Menikahi Duda Tampan

Menikahi Duda Tampan
S2-BAB 97


__ADS_3

Keesokan paginya, seperti biasa Alysa sudah rapi dengan kemeja yang dikenakannya. Ia menatap cermin dan memandangi dirinya. Terlihat sangat cantik wajah polosnya. Alysa tersenyum dan mengelus perutnya dengan lembut.


"Ternyata, Mama cantik juga ya, Nak?" ucap Alysa, seolah-olah dia sedang berbicara dengan kedua bayi yang ada di perutnya.


Setelah itu, Alysa segera pergi menuju ruang makan. Makanan sudah terhidang di meja. Alysa dan keluarganya segera menyantap sarapannya.


"Bu?" panggil Azkia.


"Iya?"


"Semalam, Kak Ryan bicara akan kesini."


"Tumben sekali. Ada perlu apa?"


"Ya mau silaturahmi aja, Bu. Kan Kia sama Kak Ryan udah lama gak ketemu."


Pak Ryan akan kesini? Dan itu artinya, berarti dia akan membawa Mas Angga ke rumah ini? Apa Ibu tidak keberatan? Batin Alysa.


"Kapan dia akan kesini?" tanya Ibu dengan penasaran.


"Lusa, Bu. Gimana, bolehkan, Bu?"


"Iya."


Setelah menyelesaikan sarapan paginya bersama keluarga, Alysa segera pamit bekerja dan segera masuk ke dalam taxi yang sudah di pesannya. Akhir-akhir ini Alysa selalu merasa pusing dan membuatnya harus menggunakan taxi menuju kantor, agar tidak ada hal-hal yang tidak di inginkan.


Seperti biasa, Alysa akan bertemu dengan Deffa. Ia mendengus kesal karena Deffa selalu saja dekat-dekat dengannya. Apalagi Deffa selalu memegangi tangannya sampai-sampai karyawan lain pun melihat.


"Alysa...!" panggil seseorang yang tidak asing menurutnya. Alysa menghentikan langkahnya dan segera memutar tubuhnya. Tampak Deffa segera menghampirinya.


"Iya, Pak?" balas Alysa dengan datar.


"Nanti ke ruangan saya. Ada yang mau saya bicarakan." Alysa mengangguknya saja dan segera pergi.


Sampai di ruangannya, Alysa duduk di samping Devi. Devi yang melihat kedatangan Alysa pun langsung menyapanya.


"Selamat pagi, Ibu hamil yang sangat cantik," sapa Devi membuat Alysa yang tadinya murung pun terkekeh setelah mendengarkan ucapan Devi.


"Selamat pagi juga, Mbak Devi yang sangat-sangat jauh lebih cantik." Alysa mengucapkan hal yang sama pada Devi. Mereka terlihat akrab sekali.


"Eh, kemaren gimana aja? Katanya besok akan ada klien dari Perusahan sebelah," ucap Devi membuat Alysa terdiam.


Perusahaan yang mana?


"Ya begitulah, Mbak. Capek banget. Oiya, Perusahan mana ya, Mbak?" tanya Alysa penasaran.


"Perusahaan Hardware Group," ucap Devi. Alysa yang tadinya bersemangat pun kini ia murung kembali.


Hardware Group? Itukan Perusahaannya, Mas Angga?


"Hardware Group?" tanya Alysa meyakinkan.

__ADS_1


"Iya, Perusahaan kita akan bekerja sama dengan Perusahan itu." Alysa terdiam membisu. Entah apa yang harus ia lakukan ketika bertemu dengan Angga. Akankah ia bisa menahan semua rasa sakit yang sudah Angga perbuat padanya? Akankah ia ikhlas melihat wajah itu bersama dengan wanita lain selain dirinya?


"Kamu kenapa?" tanya Devi karena Alysa langsung terdiam tanpa mengeluarkan suara apapun.


"E-e, aku. Aku ke ruangannya, Pak Deffa dulu." Alysa langsung bergegas pergi menuju ruangan Deffa dengan membawa beberapa berkas yang harus Deffa tandatangani. Ia baru ingat jika Deffa menyuruhnya untuk segera ke ruangan pribadinya. Devi menatap kepergian Alysa dengan penuh curiga.


Alysa melangkahkan kakinya dengan cepat, dan saat ini ia sudah berada di ruangan Deffa. Deffa tersenyum setelah kedatangan Alysa.


"Permisi, Pak. Saya mau mengantarkan berkas ini." Alysa menyerahkan berkas pada Deffa, dan Deffa pun menerimanya.


"Terima kasih, Alysa," balas Deffa dengan tersenyum manis. Alysa menatapnya dengan perasaan benci. Ya, Deffa selalu saja seperti itu jika sedang berada dekat dengan dirinya.


"Oh iya, saya lupa. Besok kita akan kedatangan tamu dari Perusahaan Hardware Group, nanti kita akan satu podium," ucap Deffa dan pandangannya kini pada sebuah laptop yang berada di depannya.


"Kita berdua?" tanya Alysa.


Deffa memutar bola matanya dengan malas. "Ya, kita berdua saja. Saya sudah melihat skill kamu dalam dunia perbisnisan. Sepertinya kamu bisa melakukan hal itu dengan baik."


"Ke-kenapa harus saya, Pak?"


"Ya terus siapa lagi?" Alysa tampak terdiam. Ia bingung, kenapa Perusahaan tempatnya bekerja akan melakukan kerjasama dengan Perusahaan Angga. Walaupun semalam ia merindukan sosok Angga, tetapi jika ia bertemu langsung dengannya ia tidak akan sanggup melihat Angga. Ia harus segera mencari cara agar Angga tidak bertemu dengannya.


