
Alysa dan Willy memasuki mobil dan mobilpun segera melaju dengan kecepatan sedang. Willy sempat mencuri pandang Alysa, karena ia bisa melihat wajahnya cantiknya kembali. Willy selalu mengingat Alysa ketika ia sedang merindukannya. Ia menyesal karena dulu tak pernah mengucapkan sesuatu padanya.
*Flashback On*
Willy mendapat telepon dari Angga untuk membawakan berkas-berkas yang harus Angga tandatangani. Hari itu Willy benar-benar sedang sibuk dan dengan terpaksa ia harus segera pergi ke ruangan Bos-nya. Willy berjalan cukup jauh untuk sampai kesana. Setelah tiba, ia segera mengetuk pintu dan si Bos pun menyuruhnya segera masuk.
Willy masuk dan betapa terkejutnya ia melihat wanita berpakaian cleaning service sedang bermain dengan anak Bos-nya? Siapa wanita cantik itu? Kenapa dia begitu akrab dengan Edward?
Wanita melihat kedatangan Willy dan tersenyum ramah menampakkan gigi putihnya. Willy segera mendekat, tatapannya masih pada wanita yang sedang bercengkrama ria dengan anak kecil yang berada di depannya. Willy segera menyerahkan berkas-berkas itu paas Angga dan segera menanyakannya.
Mungkin dia pegawai cleaning service baru.
"Ini pak berkas-berkasnya. Nanti klien dari perusahaan X akan kesini. Ehh pak wanita itu siapa? kok akrab banget dengan Edward. Sepertinya, dia pekerja cleaning services baru disini," tanya Willy penasaran.
Ya, dari pakaiannya saja sudah kutebak. Kenapa aku terus saja ingin memandangnya?
"Oke. Nanti kabari saja!" ucap Angga sembari membuka berkas-berkas yang diberikan oleh Willy. "Saya juga tidak tahu siapa wanita itu. Biarkan saja, asalkan Edward diam enggak lari-lari dan membuat kegaduhan," lanjutnya.
"Ehem... sepertinya Edward mau dapat Mama baru lagi nih haha" Willy mengejek Angga yang tampak sedang menandatangani berkas-berkas.
"Hey kalau bicara jangan asal-asalan. Masa iya aku nikahi dia menatap ke arah wanita yang sedang main dengan anaknya)" balas Angga tanpa melirik Willy yang berada di depannya.
"Tapi bapak cocok kok sama wanita itu. Lagian dia juga cantik banget kan?"
"Ah sudah-sudah sana pergi. Jangan mengacaukan kerjaanku. Will pesankan makanan ke ruanganku, tiga porsi" Angga berusaha mendorong tubuh Willy untuk segera keluar dari ruangannya.
Halah...Sekarang gak mau, nanti juga di embat Pak.
"Baiklah. Ingat pak, nanti bapak bakalan menyukainya. Selamat bersenang-senang dengan calon Mama baru Edward," Willy segera pergi dan meninggalkan Angga yang tampak melamun sembari melihat anak dan wanita yang sedang bersamanya.
Willy masih saja memikirkan wanita itu. Siapa namanya? Kenapa dia mau bekerja seperti ini? Apa dia dari desa? Sepertinya begitu? fikirnya.
Cantik tapi sayang, aku gak kenal dengannya. Nanti saja aku tanyain namanya kalau sudah keluar dari ruangan Pak Angga.
Willy segera pergi menuju kantin yang berada dilantai dasar gedung itu.
"Bi, buatkan 2 porsi sop buntut dan 1 porsi makanan ringan untuk anaknya Pak Bos," perintah Willy.
Setelah itu ia kembali lagi keuangannya untuk melanjutkan pekerjaan yang kini sudah tertinggal beberapa menit yang lalu. Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu datang juga, ini saatnya pekerja cleaning service bekerja setelah para karyawan sudah pulang. Willy melihat wanita itu sedang membersihkan area lobby. Willy memperhatikannya dari kejauhan dan ia segera melangkahkan kakinya menuju pegawai cleaning service itu.
