
Dipagi hari, seisi rumah mewah yang ada dikompleknya itu sudah siap di ruang makan untuk menyambut sarapan pagi. Alysa seperti biasa sudah memasak hidangan yang tertata rapi di meja makan. Makanan yang sebelumnya belum pernah ada di meja itupun, kini makanan itu ada. Alysa memasak semur jengkol, sambal terasi yang sangat menggiurkan seisi ruangan itu, dan juga memasak pecel lele.
Dengan keadaan perut lapar membuatnya ingin segera menyantapnya. Mereka menyantapnya dengan berbincang ria. Alysa tersenyum, karena mertuanya sangat menyukai masakannya. Sebelumnya ia takut jika mereka tidak akan suka dengan masakannya, namun mereka sepertinya tidak mempermasalahkannya.
"Pandai sekali istrimu, Ga!" puji Papa membuat Angga menatap sang istri dengan tersenyum manis.
"Sekarang juga di rumah gak ada pembantu, jadi Alysa yang selalu memasaknya," sahut Angga sembari mengunyah makanannya.
"Sayang, ikan lelenya mau lagi gak?" tanya Alysa pada putranya.
"Heem...Mau yang besal..." teriaknya.
"Biar, Mama suapin ya? Nanti kotor ke pakaiannya," Alysa mengambil sendok dan segera menyuapi putranya.
***
Mobil melaju menuju kediamannya. Angga sedari tadi menggenggam tangan Alysa. Alysa merasa tidak enak badan dan menarik tangannya. Angga yang melihat itu pun segera menarik tangan istrinya kembali. Namun tetap saja, Alysa menariknya lagi hingga mereka pun saling tarik-menarik.
"Pa...!" kesal Alysa menatap tajam.
"Kenapa sih, Ma? Papa kan cuma pegangin tangan doang?" tanya Angga menatap sang istri.
"Mama merasa gak enak badan aja!"
"Kita periksakan aja ke Rumah Sakit, atau Papa hubungi Dokter pribadi?" menawarkan.
"Gak mau. Palingan Mama masuk angin doang!"
"Jadi enggak mau ke Rumah Sakit?" Alysa menggelengkan kepalanya, karena memang dirinya hanya merasa tidak enak badan saja.
***
Hari ini Destia akan pergi ke Caffe itu lagi bersama sahabatnya. Tak lupa membawa map yang berisikan surat perjanjian untuk ayah si bayi. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Destia tampak berbincang-bincang dengan sahabat karibnya.
"Nanti, lo harus ngaku jadi pacar gue ya?" perintah Destia pada Adryan.
"Oke. Tapi uang lancar gak?" tanyanya sembari tertawa.
"Ya 'elah, masalah uang gak usah lo urusin. Tenang aja, nanti uang mah nyusul."
"Kenapa lo bisa hamil segala sih? Lo main sama laki-laki di club malam?" tanya Adryan ingin tahu.
"Gak. Gue ke Caffe waktu itu, terus tiba-tiba si pecundang itu ngedeketin gue dan nawarin gue minum. Karena emang gue juga lagi banyak pikiran, ya udah gue minum juga. Mungkin karena gue udah gak sadar, jadi si pecundang itu merk**a gue Dry, gue gak terimalah karena gue juga lagi hamil anaknya. Gue mau buat perhitungan padanya, enak aja ngehamilin gue tanpa ngasih apa-apa!" jelas Destia.
"Ya, lo juga salah sebenarnya!"
"Ya, gue juga emang salah. Tapi gue harus gimana lagi? Sedangkan gue juga lagi hamil, kalau Mama gue dan Mamanya Mas Angga tahu, ancur deh idup gue. Mau ditaruh dimana muka gue?"
Adryan adalah sahabat karib Destia. Dia yang selalu memberi support padanya. Mungkin bisa di bilang, dia tersegalanya bagi Destia.
__ADS_1
Sampai di Caffe, Destia turun dengan di ikuti Adryan di belakangnya. Destia menatap sinis pada Caffe itu.
"Udah siap, lo?" tanya Destia tersenyum sinis.
"Siap!"
Mereka masuk ke dalam Caffe, dan mencari keberadaan ayah si bayi. Destia sedari tadi memegangi perutnya dan ingin mual, namun ia menahannya. Langkah mereka terhenti saat Destia melihat sinis ke arah mangsanya. David sudah ada disana seperti biasa.
"Itu targetnya! (menunjuk laki-laki yang sedang makan siang)"
"Seperti dia seorang pengusaha?"
"Gue gak tahu soal itu. Ayo kita kesana!"
David yang sedang menikmati makan siang pun merasa terkejut dengan kedatangan wanita yang sudah diperk**anya dan juga ia melihat seorang laki-laki di sebelah wanita itu.
Ngapain lagi si wanita bodoh ini? Oh, dia mau lagi ya? Masih belum puaskah, Nona?