***


"Pak, bukankah jadwal meeting kita besok akan di laksanakan di Perusahaan Ardana Group (Perusahaan yang di pimpin oleh Deffa)?" tanya Willy, Angga tampak tak bergeming dan lebih memilih menyandarkan tubuhnya pada kursi. Ia merasa lelah dengan semua ini. Setiap hari harus bekerja full tanpa memikirkan dirinya sendiri.


"Kau saja. Saya capek," jawab Angga yang saat ini fokus pada berkas-berkas yang di berikan Willy.


"Cancel aja."


Willy tak bisa berkata apapun lagi. Ia memilih untuk segera pergi dari ruangan Angga. Ia tahu jika Angga sedang memiliki masalah yang begitu besar. Ia harus membicarakan hal ini besok saja ketika Angga sudah merasa lebih baik.


***


Hari ini Alysa bekerja tidak fokus sama sekali. Setelah mengetahui Perusahaan yang saat ini ia tempati akan bekerja sama dengan Perusahaan mantan suaminya. Ia tidak bisa bertemu dengannya. Ia tidak ingin sesuatu terjadi dengan Perusahaan Deffa.


Mencoba berpikir namun tetap saja ia tidak bisa berpikir lebih jernih. Perasaannya menjadi tidak karuan, wajahnya seperti ketakutan. Alysa mengatur nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Berharap semua ini akan berakhir dan bisa di selesaikan dengan baik.


Bagaimana kalo aku ketemu sama, Mas Angga? Apa dia akan mengingatku setelah satu bulan ini berpisah?


Devi yang sedari tadi melihat Alysa gelisah, ia pun ikut curiga. "Kenapa sih, Ca? Dari tadi cemas terus perasaan? Apa berkas-berkas yang di minta Pak Deffa belum di revisi lagi?"


Alysa tak bergeming sedikitpun, ia masih terus melamun membuat Devi menepuk bahunya. Alysa terkejut dan segera menatap Devi.


"Kenapa, Mbak?" tanya Alysa.


"Harusnya aku yang tanya kamu kenapa. By the way, kamu lagi ada masalah ya? Dari tadi ngelamun mulu," tanya Devi dengan gemas.


Apa aku harus bicarain hal ini dengan, Mbak Devi? Tapi aku ragu.


"E-e anu," ucap Alysa menggantung.

__ADS_1


"Anu apa? Ayo katakan."


"Kata Mbak Devi tadi, Perusahaan ini mau kerjasama sama Perusahaan Hardware Group."


"Iya, terus?"


"Tadi Pak Deffa yang nyuruh aku buat masuk satu podium pas meeting nanti. Tapi, aku kayaknya gak bisa, Mbak. Sebaiknya Mbak aja yang masuk podium sama Pak Deffa."


"Oh gitu, kamu gak bisanya karena apa?" tanya Devi.


"Aku belum ngecek semua berkas-berkas. Mbak tau sendiri kan kalo Pak Deffa mau kita kerja yang perfect banget. Kalo ada satu aja kesalahan, pasti kita abis dimarahin."


"Iya juga sih, kan Pak Deffa nyuruh kamu buat ngecek semua berkas. Ya udah, kalo gitu biar aku aja besok yang satu podium sama Pak Deffa."


Akhirnya, Mbak Devi mau juga.


"Makasih ya, Mbak. Ya udah, kita kerja lagi yuk?


Setelah berjibaku dengan kerjaannya hari ini, Alysa segera pulang. Deffa sudah berada di lobby sejak tadi dan sedang menunggu Alysa pulang. Ia rencananya malam ini akan mengajak Alysa pergi jalan-jalan.


Alysa tampak sudah turun dari lift dan berjalan menuju lobby. Ia mengambil ponselnya karena hari ini adalah malam Minggu, itu artinya dia akan pergi jalan-jalan dengan kedua adiknya. Deffa yang saat itu melihat kedatangan Alysa, dengan cepat segera menghampirinya.


"Alysa..." panggil Deffa membuat Alysa menghentikan langkahnya.


"Iya Pak Deffa yang terhormat."


"Gak usah gitu manggilnya," ketus Deffa.


Aduh, ada apalagi sih.


"Iya Pak, kenapa?" tanya Alysa memasang wajah datarnya.


"Ini kan malam Minggu..." ucap Deffa terpotong.


"Iya Pak, terus?"


"Kita keluar yuk? Jalan-jalan cari angin," ajak Deffa.


Aku kan ada janji sama Azkia dan Zaki.


"Maaf Pak, ga bisa. Saya udah ada janji sama adik-adik saya," tolak Alysa.


"Kita berempat jalan-jalan bareng, gimana?"


Aduh, gimana ya. Kalo aku iyain ucapan Pak Deffa, yang ada ntar mereka berdua comblangin lagi.


"Gimana?" lanjutnya merasa wanita yang berada di depannya diam saja tak mengeluarkan suara apapun.


"Lain kali aja, Pak."


"Kalo lain kali, sayanya yang gak bisa. Jadi bisanya sekarang aja. Ya udah nanti saya jemput ya..." Deffa langsung pergi begitu saja tanpa mendengarkan ucapan yang akan Alysa lontarkan padanya. Ia tahu, jika Alysa akan menolaknya lagi.

__ADS_1


"Ihh... Ngeselin banget."


__ADS_2