"Ehem..." Willy berdehem membuat wanita itu segera membalikkan tubuh sembari tersenyum.
Gila, cantik banget nih cewek.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanyanya.
"Iya, tolong buat kopi ya," ucap Willy.
"Gulanya berapa sendok, Pak?"
"Terserah kamu deh," ucap Willy tersenyum.
Tidak berapa lama, wanita itu membawakan secangkir kopi hitam dan memberikannya pada Willy. Willy menyeruputnya dan berusaha mengajak wanita itu berbicara dengannya. Hingga akhirnya ia tahu namanya.
Oh, namanya Alysa. Mau dipepet, tapi udah aku jodohin sama Pak Angga.
*Flashback Off*
__ADS_1
Diperjalanan tidak ada suara apapun. Alysa memilih untuk menatap jalanan dibalik jendela mobil. William sesekali memperhatikan Alysa dan fokus kembali melajukan mobilnya. Tiba-tiba Alysa melihat penjual kaki lima dan membuatnya ingin sekali memakan itu.
"Pak-Pak, berhenti!" pinta Alysa dengan menggoyangkan tangan Willy.
"Mau apa?" tanya Willy.
"Itu (menunjuk ke arah penjual kaki lima yang berada di seberang jalan) mau beli itu!"
"Ya sudah, saya belikan Bu. Ibu tunggu disini ya," ucap Willy segera membuka safety belt-nya.
"Alysa saja," menolak.
"Panas, Bu. Disini aja ya?"
"Ya udah. Yang pedas ya, Pak Will." ucap Alysa tersenyum dan dibalas senyuman kembali oleh Willy.
Tidak berapa lama, Willy segera kembali dengan membawa dua kantong plastik. Ia memberikannya pada Alysa membuat Alysa antusias.
"Wahhh menggiurkan. Bapak mau?" tanya Alysa tanpa menatap Willy yang sedang memperhatikannya.
"Enggak, Bu. Mau di makan sekarang?"
"Iya, ini kayaknya enak banget."
"Ya sudah. Saya jalankan lagi mobilnya dengan kecepatan sedang aja!"
Mobilpun segera melaju kembali. Alysa segera menyantapnya. Tidak berapa lama, mereka pun sampai di sekolah Edward. Alysa yang masih menyantap makanannya pun segera keluar untuk menjemput anaknya yang sedang duduk sendirian menunggu jemputan.
"Anak Mama yang tampan. Maafin Mama ya sayang?" Alysa mencium pipi gembul Edward.
Edward ngambek karena Mamanya selalu saja telat menjemputnya. Padahal Mamanya sudah janji tidak akan telah lagi jika menjemputnya ke sekolah.
"Enggak kok!" memalingkan wajahnya dengan menyobikkan bibirnya dengan gemas.
"Marahkan sama Mama? Mama Minta maaf, tadi Mama abis kerja dan ini baru pulang. Tuh ada om Willy di mobil (menunjuk ke arah mobil)"
"Papa mana? Kok gak ada?" tanya Edward.
"Papa lagi kerja sayang. Yuk kita pergi ke tempat kerja Papa." ajak Alysa dengan menuntun Edward.
Walaupun Edward masih marah sama Mamanya tapi ia juga tidak ingin marah berlama-lama dengan Mamanya. Mobil melaju kembali.
Sementara itu, Angga sudah keluar dari ruang meeting. Ia melihat ruangan tidak ada siapa? Apa Alysa belum sampai ke perusahaannya? fikirnya. Ia segera keluar dan menanyakannya pada resepsionis.
"Tadi istri saya datang kesini?" tanya Angga.
"Iya, Pak. Tadi Ibu sudah datang kesini,"
"Kemana sekarang?" tanya Angga.
"Barusan pergi bersama Pak Willy, Pak!" jelasnya.
