Menikahi Duda Tampan

Menikahi Duda Tampan
BAB 42


__ADS_3

Kini mereka sudah berada di sebuah Rumah Sakit. Angga dan Alysa sedang menunggu Dokter yang sedang memeriksa kondisi Edward. Dokter segera memanggil keduanya untuk masuk.


"Ibu dan Bapak boleh masuk," ucap Dokter paruh baya.


"Gimana Dok? Anak saya sakit apa?" tanya Angga lalu menarik kursi dan duduk.


"Anak Bapak demam, dan ditubuhnya ada bintik-bintik kecil. Saya sudah memberikan salep untuk mengurangi bintik-bintik itu,"


"Bintik-bintik?"


"Iya Pak. Bintik-bintik merah begitu banyak ditubuhnya dan membuat ia demam cukup tinggi. Saya usahain anak Bapak untuk tetap disini selama beberapa hari," jelas Dokter.


Angga dan Alysa terkejut. Kenapa Edward bisa seperti ini? Apa dia salah makan? Fikirnya berkecamuk. Angga menganggukkan wajahnya tanda menyetujui ucapan Dokter. Alysa beranjak dan melihat kondisi Edward yang sedang tertidur setelah diberikan obat salep oleh Dokter.


"Kamu kok bisa kayak gini sayang? Ini semua gara-gara Mama, Mama tidak bisa merawatmu dengan benar" ucap Alysa duduk disamping ranjang pasien dengan menitikkan air matanya. Angga menghampiri Alysa dan mencoba menguatkan Istrinya itu. Alysa tidak boleh terlalu kecapekan dan memikirkan hal-hal yang akan membuatnya merasa lemas di usia kandungan yang masih muda.


"Jangan berfikiran seperti itu. Edward sakit bukan karena kamu lalai dalam menjaganya. Udah gak usah nangis lagi, nanti dedeknya ikut nangis," ucap Angga terkekeh membuat Alysa memukul lengan Suaminya.


"Mas..."


"Iya sayang. Sebaiknya kamu istirahat dulu ya dirumah, biar Mas yang jagain Edward."


"Gak mau Mas, aku mau disini nemenin Edward. Kalau Mas mau pulang, pulang aja,"


"Kamu sama Mas belum mandi, ayo pulang dulu habis itu kesini lagi,"


"Alysa mau mandi disini aja,"


"Ya sudah. Mas pulang dulu ya, nanti Mas kesini lagi bawa pakaian ganti. Jaga diri baik-baik, jangan kemana-mana ya," Angga mencium kening Alysa dan segera pergi setelah mendapat anggukan dari Alysa.


Alysa kini termenung sambil menatap wajah anak kecil yang sedang terbaring dengan lemah. Ia benar-benar tidak becus menjaganya. Pikiran Alysa kemana-mana, entah apa yang akan terjadi kalau Edward masih terbaring ditempat ini. Alysa memejamkan matanya dan membuang nafasnya dengan berat.


Semantara itu, Angga kini sudah berada dikediamannya. Ia langsung mandi untuk mempercepat kegiatannya. Ia takut Alysa kenapa-kenapa disana. Setelah selesai berpakaian, ia segara mengambil pakaian Alysa lengkap dengan bra dan juga cd nya. Angga menuruni anak tangga. Siska tiba-tiba datang membuat Angga menghentikan langkahnya karena Siska menghalangi jalannya.


"Om mau kemana? Edward kok enggak turun?" tanya Siska menatap Angga dari atas hingga bawah.


"Dia sakit. Saya harus kesana," sahut Angga dengan wajah datarnya.


"Apa sakit?" Siska terkejut.


"Iya. Minggir saya mau lewat,"


"Om, Siska ikut ya. Siska mau lihat kondisi Edward," ucap Siska memohon-mohon dengan memegangi tangan Angga.


"Ya sudah awas," Angga mendorong tubuh Siska ke tepi tangga.


Dengan sangat terpaksa, ia menyetujui keinginan Siska untuk ikut ke Rumah Sakit bersamanya. Saat Siska hendak membuka handel pintu mobil depan, Angga menyuruhnya untuk duduk dibelakang. "Kau duduk dibelakang," ketus Angga.


Siska menyibikkan bibirnya, ia benar-benar gagal untuk bisa berdekatan dengan Angga. Setelah Siska duduk dengan sempurna, Angga segera melajukan mobilnya.

