
Pagi hari, seperti biasa Alysa sudah bangun dan segera membangunkan putranya dan juga Mira yang masih bergulat dengan selimutnya.
"Mir? Bangun.."
"Sayang ayo bangun. Kita kan mau ke Candi Borobudur. Ayo dong pada bangun!" Alysa membangun keduanya. Sama-sama tidak bangun membuatnya mengambil alat masak dan juga sendok. Setelah itu ia kembali dan mencoba membangunkan dengan cara yang tidak pernah ia gunakan sebelumnya.
TENG TENG TENG TENG...
"Bangun....Sahur...." teriak Alysa membuat Edward dan Mira segera bangun karena mendengar teriakan di pagi harinya..
"Kak, pagi-pagi udah teriak-teriak gak jelas!" Mira mengomel.
"Mama...Belisik.."
"Aduh, ini udah siang. Ayo Nona Mira dan Tuan Edward segera bangun." Alysa menyimpan alat masaknya dan segera membawa Edward ke kamar mandi.
Mira yang saat itu masih mengantuk, ia langsung melihat ponselnya dan begitu terkejutnya ia saat melihat jam.
Ya ampun ini udah siang banget..
"Kak...Cepetan, aku juga mau mandi!" teriak Mira dengan menggedor-gedor pintu kamar mandi.
"Nanti dulu!"
"Cepet, Kak. Nanti kita keburu telat ke Candinya!"
"Kamar mandi ada dua tuh deket dapur." teriak Alysa.
Mira tak menjawab dan segera pergi mengambil pakaian ganti dan setelah itu ia segera pergi ke kamar mandi. Saat ini mereka sudah rapi, Edward sudah terlihat tampan dengan memakai pakaian kaosnya. Mira memakai jeans dan juga sweater. Alysa memakai jeans dengan pakaian cardigannya.
Alysa membereskan semua barang-barangnya ke dalam koper, karena hari ini mereka akan segera pulang setelah mengunjungi Candi Borobudur. Alysa mengambil ponselnya dan tiba-tiba teringat dengan Angga. Angga sejak kemarin tidak pernah menghubunginya. Alysa yang panik segera menelponnya, namun tetap saja ponsel yang di tuju tidak aktif. Kekhawatirannya itu kini dirasakan oleh Mira.
"Kak, Abang gak ngabarin?" tanya Mira mendekat.
"Iya, Mas Angga gak ngabarin. Kakak jadi khawatir nih."
"Iya, Kak. Aku juga khawatir nih. Apa sebaiknya kita pulang duluan, dan tidak ikut ke Candi?" tanya Mira.
Gimana ya, kalau aku masih tetap disini, pasti bakalan lebih lama bertemu dengan Mas Angga.
"Gimana, Kak? Aku juga khawatir sama Abang! Takutnya Abang kenapa-kenapa!"
Akhirnya mereka pun memutuskan untuk pulang duluan dan Ibu guru pun memperbolehkannya dengan alasan harus berhati-hati. Alysa, Mira dan Edward menaiki taxi menuju Bandara. Karena jika ia menaiki bis lagi, sudah di pastikan perjalanan akan sangat lama.
Dalam perjalanan, Alysa benar-benar sangat khawatir. Ia takut jika terjadi sesuatu dengan suaminya. Ia menangis dan mencoba tidak mengingatnya lagi, namun tetap saja ia tidak bisa melupakan Angga di saat itu juga.
Papa, kenapa gak ngabarin Mama sih? Papa lagi dimana? Papa baik-baik saja kan? Mama sangat khawatir dengan keadaan, Papa.
Tiba di Bandara, Alysa segera membeli tiket dan check-in sebelum ia benar-benar mendapatkan tiketnya. Karena tidak ada jadwal ataupun membeli tiket terlebih dahulu, mereka pun harus menunggunya agar bisa mendapatkan tiket pesawatnya. Disaat yang bersamaan, cuaca hari ini sangat tidak mendukung. Kota Yogyakarta di guyur air hujan membuat maskapai pun harus delay dan menunggu beberapa saat hingga benar-benar bisa diterbangkan.
Aduh, bakalan lama lagi.
"Mbak, ini masih lama delaynya?"
__ADS_1
"Harap tunggu ya, Bu. Cuaca hari ini tidak bersahabat. Kami melakukan delay agar tidak terjadi sesuatu. Insya Allah akan secepatnya berangkat." jelas petugas.
"Gimana nih, Kak?"
"Kita tunggu saja."
Dua puluh menit sudah mereka menunggu, akhirnya cuaca kembali cerah dan hujan pun sudah mulai reda. Para penumpang segera pergi menuju pesawat. Alysa menggendong Edward dan Mira membawa kopernya. Tidak berapa lama, pesawat pun sudah terbang mengudara hingga ketinggian di atas 20 ribu kaki.
