
Setelah mengantarkan Ibu, Ayah dan kedua adiknya iparnya, Angga pun segera melajukan mobilnya menuju kediamannya. Angga sudah menyuruh Bi Sarinah untuk membersihkan kamar serta ruangan khusus yang berada di lantai 3. Tidak berapa lama, Angga memarkirkan mobilnya di carport depan rumah. Alysa keluar dengan menggendong Edward yang tertidur di dalam mobil. Sementara itu, Angga mengambil koper yang berada di bagasi mobil. Mereka melangkahkan kakinya dan segera memencet bel.
TING TONG TING TONG...
Pintu pun dibuka oleh Bi Sarinah dengan tersenyum. Angga dan Alysa masuk, namun belum sempat naik tangga, Siska datang dengan tatapan tidak suka pada Alysa, membuat Angga segera menarik tangan Alysa dan mempercepat langkahnya. Alysa kebingungan dengan sikap Angga, namun ia tidak punya pilihan selain mengikutinya.
Sampai di kamar, Angga meletakkan kopernya dan segera membaringkan tubuhnya diranjang. Alysa menidurkan Edward disamping Angga, lalu ia pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya yang seharian ini cukup melelahkan baginya. Alysa kembali dari kamar mandi dan segera membaringkan tubuhnya. Angga memperhatikan Alysa dengan seksama membuat Alysa menolehnya.
"Kenapa Mas?" tanya Alysa.
"Kamu ngerasa aneh gak sama si Siska?" tanya Angga membuat Alysa menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Aneh gimana ya Mas? Biasa aja kok," ucap Alysa.
"Kalau kamu di apa-apain sama Siska, bilang sama saya ya!" ucap Angga serius.
"Iya Mas. Siska gak mungkin kayak gitu, dia anak baik-baik" ucap Alysa.
"Kalau misalnya Siska berbuat sesuatu sama kamu, saya akan keluarkan dia dari rumah ini," pekik Angga membuat Alysa memegang tangannya.
"Iya Mas. Mas mau kopi? Biar Alysa buatin sekarang," pinta Alysa.
"Mau, tapi gulanya sedikit aja ya. Terus bawa cemilan juga ya di kulkas, saya harus bekerja," ucap Angga, Alysa pun mengangguknya dan segera pergi.
Alysa menuruni anak tangga dan sampai di dapur, di sana ada Siska dan juga Ibunya. Alysa mendekatinya dengan tersenyum ramah, tapi tidak dengan mereka berdua. "Sis nanti temani saya belanja ya," pinta Alysa membuat Siska menatap Ibunya dengan keheranan.
Siska menyilangkan kedua tangannya. "Iya!" ketus Siska.
Alysa mengambil cangkir, kopi bubuk dan juga gula pasir. Lalu menuangkan air panas dan menganduknya. Setelah itu, ia mengambil cemilan yang ada dikulkas dan membawanya. Alysa kembali ke atas dengan perasaan sedikit tidak tenang.
Si Siska kenapa ya? Agak aneh sih. Ah sudahlah, mungkin ia belum kenal aja sama aku. Batin Alysa.
Alysa membuka pintu kamar, namun ia tidak menemukan Angga disana. Ia mencari keberadaan Angga, ternyata ia sedang berada di ruangan kerjanya yang bersebelahan dengan balkon yang menghadap ke kolam renang. Tampak Angga sedang fokus dengan laptop didepannya, Alysa pun masuk dan meletakkan nampan yang berisi secangkir kopi dan setoples cemilan. Angga menoleh pada Alysa dan segera menyuruh Alysa untuk duduk dipahanya.
"Sini yang duduk," pinta Angga dengan menepuk pahanya membuat Alysa melototkan matanya.
"Nanti berat Mas hehe," ucap Alysa membuat Angga segera menarik tangan Alysa.
"Sini..." ucap Angga.
Akhirnya Alysa pun duduk dipaha Angga dengan tersenyum kecil. Angga memegangi pinggang Alysa agar tidak terjatuh, da ia kembali fokus ke laptopnya, Alysa sesekali menatap Angga dan mencoba mengodanya. "Mas tampan banget deh," ucap Alysa terkekeh dengan menutupi bibirnya.
