Menikahi Duda Tampan

Menikahi Duda Tampan
BAB 75


__ADS_3

"Aku-aku tidak apa-apakan dia!" teriaknya lagi.


"Haha...Kau tidak melakukan apapun padanya?" tanya Willy pandangan mereka bertemu dengan lama. Willy semakin mendekat dan mencengkram tangan Destia dengan kasar. "Bibir yang manis!" hembusan nafas memburu Willy terdengar oleh Destia.


"Tidak...Tidak...Hiks...!"


Pake nangis segala, emangnya saya begitu bodoh karena tangisannya itu?


"Kenapa menangis? Bukankah kau menginginkan ini dengannya?" menatap Angga yang kini masih tertidur dengan pulas.


"Menjauhlah! Kau tidak punya hati ingin menikmati tubuhku!"


"Haha..." Willy tertawa semakin keras dan sangat menakutkan. "Bukankah kau yang ingin menikmati tubuhnya?" menunjuk Angga.


Destia segera menampar wajah Willy. Willy tersenyum nakal sembari mendekatkan wajahnya. Destia semakin memberontak hingga ia menginjak kaki Willy. Willy tak bergeming, tangan kekarnya cukup menahan tubuh Destia.


"Kau sangat menjijikkan! Kau itu wanita, seharusnya kau tahu jika dia sudah mempunyai seorang istri. Apa kau tidak merasa kasihan dengan ibumu yang sudah melahirkanmu?"


Destia tak menjawab, dan membuat Willy semakin menjelek-jelekannya. "Kau itu cantik, Destia. Sangat cantik! Kau rela menjajakan tubuh sexy mu dengan pria lain yang bukan suamimu sendiri? Kalau kau sudah tidak tahan, saya akan menikmati tubuhmu malam ini juga!" tatapan Willy semakin tajam, nafasnya memburu dan cengkraman nya semakin kuat.


"Gue akan laporin lo ke polisi!"


"Haha...Emang saya bodoh? Saya bodoh? Jawab!!!"


"Lepaskan...Sakit!"


"Ini tidak begitu sakit. Kau fikirkan istrinya yang sedang menunggunya di rumah. Menunggunya pulang dengan khawatir. Jika kau yang ada diposisinya, kau juga tidak ingin suamimu di ambil orang lain kan?"


"Aku mencintai Angga sebelum wanita kampung itu ada di kehidupannya. Aku tidak salah, wanita itu yang salah karena sudah merebut cintaku."


"Alysa tidak salah. Yang salah itu kau, kau yang mau merebut cinta suaminya!"


Karena Willy sudah tidak mengontrol emosinya lagi, ia mengambil ponselnya dan segera menelpon petugas keamanan untuk di bawa Destia ke pihak kepolisian.


"Segera!"


Willy menutup teleponnya dan kembali menatap Destia. "Kau wanita tidak tahu diri! Kau ingin merebutnya? Kenapa kau tidak merebutku saja?" Willy tertawa kembali. Entah apa yang sudah di ucapankannya itu memang benar atau sedang bermain sandiwara didepannya.


"Willy...!" teriak Destia dengan tajam. "Menyingkirlah! Aku tidak punya urusan denganmu!"


"Terus saja, ini urusanku! Kau mau apakan dia? Mau menikah dengannya? Dimana hati nuranimu? Dasar otak licik!"


"Ternyata kau sudah tahu otak licikku!" Destia tertawa puas.


"Siapa yang tidak mengetahuinya? Bahkan dia sendiri pun tahu jika kau punya otak licik seperti ini!"


Perbincangan mereka berakhir, karena seorang petugas keamanan sudah datang ke tempat TKP. Willy segera menyerahkan Destia padanya untuk dilakukan pertanggungjawaban atas perilaku menjijkkannya.


"Membungkamlah disana, wanita gila...!"

__ADS_1


"Awas kau! Akan ku habisi kau Willy..." teriaknya dan polisi segera membawanya pergi. "Lepaskan, kau tidak boleh menyentuh ku!"


"Diam, Anda sudah membuat keributan dan juga sudah merencakan sesuatu pada laki-laki itu!" ucap petugas keamanan dengan tegas dan segera membawa Destia pergi.


Willy duduk di tepi ranjang dengan memegangi dahinya. Ia mengatur nafasnya dengan memburu. Fikirannya begitu kacau. Ia menatap Angga yang masih terlelap.


***


Rumah Sakit


Angga masih belum bangun juga. Willy yang sedari tadi menunggu pun merasa cemas, lantaran Dokter sudah mengeceknya dan tidak ada reaksi apapun dengannya. Willy segera menelpon Papanya Angga agar segera ke Rumah Sakit di malam ini juga.


Kuharap, dia tidak apa-apa.


Mama dan Papanya Angga datang setelah mendengar anaknya terbaring di Rumah Sakit. Mereka begitu sangat khawatir dan panik. Mereka mendekati Willy dan menanyakan keberadaan Angga.


"Kenapa dengan Angga?" tanya Mamanya panik.


