
SINGAPORE
Pukul 11.42 waktu Singapore, Angga sampai dan segera pergi menuju perusahaannya. Ia harus mengecek dan memastikan semuanya bisa berjalan seperti sedia kala. Perusahan yang ada di Singapore merupakan perusahan terbesar kedua setelah yang di Jakarta. Perusahaan ini seharusnya akan menjadi milik Mira. Namun Mira tidak begitu tertarik dengan dunia perbisnisan.
Semua resepsionis segera menundukkan kepalanya saat Angga tiba di lobby untuk check-in jika dirinya sudah tiba disana.
"Good afternoon, Sir. Sorry for our negligence. You are expected to see what is happening to this company soon." ucapnya dengan bahasa Inggris.
"Yes, it's okey. Where's Mr. Chan? Does he already know when I get here? Call him, and send him immediately to my room."
"Yes, Sir."
Angga segera berlalu menuju ruangannya untuk bertemu dengan Mr. Chan. Angga akan menyelesaikan perkara masalah perusahaannya itu. Ia akan meretas semua yang sudah membuat perusahaannya ada di balik masalah seperti ini. Hal ini cukup membutuhkan waktu yang lama. Angga bergelimang di depan komputer bersama dengan rekan dan karyawannya untuk mengembalikan aset dan data perusahaan yang akan di curi oleh para cyber.
Semua terlihat serius dan juga sangat menegangkan. Antara mempertahankan semuanya atau merelakan apa yang sedang mereka pertahanankan. Angga sangat kewalahan. Namun akhirnya, semua masalah sudah terselesaikan, membuat semuanya tersenyum dan memberi tepukan gemuruh untuk Angga dan beberapa karyawan yang berjibaku mempertahankan semuanya.
***
INDONESIA
Setelah kepulangan dari Singapore beberapa hari yang lalu, Angga kini merasa ada yang aneh dengan tingkah dan bahasa tubuhnya. Ia merasa tidak enak badan, padahal kemarin-kemarin ia baik-baik saja. Namun, ia masih tidak menyadari apa yang terjadi dengannya. Angga beranjak dari ranjang dan tiba-tiba ia duduk di kursi rias milik Alysa. Ia mengambil parfum Alysa dan menyemprotkannya ke tangan. Angga menghisapnya lebih dalam.
Namun tiba-tiba ia tersadar apa yang dilakukannya itu.
"Apa yang terjadi dengan saya? Kenapa saya harus ngambil Alysa? Apa saya sangat merindukan dia?" gumam Angga dan mencoba mengamati apa yang sedang di pegangnya. Angga meletakkan kembali parfum milik Alysa yang sudah satu bulan ini tidak ia sentuh semenjak Alysa pergi dari rumahnya.
"Kenapa saya menginginkan aroma pemilik parfum ini?" Angga kembali duduk di tepi ranjang, mengedarkan pandangannya pada cermin. Ia mengamati dirinya sendiri. Ada sesuatu yang terjadi dengan dirinya? Ia seperti sedang merasakan sesuatu antara dua manusia sekaligus yang sedang diperankan dalam dirinya.
"Alysa lagi ngapain ya? Dia baik-baik aja? Ee...Bagaimana dia bisa hidup tanpa saya? Apa dia sudah menikah lagi?" pertanyaan-pertanyaan itu mulai muncul dari fikirannya. Angga benar-benar tidak menyadarinya.
"Aku harus mencarinya lagi. Tapi...Bau apa ini? Kenapa baunya nyengat sekali. Kurasa, penciumanku mulai terganggu." Angga beranjak pergi dari kamar dan menyuruh pembantu untuk memeriksa sesuatu di kamarnya.
Angga kembali bersama pembantu yang membawa alat pembasmi bau. Angga melihat situasi dan mencoba menemukan apa yang terjadi dengan bau menyengat di dalam kamarnya.
"Coba periksa, Bi," titah Angga, dan pembantu itu pun mengangguknya. Pembantu itu melewati ranjang dan ia celingak celinguk sembari melihat foto wanita cantik yang terpajang disana. Ia terdiam dan menatapnya lebih lama. Foto wanita itu, sepertinya ia pernah melihatnya beberapa hari yang lalu.
Itu, siapanya Tuan ya? Saya baru masuk ke kamarnya dan sepertinya, saya pernah melihat wajah wanita ini.
"Bi, cepat bersihkan. Baunya bener-bener gak suka." Angga menutupi hidungnya agar tidak tercium aroma bau yang begitu aneh menurutnya.
