
Angga sudah berada di perusahaannya sejak pagi tadi. Perusahaannya kini sedang ada masalah. Data perusahaan yang semestinya aman, namun tiba-tiba ada yang mencurinya. Hingga membuat semua karyawan dan juga petinggi perusahaan dibuat kerja lembur. Angga masih berada di depan sebuah komputer. Ia mulai mengutak-atik untuk menjaga data perusahaan yang akan di curi oleh pihak lain.
Kini sudah menandakan pukul 13.30 WIB. Data perusahaan masih belum juga bisa aman dari pihak pencuri. Mereka saling menyerang dan juga mempertahankan.
Sementara itu, Alysa di rumah hendak menelpon Angga. Ia ingin menitip sesuatu pada Angga ketika pulang dari kantor. Namun Angga tidak mengangkat teleponnya.
TUTTT...TUTTTT...
"Mas Angga kemana sih? Kok gak di angkat. Tadi juga berangkatnya pagi banget, sampai gak sarapan dulu."
Alysa kembali menelpon Angga, dan tetap saja tidak ada jawaban apapun. Alysa memutuskan untuk pergi ke Mall membeli bahan untuk membuat kue. Ia segera kembali ke kamarnya dan menyelimuti Edward yang kini sedang tidur siang setelah pulang dari sekolah. Alysa mengganti pakaiannya dan segera pergi menuju lantai dasar. Ia akan menunggu taxi di depan rumahnya.
Lima belas menit sudah ia berdiri di pinggir jalan, namun tidak ada satupun taxi yang lewat. Tiba-tiba ada tukang ojek membuat Alysa menghentikannya.
"Pak-Pak, berhenti. Antarkan saya ke Mall X."
"Baik, Mbak. Ayo naik."
Alysa segera memakai helm, lalu naik dan motor pun melaju dengan kecepatan sedang. Diperjalanan, Alysa masih terus memikirkan Angga. Tidak biasanya Angga seperti itu. Apa dia begitu sibuk? Fikirnya. Dua puluh menit sudah berlalu, kini Alysa sudah sampai di sebuah Mall. Ia segera membayarnya dan segera masuk ke dalam.
Alysa memasuki Mall dan kini sedang menuju pusat bahan masakan. Ia melihat-lihat harga bahan, setelah itu ia mengambilnya dan menyimpannya ke troli dorong. Hingga akhirnya troli sudah penuh dan Alysa segera melangkahkan kakinya menuju kasir.
Tiba-tiba dari arah kiri ada seseorang yang menyenggol troli milik Alysa. Alysa terkejut karena troli akan segera jatuh sebelum akhirnya ia dengan cepat menahannya. Alysa mengatur nafasnya lalu menoleh dan membelalak.
"Destia?". "Kau?" ucap mereka serentak.
"Wanita kampung. Akhirnya kita bertemu lagi setelah dua Minggu yang lalu saya ke rumah calon suami saya," ucap Destia menatap tajam pada Alysa.
"Maaf, saya tidak bisa bicara lebih lama. Saya permisi," ucap Alysa tak bergeming dan segera berjalan menuju kasir.
"Hey...Wanita kampung...Tunggu," teriak Destia membuat semua orang yang berada disana menatapnya membuat Alysa menoleh ke belakang.
"Maaf, Mbak mau apa? Saya tidak bisa bicara lebih lama. Kalau mau bicara, kita bicara di rumah saya saja."
"Kau harus jauhi, Mas Angga. Karena, Mas Angga akan menikahi saya. Kalian sudah menikahi selama satu bulan. Tapi gak hamil-hamilkan? Apa kau meminum obat yang diberikan tante tua itu?" tanya Destia membuat Alysa semakin geram.
Aku kerjain aja ya. Mungkin dia belum tahu semuanya.
"Ya. Saya, meminumnya. Puas??" jawab Alysa
berbohong dengan nada tinggi dan tatatapannya tajam.
"Bagus. Usia pernikahan kau tinggal dua bulan lagi. Dan itu artinya kalau kau tidak hamil, maka kau harus pergi meninggalkan Mas Angga," ucap Destia dengan menunjuk-nunjuk Alysa. Semua orang yang ada disana masih saja memperhatikan mereka berdua.
