Menikahi Duda Tampan

Menikahi Duda Tampan
S2-BAB 95


__ADS_3

KANTOR


Angga memarkirkan mobilnya di depan lobby dan menyerahkan kuncinya ke petugas security. Ia masuk ke area lobby dan beberapa resepsionis menundukkan wajahnya sebagai tanda hormat pada sang Direktur. Angga tidak menoleh apapun, ia berjalan menuju lift khusus ke ruangan pribadinya.


Sampai di ruangannya, Angga duduk dan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Ia masih memikirkan apa yang di ucapkan Dokter tadi.


"Tidak ada apa-apa. Tapi sepertinya, Bapak sedang mengalami sesuatu yang sering dirasakan oleh wanita."


"Maksudnya gimana, Dok?" tanya Angga semakin penasaran dengan Dokter yang bertele-tele.


"Jadi, mungkin Bapak sedang mengalami ngidam. Maksudnya itu, mungkin istri Bapak lagi hamil muda tapi Bapak yang ngalamin ngidamnya. Ibu hamil ada juga yang gak ngalamin ngidam, contohnya ya seperti yang sedang Bapak rasakan. Kayaknya, Bapak sedang mengalami kehamilan simpatik. Coba Istrinya diperiksa Pak, biar tau kebenarannya."


Sementara itu, Willy datang ke ruangan Angga dan melihat Angga sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Ia menghampirinya.


"Maaf Pak, mengganggu waktunya. Sepertinya, Bapak butuh sesuatu?" tanya Willy tiba-tiba, Angga yang sedang melamun pun ikut tersentak dengan kedatangannya.


"Ngagetin aja! Bicara apa kamu barusan?" tanya Angga kesal.


Kenapa sih si Bos? Kek punya masalah yang lebih berat.


"Ditanya malah bengong?" Angga menatap Willy, lalu setelah itu ia membuka laptopnya.


"Bapak ada masalah sesuatu?" tanya Willy membuat Angga menatapnya kembali dan menopang dagunya. Angga menatap lekat pada Willy. Dari matanya, ingin sekali ia menanyakan sesuatu.


"Will?" tanya Angga dengan pandangannya masih pada Willy.


"Iya, Pak?"


"Kamu melihat saya ada yang aneh gak?" tanya Angga.


"Aneh gimana, Pak? Gak ada yang aneh sama sekali."


"Coba, kamu tatap saya dalam-dalam. Cari sesuatu yang menurutmu agak aneh," titah Angga. Willy dibuat kebingungan dengan tingkah Angga seperti itu. Ia seperti anak kecil yang ingin di perhatikan.


Aneh apanya sih? Lagian, dari tadi juga gak ada yang aneh kok. Tapi sifatnya sih yang kek anak kecil.


"Gak ada, Pak. Tapi maaf kalo menurut saya, Bapak sifatnya kayak anak kecil," jawab Willy seraya menahan tawanya, ia langsung pergi untuk menghindari amukan Angga yang akan segera mendarat padanya. Tapi, kenapa Angga tidak seperti yang ia kira sebelumnya?

__ADS_1


"Heh, mau kemana? Temenin saya disini," panggil Angga. Willy yang sudah berada di ambang pintu segera berbalik dan duduk di sofa.


"Ada apa lagi, Pak?" tanya Willy.


"Menurut kamu, saya sifatnya kayak gimana?" tanya Angga, pandangannya tidak jengah dan terus menatap Willy. Willy mengerutkan dahinya. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang di ucapkan oleh Angga.


Kok makin ngawur ya pertanyaan, Pak Angga.


Willy ingin sekali tertawa melihat kelucuan Angga seperti ini. Baru kali ini ia melihat Direkturnya bertingkah seperti itu. Apa dia sedang melakukan sesuatu untuknya? Melakukan sebuah prank?


"Kayak Edward, Pak."


"Kan Edward itu anak saya. Ya jelas dong kalo sifat saya kayak Edward!" ketus Angga dan mengedarkan pandangannya pada laptop.


Kenapa marah? Saya udah jawab sejujur-jujurnya. Ingin sekali Willy keluar dari ruangan itu.


"Maksud saya bukan kayak gitu, Pak."


"Sana-sana, pergi dari sini. Saya gak mau di ganggu." usir Angga membuat Willy menyibikkan bibirnya karena kesal.


"Baik, Pak," ucap Willy tersenyum kecut dan segera beranjak pergi.


"Will, pesenin makanan," titah Angga saat Willy akan membuka pintu.


"Apa aja, Pak?"


"Boba, bakso yang pedes, buah strawberry. Terus di perusahaan ini ada beberapa ruangan yang di taruh bunga lavender, kamu buang aja, soalnya penciuman saya mulai terganggu sama bunga itu."


