
Angga menidurkan Alysa diranjang, dan ia segera berganti pakaian memakai kaos biasa. Setelah itu ia mendekati Alysa dan berkata. "Kamu tiduran dulu ya. Mas mau bikinin susu, biar kamu sehat lagi," ucap Angga dan Alysa mengangguknya.
Angga berfikir dengan cara meminum susu untuk kesuburan kehamilan, mungkin saja Alysa akan cepat-cepat hamil. Angga segera pergi ke dapur. Disana ada Siska yang selalu memberikan perhatian ketika Angga sedang berada didekatnya. Angga menghiraukan dan mengacuhkannya.
"Susu buat siapa om?" tanya Siska.
"Untuk istri saya!" jawab Angga datar.
Setelah itu, ia segera kembali ke kamar dan melihat Alysa sudah tertidur. Angga membangunkannya lagi dan segera memberikan susunya.
"Ayo diminum dulu susunya," Angga memberikan segelas susu pada Alysa.
Alysa pun bangun dibantu oleh Angga. "Iya Mas," Alysa langsung meneguk susu buatan suaminya. Alysa merasa ini susu terenak yang pernah ia rasakan.
Angga beranjak dari tepi ranjang dan segera membuka almari untuk mengambil sebuah kotak yang berisi surat-surat penting. Namun ia merasa ada yang mengganjal dengan kotak kecil yang disimpan dekat pakaiannya. Ia mengambilnya dan mencoba menanyakannya pada Alysa.
"Ini obat apa sayang?" tanya Angga mengernyitkan dahinya.
Alysa yang tadinya tidur, ia membuka matanya kembali dan ia begitu terkejut ketika Angga menemukan obat pencegah kehamilannya yang diberikan Mama. Alysa mencoba meraihnya, namun Angga tidak memberikannya dan meninggikannya. Angga semakin penasaran dan menanyakannya kembali.
"Apa ini?" tanyanya.
"E-ee anu Mas. Anu...Itu obat dari Mama," ucap Alysa ragu membuat Angga melototkan matanya.
"Mas tanya, ini obat apa?" tanya Angga dengan nada tinggi.
"Obat pencegah ha-hamil Mas," ucap Alysa, sontak saja Angga semakin murka dan tatapannya begitu tajam. Wajah aslinya terlihat kembali.
"Apa kau sudah meminumnya? Katakan!" bentak Angga.
"Ti-tidak Mas. Alysa tidak meminumnya!" jawab Alysa ketakutan.
"Buang ini. Kau harus hamil Alysa!" ucap Angga lalu pergi keluar dan menutup pintunya dengan keras membuat Edward yang sedang tidur pun terbangun dan menangis.
Satu Minggu kemudian, Hari ini Angga tidak masuk ke perusahaannya dan sedang duduk di kursi di ruangan kerjanya. Alysa datang dengan membawa secangkir kopi dan setoples kue kering kesukaan Angga. Alysa duduk dan menatap Angga yang sedang melamun.
"Mas kenapa?" tanya Alysa.
"Tidak apa-apa. Oh iya, Mas lupa kalau kita belum berbulan madu sayang," ucap Angga dan beranjak dari duduknya untuk mendekati Alysa.
"Bulan madu kemana Mas?" tanya Alysa saat Angga sudah berada didepannya.
__ADS_1
"Kamu maunya kemana? Dalam negeri apa luar negeri?" tanya Angga.
"Hmm.. Terserah Mas aja deh," ucap Alysa tersenyum.
"Kita ke Raja Ampat aja yuk? Sekalian Mas mau lihat perkembangan perusahaan disana," ucap Angga.
"Iya Mas. Tapikan Edward sekolah," ucap Alysa.
"Kita izin saja untuk beberapa hari. Kita harus menikmati masa-masa pernikahan kita. Dan juga..." ucap Angga terhenti lalu memegangi perut Alysa yang masih datar.