"Aku tidak akan pernah pergi dari kehidupan, Mas Angga. Mas Angga tidak akan pernah menceraikanku. Dan satu lagi, kamu tidak boleh mencampuri urusan rumah tanggaku," ucap Alysa dan segera pergi meninggalkan Destia yang kini sedang kesal.
"Kurang ajar. Dasar wanita kampung tak tahu diri," teriak Destia, namun Alysa tetap saja berjalan.
"Eh-ehh.. Tuh, lihat. Mbak-Mbak itu mau jadi pelakor. Suami orang masih aja mau di embat," ucap pengunjung lain yang sedang memilih bahan masakan membuat Destia menatapnya dengan tajam.
"Dasar ulet keket. Wajah gak cantik, tapi nyalinya gede juga ya mau jadi pelakor."
"Haha...Wanita gila tuh."
"Apa kau?" tanya Destia saat mendengar ucapan orang lain yang sedang mengatai dirinya.
__ADS_1
"Enggak...Ayo kita pindah aja, takutnya ketularan jadi pelakor kayak dia."
***
Alysa segera meletakkan belanjaannya di meja makan. Ia harus membuat kue untuk menyambut kedatangan orangtua dan kedua adiknya. Mengingat Bi Sarinah dan Siska tidak akan pernah bekerja lagi di rumah Angga, Alysa sebisa mungkin harus bisa memasak dan membersihkan rumahnya sendirian. Angga masih belum bisa mencari pembantu baru, karena ia terlalu sibuk.
Alysa kembali ke kamar untuk menyimpan dompet dan juga ponselnya. Tiba-tiba ponselnya berdering membuatnya segera mengangkat teleponnya.
"Hallo? Udah berangkat Dek?"
"Ini mau berangkat ke Bandara, Kak. Soalnya disini gak ada ojek tadi."
"Iya, hati-hati ya. Nanti kalau udah sampai di Bandara langsung naik taxi aja ya."
"Okee, Kak."
Setelah menelpon, Alysa pergi ke dapur. Setibanya di dapur, Alysa segera membuka bahan-bahan tadi yang ia beli, lalu segera melihat buku resep yang ia beli online waktu beberapa hari yang lalu. Ia mulai membacanya satu per satu resep membuat kue. Hingga akhirnya, ia segera melakukannya.
Tiba-tiba Edward lari menuju Alysa dan segera menghampiri Alysa yang sedang fokus dengan buku resep. Ia memeluk kaki Alysa dengan erat membuat Alysa menoleh dan segera menciuminya.
"Mama..."
"Anaknya Mama udah bangun."
"Mama, lagi ngapain? Mau ada tamu ya ke lumah?" tanya Edward ketika Alysa mengangkat tubuhnya.
"Iya. Mama mau bikin kue. Kan nanti sore nenek mau kesini," ucap Alysa.
"Holeee...Nenek mau kesini. Nanti Edwald mau main sama nenek ya Ma..."
"Mau...Mau..."
Edward ikut membantu Alysa dengan memecahkan telur walaupun sempat tercecer kemana-mana. Edward melakukannya lagi tepat pada sebuah wadah, lalu menambahkan gula pasir dan Alysa segera di menge-mix hingga halus. Setelah itu ia menambahkan tepung, susu cream, pengembang dan juga sedikit pewarna makanan.
"Mama...Edwald mau coba," Edward mencoba meraih mixer yang sedang di pegang Alysa.
"Enggak boleh. Tolong ambilkan loyang yang itu ya," perintah Alysa. Edward menurutinya dan segera pergi untuk mengambil loyang.
Setelah tercampur rata, ia segera menerima loyang yang diberikan Edward dan mengoleskan sedikit mentega agar tidak lengket pada adonan kuenya. Alysa menuangkan semua adonannya pada loyang, lalu meratakannya sisiannya agar lebih rapi. Setelah itu ia menambakkan keju parut di atasnya dan segera mengovennya.
"Mama...Edwald mau buat lagi. Boleh ya, Ma...Edwald hanji gak akan mengotoli tempat ini,"
"Enggak bo..." ucap Alysa terpotong.
"Mama...Boleh ya...Bolehkan?" dengan memasang wajah manja dan imutnya membuat Alysa tidak tega.
"Hmm...Curang. Ya udah boleh, tapi jangan banyak-banyak ya."
