
Saat mereka masuk ke dalam, mereka di suguhkan dengan pemandangan yang luar biasa. Kedua mempelai segera berjalan menuju kursi yang sudah disediakan dengan begitu mewah. Hiasan dan dekorasi sangat mewah dengan tema garden dengan sentuhan soft pink di beberapa view yang terlihat sangat mencolok dan membuat siapapun yang melihat akan terpukau dengan keindahannya.
Kedua orangtua dari mempelai pengantin pria dan wanita berjalan di belakang. Mereka ngenakan pakaian yang sama dan cocok. Mamanya Angga menatap Ibunya Alysa dari atas hingga bawah dengan tatapan tajam dan tidak suka. Ibunya Alysa hanya tersenyum dan kembali berjalan. Pembawa acara sudah mulai membuka rangkaian acara mulai dari ijab qobul hingga pentas seni menyanyi terakhir. Kedua mempelai duduk di kursi, karena ijab qobul akan segera dimulai. Alysa duduk di samping Angga dan ia terlihat kesusahan membuat Angga perlu sedikit extra untuk membantunya.
Para tamu undangan sudah duduk dengan rapi, namun suara gemuruh masih terdengar dengan jelas. Tidak berapa lama, pak penghulu datang dan duduk di depan Angga. Perasaan Angga menjadi tidak tenang, walaupun ini pernikahan yang kedua kalinya, tapi tetap saja sama seperti pertama kali ia menikah dulu. Alysa hanya tersenyum melihat wajah Angga yang gugup itu. Angga menoleh pada Alysa dan mendaratkan senyuman kecil dibibirnya.
"Do'ain ya sayang" Bisik Angga membuat Alysa tersenyum kembali dengan mengangkat kedua jempolnya.
Penghulu sudah membuka surat-surat penting dan juga membacakan ayat-ayat suci al-Qur'an. Dalam sekejap ia mencoba memperhatikan Angga dan berkata, "Sudah siap?" Tanya penghulu membuat Angga menganggukkan kepalanya.
"Iya pak, saya sudah siap!" Ucap Angga dengan tegas.
Kok jadi dek-dekan gini ya? Padahalkan pak Angga yang mau ngucapin ijab qobulnya. Batin Alysa.
"Qobiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkuur wa radhiitu bihi, wallahu waliyut taufiq" Ucap Angga lantang dan satu kali pengucapan hingga kata 'sah' pun terdengar dengan gemuruh.
Alysa menangis haru dan segera mencium tangan suaminya. Angga mencium kening Alysa dengan lembut dan para wanita berteriak histeris membuat Alysa tersenyum haru. Para photographer saling memotret momen menegangkan itu. Setelah itu, kedua mempelai bertukar cincin pernikahan di jari manis. Kemudian, mereka beranjak dan berjakan menuju panggung yang tidak terlalu tinggi karena para tamu ingin berfoto bersama. Setelah selesai berfoto, Alysa dan Angga sungkem pada orangtua mereka dengan meminta do'a dan restunya, Alysa langsung menangis ketika ia mencoba sungkem di kaki Ibunya. Angga hanya haru dan sendu, ia tidak bisa menangis seperti Alysa. Ketika Alysa sungkem di kaki Mamanya Angga, ada rasa senang namun kesenangan itu hanyalah sementara karena Mamanya Angga mengancam dengan berkata, "Ingat, kau hanya butuh waktu tiga bulan. Setelah itu, kau harus pergi dari kehidupan anak saya wanita cantik!" Bisik Mama, membuat Alysa tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya bisa menangis mendengar ucapannya yang begitu menusuk dihati kecilnya. Alysa ingin sekali menjawab ucapan-ucapan itu, namun bibirnya tak bisa berucap.
Destia sangat kecewa, Angga benar-benar sudah milik orang lain. Dan ia berfikir untuk merencanakan sesuatu dengan Mamanya Angga, karena cuma Mamanya Angga saja yang selalu mendukungnya semua keinginannya itu.
Gue harus rencanain sesuatu sama Tante tua. Gue harus rebut Mas Angga dari wanita kampung itu. Enak aja wanita kampung itu jadi istri Mas Angga. Gue harus kasih racun wanita itu biar mampus. Batin Destia.
Begitu juga dengan Siska, anak pembantu yang mencintai seorang duda kaya nan tampan yang selalu membuat dirinya menampilkan yang terbaik. Ia menangis di bahu Ibunya dengan keras, membuat orang yang melihatnya menjadi penasaran dengan Siska.