"Ihh Mas geli hehe," kekeh Alysa.
"Mungkin adik kecil sudah ada disini sayang," ucap Angga.
"Ya belumlah Mas. Kita kan nikah baru seminggu," jelas Alysa.
"Tapikan kita tiap hari itunya, masa belum ada juga haha,".
Alysa hanya tersenyum melihat Angga yang begitu menginnginkan ia segera hamil. Ia harus mewujudkan keinginan suaminya, agar rumah tangganya lengkap dengan kehadiran si buah hati.
Selama seminggu ini Alysa selalu ikut ke kantor bersama Angga. Karena ia memimpin perusahaan dibidang perhotelan. Selama seminggu itu ia disibukkan dengan beberapa berkas yang menumpuk dan membuat Angga juga ikut alih untuk membantunya. Alysa memiliki cara bicara yang sopan dan penampilan bagus, hingga membuat semua kliennya sangat percaya padanya. Mulai dari klien dalam negeri, dan juga luar negeri. Semuanya begitu menghormati Alysa. Angga sangat bangga memiliki istri seperti Alysa yang begitu cerdas dalam pekerjaannya, menyanyangi dirinya dan menjaga anaknya dengan sangat teliti. Walaupun ia begitu sibuk dikantor, tapi ia tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang istri dan seorang Ibu.
RAJA AMPAT
Edward asyik membuat sesuatu dengan pasir pantai. Alysa mendekatinya dan membantu mendirikannya. Angga pergi entah kemana dan tidak berapa lama ia kembali dengan membawa dua buah ice cream dan memberikannya pada Alysa dan juga Edward. Alysa begitu senang dan menyuapkan ice cream ke dalam mulutnya. Alysa menyuapi Edward dan juga Angga yang sedari tadi terus-menerus mendekatinya. Hingga waktu berganti, mereka segera kembali ke hotel.
Hari yang cukup indah. Alysa bisa memandangi lautan dari malam hari dengan angin sepoi-sepoi yang menusuk ke dalam tubuh kecilnya. Angga menghampiri Alysa dengan menggendong Edward dipangkuannya. Mereka begitu terlihat bahagia dan bercengkrama bersama. Tak lupa, Alysa memotret kenangan yang tidak akan pernah ia lupakan bersama keluarga kecilnya.
Hari semakin larut, Alysa sudah mulai menguap dan membuat Angga segera menyuruhnya masuk. "Ayo masuk. Kita tidur, " ucap Angga.
Alysa mengangguknya dan segera masuk. Ia mulai merebahkan tubuhnya diranjang, Angga mencoba menidurkan Edward yang kini sudah mulai tertidur. Angga menatap Alysa dengan tersenyum misterius, membuat Alysa menyibikkan bibirnya dan ia tahu maksudnya. Setelah Edward tidur, Angga mendekati Alysa dan memeluknya dari belakang. Angga mulai m****** ******* Alysa dengan lembut, Angga semakin m******nya dan membalikkan tubuh Alysa yang membelakanginya. Alysa tampak diam dan pasrah saat Angga mulai melucuti pakaiannya.
Perlahan Angga memasukkan benda sakti miliknya dan suara-suara aneh mulai terdengar dari kedua orang yang sedang memadu cinta. Angga ******* bibir Alysa dan Alysa pun menerimanya karena ini sudah tidak asing lagi baginya.
***
Pagi hari, Alysa bangun dan mendapati kedua laki-laki yang ia sayangi masih tertidur didekatnya. Alysa segera beranjak dari ranjang, dan segera pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Setelah itu, ia pergi ke dapur untuk masak. Ia memasak nasi goreng dan juga telur ceplok. Setelah semuanya terhidang di meja makan, Alysa kembali ke kamar untuk melaksanakan ritual mandi.
Alysa segera pergi ke kamar mandi setelah mengambil handuk dan juga pembersih wajah. Ia menghidupkan shower dan segera mandi.
DERTTT... DERTTT....
