
Malam hari pukul 19.30 WIB, Angga menghubungi seseorang untuk menanyakan persiapan dekorasi pernikahannya. Angga begitu puas dengan mereka yang sudah bekerja dengan maksimal. Angga merebahkan tubuhnya di ranjang di samping Edward yang sudah tertidur dengan pulasnya. Angga melihat-lihat dekorasi pernikahannya di sebuah iPadnya.
"Harusnya kan disini ada fotonya! Lah iya lupa, kalau saya dan Alysa tidak pernah berfoto!" Angga menepuk dahinya dengan sedikit keras.
Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk, Angga langsung menoleh dan bertanya dalam hatinya. "Siapa?" Pikirnya.
Tanpa berpikir panjang, Angga pun beranjak dari tempat tidurnya dan segera membuka pintu. Tampak Siska sudah menunggunya dengan tersenyum. Angga melihat Siska dari atas sampai bawah, ia mendapati Siska dengan terlihat agak aneh hari ini. Ia memakai piyama berwarna pink.
"Ada apa?" Tanya Angga dengan menampilkan wajah datarnya.
"Om makan malamnya udah siap!" Ucap Siska dengan senyum tersipu malu.
"Iya nanti saya kesana!" Ucap Angga lalu segera menutup pintunya.
Om Angga, kamu itu kenapa sih? Siska udah nampilin penampilan yang super duper cantik kayak gini malah biasa aja lihatnya. Heran deh, kalau wanita itu pasti dilirik terus. Batin Siska.
Setelah beberapa menit kemudian, Angga pergi dari kamarnya untuk makan malam dengan menuruni tangan, sebenarnya ada lift khusus, namun ia tidak pernah memakainya. Setelah sampai di lantai dasar, Angga langsung duduk di kursi. Dan lagi-lagi, Siska duduk di sebelahnya membuat Angga menoleh padanya. Siska terus-menerus memperhatikannya.
"Ngapain lihatin saya?" Tanya Angga.
"Enggak Om. Ayo di makan dulu Om, ini Siska lho yang masak!".
"Hmm.. " Angga segera memasukkan nasi pada mulutnya dengan kesal.
Ketika Angga sedang makan malam, pembantunya datang dengan membawa satu kotak besar yang berisi pakaian jas pernikahan. Sebenarnya Angga tidak memberitahukan kabar bahwa ia akan menikah dengan Alysa pada pembantu dan supirnya itu. Ia memilih untuk tidak memberitahukannya, lantaran ia tidak mau jika Siska ada di pesta pernikahannya.
"Permisi Tuan, maaf mengganggu makan malamnya! Ini barusan ada yang ngirimin ini, katanya untuk pak Angga dari Bu Natalia." Ucap Sarinah.
"Iya Bi, makasih ya!" Sahut Angga.
"Apa itu Om? Hadiahkah?" Tanya Siska sok tahu dengan isi kotak di dalamnya.
"Iya!" Angga mencoba membohongi Siska.
"Mau lihat dong Om" Ucap Siska dan tangannya mulai mencoba membuka, namun Angga menepisnya.
"Jangan, kepo banget kamu. Udah sana pergi, saya gak mau diganggu!" Pekik Angga membuat Siska kesal dan pergi.
"Ya udah Siska pergi aja!" Ketus Siska.
Iya sana pergi yang jauh, gak usah kembali lagi juga gak apa-apa. Batin Angga.
Setelah selesai makan malam, Angga kembali ke kamarnya dan segera menelpon seseorang.
"Will untuk dekorasi sudah beres semua? Catering? Penata rias? Undangan udah disebarin? Dan satu lagi kamar!" Perintah Angga pada Willy, karena Willy orang sangat ia percaya untuk mempersiapkannya.
"Tugas sudah saya selesaikan pak. Untuk Penata rias besok akan ada 3 orang, 2 orang untuk pengantin wanita dan 1 orang lagi untuk pengantin prianya. Kamar sudah saya siapkan, bapak gak usah khawatir soal itu hehe. Ehh pak satu lagi, untuk 2 orang penata rias diantar ke rumah pengantin wanitanya?" Tanya Willy.