"Sttt... Jangan nangis Siska, udah relain aja! Ibu juga sebenarnya gak rela kalau pak Angga nikah sama wanita itu" Ucap Sarinah.
"Tapi bu..."
"Nanti kita kasih dia pelajaran Sis!" Ucap Sarinah dengan tersenyum misterius, membuat Siska menatap Ibunya dengan tersenyum.
Edward yang sedari tadi duduk dengan Willy, ia begitu sangat antusias dan menghampiri Papa dan Mamanya dipanggung. Angga langsung memangkunya dan berfoto bersama. Sama-sama menampilkan senyuman terbaiknya, hingga membuat Mama Angga menatapnya tidak suka dan rasanya ingin sekali mencakar wajah Alysa itu.
Kau nikmati dulu sekarang ya wanita kampung. Akan saya beri pelajaran nanti. Batin Mama.
"Pak. Akhirnya kita benar-benar sudah menjadi suami istri!" Ucap Alysa tersenyum malu-malu.
"Jangan panggil pak lagi. Saya ini suami kamu Alysa! Yang romantis dikit gitu manggilnya" Kata Angga membuat Alysa menyibikkan bibirnya.
"Terus panggil apa? My hunny? My dear? Pangeranku? Masku? Suamiku?" Ucap Alysa menjelaskan panggilan untuk Angga, membuat Angga memutar bola matanya dengan kesal.
"Ya sudah kamu panggil saya bapak saja deh, biar kamu senang!" Pekik Angga.
"Ihh gitu aja marah banget ya haha. Alysa mau panggilnya Mas aja deh, gimana Mas?" Ucap Alysa terkekeh.
"Ya lumayan bagus. Ya sudah Mas aja panggilnya. Lima ronde ya sayang, cup!" Angga mencium kening Alysa membuat Alysa memalingkan wajahnya karena Angga selalu saja mengucapkan kata lima ronde.
"Nak, kamu jangan panggil tante cantik lagi ya. Panggil Mama ya sayang!" Ucap Alysa pada Edward.
"Iya Mama. Holeee Edwald punya Mama baluuu holeee..." Ucap Edward antusias membuat semua orang yang melihat langsung tertawa dengan tingkah menggemaskannya itu.
Setelah acara ijab qobul dan beberapa acara lainnya. Kini Angga sudah berganti pakaian dengan memakai setelan kemeja berwarna putih dan jas hitam denga dasi kupu-kupu yang membuat ketampanannya semakin berkharisma. Begitu juga dengan Alysa, ia sekarang memakai kebaya modern yang identik dengan Khas Jawa, yang berwarna abu-abu dengan motif bunga yang sangat indah, dan juga tidak lupa memakai kerudung dengan warna yang sama membuat semua laki-laki terpukau dengan kecantikannya.
Pembawa acara mempersilahkan kepada Angga dan Alysa untuk naik ke atas panggung yang lebih tinggi. Mereka berdua several beranjak dari tempat duduknya dan berjalan bersama dengan bergandengan tangan membuat semua para tamu bertepuk histeris melihat keselarasan pengantin baru itu. Tiba di atas panggung, Angga langsung mengambil mikrofon.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang untuk kita semua. Alhamdulillah di acara resepsi pernikahan saya ini, saya adakan di Hotel milik saya sendiri. Terima kasih untuk para tamu undangan yang sudah bisa hadir di acara ini. Saya dan juga istri sangat-sangat mengucapkan banyak terima kasih pada para pekerja dekorasi yang sudah menata gedung ini dengan sangat indah dan tentram ini. Semoga rumah tangga saya dan istri bisa tentram seperti ini. Dan satu lagi, jika ada yang mau menyumbangkan suara emas dan bakat lainnya, anda bisa mendaftar pada panitia ya. Salam hangat dari kita berdua" Ucap Angga tersenyum ramah membuat semua tamu bertepuk tangan. Angga dan Alysa pun turun dan segera duduk di kursi pengantinnya.
Acara pernikahan diadakan sampai pukul 16.00 WIB. Semua para tamu undangan begitu bahagia dengan resepsi pernikahan satu ini. Pengantin pria dan wanita ditantang menyanyi bersama untuk menyatukan jika mereka benar-benar saling mencintai. Angga dan Alysa berhasil menyanyikan lagu 'Aku Dan Dirimu' dengan sangat memukau.