"Ceritanya panjang, tante. Pak Angga minum obat tidur."


"Obat tidur? Kenapa dia meminumnya?"


"Tante bisa lihat sendiri kondisinya."


"Wajahmu kenapa? Kau habis berkelahi dengan siapa?" Mamanya Angga meraba wajah Willy yang memar dan juga darah segar masih menempel.


"Tidak apa-apa, tante. Silahkan tante bisa mengecek kondisi, Pak Angga."


"Angga, kenapa bisa seperti ini sih? Bangun, Ga."


"Sabar, Ma. Dia masih tertidur akibat obat tidurnya."


"Kenapa dia meminum obat tidur?"


"Nanti saja kita tanyakan langsung padanya, kalau dia sudah bangun!"


Mamanya Angga mengangguknya dan segera keluar untuk menemui Willy dan menanyakan kebenaran yang sudah di alami anaknya itu. Saat ini mereka sudah duduk di kursi. Mamanya Angga memegang tangan Willy dan Willy pun menatap wajahnya. Willy sudah di anggap seperti anaknya sendiri oleh Mamanya Angga.


"Kamu tahu semuanya kan?" Willy mengangguknya. "Katakan!"


"Jadi gini, tante. Destia yang sudah menjebak anak tante sampai seperti ini!" ucap Willy spontan membuat Mamanya Angga menatap tajam padanya.


"Itu tidak benar. Destia tidak akan pernah melakukan ini!"


"Astagfirullah. Saya benar, tante."


"Jangan ngarang! Destia anak baik-baik. Dia tidak seperti itu."


Mamanya Angga bersikeras jika Destia bukanlah biang dari semuanya. Ia menyalahkan Willy, karena Willy tidak bisa menjaga anaknya selaku Direktur.

__ADS_1


Arghhh...Nanti juga bakalan tahu kebenarannya!


***


Alysa masih duduk di taman sembari memperhatikan anaknya yang sedang bermain bersama teman-temannya. Mira sedang fokus memainkan ponselnya. Tiba-tiba saja fikiran Alysa tertuju pada suaminya. Jantungnya berdetak dengan kencang. Alysa menggenggam ponselnya dengan gemetar dan mencoba menelpon suaminya.


Alyaa terus mencobanya, walaupun ponsel suaminya tidak aktif. Fikiran Alysa sudah tidak terkendali dengan baik, ia segera menemui Mira yang berada jauh darinya.


"Mir?" nafasnya tersengal seperti habis dikejar.


"Iya...?" ucapannya terpotong.


"Kamu telepon Mas Angga. Atau Mama mertua! Ayo cepet Mir!"


"Abang kenapa emang?" tanya Mira.


"Nanti aja nanyanya. Ayo cepat telepon, perasaan Kakak jadi gak enak!"


Mira mengangguknya dan mencoba menghubungi Mamanya. Disaat yang bersamaan, ternyata Mamanya juga hendak menelponnya. Tanpa berfikir panjang, Mira segera mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum, Ma? Ada apa? Mira barusan aja mau telepon, Mama!"


"Waalaikumsalam. Enggak ada apa-apa. Kamu udah sampaikan?"


"Udah dari tadi. Mama nelpon cuma mau nanyain itu doang?"


"Iya. Terus kamu mau bilang apa tadi?"


"Kakak ipar nanyain Abang. Abang lagi dimana? Kok teleponnya gak aktif-aktif ya?"


"Mama gak tahu. Udah dulu, Mama mau tidur!"


"Sebentar Ma, jangan ditutup dulu!" telepon pun terputus. Mamanya Angga menyembunyikan semua yang terjadi dengan Angga pada Mira. Mira merasa ada yang aneh dengan Mamanya. Alysa yang mendengar telepon itu pun langsung menangis.


"Hiks...Kakak cemas banget. Gak biasanya Mas Angga kayak gini. Apa dia tidak mengkhawatirkan Kakak disini? Mas...Kamu kenapa? Aku sangat mengkhawatirkanmu.." tangis Alysa pecah hingga Mira segera membawanya ke Hotel kembali dengan menuntun Edward.


Saat ini mereka sudah berada di dalam kamar. Alysa menangis kembali. Ia mencoba menghubungi suaminya, namun nihil karena ponselnya tidak aktif.


"Mir...Kita pulang aja yuk?"


"Pulang?"


"Iya, Kakak khawatir sama Mas Angga."


"Tap Kak, ini udah malem banget. Capek Kak kalau malem ini langsung pulang."


Alysa berfikir sebentar. Memang benar saja, sebenarnya ia juga sangat kecapekan setelah perjalanan panjang tadi. Alysa membungkam keinginannya itu dan mencoba berfikir positif dengan suaminya.


Aku tidak akan pulang, besok juga pasti pulang. Aku tidak boleh khawatir, mungkin Papa lagi sibuk dengan kerjaannya atau udah tidur. Sebaiknya aku tidur saja.

__ADS_1


***


Ceritanya tegang, yang nulisnya juga merasa tegang nih🤧Jangan lupa Vote, like dan Comment nya❤


__ADS_2