Menikahi Duda Tampan

Menikahi Duda Tampan
BAB 53


__ADS_3

Kini mereka sedang duduk santai di kursi. Alysa mengabadikan moment tersebut dengan berfoto. Sesekali ia memvideokannya. Setelah berfoto, Alysa berniat untuk memberitahu adiknya jika ia sudah keguguran. Ia harus memberitahukannya.


"Dek?" ucap Alysa.


"Iya, Kak?" sahut Azkia.


"Sebenarnya, Kakak udah keguguran!" ucap Alysa spontan.


"Hah? Yang benar, Kak? Kapan? Kok bisa?" tanya Azkia terkejut.


"Udah lama. Kakak sebenarnya mau kasih tahu ini, tapi selalu aja ada halangannya."


"Terus sekarang gimana, Kak? Apa Kakak bisa hamil lagi?"


"Bisa, tapi harus nunggu tiga sampai enam bulan untuk proses kehamilan kedua pasca keguguran."


"Apa Ibu udah tahu, Kak? Pasti Ibu syok banget."


"Kakak belum kasih tahu, mungkin nanti."


"Mau ice cream gak?" tanya Alysa.


"Mau, Kak."


"Ya sudah, Kakak beli dulu ya," Alysa segera pergi menuju penjual ice cream.


Laki-laki yang tadi memperhatikan Alysa, kini sedang menelpon seseorang.


"Target lagi jalan sendiri ke arah penjual ice cream. Untuk posisi kalian, siapkan jangan ada yang lalai. Kita bisa dihukum kalau gak bisa mencelakainya! Saya akan mencoba menelponnya dan mengondisikan target!"


"Baik. Saya ke arah utara, karena di arah utara tidak begitu banyak orang. Dan untuk di arah barat nanti akan ada dua orang."


Alysa yang tidak menaruh curiga, ia langsung berjalan dengan menggenggam ponselnya. Tiba di penjual ice cream, Alysa segera membeli beberapa macam dan tiba-tiba deringan telepon membuatnya segera mengedarkan pandangan. Alysa melihat nomor asing dan tampak berfikir.


"Nomor siapa ini? Mas Angga? Mama atau Papa mertua? Atau Ryan?" ucap Alysa penasaran dan segera mengangkatnya siapa tahu lebih penting.


"Hallo? Dengan siapa ini?"


"Hallo, Nona cantik."


"Siapa ini? Bagaimana kau tahu nomor ponsel saya?"


"Tenang, Nona. Jangan terlalu panik."


"Bagaimana aku tak panik! Siapa kau ini?"


"Anakmu sudah ada ditangan saya. Saya menculiknya haha..."


"Anak saya di sekolah. Jangan ngadi-ngadi ya!"


"Tenang, Nona. Saya tidak akan apa-apakan anak, Nona. Asalkan Nona ikut saya ke suatu tempat."


"Anak saya di sekolah, lagi belajar! Bagaimana mungkin anak saya diculik."

__ADS_1


"Itu bisa terjadi, Nona. Apakah Nona tidak mau anaknya terjadi kenapa-kenapa? Sebaiknya siapkan diri Nona untuk pergi ke suatu tempat, dan akan saya serahkan kembali anaknya."


"Saya laporkan kau ke polisi. Jangan coba-coba membodohi saya, saya tahu kau hanya ingin uangkan? Ayo sebutkan nominalnya, nanti saya transfer!!"


"Aku tidak menginginkan itu, Nona"


Bagaimana ini? Kalau Edward benar-benar di culik gimana? Ya ampun, kalau Mas Angga tahu bakalan berabe nih.


Alysa semakin panik, kare na Edward adalah tanggungjawabnya selama Angga bekerja. Ia mencoba berlari menuju kedua adiknya.


***


Destia terbaring di ranjang dan ia terus saja memikirkan bagaimana nasibnya ke depan. Ia sudah tidak peraw**n tanpa ikatan pernikahan. Ia benar-benar stres dibuatnya.