__ADS_1
Terdengar suara telepon berdering, membuat Alysa menghentikan kegiatannya dan mematikan airnya. Ia berteriak agar Angga bangun dan mengecek ponselnya.
"Mas? Teleponnya berdering," teriak Alysa yang berada didalam kamar mandi.
Mendengar suara teriakan Alysa membuat Angga terbangun. Ia mulai meraba-raba keberadaan ponsel dirinya yang sejak dari tadi berdering dalam keadaan matanya masih tertutup. Setelah mendapatkan ponsel itu, ia segera mematikannya dan melanjutkan tidurnya kembali.
Karena tidak ada jawaban dari Angga sedikitpun, Alysa pun menyudahi ritual mandinya dan segera pergi ke kamar. "Ya ampun tidur terus. Kan Alysa udah bilang angkat teleponnya," Alysa mengomel-ngomel Angga yang masih tertidur dengan pulasnya.
"Mas bangun. Udah siang lho, ini ponselnya berdering," ucap Alysa.
Angga mencoba membuka matanya perlahan-lahan, namun itu sangat susah. "Mas bangun," lanjutnya.
Angga menggeliatkan tangannya keatas dan membuka matanya. Tampak istrinya hanya memakai handuk saja membuatnya tersenyum jahil. Mungkin dia menginginkannya lagi? Fikirnya.
"Selamat pagi istriku tersayang dan tercinta," ucap Angga tersenyum membuat Alysa menatapnya penuh tanda tanya.
"Pagi juga Mas," balas Alysa dan segera beranjak untuk berpakaian.
"Kok jutek banget sih," ucap Angga dengan memelas.
"Itu tadi ada yang nelpon Mas. Coba lihat," suruh Alysa dan segera mengambil pakaiannya dikoper.
Angga segera meraih ponselnya dan membukanya. Setelah itu ia menelponnya kembali, karena yang menelpon adalah seorang CEO yang akan bergabung ke perusahaannya.
"Hallo Pak Ryan. Maaf tadi ponselnya dipakai anak saya," ucap Angga berbohong, padahal oleh dirinya sendiri yang mematikan teleponnya.
"Iya Pak Angga tidak apa-apa. Nanti kita ketemu di perusahaan saya ya Pak, untuk berkas-berkas yang harus ditandatangani bisa ke sekretaris saya," ucap Ryan dari seberang telepon.
Ryan adalah seorang CEO muda dan berbakat. Ia menekuni pekerjaannya sebagai CEO saat ia berusia 23 tahun, dan sekarang ia berusia 27 tahun. Wajahnya sangat tampan rupawan dan pastinya para wanita akan tergila-gila olehnya. Ia merupakan teman Angga dan sekaligus adik kelasnya waktu ia masih duduk dibangku sekolah menengah atas. Usianya terpaut 2 tahun dari Angga. Ryan merintis pekerjaannya di salah satu perusahaan yang berada di Raja Ampat.
***
Setelah menelpon, Angga segera pergi ke kamar mandi dan ia harus segera menemui teman bisnisnya itu. Alysa berganti pakaian dan segera membangunkan Edward. Edward tidak bangun-bangun sama seperti Papanya yang sulit untuk dibangunkan, membuat Alysa mencubit pipi gembulnya.
"Ayo bangun anak Mama yang paling tampan, paling pintar, paling gemes kayak Papanya," ucap Alysa.
Edward membuka matanya dan menatap Mamanya, "Mama, bialkan Edwald tidul lagi," balas Edward dengan suara cemprengnya.
"Ayo bangun sayang. Nanti kita makan ice cream lagi sama Papa," ucap Alysa agar Edward bangun dan ia harus memandikannya.
Hai-hai readers setia jangan lupa untuk mendukung author, karena satu like dari kakak-kakak membuat author semangat nulisnya. Tinggalkan jejak ya dan kasih rate 5 bintangnya😄
__ADS_1
Salam hangat❤