
"Tante...Tante harus secepatnya menikahkan aku dengan, Mas Angga. Aku gak mau kalau wanita kampung itu semakin nempel. Waktu itu juga si wanita kampung udah berani nampar aku, tante," jelas Destia berbohong.
"Kita tunggu sampai tiga bulan pernikahannya, dan setelah itu tante akan menikahkan kamu dengan Angga. Sabar ya sayang," Mamanya Angga mengelus lembut pucuk kepala Destia.
Gue harus mendesaknya terus-menerus. Gue takut kalau gue hamil gara-gara laki-laki bej*t itu.
Tiba-tiba Papa datang dan terlihat emosi ketika meluhat istri dan wanita yang dianggap sebagai menantunya itu. "Mama ngapain dekat-dekat wanita itu. Ingat Ma, Angga sudah menikah. Dia sudah bahagia dengan istrinya dan juga anaknya. Mama jangan mencampuri urusan rumah tangga mereka," ucap Papa emosi. "Dan, kau! Kenapa kau ingin sekali merusak hubungan rumah tangga orang? Apa tidak ada laki-laki lain selain anak saya? Di dunia ini banyak sekali laki-laki tampan, kaya. Dan tentunya kau harus menjauhi istri saya dan juga kehidupan anak saya! Saya tidak akan pernah menyetujui hubungan kalian! Angga tidak akan pernah bercerai dengan Alysa sampai kapanpun. Ingat itu!"
Sialan. Udah berani ya si om tua itu ngata-ngatain gue. Awas aja kalau gue udah dapet hatinya Mas Angga. Tante tua dan om-om tua itu gue bantai.
"Tante...Hiks...Ini gimana, tante? Tia harus gimana? Tia sangat mencintai Mas Angga. Mas Angga satu-satunya yang bisa membuat Tia tampil cantik seperti ini. Tante bujuk om lagi ya biar dia bisa menyetujuinya juga."
"Maafkan om ya sayang. Om suka gitu kalau sama orang asing. Pokoknya tenang aja ya."
Cepat atau lambat, gue harus benar-benar mendapatkan Mas Angga. Gue harus rencanain sesuatu lagi.
***
Kini penghuni rumah mewah itu sedang bercengkrama sembari meminum teh dan beberapa cemilan. Terlihat bahagia, apalagi Azkia yang saat ini sudah bisa lebih rileks setelah beberapa menit yang lalu ia di introgasi oleh Ryan. Tanya inilah, itulah yang membuatnya merasa seperti maling ketika ditanya oleh polisi.
Edward berlari menuju ke area ruang tamu sembari membawa tas sekolah yang berisikan susu kotak dan juga buah apel yang tidak pernah ia lupa. Setiap hari Edward selalu memakan buah dan juga susu agar pertumbuhannya begitu cepat dan juga tentunya sehat. Edward menarik tangan Angga, ketika Angga sedang serius berbicara dengan Ryan. Edward akan menagih janji jalan-jalannya hari ini, ia tidak pernah lupa akan hal itu.
"Papa...Ayo! Katanya mau jalan-jalan!" pekik Edward menarik paksa tangan Angga dengan sekuat tenaganya.
"Nanti dulu."
"Sekalang!! Papa udah janji sama Edwald mau jalan-jalan. Ayo...!" jika Edward sudah seperti ini, Angga tidak bisa menolaknya lagi dan ia harus mengikuti keinginan putranya.
"Mama...Ayo jalan-jalan," sembari menarik tangan Alysa.
"Iya sayang. Sebentar, Mama ke dapur dulu ya."
"Nenek, Kakek ayo ikut. Tante Kia, Om Zaki ikut juga ya."
"Om Ryan gak di ajak nih?" celetuk Ryan sembari tertawa.
"Enggak...Edwald gak kenal sama Om Lyan!" ucap Edward dengan memalingkan wajah gemesnya.
Melihat Edward yang tidak menyukai kehadiran dirinya, Ryan segera memangkunya dan membawanya ke luar rumah. Tiba-tiba Edward menangis dan tidak mau dekat-dekat dengan Ryan. Ryan terus saja memangkunya agar ia juga bisa lebih dekat dengan keluarga calon istrinya.
__ADS_1
"Mama...Papa...Hiks...Tolongin Edwald, Edwald mau di bawa."