__ADS_1
"Bagus. Iya kau antar, nanti saya kirim alamat lengkapnya. Bawa 3 mobil ke alamat yang akan saya kirim nanti!"
"Banyak banget pak mobilnya? " Tanya Willy terkejut.
"Kamu gak usah banyak tanya, selesaikan saja! Dan satu lagi, jangan ada keributan dipesta pernikahan saya, sewa Bodyguard-bodyguard untuk mengamankannya!" Ucap Angga dan segera mematikan ponselnya. Ia kembali teringat pada Alysa, dan mulai memikirkannya.
Besok kita nikah sayang. Semoga aja dapat malam pertama hehe. Batin Angga.
Sementara itu, Alysa tidak bisa tidur ia terus memikirkan pernikahannya besok. Perasaannya menjadi tidak karuan, antara senang dan takut. Senangnya ia bisa memiliki Angga dan Edward seutuhnya, dan takutnya Angga akan meminta haknya sebagai suami-istri. Alysa tidak bisa membayangkan jika Angga benar-benar akan memintanya di malam itu juga.
Kalau pak Angga minta itu gimana ya? Hiiiii. Batin Alysa bergidik ngeri.
Terdengar pintu di ketuk, Alysa segera beranjak dari tempat tidur dan segera membuka pintu. Tampak Ibunya yang datang. "Ada apa bu?" Tanya Alysa terkejut.
"Barusan Ibu lihat, di luar ada empat mobil Nak. Mobil siapa itu?" Ibu menceritakan perihal empat mobil yang berada di depan kontrakannya.
"Mungkin ada tamu tetangga sebelah, terus naro mobilnya di depan bu" Jelas Alysa, ia tidak mengetahui jika mobil itu benar-benar tamu untuk dirinya.
"Iya mungkin, Ibu juga enggak tahu jelasnya" Kata Ibu.
TOK TOK TOK
Alysa dan Ibu terkejut, dan mereka berpandangan satu sama lain. Lama berpandangan dan masih terus terdengar ketukan pintu yang membuat Alysa segera keluar dan memeriksa siapa yang datang malam-malam ke kontrakannya.
"Jangan Nak. Kalau nanti dia ngapa-ngapain kamu gimana?" Ucap Ibu mencegah Alysa untuk membuka pintu yang sedari tadi terus diketuk.
"Lho pak Willy? Bapak tahu alamat kontrakan saya?" Tanya Alysa terkejut.
"Iya. Saya kesini dapat amanat dari pak Angga untuk membawakan gaun pengantinnya, dan saya juga bawa perias pengantinnya kesini biar besok gak repot!" Jelas Willy.
"Ya udah pak, ayo masuk dulu" Ajak Alysa, dan Willy pun segera mengikuti Alysa lalu duduk.
"Bapak mau minum apa?" Tanya Alysa ketika Angga sudah duduk.
"Jangan repot-repot," Sahut Angga tersenyum. Senyuman itu membuat Alysa sedikit salah tingkah. Mengapa tidak? Ini adalah senyuman termanis yang diberikan Willy padanya, dan juga ia tidak permah melihat Willy tersenyum ketika di kantor.
"Tidak apa-apa pak, mau teh? Apa kopi?" Tawar Alysa.
"Kopi saja!" Ucap Angga.
Tanpa berpikir panjang, Alysa segera pergi ke dapur untuk membuatkan kopi. Ibunya sedikit lebih tenang jika tadi ia merasa sangat ketakutan. Melihat ada Ibunya Alysa, Willy segera mencium tangannya dan berkata, "Assalamualaikum bu, saya Willy asistennya pak Angga!" Ucap Willy tersenyum.