***
Angga menghentikan mobilnya dan segera bergegas masuk ke dalam rumahnya. Tiba di kamar, ia segera mengisi ponselnya yang sudah lowbat. Setelah itu ia membaringkan tubuhnya dan ia memikirkan hal terjadi padanya.
Berfikir yang jernih, Ga...
Angga beranjak mendekati cermin. Ia menatap dirinya dan begitu terkejutnya saat melihat bekas lipstik di pipinya.
Lipstik siapa ini? Angga tiba-tiba marah dan tatapannya tajam ke cermin.
Angga langsung mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Willy. Siapa tahu dia mengetahui semuanya. Saat layar terbuka, Angga melihat dua puluh panggilan tak terjawab dari Willy, tiga puluh panggil tak terjawab dari istrinya. Angga langsung menghubungi Willy dan mencoba menanyakan sesuatu yang terjadi dengannya.
"Will, bisa ketemu hari ini?"
"Bi-bisa, Pak. Saya akan segera kesana!"
Sebelum Willy sampai ke rumahnya, Angga memutuskan untuk membersihkan diri. Setelah setelah selesai ia segera pergi ke lantai dasar untuk sarapan, walaupun tidak ada makanan apapun di atas meja. Angga mengambil roti dan susu di kulkas, setelah itu ia menyantapnya.
Saat Angga sedang sarapan, Willy datang dengan wajah yang kebingungan. Entah apa yang harus ia ucapkan mengenai hal yang semalam terjadi dengan Direkturnya. Willy duduk di seberang Angga dan Angga menatapnya penuh curiga.
"Ma-maksudnya gimana, Pak?"
"Kemarin malam saya meeting di Hotel X. Dan tahu-tahu, saya sudah berada di Rumah Sakit! Ada apa dengan saya?"
"Tapi, tapi Bapak jangan marah dulu. Saya sudah mengetahui semuanya." Angga mengangguknya. "Sebenarnya, kemarin malam saya mengikuti Bapak ke Hotel itu. Saya merasa ada yang aneh dengan sikap Bapak yang tidak mau saya temani. Biasanya kita selalu bersama jika ada sesuatu atau meeting yang begitu mendadak. Setelah Bapak menelpon seseorang, saya pun melihat berkas yang tersimpan di meja. Dan setelah saya telusuri, ternyata perusahaan itu tidak ada, Pak." ucap Willy terpotong.
"APAA, tidak ada? Jadi saya sudah di bohongi olehnya?" tanya Angga dan amarahnya pun semakin terlihat dengan jelas.
"I-iya, Pak. Saya ikuti mobil Bapak malam itu. Saya takut terjadi apa-apa dengan Bapak. Karena setahu saya, perusahaan ternama tidak akan meeting di tempat seperti itu, dan saya juga sudah mengeceknya jika perusahaan itu memang tidak ada. Saya malam tadi ngintip perbincangan Bapak dengan laki-laki itu. Karena saya haus banget, saya langsung pergi ke warung angkringan. Nah yang jadi pertanyaan saya itu, pas saya udah balik lagi ke Hotel, Bapak sudah tidak ada disana. Saya juga bingung, mobilnya ada kok orangnya gak ada." jelas Willy.
"Saya malem tadi biasa bicara sama si Adryan. Dan taunya saya di tipu. Will, kau punya kenalan orang detektif kan? Kau perintahkan segera mencari keberadaan dia!"
"Ba-baik, Pak. Ehh, Pak. Semalam saya melihat Bapak tidur di kamar yang sudah dipesan Destia." ucap Willy sedikit menunduk.
Angga marah kembali dengan menggebrak meja.
BRAK
"Saya satu kamar dengan wanita gila itu? Bagaimana bisa?"
"Saya tidak tahu, tapi setelah saya tanyain ke Dokter katanya Bapak mengkonsumsi obat tidur."
"Wanita gila, jadi dia yang sudah membuat saya seperti ini! Akan kuhabisi kau!"
Saat mereka sedang berbincang-bincang, Destia bersama Mamanya Angga datang. Angga yang saat itu marah ketika melihat perilaku Destia, kini ia harus berhadapan langsung dengannya. Angga menatap tajam pada Destia dan segera bangkit.
__ADS_1
Angga mengatur nafasnya dengan kasar hingga ia semakin mendekati Destia.
PLAK
"Wanita tidak tahu malu. Akan ku habisi kau!" teriak Angga. Matanya merah dan tatapannya menusuk.
"Tante...Hiks...Kok Mas Angga jadi kayak gini sih?"