"Diem ya anak tampan. Om Ryan tidak akan membawamu pergi. Kita naik mobil om Ryan ya," ucap Ryan lalu membuka handle pintu mobil dan masuk. Edward memberontak, namun Ryan kekeh tak mau membiarkan anak kecil itu pergi.
"Diem ya. Nanti om Ryan beliin mainan baru," ucap Ryan membuat Edward diam dan menatap Ryan.
"Benelan om? Om mau beliin mainan balu? Iyakah?" tanya Edward sedikit antusias.
"Iya. Tapi harus baik sama om ya. Tolong kasih tahu ke tante Kia, nanti duduknya disini bareng sama om."
"Iya om. Ya udah, Edwald mau kasih tahu tante Kia. Minggil om,"
Hmm anak kecil ini. Batin Ryan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Edward lari dari mobil Ryan menuju ruang tamu untuk memberitahukan amanat dari Ryan, yaitu membujuk Azkia untuk duduk satu mobil dengannya.
"Capek banget. Tante Kia, itu di suluh om Lyan ke mobil."
"Mau ngapain?"
"Enggak tahu, tuh," dengan meninggikan kedua bahunya. Azkia segera pergi.
Edward tampak riang dan mengacungkan kedua tangannya di kursi belakang dengan Zaki.
"Om Zaki, Edwald mau punya mainan balu dali om Lyan. Nanti mainan Edwald makin banyak," celetuk Edward.
"Wahh...Hebat banget ya mau punya mainan baru. Nanti om Zaki di kasih enggak?" tanya Zaki.
"Enggak..! Inikan punya Edwald."
"Mama mau duduk di depan." Alysa segera memangkunya dan mendudukkan Edward di pahanya.
Angin sore sangat menyejukkan. Alysa dan Edward tampak melambaikan tangannya menembus angin-angin. Tak lupa mereka bernyanyi agar suasana yang sejuk ini tidak akan berlalu.
Tidak berapa lama, mobil terhenti di basement Mall. Angga membuka sabuk yang menempel. Alysa dan Edward keluar di ikuti Zaki dan Angga. Setelah itu, mereka segera pergi menuju area mainan. Edward akan membeli mobil-mobilan remote.
"Papa, yang ini," menunjuk salah satu mobil-mobilan yang terpajang.
"Yang ini juga," lanjutnya.
__ADS_1
"Satu aja mobilnya!" ucap Angga.
"Gak mau. Mama mau yang ini juga!" mengadu ke Mamanya.
"Selalu saja mengadu! Dasar anak sama Mama sama aja, tukang ngadu."
"Udah, beliin aja Mas."
"Mama, boleh ya? Bolehkan beli mainannya dua?" dengan menampakkan wajah imutnya.
"Iya, boleh. Yang ini sama yang itu kan?" tunjuk Alysa.
"Holeee belinya dua," ucap Edward sembari memutarkan tubuhnya.
"Jangan terlalu di manja, sayang."
"Kasihan, Mas."
"Kia, sini," teriak Alysa melambaikan tangannya.
"Iya," sahut Azkia.
Mereka segera mendekat, "Ada apa kak?"
"Kamu jagain Edward ya, katanya entar mau main bola-bola itu. Dan satu lagi, katanya Ryan mau beliin mainan juga ya untuk Edward haha," ucap Alysa membuat Azkia menatapnya ketus. Ryan yang berada di samping Azkia langsung memasang tersenyum paksa.
Astagfirullah harus nemenin anak kecil? Pasti capek banget kesana-kemari. Batin Ryan.
"Tapi, Kak..." ucap Azkia terpotong.
"Gak ada tapi-tapi. Kakak sama Mas Angga mau nonton dulu sebentar. Tolong jagain ya, itung-itung belajar buat nanti setelah kalian menikah dan punya anak. Dan satu lagi, Ibu sama Ayah dan juga Zaki akan ikut sama Kakak."
"Ihh nyebelin. Aku juga mau nonton, Kak."
Alysa segera pergi menuju Angga yang sudah mendahuluinya sebelum Azkia semakin marah karenanya.
Aku kerjain kan haha. Lagian berduaan terus.
Jangan lupa Vote, Like, Comment sebanyak-banyaknya❤
__ADS_1