__ADS_1


Dua puluh menit kemudian, Angga dan Siska sudah sampai di Rumah Sakit. Angga memarkirkan mobilnya dan segera keluar tanpa menoleh pada Siska. Angga berlari kecil menuju kantin. Ia akan membeli makanan untuk Alysa dan juga dirinya, karena sedari tadi ia dan Alysa belum makan apapun.


Setelah mendapatkan dua kantong kresek, Angga segera pergi ke ruang penginapan dengan di ikuti Siska dibelakangnya. Tiba didepan ruangan, Angga masuk dan mendapati Alysa sudah tertidur dengan memegangi tangan Edward.


Angga mencoba membangunkan Alysa untuk sarapan. "Sayang bangun," Angga menepuk tangan Alysa membuat Siska melototkan matanya.


Sayang?. Batin Siska.


Alysa bangun dan mengucek matanya. Ia membuka matanya melihat suaminya sudah kembali. Namun ia merasa janggal dengan kehadiran Siska disamping Angga. Alysa menatap Siska dengan tatapan yang sulit dijelaskan, entah mengapa hormon kehamilannya kini begitu merubah sifatnya.


Ngapain Siska kesini? Batin Alysa.


Angga segera meletakkan kantong kresek di depan Alysa. "Ayo sarapan dulu. Setelah itu kamu mandi," Angga mencium kening Alysa membuat Siska memalingkan wajahnya.


Apaan sih? Apa dia tidak melihat saya disini? Batin Siska.


***


Kini Alysa sudah mandi dan mengurai rambut panjangnya. Ia melihat Siska yang sedang asyik memainkan ponselnya. Sementara itu, Angga duduk dekat Edward dengan mencium tangan mungil.


"Mas tidak kerja?" tanya Alysa saat sudah di samping Angga.


"Mas mau nemenin kalian disini," ucap Angga.


"Lho kerja aja Mas. Lagian disini ada Siska juga," ucap Alysa membuat Angga menoleh pada Siska yang sedang asyik dengan ponselnya.


"Kan mau meeting Mas. Ayo kerja dulu buat masa depan si dedek dalam perut," ucap Alysa membuat Angga mendekatinya dan memeluknya dari samping.


Angga ingin sekali membuat Siska cemburu dan segera pergi dari ruangan itu. Tentu saja Siska melihat pemandangan yang begitu menyesakkan hatinya. Orang yang ia cinta kini sedang berpelukan dengan Istrinya itu. Siska menelan ludahnya dengan berat dan matanya masih tertuju pada dua insan yang ada didepannya.


Sial. Ngapain pelukan kayak gitu, kayak gak ada tempat lain aja. Batin Siska.


Kena kau Siska. Pasti muakkan lihatnya ckck. Batin Angga.


***


Dua hari kemudian, kini Edward sudah bisa pulang dengan arahan dari Dokter yang menanganinya. Bintik-bintik yang ada ditubuhnya kini sudah tinggal bekasnya saja dan menimbulkan flek hitam yang membekas. Alysa menyuapi Edward yang sedang asyik dengan robot-robotannya. Angga sudah pergi ke kantor karena sejak Edward sakit, ia tidak pernah ke kantor lagi.


"Mama-mama, Edwald mau jalan-jalan ke taman," ucap Edward tiba-tiba.


"Kan masih sakit sayang. Nanti saja kalau Edwardnya sudah sehat lagi ya," sahut Alysa.


"Gak mau. Maunya sekarang," Edward mulai merengek.


"Cuma berdua ke tamannya?" tanya Alysa.


"Sama Papa lagi. Ayo Mama... Cepetan," Edward berdiri dan menarik-narik pakaian Alysa agar segera pergi ke taman.


"Iya-iya sebentar. Mama telepon Papa dulu ya," ucap Alysa segera mengambil ponselnya di nakas.

__ADS_1


Dalam panggilan ketiga, Angga mengangkat telepon dari Alysa.


"Ada apa? Mas lagi meeting nih," ucap Angga dari seberang telepon.


"Mas, Edward pengen jalan-jalan ke taman," ucap Alysa.


"Ya sudah. Ajaklah dia, Mas tidak bisa kesana lagi meeting. Mungkin nanti malam Mas pulang larut lagi," imbuh Angga.


"Ya sudah Mas. Kalau gitu Alysa akan mengajaknya," tutup Alysa.


