Menikahi Duda Tampan

Menikahi Duda Tampan
BAB 50


__ADS_3

"Ditanya malah bengong!" ketus Mama. Namun Alysa masih saja melamun, entah apa yang harus ia katakan pada mertuanya.


Aku berbohong aja ya. Lagian obatnya juga gak ada.


"Udah abis Ma. Alysa minum dua kali sehari," ucap Alysa berbohong untuk menyembunyikan semuanya.


"Benarkah? Kau tidak membohongi saya?" tanya Mama dengan menatap Alysa. Ia ingin mencari kebohongan dimatanya, namun ia tidak menemukannya. Alysa begitu pintar menutupi masalahnya hingga tidak bisa di prediksi oleh siapapun. "Setelah tiga bulan, kau harus pergi sejauh mungkin dari kehidupan anak saya."


Alysa mencoba tegar, namun air matanya ingin sekali keluar. Mengapa hidupnya selalu begini? Kenapa orang lain tidak? Alysa menghela nafasnya dengan berat.


"Kalau misalnya Alysa bisa hamil, apa Mama tetap akan mengusir Alysa?" tanya Alysa tanpa menatap Mama dan lebih fokus ke depan.


"Pertanyaan yang sangat bagus. Kalau kau tiba-tiba hamil, kau harus tetap pergi dan bawa bayimu, saya tidak akan pernah melihat anak yang dikandungmu. Ingat, kau tidak boleh hamil Alysa."


Alysa tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ingin sekali ia menonjokkan tangannya ke dinding hingga berlumuran darah. Kehidupan yang begitu pahit harus ia telan sendiri. Pernikahan tanpa di restui orangtua akan berakhir seperti ini.


Kenapa semua ini terjadi? Aku ingin hidup bersama dengan suamiku dan anak-anakku. Kenapa aku harus bertemu dengannya? Kenapa aku harus menikah dengannya? Kenapa? Andaikan waktu bisa di putar kembali, aku ingin menjadi anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Kalau aku punya masalah aku akan cerita pada Ibuku.


Tiba-tiba Angga datang dengan memangku Edward. Ia mendekati dua wanita yang sedang duduk terdiam di kursi taman. Ia tersenyum, akhirnya Istri dan Mamanya bisa lebih dekat.


"Sayang?" ucap Angga dan segera mencium kening Alysa dengan lembut membuat Mama menyibikkan bibirnya.


"Mas, udah pulang?" tanya Alysa lalu beranjak dan segera mencium tangan Suaminya.


"Udah, tadi bicara dulu sama Papa di dalam."


"Ma. Apa menantu Mama ini sudah bisa Mama terima?" tanya Angga.


"Hmm..."


"Mas...Mau mandi dulu, apa mau makan?" tanya Alysa mengalihkan pembicaraan yang akan membuat dirinya tambah sakit.


"Makan dulu, Mas laper banget. Ayo Ma, kita makan dulu," ajak Angga.


"Iya."


Mereka segera kembali ke ruang makan. Papa sedang asyik menonton acara televisi dengan memakan kue buatan Alysa. Alysa segera menghampirinya dan mengajaknya makan sore.


"Pa, kita makan dulu yuk. Alysa udah masak tadi," ucap Alysa dan Papa pun segara beranjak.


"Ga, perusahaan kamu katanya ada masalah?" tanya Papa ketika sudah duduk.


"Iya Pa. Tapi alhamdulillah sudah bisa diperbaiki lagi. Papa tahu darimana?" tanya Angga lalu segera menyantap makanannya yang diberikan Alysa.


"Tadi Willy yang kasih tahu. Edward makannya mau disuapin gak?" ucap Papa mengalihkan pembicaraannya dan fokus pada cucunya.


"Mau di suapin sama Mama," ucap Edward membuat Alysa tersenyum.


"Sini duduknya. Nanti Mama suapin," ucap Alysa dan Edward pun mendekat. Alysa segera menyuapi Edward.