Kini acara resepsi pernikahan sudah selesai. Para tamu undangan segera pergi dan meninggalkan beberapa kolega saat itu. Alysa mencoba membuka sepatunya, yang membuat kakinya sakit. Angga pun langsung membantunya. "Kenapa pakai sepatu kayak gini sih yang?" Tanya Angga sambil membantu Alysa dengan berjongkok.
"Gak tahu tadi kata si Mbaknya harus pakai yang ini Mas! Sakit banget" Kata Alysa menahan kesakitan pada bagian tumitnya.
"Ya sudah, nanti di obati ya. Ayo kita ke kamar saja! Barang sudah ada disana semua!" Ajak Angga.
"Mas, Edwardnya mana? Kok enggak ada?" Tanya Alysa menanyakan keberadaan Edward anak tirinya.
__ADS_1
"Sudah dikamar sama baby sitternya sayang! Ayo" Angga menarik tangan Alysa.
Nah kalau ada Edward pasti Mas Angga tidak akan meminta haknya hari ini wkwk. Maafkan aku ya Mas sayang. Batin Alysa.
Mereka berdua segera pergi, dan sampai didepan pintu kamar Angga membukanya dan masuk diikuti Alysa dibelakangnya. Alysa begitu takjub dengan keindahan kamarnya itu. Bunga bertaburan dimana-mana dan membuat dirinya segera berjalan menuju ranjang, disana sudah ada Edward sedang tidur dengan pulas dan Alysa segera menciumi pipi gembulnya.
Angga menghampiri Alysa dan duduk di tepi ranjang. Angga membaringkan tubuhnya dengan tangan yang memegangi kebaya belakang Alysa, membuat Alysa menoleh dan berkata. "Ngapain Mas? Sana mandi" Suruh Alysa.
"Mandi bareng yuk?" Ucap Angga tersenyum jahil membuat Alysa memukul lengan Angga dengan lembut.
"Gak mau Mas, sendiri aja mandinya!" Tolak Alysa lalu membelakanginya lagi.
"Ya sudah, saya mandi dulu!" Angga segera pergi ke kamar mandi.
"Iya!" Lirih Alysa.
Dua puluh menit kemudian, pintu terbuka dan Angga segera mendekati Alysa untuk berganti pakaian yang sudah disiapkan Alysa sejak tadi. Alysa menoleh pada Angga dan membulatkan matanya melihat dada bidang Angga dengan perut kotak-kotak dan otot-otot yang kekar. Alysa hanya bisa menelan ludahnya sendiri, memiliki suami seperti Angga.
Mimpi apa ya bisa nikah sama pak Angga yang super duper tampan dan juga maco kayak gini? Perut yang sixpack kayak roti, lah aku perut aja udah gak ke urus gendut kayak gini. Batin Alysa.
Angga tersenyum dan mendekatkan wajahnya dengan Alysa yang tanpa berjarak itu. Ketika sadar Angga berada didepannya, Alysa langsung menghindar.
"Gimana sayang? Saya tampankan?" Tanya Angga dengan mengedipkan satu matanya membuat Alysa melototkan matanya.
"Geer banget, biasa aja kok!" Pekik Alysa.
"Ngaku aja. Sama suami sendiri harus mengakui, jika suami sendiri itu lebih tampan daripada suami orang lain. Jadi suamimu ini tampan apa tidak?" Jelas Angga.
"Iya suami ku tampan banget, Alysa sangat terpesona dengan ketampananmu seperti bulan purnama itu!" Kekeh Alysa.
"Ketawa kamu. Ayo mandi dulu sayang!"
"Iya Mas!"
Sore berubah menjadi malam. Pikiran Alysa menjadi sedikit tidak tenang karena Angga terus-menerus memainkan jari-jemarinya di tangannya. Alysa menghela nafasnya dengan kasar dan keringat dingin mulai bercucuran di dahinya.
Angga masih terus memainkan jari-jemarinya, dan kali ini Angga memainkannya di perut datar Alysa, membuat Alysa merasa sedikit tidak enak dan juga geli. Alysa mencoba menjauh dan mengangkat tangan Angga ke bawah, namun beberapa detik kemudian tangan Angga sudah berada diatas perut kembali. Perasaan Alysa menjadi tidak tenang, dan ia berfikir jika Angga akan memintanya malam ini juga.
"Mas?" Ucap Alysa dengan dahi yang dipenuhi keringat dingin.
"Iya sayang kenapa?" Tanya Angga yang masih memainkan jari-jemarinya.
