Menikahi Duda Tampan

Menikahi Duda Tampan
BAB 71


__ADS_3

Keesokan paginya, Alysa menyiapkan semua kebutuhan suaminya dan juga putranya. Ia memasak dengan ditemani Mira. Mira sangat mengerti keadaan Alysa yang harus sendiri mengurus semuanya. Setelah selesai masak, Alysa bergegas membangunkan Angga dan juga Edward. Hari yang begitu menyibukkan dan juga melelahkan tentunya. Si kecil Edward susah sekali bangun dan membuat Alysa membujuknya kembali.


"Ayo dong sayang. Kitakan mau study tour." Alyssa mencobanya lagi, namun hasilnya nihil.


"Gak mau. Nanti aja siang!" jawab Edward tanpa membuka matanya dan terus saja tidur.


"Nanti ketinggalan bis-nya lho. Yuk bangun yuk?" Alysa mengangkatnya dan membawanya ke kamar mandi. Ia melucuti pakaiannya walaupun Edward masih terlihat lemas dan tak punya tenaga.


Alysa segera memandikannya, kali ini Edward cukup diam dan tak banyak tingkah. Setelah selesai, Alysa memakaikan pakaian biasa dengan sweater, karena perjalanan dari Jakarta menuju Yogyakarta cukuplah jauh. Sebisa mungkin Alysa harus bisa memastikan putranya. Setelah itu, Alysa mengambil tas kecil dan memasukkan buku-buku, karena study tour kali ini akan diadakan belajar di luar ruangan.


Alysa menyiapkan semuanya dan Angga yang sedang berdiri di ambang pintu pun segera mendekatinya. Angga membawa tas kecil dan juga satu koper yang berisikan pakaian istri dan putranya selama dua hari di Yogyakarta.


"Pa, Mama tinggal ya. Papa jangan nakal disini, Mama akan segera pulang!" ucap Alysa tiba-tiba membuat hati Angga terenyuh.


"Iya, Mama. Papa akan baik-baik saja disini. Mama jangan khawatir ya, nanti Papa akan sering-sering mengabari." jawab Angga memeluk istrinya.


"Ayo, Mir. Koper kamu udah beres semuanya kan?" tanya Alysa saat Mira datang.


"Udah, Kak. Kita berangkat sekarang?" tanya Mira balik.


"Iya, ini udah pukul 05.40 WIB. Sekitar dua puluh menitan lagi kota harus sampai di sekolah."


Mereka pun masuk ke dalam satu mobil. Angga menyimpan semua koper di bagasi mobil. Setelah itu, ia kembali dan masuk. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Edward yang tadinya murung dan tidak bersemangat pun akhirnya bersemangat kembali. Ia akan jalan-jalan di pagi hari.


"Mama...Naik bis ya?" tanya Edward.


"Iya, nanti kita naik bis sama tante lagi. Edward suka?"


"Suka...Nanti Edwald mau naik kuda-kuda kalo udah nyampe...Bolehkan Ma?"


"Iya boleh. Ayo minum dulu susunya, tadi Mama lupa ngasih." Alysa memberikan sebotol susu pada Edward, Edward menerimanya dan segera meminumnya.


Mira mengambil ponselnya dan hendak menelpon Mamanya untuk mengabari jika ia akan segera pergi ke Yogyakarta bersama kakak ipar dan juga keponakannya.


"Assalamu'alaikum, Ma. Mira udah mau berangkat ke sekolah Edward."


"Waalaikumsalam, iya sayang. Hati-hati ya, jaga keponakanmu!"


"Iya, Ma. Kan sambil dijaga sama kakak ipar. Ya udah, Mira tutup dulu teleponnya."

__ADS_1


Tiba di sekolah, mereka segera keluar. Angga mengambil koper dan membawanya dekat bis yang sudah terparkir di depan sekolah. Alysa memangku Edward dan segera mendekat dengan ibu-ibu yang lain yang juga akan mengantar putra-putrinya. Mira mengikuti langkah Alysa dan mencoba memotret kenangan ini dan meng-uploadnya di sosial medianya.