"Ah, i-iya Tuan." ucapnya dengan nada ragu-ragu, dan segera pergi untuk mencari sesuatu. Namun, ia sama sekali tidak mencium apapun di dalam kamar itu. Melainkan, ia hanya mencium bau aroma bunga lavender yang tersimpan di area pojok kamar. Ia mengambilnya dan membawanya ke depan Angga.
__ADS_1
"Disini tidak ada bau apapun, Tuan. Ini hanya bau bunga lavender."
Angga mencoba membuka tangannya dan ia segera mencium bunga itu.
OEK.. OEK...
"Ke-kenapa, Tuan? Tuan sakit?" tanya pembantu dengan nada khawatir. Ia takut akan terjadi apa-apa dengan Tuannya.
"Bunga ini buang aja, Bi. Aromanya bau banget," titah Angga dan segera menjauh masuk ke dalam kamar mandi. Ia begitu mual saat mencium aroma bunga itu.
"Aneh, bunga inikan enak banget baunya, buat pengusir nyamuk. Masa, di bilang baunya nyengat banget," menggerutu, lalu segera membawanya keluar untuk ia buang ke tempat sampah agar si Tuan itu tidak menyuruhnya kembali membuang bunga.
Pembantu itu tiba-tiba terhenti di area tangga sembari memegang pot bunga lavender yang ia bawa. Ia kembali memikirkan foto yang berada di kamar Tuannya.
Foto wanita itu, saya pernah liat kayaknya. Tapi dimana ya? Wajahnya gak asing banget. Tapi...Apa wanita yang kemarin-kemarin itu? Ahh iya, wanita itu sama persis wajahnya sama yang di foto. Jadi, wanita itu istrinya? Tapi mana mungkin dia istrinya, dia yang bilang kalo dia sepupunya. Dia juga nanyain anaknya Tuan. Ahh sudahlah, sebaiknya saya harus buang ini jauh-jauh dari hadapan Tuan.
Sementara itu, Angga masih merasakan hal-hal aneh dalam tubuhnya. Bau bunga lavender yang menyengat, parfum Alyaa yang tidak pernah ia pegang sebelumnya dan sesuatu yang selama ini tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Apakah ia sakit? Sebenarnya ia mengalami gejala apa? Apa seharusnya ia pergi ke Dokter dan mengecek keluhan apa yang terjadi dengan dirinya?
Besoklah, saya ke Dokter. Lagian, ini cuma penciuman saya aja yang terganggu.
***
Kesalahpahaman yang terjadi selama ini masih tidak ada yang mereka ketahui. Mereka sudah mengira tidak akan pernah bertemu kembali. Namun, entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Mereka akan bertemu kembali? Atau memang sudah sampai disini.
Alysa masih saja mengalami morning sickness. Tubuhnya semakin melemah dan ternyata ia sedang hamil anak kembar, dan itu membuatnya sedikit prustasi. Tanggungannya kini bertambah dengan kehadiran buah hatinya. Ibu selalu mencoba memberi asupan makanan yang bergizi untuk cucunya, namun Alysa mentah-mentah menolaknya. Kini ia menjadi wanita yang lemah saat keadaan hamil seperti ini. Ia menginginkan sosok suami yang dulu selalu menemaninya di kala hamil. Namun apa yang terjadi sekarang? Ia merasa, tidak memiliki tenaga dan tujuan hidup apapun.
Namun, demi si buah hati yang sedang dikandungnya, ia harus tetap semangat dan mencoba mengikhlaskan apa yang terjadi dengan dirinya. Ia harus bangkit dari keterpurukan ini demi buah hatinya. Ia menyayanginya dengan cinta. Ia berfikir, jika dirinya bahagia mungkin buah hatinya akan bahagia di dalam perutnya.
"Sayangnya Mama, jangan rewel ya, Nak? Papanya tidak ada disini, jangan minta Mama harus mikirin Papa lagi ya? Mama sayang sama kalian berdua. Hidup Mama hanya untuk kalian." Alysa mengelus perutnya yang masih datar. Tak terasa air matanya mulai menetes.
Tiba-tiba pintu terbuka menandakan kedatangan dua adik kembarnya. Zakia dan Zaki masuk, lalu duduk bersebelahan dengan Alysa. "Kak, gimana keadaannya sekarang? Baik-baik aja? Gak mual-mual?" tanya Azkia dengan wajah seriusnya. Alysa menatap mereka berdua secara bergantian. Wajah adiknya begitu sangat serius dan terlihat sedikit khawatir.