"Alysa tidur duluan ya capek banget, Edward juga udah tidur! Mas juga tidur sekarang!" Ucap Alysa dengan berpura-pura menguap agar Angga tidak memintanya hari ini.
"Lho masih pukul 20.15 WIB sayang. Jangan tidur dulu!" Ucap Angga dan segera menaiki tubuh Alysa dengan cepat. Alysa terkejut ketika Angga sudah berada diatas tubuhnya. Alysa melototkan matanya dan menelan ludahnya dengan kasar. Keringat dingin mulai berjatuhan seiringan dengan udara yang begitu panas, padahal AC menyala.
"Alysa! Saya menginginkannya," Ucap Angga dengan wajah seriusnya.
"Tapi Ma-mas" Ucap Alysa gugup karena Angga menatapnya.
"Apa boleh saya melakukannya?" Lanjutnya membuat Alysa tidak bisa menolaknya selain mengiyakan ajakan suaminya.
Alysa memejamkan matanya dan berkata. "I-iya!" Lirih Alysa membuat Angga tersenyum dan segera mencium bibir Alysa dengan lembut. Alysa membuka matanya karena terkejut. Tangan Angga mulai menjelajah ke bagian tubuh lain dan membuat Alysa merasa kegelian. Angga menciumi leher Alysa dan meninggalkan beberapa tanda merah disana. Angga dengan sigap mengunci pergerakkan Alysa, hingga Alysa tidak bisa kabur saat ini.
Angga terus mengecupi leher Alysa hingga ke telinga membuat Alysa benar-benar tertawa kegelian. "Mas geli haha" Ucap Alysa membuat Angga memberhentikannya lalu menatap Alysa dengan tersenyum dan beberapa detik kemudian Angga langsung melakukannya kembali. Ia melucuti pakaian Alysa yang menggunakan piyama dan menaikkannya keatas, tanpa berpikir panjang, Angga m****** kedua ******** Alysa dan mengeluarkan suara-suara aneh dari bibir Alysa.
Tiba-tiba Edward menangis dengan keras, membuat Angga dan Alysa menatap kebingungan. "Hiks..hiks...hikss..Papa, Mama...Edwald takut!" Teriak Edward sambil menangis dengan keras. Alysa yang tadinya diam langsung segera beranjak dari ranjang dan mendorong tubuh Angga yang berada diatasnya.
"Ayo Mas kesana, kasihan Edward!" Ia pun beranjak dengan merapikan pakaiannya yang sudah terbuka karena ulah Angga, dan meninggalkan Angga yang masih kebingungan.
Hmm...Baru saja dimulai, ada saja yang mengganggunya. Batin Angga.
Tidak berapa lama, Angga mengikuti Alysa untuk melihat Edward. Ia duduk di tepi ranjang dan memperhatikan Alysa yang cekatan menenangkan Edward. Alysa mengusapi rambutnya dengan lembut lalu menciuminya. Angga mendekati Alysa dan berkata, "Biar saya yang gendong!".
Alysa menatap Angga dan setelah itu menatap Edward. "Digendong sama Papa ya sayang" Ucap Alysa dan Angga pun segera menggendongnya.
__ADS_1
Angga menimang-nimang dan mengusapinya hingga Edward tidak menangis lagi. Angga mencoba menghiburnya dengan berbagai cara dan akhirnya Edward pun tersenyum kembali. "Ciluk" Angga menutupi wajahnya dengan tangannya sendiri, dan Edward pun langsung membukanya dan tertawa dengan keras. "Baaa!" Lanjut Angga.
"Minum susu dulu yuk, biar tidurnya nyenyak" Ucap Angga dan Edward pun mengangguknya.
"Sayang buatin susu, botolnya ada di nakas dekat kulkas!" Perintah Angga. Angga berfikir jika Edward sudah meminum susu pasti akan tertidur, ia bisa melanjutkan keinginannya itu bersama Alysa.
"Iya Mas" Alysa langsung pergi dan Angga mengikutinya dengan menggendong Edward.
Tidak berapa lama, Alysa kembali dan memberikan susu pada Angga. Edward segera meminumnya. Alysa mencoba menggendong Edward, namun Angga tidak memperbolehkannya lantaran Edward sangat berat dan Alysa tidak akan kuat.
"Mas berikan Edward pada Alysa. Biar Alysa yang gendong!" Pinta Alysa.
"Gak usah sayang. Kamu duduk aja dan siapkan tenagamu untuk malam ini hehe" ucap Angga membuat Alysa menyibikkan bibirnya.
