
Keesokan paginya, Alysa bangun dan segera melakukan ritual mandi. Setelah mandi, ia segera sholat subuh dan membereskan tempat tidurnya. Seperti biasa, morning sickness masih sering terjadi di pagi hari. Namun tidak sesering seperti saat ia hamil pertama kali waktu dulu. Kali ini ia tidak begitu menginginkan sesuatu atau ngidam. Entah mengapa, mungkin bayinya tidak ingin membuatnya kesulitan?
Setelah itu, Alysa pergi ke dapur untuk memasak. Ia akan membantu beberapa pekerjaan kecil. Namun, Ibu melarang keras. Ia tidak ingin Alysa mengalami keguguran di usia kehamilan mudanya.
"Jangan, Nak. Biar Ibu aja yang masak. Kamu duduk aja."
"Alysa gak enak, Bu. Lagian cuma masak aja. Gak apa-apa ya, Bu, bolehkan?" mau tidak mau, Ibu mengiyakan keinginan Alysa. Orang hamil tidak mau disentak apalagi keinginannya itu tidak dipenuhi. "Makasih ya, Bu. Alysa dan dua jagoan sangat sayang pada Ibu." Alysa mencium pipi Ibunya.
"Sehat-sehat ya cucu Nenek yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng." Ibu mengusap perut datar Alysa.
"Hehe, emangnya Ibu udah tahu kembarnya laki-laki sama perempuan?" tanya Alysa tersenyum manis.
"Ya siapa tau kembarnya beda-beda. Kalaupun perempuan, semoga cantik kayak Mamanya, jadi anak yang sholehah. Kalo laki-laki, semoga ganteng, sholeh, dan bisa menjadi laki-laki yang baik dan memuliakan derajat perempuannya kelak."
"Aamiin...Kalo laki, gantengnya kayak siapa, Bu?" tanya Alysa seraya menahan tawanya ketika melihat ekspresi wajah Ibu yang seketika langsung berubah.
"Ya kayak, Bapaknya to. Bapaknya kan ganteng." ucap Ibu sedikit tidak suka dengan pertanyaan Alysa. Ia segera melanjutkan mencuci piring. Alysa yang mengerti itu, ia langsung mengalihkan pandangannya dan segera memasak.
Ibu kayaknya masih marah sama, Mas Angga.
Setelah sarapan bersama, Alysa segera pamit ke kantor. Ia mencium tangan Ayah dan Ibu secara bersamaan. "Assalamu'alaikum, Bu, Yah. Alysa pergi dulu ya?"
"Waalaikumsalam. Iya Nak, hati-hati ya? Apa sebaiknya, kamu periksa kehamilan dulu?"
"Besok aja, Bu."
"Hari ini aja sekalian. Bicara dulu sama Bos-mu, kalo kamu mau ke Dokter dulu."
"Tapi, Bu..."
"Udah, periksain aja sekarang. Sekalian ke kantor kan?"
"Ya udah, Alysa mampir dulu ke Dokter." Alysa segera pergi setelah mendapat anggukan dari orang tuanya. Hari ini ia tidak membawa motor, dan lebih memilih menggunakan taxi untuk pulang pergi. Motor yang ia punya, kini dipakai oleh Azkia dan Zaki ke sekolah. Karena jarak dari rumah ke sekolah lumayan jauh dan Alysa harus merelakan motor maticnya.
***
Angga pagi ini sudah bersiap dengan kemeja dan tas kerjanya. Sebelum pergi ke kantor, sesuai janjinya ia akan memeriksakan kondisi tubuhnya yang cukup aneh menurutnya. Kemarin saja penciumannya mulai terganggu. Apalagi ia harus membuang jauh-jauh bunga lavender yang selalu ada di kamarnya itu.
Angga melajukan mobilnya. Kali ini Edward tidak ikut dengannya, lantaran Papanya sendiri yang akan mengantarkan cucunya ke sekolah. Angga mengambil ponselnya dan hendak menelpon Willy. "Will, pagi ini saya ada urusan sebentar. Saya masuk agak telat."
"Baik, Pak. Oh iya, Pak nanti ada klien dari luar Kota."
"Perusahaan mana?"
"Perusahaan yang di pimpin, Pak Ardi. Yang waktu itu diwakilkan oleh Asistennya sendiri."
"Oh, ya sudah. Untuk klien, nanti saya fikirkan dulu."
Angga menutup teleponnya dan melajukan kembali mobilnya menuju salah satu Rumah Sakit. Tidak berapa lama, mobil terhenti. Angga keluar dan berjalan masuk menuju ruang administrasi untuk mendapatkan kartu antrian.
"Dengan, Bapak siapa?" tanya seorang petugas administrasi sembari tersenyum menatap lekat pada Angga. Angga menunjukkan raut wajah datarnya, tak ada senyum apapun yang ia tunjukkan.