"Enggak apa-apa kok. Tadi pagi doang mual-mual."
"Kak, pengen apa? Nanti kita beliin deh? Kan kalo lagi hamil suka ngidam sesuatu, ya walaupun ngidamnya selalu aneh-aneh," tanya Zaki.
Alysa langsung teringin makanan yang saat ini begitu menggiurkan baginya. Alysa langsung menarik nafasnya dalam-dalam dan mengatakannya. "Kakak pengen bakso lava yang gede, terus seblak yang pedes banget, es cendol yang di ujung komplek itu beli 2, susu coklat 2, sama buah apel." Alysa menyerocos saat mengatakan keinginannya itu. Matanya begitu berbinar.
Azkia dan Zaki langsung menatap satu sama lain. Ini benarkah? Apa tidak salah dengan ucapannya? Bagaimana mungkin keinginan orang hamil bisa sebanyak itu?
"Ee...Anu, emangnya kakak kuat makan sebanyak itu?" tanya Zaki ragu.
__ADS_1
"Kuat kok. Ayo beliin sekarang, Kakak lagi pengen soalnya. Jangan lupa ya semua yang Kakak pesen harus ada!" Alysa langsung mengusir kedua adiknya itu segera pergi.
Enak juga yah kalo lagi hamil. Bisa ngerjain adik sepuasnya. Tapi, ini beneran kok dede bayi yang minta. Biarinlah, orang mereka juga yang nawarin.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya semua makanan yang dipesannya datang. Alysa langsung menyantapnya. Ia begitu sangat lapar saat melihat makanan itu terhilang dengan rasa yang menggiurkan lidahnya.
"Kak, pelan-pelan aja makannya."
"Ini enak banget, Dek. Mau?"
"Enggak, aku udah kenyang. Jangan di abisin ya, Kak? Ini sisanya buat nanti malem kalo Kakak lagi pengen."
"Gak enak. Mau di abisin." Alysa kekeh dengan keinginannya dan kembali menyantapnya. Ibu datang dan duduk di samping Alysa.
"Pelan-pelan, Nak. Emangnya kamu kuat makan sebanyak ini?" tanya Ibu dan mengusapi rambut Alysa dengan lembut. Tinggah Alysa masih seperti anak kecil yang sedang bermanja pada Ibunya.
"He'em, Bu. Ini mau aku abisin semuanya. Dedenya yang minta." ucap Alysa membuat semuanya tertawa.
"Ada-ada saja. Tapi anehnya semua makanan yang di makan ini pasti dikeluarkan lagi, Bu. Kalo pagi-pagi pasti selalu mual-mual." ucap Azkia penasaran.
"Iya, itukan bawaanya bayi. Setiap orang yang hamil pun pasti merasakan seperti itu." jelas Ibu.
"Jadi, kalo nanti Kia hamil, pasti kayak gitu, Bu?" tanya Azkia dengan wajah sedikit ditekuk. Ia menjadi ngeri saat memikirkannya.
"Ya iyalah. Emangnya kamu mau cepet-cepet nikah sama pacarmu terus hamil? Suruh pacarmu kesini, jangan ldr'an mulu. Ldr-nya gak nanggung lagi di Raja Ampat, sekalian aja ldr-nya di Amerika," timpal Alysa.
"Apaan sih, Kak. Kia gak mau buru-buru nikah. Kak Ryannya aja yang ngajakin nikah terus. Padahalkan akunya masih kecil."
"Jangan nikah buru-buru, Kia. Nanti kamu jadi Ibu-ibu di usia muda hahah..." timpal Zaki tertawa puas membuat Azkia memukulnya. "Aww...Sakit! Rasakan balasanku malam nanti!"
"Mau ngapain malam nanti? Mau nyium Kia yang cantik ini?" ucap Kia menyilangkan kedua tangannya.
"Ogah. Ngapain nyium kamu. Kamu bau jigong hahah..."
"Awas ya kau. Kalo ada PR jangan harap deketin aku lagi. Aku gak mau temenan sama kamu lagi."
***
Si Angga ngidam apa gimana nih? Dua-duanya sama-sama ngidam. Kek nya hamil simpatik wkwkðŸ˜ðŸ¤£
Maaf ya kalo ceritanya kayak sinetron, soalnya season 2 ini lumayan panjang dan banyak misteri-misteri yang belum terpecahkan. Semoga selalu suka ya sama alur ceritanya🤗
__ADS_1