"Waalaikumsalam, iya Nak. Tadi Ibu kira siapa, karena ini sudah larut malam" Kata Ibu tersenyum ramah
"Maaf sekali bu, saya diperintahkan oleh pak Angga untuk mengantarkan perias pengantinnya sekarang biar besok gak repot. Dan saya juga udah ngirimin tiga mobil kesini!" Jelas Willy.
"Banyak banget mobilnya Nak?" Tanya Ibu.
__ADS_1
"Iya bu. Satu mobil khusus untuk pengantin wanita, satu mobil untuk keluarga dan satu mobil lagi untuk membawa barang-barang Alysa, karena pak Angga akan membawa istrinya ke rumahnya besok!" Jelas Willy membuat Ibu tersenyum, karena calon suami anaknya begitu memperhatikan Alysa.
"Oh begitu, ya sudah gimana baiknya saja Nak!" Sahut Ibu.
Alysa pun datang dengan membawa nampan yang berisi kopi hitam dan satu toples kue kering. Ia menaruhnya di meja dan mempersilahkannya pada Willy. Alysa duduk disamping Willy dan Willy mulai menyeruput kopi buatan Alysa. Sebenarnya Willy sempat mencintai Alysa ketika ia pertama kali melihatnya yang berada di ruangan kerja Angga. Namun karena Angga cepat dan bertindak untuk mengajak Alysa menikah, akhirnya ia memendam semua keinginannya itu dan juga ia tidak mau berselisih paham dengan bosnya sendiri.
Hingga pada akhirnya, ia mulai mendekati Fia sekaligus Sekretaris Angga yang pada saat itu masih berstatus single. Sekarang merekapun sudah berstatus tunangan dan Willy tidak mau kehilangan untuk yang kedua kalinya. Walau saat ini ia sudah memiliki tunangan, namun hatinya masih untuk Alysa saja. Alysa yang mampu menggebrak hati kerasnya.
Andai saya yang akan menjadi suami kamu Alysa, betapa senangnya saya. Namun takdir berkata lain, kau bukan jodohku. Batin Willy.
"Mana periasnya pak?" Tanya Alysa, karena sedari tadi Willy melamun dengan menatap ke depan.
"Hah? Apa?" Tanya Willy cukup terkejut.
"Tukang periasnya dimana? Kok gak ikut masuk?" Lanjutnya.
"Oh itu di mobil ada" Ucap Willy menunjuk keberadaan dua orang perias.
"Suruh masuk pak, tidurnya disini jangan dimobil!"
"Iya nanti saya suruh masuk. Hmm, saya pulang dulu ya, besok saya kesini lagi untuk jemput kamu. Dandan yang cantik ya pengantin baru haha!" Ucap Willy membuat Alysa ingin sakali mengejeknya.
"Siap pak. Kapan bapak mau nyusul?" Ejek Alysa terkekeh.
"Kapan-kapan saja kalau ada waktu haha. Saya pulang ya, bu saya permisi dulu, Assalamualaikum!" Willy mencium tangan Ibu dan segera keluar.
"Waalaikumsalam, hati-hati dijalannya" Ucap Ibu.
Willy segera pergi dengan menghidupkan mobilnya. Ia meninggal tiga mobil yang terparkir di depan kontrakan Alysa. Semua supir berada di dalam mobil, termasuk dua orang perias. Alysa mencoba memanggil para perias, namun sepertinya ia sudah tertidur di dalam mobil. Mau tidak mau, Alysa membungkam untuk memanggilnya, ia tidak rela karena mereka sangat kelelahan, ditambah lagi mereka besok pagi-pagi harus mendandani dirinya.
Alysa kembali masuk ke dalam kontrakannya dan kembali ke ranjangnya. Tidak berapa lama, ia tertidur karena hari sudah semakin gelap yang menunjukkan pukul 23.15 WIB.
*
*
*
*
*
*
Jangan lupa untuk memberikan semangat pada Author dengan cara ketika Vote, Like, Comment and Tipnya❤
*Selalu stay safe ya kakak😙
__ADS_1