"Gak usah sok cantik kau! Kau yang sudah merencanakan ini semuanya kan? Dimana si pecundang Adryan, hah? Kau sembunyikan dia dimana?" Angga tidak bisa mengontrol emosinya.
"A-aku tidak tahu, aku tidak mengenalnya. Mas harus nikahin aku!!"
"Tidak sudi. Jadi seperti ini calon yang diberikan Mama pada Angga? Wanita tidak tau malu ini sangat menjijikkan!" menatap Mamanya dengan penuh kebencian.
"Cukup Angga. Mama benar-benar marah sama kamu! Kamu yang sudah membuatnya tidak suci lagi! Kamu harus menikahinya!!!"
"Angga tidak melakukan apapun padanya!"
"Nih (memperlihatkan gambar anaknya dan juga wanita yang bukan istrinya)" Angga yang saat itu masih terlihat marah, ia langsung menarik ponsel yang diberikan Mamanya. Ia menatapnya penuh menjijikan.
Angga kembali menatap Mamanya, "Itu tidak benar, Angga dijebak oleh dia!"
"Dia tidak bersalah, tapi kamu yang bersalah. Mulai detik ini kau harus menceraikan istrimu karena dia tidak bisa memberikanmu keturunan!"
Willy yang sedari tadi diam pun kini angkat bicara, karena masalah semakin besar. "Pak Angga tidak bersalah. Dia dijebak oleh wanita ini. Saya bisa melihatnya sendiri. Pak Angga lagi meeting dengan laki-laki suruhan wanita ini, dan ia mencampurkan minumannya dengan obat tidur. Dan saya sudah pastikan jika ini akalan-akalan wanita ini agar bisa menikah dengan, Pak Angga." jelas Willy menatap tajam pada Destia. "Bukankah kau di penjara? Kenapa kau bisa keluar lagi? Kau menyogoknya?"
"Cukup...Aku mau kita nikah sekarang juga sebelum aku hamil di luar nikah!" menatap Angga dengan sendu.
Angga langsung pergi ke kamarnya dan bersiap akan pergi ke kantor. Ia harus mencairkan suasana hatinya di kantor. Semua masalah kini berdatangan.
Ma, maafkan Papa. Papa gak melakukan ini. Dia yang sudah menjebak Papa.
Angga segera pergi bersama Willy dengan melewati dua wanita yang sedang menatapnya marah. Ia tidak menghiraukannya dan langsung pergi begitu saja.
Kini mereka satu mobil. Diperjalanan, tatapan Angga begitu kosong. Entah apa yang harus ia lakukan jika istrinya mengetahui hal ini. Sudah pasti dia akan membencinya.
Arrgghh...Sialan.
Willy yang berada di sampingnya pun merasakan apa yang dirasakan oleh Direkturnya sendiri. "Pak, semalam saya sudah membawanya ke polisi. Tapi kenapa hari ini dia bisa lolos begitu saja?"
"Kau harus urusi polisi itu dan temukan bukti yang kuat bahwa wanita itu bersalah atas masalah ini! Kau harus pergi ke Hotel itu dan mencari CCTV-nya."
"Ba-baik, Pak. Saya akan segera kesana."
Tidak berapa lama mereka pun tiba di perusahaan Angga. Willy bergegas pergi menuju Hotel yang semalam ia kunjungi. Angga masuk dan para karyawan segera menundukkan wajahnya. Angga melewati semua karyawannya dan segera pergi menuju ruangannya. Tiba di ruangannya, Angga langsung menelpon seseorang untuk meningkatkan keamanan perusahaannya. Ia tidak ingin hal semalam terulang lagi. Semua penjagaan harus diperketat, para klien harus benar-benar mempunyai data yang sesuai agar tidak terjadi kesalahan dan tentunya bisa menyebabkan kerugian untuk perusahaan.
Angga duduk di kursi kebanggaannya sembari memegangi dahinya. Semua ini begitu mendadak, ia tidak tahu jika semua ini akan terjadi padanya. Angga mengambil ponselnya dan segera menatap gambar istri dan juga putranya. Ia menangis melihat jagoan kecilnya yang begitu menyayangi Mama tirinya. Alysa yang bisa merubah hatinya.
Angga mencoba menghubungi Alysa, tapi ponselnya tidak aktif lantaran Alysa sedang berada di dalam pesawat. Begitu pun dengan Mira. Angga menjadi cemas, ia tidak mengabari istrinya sejak kemarin. Ia takut jika istrinya akan marah padanya dan mengetahui hal ini.
Kalau Mama tahu ini, pasti Mama akan minta diceraikan. Aku tidak akan pernah menceraikannya. Aku juga tidak akan pernah menikahi wanita itu.
***
__ADS_1