"Anggara Pradifta," ucapnya dan mengalihkan pandangannya karena merasa jijik. Tak sengaja ia melihat ke arah kirinya, pada sosok wanita yang sedang duduk antri dengan memegangi perut datarnya dan tangannya menopang dagu. Wajahnya tidak terlihat dengan jelas, karena tertutupi oleh kerudungnya. Angga semakin memperhatikannya, dan ada sesuatu yang aneh menurutnya. Anehnya, wanita itu seperti tidak asing menurutnya.
Siapa wanita itu? Sepertinya, gak asing dengan wajahnya.
Angga hendak melangkah untuk mendekat dengan wanita itu, tapi petugas administrasi segera membuyarkan semuanya.
"Usianya, Pak?" tanyanya.
Angga menatap kembali petugas itu. "29 tahun."
__ADS_1
"Keluhan yang Bapak alami saat ini?"
"Gak enak badan. Penciuman saya ada yang bermasalah."
"Ini kartu antriannya, Pak. Bapak boleh duduk dulu dan menunggu Dokter memanggil." Angga mengangguk setuju, dan saat ia akan menoleh pada sosok wanita yang sedang duduk di area sana, wanita itu tidak ada. Kemana dia?
Kemana wanita yang tadi ya? Masuk ke ruangan Dokter yang mana? Apa, ke ruang kandungan? Ya, sepertinya dia masuk ke ruang kandung. Ah sudahlah, tak perlu penasaran dengan wanita itu.
Angga melangkahkan kakinya dan duduk di kursi yang tadi di duduki oleh wanita itu.
Sementara itu, Alysa di panggil oleh Dokter. Ia masuk dan duduk berhadapan. Setelah lama berbincang, ia segera diperiksa. Dokter melakukan USG untuk melihat perkembangan janin yang ada di perut Alysa.
"Alhamdulillah ya, Bu. Janinnya sehat, dan Ibu bisa lihat sendiri. Bayinya sangat aktif, tidak ada sesuatu yang terjadi."
Alysa menoleh dan pandangannya pada dua bayi kecil yang ada di layar itu.
Jagoannya Mama. Sehat-sehat ya sayang.
Setelah menunggu beberapa saat, nomor yang dipegang Angga pun di panggil. Angga masuk ke ruangan yang bersebelahan dengan ruang kandungan. Alysa keluar dari ruang kandungan dan segera pergi menuju kantor. Tidak ada waktu untuk beristirahat untuk saat ini. Jika ia tidak bekerja, ia tidak bisa mengumpulkan pundi-pundi uang untuk bersalinnya nanti.
Sesampainya dikantor, Alysa masuk ke area lobby untuk melakukan check-in. Setelah selesai, ia segera pergi menuju lift. Dari arah belakang, Deffa berlari untuk segera menyusul langkah Alysa yang sudah mendahuluinya.
"Alysa?" teriak Deffa dengan lantang. Semua karyawan dan resepsionis menoleh ke arah mereka.
"Kenapa, Pak Deffa makin hari makin deket sama Sekretaris itu sih?" tanya salah satu karyawan yang sedang berjalan di belakang Deffa.
"Gak tau tuh, mungkin karena si Alysa Sekretaris baru, jadi ya gitu."
"Tapikan, gak harus Sekretaris aja yang dia deketin. Gue juga mau."
"Dih? Saya juga mau lah, gak bakalan nolak."
Alysa menoleh setelah mendengar seseorang memanggil namanya. "Iya, Pak?" tanya Alysa.
"Kan tadi Alysa udah bilang Pak, mau ke Rumah Sakit," jawab Alysa sedikit kesal.
"Maksud saya tuh, kamu mau ngapain ke Rumah Sakit? Kamu sakitkah? Atau keluargamu?"
Sebaiknya, aku gak usah banyak cerita soal kehamilanku sama, Pak Deffa. Lagian, dia gak perlu tau aku mau ngapain ke Rumah Sakit.
"Enggak apa-apa, Pak. Cuma di periksa tensi darah aja. Soalnya kemarin asam lambung saya naik, takutnya ngaruh dari tensi darah," jawab Alysa berbohong.
"Kenapa gak bilang aja, mungkin tadi saya jemput."
"Gak usah, Pak. Deket kok Rumah Sakitnya."
"Nanti kamu harus ikut saya nyurvei ke daerah pelosok. Buat bagiin donasi dari perusahaan."
"Berdua aja, Pak?" tanya Alysa.
"Iya dong, berdua. Emangnya kamu mau sama siapa aja? Mobil saya gak muat untuk banyak orang, cuma muat berdua sama kamu."
Mulai resenya.
"Tapi saya gak enak badan, Pak."
"Kamu boleh tidur di mobil sekalian istirahat."
TING
Setelah sampai di lantai teratas, mereka segera pergi ke ruangannya masing-masing. Alysa duduk di kursi ruangannya dan mengeluarkan foto USG bayinya. Ia tersenyum kecil dan menciumi foto itu. Tidak berapa lama, Devi masuk dan duduk di sebelah Alysa.
__ADS_1
"Foto apaan tuh?" tanya Devi membuat Alysa menoleh karena terkejut.
"Hmm, aku hamil, Mbak."