Tumben, mau yang pedes-pedes? Lagi kesurupan apa gimana nih? Kan, Pak Angga sendiri juga yang naruh bunga lavender. Kenapa dia juga yang nyuruh buang bunga itu? Ingin sekali Willy menghentakkan kakinya karena kesal. Angga benar-benar membuatnya kesal di pagi itu.


"Baik, Pak. Pesanan akan segera mendarat dengan selamat di ruangan yang sangat sejuk ini," ucap Willy tersenyum, lagi-lagi Angga memperhatikan dirinya.


"Sana pergi!!!"


***


Di sisi lain, Destia kini masih mendekam di balik jeruji besi. Kasusnya di beratkan oleh Angga, lantaran Angga tidak ingin Destia lolos begitu saja. Destia sempat memohon untuk segera di keluarkan dengan membayar dendaan sebanyak apapun, namun Angga kekeh tidak akan pernah membebaskannya begitu saja. Walaupun Destia hamil besar, Angga tetap tidak memberikan ruang baik untuknya.

__ADS_1


Saat ini orang tua Destia sedang membesuk. Destia ngotot untuk segera di keluarkan. Ia tidak ingin berlama-lama mendekam di dalam jeruji besi yang kecil seperti itu. Bahkan ia pernah di tampar oleh tahanan lain, lantaran dirinya ngotot tidak ingin berdekatan dengan mereka.


"Ma, Destia gak betah disini. Keluarkan sekarang juga!"


"Sabar sayang. Kasusmu sangat memberatkan. Lagian ini kesalahan kamu sendiri! Siapa ayah bayimu ini? Mau Mama tampar wajahnya."


"Yang hamilin Tia udah pergi gak tau kemana."


"Cari! Mama harus melakukan sesuatu padanya. Enak aja, mau untungnya doang. Terus gimana nasib bayinya nanti? Gak punya ayah?"


"Kalo ada laki-laki itu, Destia gak mau nikah sama dia. Laki-laki gak tau diri!"


"Kenapa gak mau? Dia ayah dari bayimu, Tia! Mama tetep akan menikahkan kamu dengannya, dan Mama akan memberikan sedikit tamparan kecil pada wajah tampannya."


"Tau dari mana laki-laki itu tampan? Dia gak tampan, Tia sangat muak liat wajahnya. Udahlah Ma, cepet cari Pengacara yang handal. Terus manipulasi si Angga, buat kesepakatan atau gimana gitu?"


"Manipulasi gimana? Mama gak punya cara lain selain menikahkan kamu dengan laki-laki itu. Masalah Angga, Mama gak mau ngurus. Dia tau otak licik kamu, nanti bisa-bisa kamu malah gak bisa keluar dari penjara!"


Gini amat hidup gue. Banyak banget masalah. Gara-gara si David, gue malah jadi punya masalah. Mana gue gak bisa deket lagi sama Mamanya Angga. Dia kayaknya udah marah banget sama gue. Destia, hanya satu cara yang bisa buat lo keluar dari sini. Lo harus cari David sampe ketemu, dan dia nanti yang akan berurusan dengan Angga. Masalah nikah, nanti gue fikirin ajalah. Pusing gue.


"Yaudah, Ma. Kalo bisa, Mama suruh orang buat cariin laki-laki yang bernama David. Dia salah satu Direktur kayaknya. Tapi Tia gak tau nama perusahaannya."


"Iya, nanti Mama cari seseorang buat nyariin si David. Mama pulang dulu, besok Mama kesini lagi."


Sudah beberapa hari ini, David masih saja belum bisa bertemu dengan Alysa secara langsung. Ia hanya bisa bertemu lewat video call. Ingin sekali dia mengatakan sesuatu yang sampai saat ini ia rahasiakan.


"Kenapa Alysa kayak gak mau ketemu sama saya? Saya gak punya salah apapun sama dia. Apa dia udah tau, kalo saya udah hamilin anak orang." David menampar pipinya dengan keras. Bodoh, dia begitu bodoh.


"Saya bener-bener harus ketemu. Ini harus dibicarakan lagi."


David mengambil ponselnya hendak menelpon Alysa. "Alysa kita ketemu di Caffe."


"Sekarang? Gak bisa, Kak. Hari ini aku mau nyirvei lokasi untuk donasi dari perusahaan."


"Kita ketemu aja disana. Kamu sebutin aja alamat lengkapnya." Setelah mendapat persetujuan dari Alysa, David memutuskan teleponnya. Ia berharap dengan bertemunya nanti, ia bisa menanyakan hal yang sangat amat rahasia.


***

__ADS_1


__ADS_2