"Semua orang juga tahu kalau saya memang tampan" ucap Angga tanpa menoleh pada Alysa.
"Hmm...Tapi lebih tampan Linyi lho Mas yang pemain drakor itu" ucap Alysa membuat Angga menatapnya penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Jadi suami kamu itu saya apa yang ada di drakor itu?Perasaan lebih tampan saya" ucap Angga membuat Alysa tertawa.
"Haha. Ya kamu Mas, emang siapa lagi suami Alysa selain Mas?" tanya Alysa.
"Ya takutnya kamu punya simpanan" ucap Angga menatap ragu pada Alysa.
"Jangan bicara kayak gitu Mas. Ehh Mas Alysa boleh kerja di Perusahaan Mas?" ucap Alysa.
"Memang kamu gak capek? Malamnya kita olahraga bareng, terus paginya langsung kerja," ucap Angga terkekeh membuat Alysa menatapnya tidak mengerti.
"Olahraga bareng gimana Mas? Perasaan Alysa gak pernah olahraga malam-malam bareng sama Mas," Tanya Alysa tidak mengerti dengan ucapan Angga.
"Ya maksudnya itu, seperti malam tadi haha" kekeh Angga.
"Ihh..Dasar mesum" Alysa memukul lengan Angga.
"Laki-laki mana coba yang tidak tahan dekat-dekat dengan kamu. Pasti langsung disantaplah haha" ucap Angga terkekeh.
"Mas gimana? Boleh?" tanya Alysa dengan manja.
"Ya Mas sih gak ngelarang kamu, mau kerja apa enggak, takutnya kamu juga kesepian dirumah".
"Nah iya aku kesepian. Ya itung-itung Alysa jagain Mas selama di kantor, takutnya gatel sama wanita lain" ucap Alysa dengan memegangi rambut Angga.
"Padahal karyawan kantor suka ada yang dekat-dekat sama Mas lho, sampai-sampai ngajakin makan siang," ucap Angga menggoda Alysa.
"Iya, tapi kerjanya temenin Mas aja ya. Kamu gak boleh kerja yang berat-berat".
"Iya Masku. Diminum dulu Mas kopinya, entar keburu anget lho" Angga pun segera meminum kopinya.
***
Sore hari, Alysa segera mandi karena hari ini ia akan berbelanja dengan Siska. Angga masih tidur setelah bekerja di ruangan kerjanya. Setelah selesai, ia segera ke lantai dasar karena Siska sudah menunggunya. Tiba disana, Siska sedang berbicara dengan Ibunya, tidak sengaja Alysa menguping pembicaraan antara Ibu dan Anak itu.
"Bu, Siska harus menyingkirkan wanita itu!" ucap Siska dengan nada tinggi.
"Ibu juga berpikiran seperti itu. Kita harus rencanakan sesuatu" ucap Sarinah.
DEG
Jadi selama ini mereka tidak suka denganku dan akan menyingkirkanku dari rumah ini? Pantesan tadi Mas Angga bicara seperti itu. Batin Alysa.
"Pokoknya Siska gak rela kalau Om Angga nikah sama yang lain," pekik Siska.
Alysa mempercepat langkahnya menuju sumber suara, dan membuat Siska dan juga Ibunya begitu terkejut, karena Alysa tiba-tiba datang disaat mereka sedang membicarakannya. Alysa tersenyum dan segera menarik tangan Siska. "Ayo Sis, ini udah sore takutnya keburu hujan," ucap Alysa, karena memang beberapa minggu ini hujan terus mengguyur dan cuaca tidaklah mendukung untuk bepergian.
__ADS_1
Mati gue. Kalau wanita ini dengar, terus ngadu ke Om Angga gimana nih? Pasti gue sama Ibu bisa dipecat. Batin Siska.
Siska menelan ludahnya dengan susah payah, dan keringat mulai bercucuran didahinya. Wajah yang tadinya terlihat garang, kini menjadi wajah yang terlihat khawatir. "I-iya Mbak," ucap Siska terbata sembari menoleh pada Ibunya.
"Ayo Nak cepat, nanti keburu hujan di jalan! Kasihan Nyonya," pekik Sarinah.