"Yang bener? Udah berapa bulan?" tanya Devi tidak percaya, lalu duduk di sebelah Alysa.
"Iya, Mbak. Baru dua minggu. Barusan juga udah di periksa ke Dokter, dan ini fotonya." Alysa menyerahkan foto USG pada Devi. Devi mengambilnya dan langsung melihat dengan serius.
"Kamu hamil kembar, Ca?" tanya Devi tersenyum. Ia tidak percaya, Alysa akan mendapat dua jagoan sekaligus.
"Iya, Mbak. Aku juga gak nyangka bakalan hamil lagi. Aku sangat bersyukur. Mungkin ini hadiah yang Allah berikan untukku." Alysa menatap lekat pada Devi. Devi langsung memeluknya dan tak terasa air matanya berderai.
"Selamat ya, Ca. Mbak juga mau, tapi ya nunggu waktu dari Allah aja. Nanti kalo kamu dah lahiran, Mbak nginep dirumah kamu buat jagain bayinya, hahah..."
"Boleh, Mbak. Mau nginep lama juga gak apa-apa, biar sekalian ada yang ngurus haha..."
"Hahah...Nanti kamu repot ngurusinnya. Udah ahh, kita lanjut kerja dulu. Tadi pas kamu belum kesini, Pak Deffa ngajakin kamu survei ke daerah pelosok gitu buat acara katanya."
"Acara apa, Mbak?" tanya Alysa pura-pura tidak mengetahui maksud yang di ucapkan Devi, padahal jelas-jelas ia sudah mengetahuinya dari Deffa sendiri.
"Acara pemberian donasi ke pelosok Desa. Kan perusahaan ini udah dibilang sukses."
"Yaudah, gimana nanti aja."
Akhirnya mereka pun segera bekerja kembali.
Sementara itu, Angga duduk di hadapan Dokter. Dokter tampak bingung dengan keluhan yang di derita Angga. Masalahnya, Angga tidak ada keluhan apapun.
"Jadi, gimana Dok? Saya itu sakit apa?" tanya Angga tidak sabar untuk mendengar apa yang diucapkan oleh Dokter.
"Sebenarnya, Bapak tidak sakit apapun."
"Masa sih, Dok? Saya aja yang ngalaminnya kek gini. Kalo nyium bunga lavender kayak pengen muntah gitu. Bau banget. Apa hidung saya yang bener-bener bermasalah?"
"Tidak ada apa-apa. Tapi sepertinya, Bapak sedang mengalami sesuatu yang sering dirasakan oleh wanita."
"Maksudnya gimana, Dok?" tanya Angga semakin penasaran dengan Dokter yang bertele-tele.
"Jadi, mungkin Bapak sedang mengalami ngidam. Maksudnya itu, mungkin istri Bapak lagi hamil muda tapi Bapak yang ngalamin ngidamnya dan merasakan sesuatu seperti wanita hamil pada umumnya. Wanita hamil ada juga yang gak ngalamin ngidam, contohnya ya seperti yang sedang Bapak rasakan. Kayaknya, Bapak sedang mengalami kehamilan simpatik. Coba Istrinya diperiksa Pak, biar tau kebenarannya," jelas Dokter membuat Angga semakin kebingungan.
Maksudnya apa sih? Saya ngidam? Masa iya laki ngidam, gak bener nih Dokter. Emangnya siapa yang lagi hamil? Atau saya yang lagi hamil? Angga bergidik ngeri memikirkan hal itu.
"Tapi, masa iya saya hamil Dok? Gak mungkin kan? Aneh, masa laki hamil."
"Yang hamil itu bukan, Bapaknya. Mungkin Istri Bapak lagi hamil, jadi yang ngalamin morning sickness atau ngidamnya itu Bapak. Istri Bapak mungkin lagi hamil."
Istri yang mana maksudnya? Istri saya gak ada, ilang. Saya juga gak pernah melakukan hal begituan dengan perempuan lain.
Angga dibuat kebingungan dengan ucapan Dokter. Ia di diagnosis sedang mengalami kehamilan simpatik dari Istrinya. Tapi, itu tidak mungkin.
Setelah berbincang-bincang dengan Dokter. Angga memutuskan untuk segera pergi menuju kantor.
Jadi pertanyaannya, siapa yang hamil? Kenapa saya yang harus ngalamin ngidamnya.
Tiba-tiba, perutnya seperti ingin memuntahkan sesuatu. Angga menepikan mobilnya di jalan. Ia keluar dan memuntahkan isi perutnya. Setelah selesai, ia segera masuk kembali ke mobil dan mengambil tisu. Bener-bener ada yang aneh dengan semua ini.
Angga melajukan kembali mobilnya menuju kantor. Diperjalanan, ia sama sekali tidak fokus dengan yang sedang di alaminya saat ini. Fikirannya berkecamuk, ada sesuatu yang harus ia cari.
***
Jangan lupa untuk dukung terus Author ya. Like, comment, and tipnya❤
__ADS_1
Selamat membaca🤗