Alysa berganti pakaian dan merapikan rambutnya yang terurai. Setelah itu ia menambahkan lipstik dibibirnya hingga membuat aura kecantikannya kembali terlihat. Alysa menuntun tangan mungil Edward ketika mereka menuruni anak tangga.


"Mama... Papanya mana?" tanya Edward saat mereka sudah berada di depan pintu.


"Papa enggak bisa ikut sayang. Sama Mama aja ya," ucap Alysa.


Alysa segera memanggil Pak Slamet untuk mengantarkannya ke taman. Alysa dan Edward segera masuk ke mobil dan mobil pun segera melaju. Dalam mobil Edward tidak bisa diam, ia terus mengoceh membuat ruangan di dalam mobil menjadi lebih hidup.


"Mama.. Kata teman Edwald, adik itu teman belmain. Iyakah?" ucap Edward membuat Alysa tiba-tiba diam dan mencerna ucapan Edward.


Alysa mengernyitkan dahinya, entah siapa yang mengajarkan anaknya berbicara seperti itu.


"Iya teman bermain. Nanti kalau dedek dalam perut udah lahir, Edward bisa main sama dedek ya,"


"Holeee... Jadi Edwald ada temen main ya Ma.."


"Iya sayang. Edward jangan nangis lagi ya, kan Edward mau punya adik,"


"Iya Mama.. Edwald tak akan nangis lagi, Edwald mau adik nanti main sama-sama,"


"Anak pintar,"


Mobil memasuki kawasan taman kota yang banyak sekali pengunjung disana. Mobil terparkir membuat Alysa segera menurunkan Edward. Alysa memerintah Pak Slamet untuk pulang, karena mungkin ia dan Edward akan berlama-lama ditaman. Pak Slamet mengangguknya dan segera melajukan mobilnya.


Alysa menuntun Edward ke sebuah kursi yang berada ditaman. Keadaan taman hari itu cukup ramai. Beberapa pasang mata melihat kearahnya dan mendaratkan senyuman manis. Alysa tidak menghiraukan mereka yang sedang menatapnya, dan ia fokus pada Edward yang sedang berlari-lari mengitari kursi.


"Jangan lari-lari sayang, nanti jatuh," ucap Alysa namun Edward terus saja berlari dengan tangan yang sedang memegangi robot-robotannya.


Tiba-tiba Alysa merasa mual dan ia hendak pergi ke sebuah toilet umum. Ia segera pergi untuk mencari toilet dan meninggalkan Edward sendiri disana. Toliet itu sangat jauh hingga Alysa harus berjalan cukup lama. Tiba di toliet, ia segera masuk dan segera memuntahkan isi perutnya.


Lama sudah ia memuntahkan isi perutnya, ia segera merapikan pakaiannya dan ia lupa kalau Edward sendirian disana. Alysa segera pergi dan berjalan dengan tergesa-gesa, ia takut terjadi sesuatu dengan Edward. Alysa semakin mempercepat langkahnya hingga membuatnya terjatuh dan perutnya terbentur pada tanah yang beralaskan rumput-rumput. Alysa merasakan kesakitan pada perutnya yang kini sudah berusia dua minggu. Alysa mencoba berdiri, namun itu sangat susah. Hingga ada orang yang sedang melewati dirinya lalu membantunya berdiri.


Alysa mengucapkan terima kasih dan segera berjalan menuju Edward dengan lunglai serta memegangi perutnya yang terbentur. Perjalanan masih jauh dan Alysa semakin khawatir. Alysa memegangi perutnya dan berjalan dengan gesa. Hingga tiba disana, ia tidak menemukan Edward. Kemana dia?


Alysa mencari keberadaan Edward dan menanyakannya pada orang-orang yang ada disekitar sana. Namun nihil mereka tidak melihatnya. Alysa semakin khawatir dan segera mencarinya. Dengan keadaan perutnya kesakitan, ia terus berjalan mencari keberadaan Edward yang tak kunjung bertemu. Alysa melihat kesana-kemari, tatapannya tidak berkutik.


"Edward kamu dimana sayang?" gumam Alysa dengan nada khawatir.


Alysa mulai mencari-cari dan ia melihat ke area penjual-penjual makanan yang tidak jauh dari tempat ia berdiri. Alysa segera mendekatinya dan menanyakannya.

__ADS_1


__ADS_2