Ahhh... Bodoh kau Destia, sangat bodoh! Kenapa kau malah mabok sih. Kau seharusnya tahu, dia orang baru dan dia bukan temanmu, hiks...Mas Angga, maafkan aku, aku tak bisa menjaganya untukmu.


Walaupun Destia sering bermain laki-laki, tapi ia bisa menjaga kepemilikannya. Ia menjaganya hanya untuk Angga saja. Ia berfikir, jika Angga memang benar akan menjadi suaminya kelak nanti. Tapi itu berubah seketika, setelah Alysa menjadi istri sah Angga beberapa bulan yang lalu.


Destia berusaha meyakinkan Mamanya Angga agar cepat-cepat menikahkannya dengan Angga, namun hasilnya nihil malah dirinya semakin menjauh dari Angga. Laki-laki idamannya dari dulu saat Angga masih berstatus suami Sarah, ada sesuatu di balik baiknya dengan Mamanya Angga. Yaitu, ingin menjadi istri keduanya atau menjadi istri satu-satunya dengan cara merebutnya.


Namun, itu juga tidak terjadi hingga malam tadi yang tidak bisa di bayangkan oleh dirinya akan bertemu dengan seorang laki-laki misterius. Laki-laki yang tidak pernah bertemu sebelumnya dan bahkan di sela-sela perbincangannya malam itu yang menjadi malam kelam baginya ia tidak mengetahui siapa namanya, pekerjaannya apa, dan dari marga mana. Sungguh aneh dan diluar dugaan dari dirinya.


Kini ia harus mencari cara, supaya ia tidak hamil dari hubungan gelapnya yang tidak akan pernah ia fikirkan sebelumnya.


"Mama....Tante...Mas Angga! Maafkan aku, aku tak bisa menjaganya, hiks..." teriaknya sembari melempar guling ke lantai.


"Gue harus mencari laki-laki itu sampai dapat. Gue harus ke Caffe itu lagi. Kalau gue udah dapet laki-laki itu, gue akan membunuhnya dengan tangan gue sendiri!"


***


"Anakmu sudah ada ditangan saya. Saya menculiknya haha..."


"Anak saya di sekolah. Jangan ngadi-ngadi ya!"


"Tenang, Nona. Saya tidak akan apa-apakan anak, Nona. Asalkan Nona ikut saya ke suatu tempat."


"Anak saya di sekolah, lagi belajar! Bagaimana mungkin anak saya diculik."


"Itu bisa terjadi, Nona. Apakah Nona tidak mau anaknya terjadi kenapa-kenapa? Sebaiknya siapkan diri Nona untuk pergi ke suatu tempat, dan akan saya serahkan kembali anaknya."


"Saya laporkan kau ke polisi. Jangan coba-coba membodohi saya, saya tahu kau hanya ingin uangkan? Ayo sebutkan nominalnya, nanti saya transfer!!"


"Aku tidak menginginkan itu, Nona"


Semua ucapan-ucapan itu selalu menghantuinya.


Ya Allah. Tunjukkan jalan yang benar untukku. Aku mohon jangan sampai anakku benar di culik oleh laki-laki itu. Aku mohon jangan biarkan mereka mengambil anakku.


Alysa dan kedua adiknya segera bergegas menuju jalan raya. Tiba-tiba, dari arah utara ada seorang laki-laki yang memperhatikan mereka dan bergegas mendekatinya. Alysa yang melihat semua itu, sontak saja langsung lari di ikuti kedua adiknya.


"Ayo lari...Dia penjahat!" teriak Alysa dan berlari sekencang mungkin.


Aku harus nelpon sama Mas Angga.

__ADS_1


Tidak berapa lama, Angga pun mengangkat teleponnya.


"Hallo, sayang. Ada apa?" tanya Angga.


"Hallo, Mas. Mas, Alysa dalam bahaya! Mas kesini!" ucao Alysa tidak begitu jelas karena lari sekencang mungkin mendekati keramaian.


"Ha... Kamu bicara apa? Kamu kenapa? Kok lari-lari?" tanya Angga panik.


TUT... TUT...


"Tolong... Tolong... Ada penjahat...!!" teriak Alysa dan mampu mencuri perhatian semua orang. Semua orang yang ada di taman segera melindungi Alysa dan kedua adiknya.