Destia semakin mendekat dan duduk di depan David. Ia menyodorkan map padanya dan membuat David mengerutkan dahinya.
"Apa ini?" tanya David.
Destia tak menjawab membuat David segera mengambil map itu dan membacanya dengan teliti.
...🌷🌷🌷SURAT PERJANJIAN🌷🌷🌷...
...------------------------------------------...
PIHAK 1
Nama : Destia Carissa
Pekerjaan : Model
Mengadakan perdamaian dengan:
PIHAK 2
Nama : David
Pekerjaan : -
Dalam rangka menyelesaikan permasalahan antara PIHAK 1 dan PIHAK 2. PIHAK 1 sepakat untuk menyelesaikannya secara kekeluargaan. Disebutkan bahwa PIHAK 2 telah melakukan hal yang tidak mengenakkan kepada PIHAK 1. Bahwa PIHAK 1, kini sedang mengandung anak dari PIHAK 2.
PIHAK 1 menuntut uang denda senilai Rp. 1.000.000.000.000.000,- (satu triliun) kepada PIHAK 2.
Jika PIHAK 2 tidak membayar uang yang telah di sebutkan, maka PIHAK 1 akan menuntut PIHAK 2 ke ranah hukum.
PIHAK 1 tidak akan pernah meminta PIHAK 2 untuk menikahinya. Dan jika PIHAK 2 bisa membayar uang yang sudah di sebutkan, maka perjanjian ini sudah di pastikan selesai secara kekeluargaan.
__ADS_1
Demikian surat perjanjian ini di buat. Atas kerjasamanya, Saya ucapkan terima kasih.
Jakarta, 25 Agustus 2020
PIHAK 1
PIHAK 2
...------------------------------------------...
David terus menatap surat perjanjian itu. Terlihat ragu di wajahnya.
"Kau hamil bukan anak saya! Kita hanya melakukan satu kali waktu itu!" ucap David merasa tidak percaya dengan Destia yang mengaku hamil anaknya.
"Heh! Lo sendiri yang buat, dan lo juga yang mengelak! Jika tidak ingin menikah dengan gue, setidaknya lo beri gue uang buat gugurin anak lo!" ancam Destia dengan tatapan tajam.
"Saya gak percaya! Bisa saja kau main dengan laki-laki ini, terus di hari yang sama kita melakukannya! David merasa sedang di kelabui Destia.
"Stop! Saya calon suaminya. Kau sebagai laki-laki harus bertanggungjawab tentang apa yang sudah kau perbuat pada calon istri saya! Kau harus membayar uang dengan senilai satu triliun, atau kau ingin membungkam dipenjara!" ucap Adryan.
"Haha...Tidak semudah itu! Mungkin dia hamil itu anak hasil gelapmu dengannya! Kau kan calon suaminya?" tanya David.
Destia yang sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi, ia langsung menggebrak meja dengan keras.
BRAK
Semua pengunjung yang sedang menikmati makan pun merasa terganggu dan melihat ke arah mereka.
"Bayar sekarang juga! Kita selesaikan secara kekeluargaan!" ucap Destia dengan nada tinggi.
"Kalau saya tidak ingin membayar dan ingin menikahinya bagaimana?" tanya David tersenyum misterius.
"Lo harus bayar! Gue udah punya calon suami!"
"Tapi saya hanya ingin menikahimu, Nona Destia!" tersenyum misterius.
"Ehh, lo. Jangan ngambil punya gue!" ucap Adryan menyolot.
"Kan dia sedang hamil anak saya? Kenapa saya tidak boleh menikahinya? Apa itu salah? Katanya tadi harus bertanggungjawab! Dasar gila!" ucap David penuh penekanan dan memalingkan wajahnya.
Permainan baru.
Destia dan Adryan tidak menjawab. Pertanyaan dari David ada benarnya juga. Lantaran dia ayah si bayi dan seharusnya dia yang bertanggungjawab akan hal ini. Tapi Destia kekeh tidak akan pernah menikah dengannya. Ia tidak akan meninggalkan Angga begitu saja.
"Baiklah. Kalau Nona Destia tidak ingin menikah dengan saya." mengeluarkan kertas kecil dan menuliskan uang yang sudah di sebutkan dalam surat perjanjian. "Ambillah, dan bersenang-senang dengannya! Jangan kau sakiti anak saya, kalau kau tidak ingin anaknya, setidaknya setelah kau melahirkan nanti saya akan membawanya!" ucap David dengan nada tidak suka dan segera pergi merasa selera makannya sudah hilang.
Masalah udah selesai. Itu artinya gue harus rencanain rencana yang selanjutnya. Haha...
***
__ADS_1
Jangan lupa Vote, Like, Comment sebanyak-banyaknya 🤧❤
Love you semuanya hehe><