Alysa dan Siska segera pergi, Alysa masih memikirkan perkataan antara Ibu dan Anak itu. Entah bagaimana nasibnya yang selalu di benci orang lain, bahkan Ibu mertuanya sendiripun tidak menyukai dirinya. Siska mengambil motor matic dan segera menghidupkannya, Alysa pun naik dan Siska pun melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
Dalam perjalanan tidak ada suara apapun diantara mereka. Hanya saja suara kendaraan lain dan juga suara klakson. Siska hanya fokus mengemudikan motornya, Alysa tampak sedang berfikir dengan tatapan kosongnya. Tidak berapa lama, Siska memberhentikan motornya di depan sebuah pusat perbelanjaan besar.
Mereka berdua masuk dan segera mencari tempat bahan masakan. Alysa mengambil beberapa macam daging, sayuran, buah-buahan, bumbu dapur dan juga alat masak yang akan ia gunakan nanti. Siska membawa troli dan mendorongnya. Alysa masih sibuk mencari bahan masakan membuat Siska semakin khawatir. "Mbak? E-ee tadi Mbak nguping pembicaraan Siska gak sama Ibu?" ucap Siska membuat Alysa yang tadinya berjongkok pun ikut berdiri.
"Memang tadi kamu bicara apa?" tanya Alysa pura-pura tidak mengetahuinya.
"Tadi Siska bilang sama Ibu kalau Siska mau kuliah, tapi uangnya belum terkumpul," ucap Siska berbohong.
"Oh gitu. Nanti saya bicarain sama Mas Angga, biar kamu bisa kuliah," ucap Alysa tersenyum agar Siska tidak mengetahui isi hatinya yang kini sedang sedih.
Saya sudah mengetahuinya Sis. Saya terima kamu berbohong seperti itu, tapi ingat jika saya mendengar kamu berbicara seperti tadi dibelakang saya dan juga akan ngerencanain untuk menyingkirkan saya, maka saya akan bicara sama Mas Angga untuk memecat kamu dan juga Ibu kamu. Batin Alysa.
"Ehh, Mbak gak usah. Siska gak mau ngerepotin," ucap Siska dengan memegangi tangan Alysa.
Untung aja wanita ini gak nguping. Batin Siska tersenyum misterius.
"Gak apa-apa. Ayo kesana, belanjaan sudah penuh" ajak Alysa dan Siska pun mengangguknya.
***
Pukul 19.30 WIB. Setelah makan malam, Alysa, Angga dan Edward segera naik ke lantai 3. Angga menggendong Edward dan satu tangan memegangi pinggang Alysa, membuat Alysa menoleh pada Angga. Tiba di kamar, Angga membuka pintu dan mempersilahkan masuk pada Alysa. "Ayo istriku masuklah" ucap Angga membuat Alysa terkekeh.
"Haha. Tumben Mas kayak gini, pasti ada maunya nih," pekik Alysa dan segera masuk.
"Mama-mama, Edwald mau tidul dekat Mama lagi" ucap Edward dengan menampilkan wajah gemasnya.
"Iya sayang" ucap Alysa dengan mengusapi rambut Edward. Angga menatap Alysa dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Apa sih Mas? Kok ngelihatinnya kayak gitu," ucap Alysa dan segera membawa Edward dari gendongan Angga.
"Olahraga lagi yuk sama Mas hehe," ucap Angga lalu duduk ditepi ranjang, membuat Alysa menatapnya kesal.
"Ihh..." kesal Alysa.
"Ayo jangan nolak suami" pekik Angga tersenyum.
"Edwardnya belum tidur Mas," ucap Alysa.
__ADS_1
"Ayo tidurkan dulu. Nanti kita gas lagi hehe" ucap Angga membuat Alysa memukul lengannya.
Setelah Edward tertidur, Angga memintanya kembali pada Alysa. Angga benar-benar tidak merasa puas, dan membuat Alysa hanya bisa pasrah terhadap suaminya itu. Kini Angga memainkannya dengan sedikit lembut, tapi cukup lama. Alysa merengeh kesakitan membuat Angga ******* bibir Alysa. Pergulatan malam itu entah sampai pukul berapa, lagi-lagi Alysa tertidur karena kelelahan.