"Hmm..." Kesal Alysa.
"Ayo tidur ya Nak, Papa juga mau tidur udah ngantuk!" ucap Angga.
Halahh, udah ngantuk darimananya? Nanti juga pasti bangun lagi dan minta itu lagi. Batin Alysa.
"Iya Papa" ucap Edward dan Angga pun segera pergi ke kamar semula. Namun belum sempat kesana, Edward menolaknya dan ingin tidur dengan Mama dan Papanya. Angga melototkan matanya lalu menatap Alysa yang sedang tertawa.
"Gak mau, mau tidul sama Papa dan Mama.." Rengek Edward.
"Ketawa aja terus yang!" Ejek Angga.
"Hahaha. Ayo tidur disini sama Mama ya sayang, biar tidurnya nyenyak!" Alysa membawa Edward dan menidurkannya diranjang membuat Angga terlihat kesal.
Angga duduk ditepi ranjang lalu membaringkan tubuhnya. Alysa berusaha menidurkan Edward dengan mengusapinya. Angga sesekali menoleh ke arah Edward dan memastikannya sudah tidur apa belum. Setelah Edward tertidur, Alysa menyelimutinya dan segera membaringkan tubuhnya di samping Edward. Alysa berpura-pura tidur agar Angga tidak akan memintanya malam ini.
Angga yang masih kesal, ia segera beranjak mendekati Alysa. Ia membisikkan sesuatu membuat Alysa tertawa. "Saya tahu kamu belum tidur sayang. Ayo kita lanjutkan yang tadi!" bisik Angga dengan mencubit pipi Alysa.
"Aww sakit Mas! Nanti Edwardnya bangun Mas!" Tolak Alysa.
"Udah ayo jangan nolak, saya lagi pengen Alysa. Dia gak akan bangun!" Angga menarik tangan Alysa dan segera memangkunya ala bridal style. Alysa tersenyum dengan mengalungkan kedua tangannya dileher Angga lalu mencium pipi Angga, membuat Angga mengedipkan matanya dan menidurkannya setelah sampai di kamar sebelah. Angga membuka pakaiannya sampai tak tersisa, lalu menatap Alysa dengan tatapan yang sulit diartikan. Tanpa berfikir panjang, Angga langsung ******* bibir Alysa. Tangannya m****** ******** Alysa dengan lembut, hingga membuat juni*rnya mengeras.
Angga merasa tidak puas dan terus memainkannya hingga Alysa menarik spraynya dengan kuat karena Angga begitu keras memainkannya. Ia mencium perut datar Alysa dan tangannya membuka celana yang masih menempel di tubuh Alysa. Alysa merasa ini saatnya ia memberikan milik yang paling berharga baginya, pada suaminya. Tidak berapa lama, celana sudah terlempar di atas lantai. Angga kembali mencium bibir Alysa hingga Alysa mulai kehabisan nafas, tangan Angga menjelajah kemana-mana dengan satu tangan kanan m****** ******** dan satu tangan kirinya memainkan juni*rnya yang sudah semakin mengeras.
Ciuman semakin panas dan Angga segera menyatukan juni*rnya dengan pelan membuat Alysa merasa kesakitan dan mengeluarkan air matanya. Angga terus memainkannya hingga Alysa benar-benar tidak berdaya dengan kejantanan suaminya ini. Alysa sesekali mengucapkan kata 'hentikan', namun Angga tidak menghiraukan ucapan Alysa seolah-olah tuli dan terus memainkannya hingga membuat Alysa kelelahan.
Entah sampai berapa kali Angga memainkannya, hingga Alysa benar-benar merasa kelelahan dan tertidur. Angga menyudahinya dan menutupi tubuh Alysa dengan selimut. Ia mendaratkan kecupan di kening dan bibir Alysa. "Terima kasih Mama, Papa sangat menyayangi Mama!".
Angga pun langsung membaringkan tubuhnya dan memeluk tubuh istrinya lalu tertidur dengan pulas.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
Maaf saya tidak terlalu memperjelas untuk adegan ranjang, takutnya ada yang masih dibawah umur🙏
Dukung terus Author agar makin semangat nulisnya dengan cara ketik Vote, Like, Comment and Tip, Saya usahain buat up tiap hari🤗
__ADS_1
Untuk memeriahkan pergantian tahun baru, tanggal 1 January 2021, Author mau ngasih hadiah untuk 2 orang pemenang. Jadi jangan sampai ketinggalan infonya ya❤