ADS_1


"Hmmmm...!" Alysa mendengus menatap Zaki dengan kesal.


"Papa semangat cali ikannya!" Teriak Edward membuat Angga mengacungkan kedua jempolnya.


__ADS_2