Astagfirullah. Ya Allah, lindungi hamba dan juga anak hamba.


Alysa mencoba mengatur nafasnya yang tersengal. Kejadian yang begitu memilukan bagi dirinya dan juga orang-orang yang ada du sekitar sana. Laki-laki yang mengejar Alysa segera diringkus dan di bawa ke polisi untuk dilakukan tindakan atas kejahatan.


"Ibu, Bapak, terima kasih atas bantuannya. Kalau tidak ada Ibu dan Bapak, mungkin saya sudah di culik. Hikss..." Alysa menangis di dekapan seorang Ibu yang terus-menerus memeluknya sedari tadi.


"Mbak, jangan panik lagi ya. Saya disini dan juga yang lainnya akan menjaga, Mbak. Kenapa tidak dengan suami Mbak kesininya?" tanya Ibu-ibu.


"Suami saya kerja, Bu. Jadi saya main ke taman sama adik-adik. Tadi itu ada yang nelponin gitu, pakai nomor asing. Dia ceritain kalau anak saya diculik, dan saya panik banget. Saya mengajak kedua adik saya ini untuk bergegas ke sekolah. Dan tiba-tiba saja seorang laki-laki mengejar kami, mungkin dia ingin mencelakai saya," jelas Alysa.


"Lain kali hati-hati ya, Mbak. Soalnya disini kadang rawan kejahatan. Gimana kalau saya anterin ke sekolah anak, Mbak. Ya supaya, hal serupa tidak terjadi lagi."


"Ayo, Bu. Saya takut anak saya kenapa-kenapa."


Kini mereka sudah sampai di sekolah setelah melewati kemacetan di siang hari. Alysa bergegas pergi menuju gerbang yang belum di buka. Alysa segera menanyakannya pada security.


"Pak, Pak. Anak saya yang namanya Edward ada disini kan, Pak? Gak ada yang bawa anak saya kan? Maksudnya sata di culik?" tanya Alysa.


"Semua siswa TK disini tidak ada yang keluar, Mbak. Mbak jangan khawatir, anak Mbak baik-baik saja disini. Sebentar lagi siswa akan segera keluar. Harap tunggu!" jelas security.


"Alhamdulillah. Aman, Bu," ucap Alysa menghela nafasnya dan tersenyum pada Ibu-Ibu itu.


"Alhamdulillah, Mbak. Kalau begitu, saya pulang dulu. Saya juga harus menjemput anak saya di sekolah. Jaga baik-baik, Mbak. Kalau mau kemana-mana, minta ditemani sama suami atau kerabat laki-laki yang lain."


"Iya, Bu. Terima kasih untuk semuanya," Alysa melambaikan tangannya saat mobil melaju.


"Untung saja, Kak. Kalau tidak ada orang disana, kita pasti diculik," ucap Azkia.


"Jangan khawatir lagi ya. Kakak telepon Mas Angga dulu,"


Setelah beberapa menit kemudian, Angga pun datang dan menghampiri Alysa.


"Sayang kenapa? Kenapa tadi teleponnya gak jelas?" tanya Angga dan segera mencium kening Alysa.


"Mas...Ta-tadi ada yang mau culik Edward. Terus ada laki-laki misterius ngejar Alysa. Tadi pasti Alysa telepon lagi lari, jadi gak jelas. Untung Alysa teriak dan dibantu orang-orang," jelas Alysa panik.


"Syukurlah, kamu tidak apa-apa. Terus laki-laki itu gimana? Dia lari?"


"Enggak, Mas. Laki-laki itu dibawa ke polisi untuk dimintai keterangan atas kejahatannya."


"Mas akan mengkoordinasi dengan polisi terkait laki-laki yang akan menyakitimu. Jangan khawatir ya."

__ADS_1


BAB ini Author ngos-ngosan nulisnya. Kayak lagi dikejar-kejar beneran, padahal lagi rebahan😭🤣


Jangan lupa Vote, Like, Comment sebanyak-banyaknya yaā¤


__ADS_2