"Angga dan Edward gemukan ya sekarang. Berarti istrinya bisa mengurusnya. Papa suka lihat ada beberapa orang yang mengabaikan suaminya dan memilih untuk mempercantik dirinya dengan belanja yang aneh-aneh. Tapi menantu Papa tidak begitu, dia sangat telaten mengurusnya," ucap Papa membuat Alysa tersedak.


UHUKK.. UHUKK..


"Makannya pelan-pelan sayang," Angga menyerahkan air putih dan Alysa pun segera meminumnya.


"Terima kasih, Mas."


Mama terlihat muak melihat drama yang mainkan Alysa. Ia ingin sekali menendang keluar dari rumah anaknya.

__ADS_1


Hari ini kau di puji-puji ya? Ingat, sebentar lagi kehidupan yang sesungguhnya akan menghampirimu. Batin Mama.


"Iya Pa, Alysa sangat telaten mengurus suami dan anaknya. Kalau wanita lain mungkin gak akan kayak gini," sahut Angga.


"Kamu tidak salah memilih calon Istri..." ucap Papa terpotong.


"Sudah Pa. Kita makan saja," ucap Mama tanpa menoleh pada orang-orang disana.


Setelah selesai makan, Mama dan Papa segera pulang karena Papa harus mengantarkan Mama arisan. Alysa membungkuskan kue yang ia buat dan segera menyerahkannya pada Papa untuk oleh-oleh.


Setelah kepergian mertuanya, Alysa kembali ke dapur untuk membereskan perabotan yang kotor. Angga dan Edward ke kamar untuk mandi. Setelah membersihkan perabotan, Alysa duduk di ruang keluarga dan menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. Ia mulai memikirkan ucapan Mama yang membuatnya sakit hati. Bagaimana mungkin ia tidak sakit hati? Pernikahannya hanya seumur jagung.


Aku harus mempersipkan diri keluar dari rumah ini. Kalau misal dalam waktu dua bulan ini aku tidak hamil lagi, maka aku akan segera pergi. Aku tidak akan membicarakan ini pada Mas Angga. Mas, maafkan aku. Kalau aku sudah tidak ada di rumah ini lagi, Mas harus jaga diri baik-baik. Perhatikan Edward, aku tidak bisa mengurusnya lagi. Aku ingin mendapatkan kebahagiaan bersama keluarga. Semoga kamu bisa memilih ibu yang baik untuk Edward nanti. Aku tidak akan pernah melupakanmu Mas. Mas selalu ada dihatiku sampai kapanpun.


Setelah melamun hingga akhirnya kantuk pun mulai datang dan Alysa pun tertidur di sofa.


***


Pukul 18.30 WIB, Alysa bangun dari tidurnya. Ia mendapati sudah berada di ranjang kamarnya. Ia mencoba mengingat kembali, karena tadi ia tertidur di sofa dan bagaimana ia bisa tidur disini? Fikirnya. Ia tidak mendapati Angga dan Edward disana. Alysa segera beranjak dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Setelah itu ia keluar untuk mencari Angga. Ia membuka pintu ruang karja dan benar saja, Angga sedang bekerja di depan laptopnya. Alysa segera masuk dan menutup pintunya kembali.


Angga menoleh dan segera beranjak. "Kamu udah bangun?" tanya Angga lalu mencium kening Alysa.


"Mas, kan tadi Alysa tidur di sofa. Kok udah di kamar aja," tanya Alysa.


"Mas, yang bawa kamu ke kamar. Kasihan kamu ngantuk banget. Oh iya itu Ibu, Ayah, dan adikmu sudah sampai," ucap Angga membuat Alysa kembali ceria.


"Dimana mereka sekarang Mas?" tanya Alysa matanya berbinar lalu hendak pergi mencari keadaan orang tua dan adiknya.


"Mungkin di kamarnya. Ayo kita kesana," Angga dan Alysa segera pergi. Ia menuruni anak tangga ke lantai dua. Alysa membuka pintu kamar namun tidak ada siapa-siapa. Tiba-tiba terdengar suara di lantai satu, dan Alysa segera berlari.