"Kak, senyum dong!" perintah Mira.


Angga langsung tersenyum sembari memangku Edward. Senyum yang menggambarkan kebahagiaan yang terpancar di wajahnya. Angga mendekati istrinya dan menciumi keningnya.


"Jaga baik-baik disana. Papa akan selalu merindukan Mama. Mama jangan khawatir, Papa akan baik-baik disini." ucap Angga tersenyum.


"Iya Pa, nanti kalau Mama udah sampai, Mama akan mengabari Papa. Kalau mau makan, tinggal panasin lagi nasinya ya."


"Iya sayang."


Semua guru sudah siap dan sedang menginstruksikan semuanya agar segera berangkat. Satu per satu pengecekan murid TK didata dengan mengabsennya. Setelah semuanya sudah lengkap dan barang bawaan sudah ada, kini tinggal berdo'a agar selamt sampai tujuan. Do'a di pimpin oleh seorang Ustadz dengan khidmat.


"Semoga semuanya bisa selamat sampai tujuan. Saya perlu mengingatkan, jika kita hendak turun dan melangkah ke lingkungan baru, ucapkan kalimat ayat kursi. Tujuannya agar kita semua selamat dan tidak akan ada yang terjadi sesuatu." jelas Ustadz


Semua mengangguk setuju, dan mereka pun segera menaiki bisnya. Angga berkali-kali menciumi istri dan putranya hingga ia meneteskan air matanya. Kini ia akan ditinggal oleh orang-orang yang dicintainya. Walaupun itu hanya dua hari, tapi tetap saja seperti satu tahun menurutnya.


Alysa melepaskan pelukan Angga dan pergi dengan melambaikan tangannya. "Dadah...Papa." Alysa pergi dan Angga membalasnya dengan senyuman yang begitu berarti.


Mira mengekori Alysa dan segera menaiki bis. Alysa memilih tempat yang aman dan juga tentu bisa lebih memperhatikan ucapan Bu guru ketika sedang menginstruksikan sesuatu. Alysa duduk dengan memangku Edward di pahanya, Mira bertugas menyimpan koper, lalu duduk di sebelah Alysa.


Kini bis yang ditumpangi mereka sudah melaju dengan kecepatan sedang. Angga masih memperhatikannya hingga bis itu tidak terlihat lagi. Setelah itu, Angga kembali ke mobilnya dan melajukannya menuju kediamannya.


***


"Nyonya, membutuhkan sesuatu agar tidak merasa mual lagi?" tanya Ifan.


"Enggak!" singkat Destia.


"Sepertinya, bayinya menginginkan sesuatu. Ayo katakan saja, Nyonya!" tanyanya lagi.


"Kenapa sih, Fan? Lo, kok jadi perhatian gini!" ketus Destia.


"Saya tidak ingin terjadi apa-apa dengan anaknya yang sedang dikandung, Nyonya. Apa sebaiknya kita periksakan dulu kondisinya?" tawaran Ifan membuat Destia tidak menjawab pertanyaannya. "Ya sudah, sepertinya kita harus segera periksakan!" lanjutnya.


Mobil melaju menuju Dokter kandungan. Destia sempat menolak, namun Ifan masih pada pendiriannya, ia tidak mau jika terjadi sesuatu dengan anaknya. Mobil berhenti tepat di parkiran Rumah Sakit. Ifan membuka safety belt-nya dan segera membuka pintu untuk majikannya. Destia keluar, dan berjalan mendahului Ifan. Ifan berjalan mengekorinya sembari menuntun Destia berjalan, namun Destia menepis tangan Ifan dan enggan disentuh olehnya.


Kalau bukan karena dia sedang hamil anak saya, mungkin saya tidak akan sekhawatir ini. Wanita ini bisanya melampiaskan kekesalannya saja pada saya.