"Kemana mereka?"
"Saya tidak tahu, Pak."
Angga segera kembali ke ruangannya. Ia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Fikirannya masih pada Alysa dan Willy.
__ADS_1
Kenapa Alysa tidak memberitahuku kalau dia akan pergi dengan Willy? Pergi kemana mereka?
Angga mengeluarkan ponselnya dan akan menelpon Alysa.
"Dimana, Ma?"
"Ini lagi di jalan sama, Pak Willy."
"Kemana?"
"Abis jemput Edward"
"Papa tunggu di ruangan!"
***
Alysa masuk ke ruangan Angga dengan membawa Edward. Ia duduk di sofa karena Angga sedang fokus pada laptopnya.
"Kenapa tadi gak ngabarin Papa?" tanya Angga pandangannya masih pada laptop.
"Tadi buru-buru, Pa. Untungnya tadi ada Pak Willy!" jelas Alysa tidak ingin berdebat dengan suaminya. "Nanti ada meeting lagi, Pa?" tanya Alysa.
"Enggak!" ucap Angga singkat. Ia begitu marah pada Alysa, namun ia juga tidak ingin memperlihatkannya.
Alysa terdiam dan fokus pada Edward yang kini sedang membuka buku-buku dari tasnya.
"Mama bacain ini," pinta Edward.
Alysa yang tadinya enggan berbicara atau membacakan cerita yang dipinta Edward, akhirnya pun bercerita agar anaknya tidak marah-marah lagi seperti tadi.
Waktu menunjukkan pukul 15.15 WIB, Angga segera mengemas berkas dalam tas kerjanya. Alysa segera membangunkan Edward yang sudah tertidur saat Alysa membacakan cerita. Mereka segera pergi.
***
Tiba di rumah, Alysa langsung pergi ke kamarnya untuk memandikan Edward dan juga ia harus segera memasak untuk makan sore. Alysa melucuti pakaian anaknya dan langsung dimandikan. Sementara itu, Angga merebahkan tubuhnya diranjang sembari menatap langit-langit kamar. Ia masih marah dengan Alysa. Benar-benar marah.
Tidak berapa lama, Alysa keluar dengan menggendong Edward dan segera memakaikan pakaiannya. Alysa melirik Angga yang sedari tadi mendiamkannya.
"Kenapa sih, Pa? Masih marah?" tanya Alysa tanpa menoleh pada Angga.
Angga tak menjawab dan segera pergi ke kamar mandi untuk merendam tubuhnya. Alysa melihat tingkah suaminya itu, ia langsung hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar dan menangis membuat Edward yang sedang berada di depannya memeluknya.
"Mama kenapa nangis? Gala-gala Edwald ya?" tanya Edward.
"Enggak apa-apa sayang. Ayo kita ke dapur, Mama harus masak."
Alysa membawa Edward pergi menuju dapur. Ia harus memasak karena tadi sepulang dari perusahaan Angga, Angga menyempatkan untuk membeli bahan masakan. Tiba disana, Alysa segera mendudukkan Edward di kursi meja makan dan ia segera memasak.
Alysa merasa bersalah pada Angga. Karena ia tadi benar-benar lupa untuk mengabari Angga.
"Papa kenapa sih? Kan aku juga cuma minta bantuan pada Pak Willy. Apa itu salah? Kalaupun aku udah jemput Edward tadi, mungkin aku juga gak bakalan minta Pak Willy buat nganterin." Gumam Alysa menggerutu.
Setelah makanan terhidang sempurna, Alysa segera kembali ke kamarnya memanggil Angga untuk makan sore.
"Pa, makan dulu." ajak Alysa. Angga lagi-lagi tak menjawabnya dan segera mendahuluinya berjalan.
Alysa menghela nafasnya. Ingin sekali ia berteriak dan menangis sekencang mungkin.
__ADS_1
Jangan lupa untuk Vote, Like dan Comment 🤧❤