"Holeee...Edwald sayang sama Mama. Muach..." Edward merentangkan kedua tangannya membuat Alysa segera memeluknya.
Alysa sedang duduk di kursi meja makan sembari menunggu kue matang. Edward sedang asyik dengan adonan kue, hingga pakaian dan pipinya pun terkena adonan. Terdengar pintu di ketuk membuat Alysa menggernyitkan dahinya. Siapa? Mas Anggakah? Fikirnya. Alysa beranjak sembari merapikan pakaian dan rambutnya dan segera pergi.
CEKLEK
"Papa sama Mama," ucap Alysa terkejut dan segera mencium tangan Mama dan Papa mertuanya.
__ADS_1
Papa begitu bahagia, tapi tidak dengan Mama. "Papa belum pernah kesini lagi. Maafkan Papa ya," ucap Papa tersenyum.
"Iya Pa, tidak apa-apa. Ayo Ma, Pa masuk dulu," Alysa, Mama dan Papa pun masuk.
Mama pergi ke dapur karena ia melihat Edward sedang melakukan sesuatu. Ia tidak ingin berbicara dengan menantunya. Sementara itu, Papa duduk di sofa sedang berbincang-bincang dengan Alysa.
"Bagaimana kabarmu? Apa Suamimu memperlakukanmu dengan baik?" tanya Papa.
"Alhamdulillah, Pa. Mas Angga baik banget sama Alysa," sahut Alysa.
Tiba-tiba tercium bau kue yang sudah matang membuat Alysa segera pergi ke dapur. Papa pun mengikuti langkah Alysa menuju dapur.
Untung saja. Pyuhh.
"Cucu kakek, lagi ngapain?" tanya Papa duduk di kursi. Mama sedang memperhatikan Alysa yang sedang mencoba mengeluarkan kue dari loyang. Baunya sangat menggoda membuat Mama beranjak dari duduk dan mendekati Alysa.
"Kamu bisa bikin kue?" tanya Mama membuat Alysa terkejut.
"I-iya Ma. Alhamdulillah," ucap Alysa tersenyum.
"Pintar bangetkan Ma, menantu kita," celetuk Papa
"Hmm..." memalingkan wajahnya.
"Alysa, boleh minta kuenya? Sangat menggiurkan, haha..." ucap Papa tersenyum.
"Haha...Boleh banget dong Pa. Sebentar ya."
Alysa segera meletakkan kue di wadah. Ia memotongnya dan meletakkan di piring kecil, lalu diberikan pada Mama, Papa dan Edward.
"Ini Pa, Ma. Maaf kalau kuenya gak enak hehe..."
"Pasti enaklah."
"Ayo sayang sini dulu. Mau kuenya gak?"
"Mau..."
Setelah memakan kue, mereka berbincang-bincang. Walaupun Mama terlihat jijik dengan Alysa, tapi tetap saja ia harus berbincang-bincang agar Suaminya tidak mengomel. Mama tiba-tiba mengajak Alysa pergi ke taman belakang. Ada sesuatu yang harus ia tanyakan padanya.
Saat ini keduanya sudah duduk bersebelahan di kursi taman yang menghadap ke kolam renang. Alysa menghela nafasnya dan sepertinya Mama akan berbicara sesuatu mengenai rumah tangganya.
Mama memperhatikan Alysa dari atas hingga bawah. Ia mendapati Alysa lebih gemuk. Apa din sedang hamil? Bagaimana mungkin ia bisa hamil, ia sudah memberikan obat pencegah hamil padanya. Fikirnya.
"Apa kau tidak sedang hamil?" tanya Mama tiba-tiba membuat Alysa menoleh ke arah Mama.
"Ti-tidak Ma. Alysa tidak hamil," ucap Alysa ragu.
"Badanmu gendutan. Benar tidak hamil?" tanya Mama dengan nada sedikit tinggi.
"I-iya Ma."
"Apa kau sudah menghabiskan obat pencegah kehamilan yang saya beri?" tanyanya lagi membuat Alysa kebingungan. Lantaran ia tidak pernah meminumnya, karena Angga telah membuat obatnya.
Gimana ya bicaranya. Kenapa Mama harus bicara kayak gini sih.
__ADS_1
Jangan lupa dukung Author dengan cara Vote, Like, Commet dan Tip sebanyak-banyaknya ya😍