__ADS_1


Saat ini mereka sedang duduk di ruang tunggu sembari menunggu nomor yang akan dipanggil oleh Dokter. Hingga akhirnya setelah menunggu bebrapa menit, nomor yang sedang dipegang Destia pun hendak dipanggil.


Seorang Dokter menyuruhnya untuk duduk pada Destia dan Ifan. Ifan yang memakai pakaian biasa, sudah dipastikan jika ia memang suami dari Destia, fikir Dokter.


"Ibu mau mengecek kandungan?" tanya Dokter berindentitas wanita.


Destia menatap Ifan dan setelah itu menatap Dokter, "Iya Dok." jawab Destia.


"Ayo mari." Dokter membawa Destia ke ruangan tertutup untuk dilakukan pemeriksaan.


Destia membaringkan tubuhnya di ranjang pasien. Dokter mengaktifkan alat-alat dan membuka pakaian Destia sedikit. Setelah itu, ia mengoleskan sesuatu di perut Destia yang kini semakin membuncit. Alat itu segera ditempelkan pada perut Destia dan menggerakkannya untuk melihat si bayi.


Bayi kecil sudah terlihat dilayar membuat Dokter tersenyum. Destia yang penasaran pun segera menoleh ke arah samping dan begitu terkejutnya, ia mendapati bayinya sudah semakin membesar. Lama-lama perutnya akan semakin membuncit, fikirnya.


Setelah itu, mereka segera kembali menuju kursi dan Dokter akan segera mengecek hasilnya.


"Bayinya sehat, Bu. Ibu hanya perlu sedikit perhatian lebih dari suaminya agar bayinya bisa tumbuh dengan cepat (menatap Ifan yang kini sedang kebingungan).Dan juga, makanan sehat pun sangat perlu agar bayinya juga sehat. Minta sama suaminya agar bisa lebih perhatian ya, Bu." ucap Dokter tersenyum membuat Destia ikut tersenyum dengan kecut.


Ehh dia bukan suami gue.


"Iya Dok. Istri saya suka ngeyel kalau disuruh makan sayuran dan buah-buahan." celetuk Ifan membuat Destia menginjakan kakinya.


"Aww...Sakit Nyo..." Ifan mengaduh kesakitan hingga ia akan menyebutkan sesuatu yang sangat ia jaga. Ia hampir saja akan menyebut Destia dengan sebutan 'Nyonya'.


"Bunda diam ya. Ayah akan bicara sama Dokter." ucap Ifan tersenyum melihat wajah Destia yang begitu tajam. Ifan mengalihkan pandangannya pada Dokter. "Apa yang harus saya lakukan pada istri saya, Dok?" tanya Ifan.


"Bapak harus lebih perhatian lagi sama istrinya. Istri yang sedang hamil sangat membutuhkan walaupun hanya perhatian kecil dari suaminya."


"Cuma itu doang, Dok?" tanya Ifan tersenyum geli mendengar ucapannya.


"Ya begitu, Pak. Saya usahain, Bapak harus sering berhubungan badan. Ya, dalam satu minggu hanya 2 sampai 3 kali. Biar bayinya juga merasa selalu dekat dengan orangtuanya." jelas Dokter membuat Destia melolotkan matanya. Ifan yang tadinya tersenyum pun menjadi terdiam.


Berhubungan badan? Maksudnya saya harus berhubungan badan dengan Nyonya kah? Kalau Nyonya menolak terus bayinya nangis didalam perut gimana? fikir Ifan.


"Oh, jadi harus sering ya, Dok? Tuh Bun jadi kita harus sering-sering katanya." ucap Ifan tersenyum nakal pada Destia yang kini sedang menatapnya dengan tajam.


Bodyguard gila. Terus kalau kata Dokter harus ngelakuin kayak gitu, lo mau berhubungan badan sama gue gitu? Pake manggil Ayah-Bunda lagi. Cuihh..


***

__ADS_1


Si Ifan udah ngerasa kayak suami istri aja nih, manggilnya ayah bunda🤧🤣


Jangan lupa vote, like and comment🤣❤


__ADS_2