"Ibu, Ayah..." ucap Alysa dari kejauhan membuat mereka yang sedang asyik menonton televisi pun menoleh dengan tersenyum.


"Anak Ibu yang cantik. Ibu kangen sekali denganmu, Nak," Ibu memeluknya dengan erat dan mencium kening Alysa.


"Tadi pukul setengah enam Ibu datang. Iya, tadi juga suamimu yang mengangkatmu. Ayo duduk dulu, kasihan ada yang lagi hamil," ucap Ibu dengan mendudukkan Alysa membuat Alysa ingin sekali menangis dan berkata yang sesungguhnya jika anak yang dikandungnya sudah keguguran.


Ibu, maafkan aku. Aku tidak bisa menjaganya. Aku minta maaf. Batin Alysa.


Angga yang mendengar ucapan Ibu mertuanya langsung mendekati Alysa dan mencoba menguatkannya. Ia tahu, Alysa begitu rapuh setelah keguguran. Ia mengusapi rambut Alysa dengan lembut.


Alysa menoleh pada Angga, ia ingin sekali berkata sesuatu pada Ibunya. Namun Angga tidak mengizinkannya.


"Gak boleh," lirih Angga.


"Kakak, mau bicarain tentang apa?" tanya Azkia lalu mendekat dan duduk di seberang Alysa.


"Oh, iya. Jadi gini, waktu Kakak pergi ke Raja Ampat dan Mas Angga ketemu sama teman bisnisnya. Ternyata dia belum menikah, alias jomblo akut. Mas Angga nyaranin untuk menjodohkan kamu dengannya. Wajahnya tampan, keren deh pokoknya," jelas Alysa ingin sekali ia tertawa.


"Ha... Yang benar Kak? Siapa namanya? Beneran Kak temannya om Angga tampan banget?" mata Azkia Tampa berbinar.


"Heyy...Satu-satu kalau mau nanya," celetuk Zaki membuat Azkia menatap kesal.


"Biarinlah. Aku lagi nanyain masa depanku," Azkia memalingkan wajahnya.


"Pasti usianya jauh banget..."


"Gak apa-apa, yang penting tampan haha..." Azkia tertawa membuat semua orang yang ada disana ikut tertawa.


"Jadi, kapan aku bertemu dengan calon suamiku Kak?" tanya Azkia.

__ADS_1


"Kamu itu masih sekolah, jangan nikah dulu sebelum aku nikah ya," ucap Zaki tidak memperbolehkan adiknya menikah dulu.


"Ya kan gimana juga takdirnya. Kalau aku nikah sekarang ya mau gimana lagi," pekik Azkia.


"Kok, malah ribut sih," ucap Ibu.


"Besok dia akan kesini. Kamu harus anggun ya, jangan bobrok kayak gini haha...Kasihan nanti calon suamimu kalau tahu sifat calon istrinya kayak gini," ucap Alysa.


"Si Ryan juga bobrok," ucap Angga.


"Berarti usianya kayak om Angga ya?" Tanya Azkia membuat semuanya tertawa kecuali Zaki.


"Beda dua tahun katanya dari Mas Angga," ucap Alysa.


"Waww...Sugar daddy nih, hehe..." kekeh Azkia.


"Aku dulu yang nikah," kekeh Zaki dengan menatap tajam pada Azkia.


"Enggak bisa. Harus aku dulu," ucap Azkia tidak mau kalah.


"Dimana-mana, Kakaknya dulu yang nikah. Nah, setelah itu baru adiknya," sewot Zaki.


"Kalau aku nungguin kamu nikah dulu, yang ada sampai 10 tahun lagi kayaknya."


Alysa beranjak pergi ke dapur untuk mengambil kue buatannya. Ia mengambil piring dan meletakkan kuenya. Setelah itu ia kembali lagi ke ruang keluarga.


"Ayo dimakan dulu kuenya. Ini Alysa yang bikin."


"Menggiurkan..."


***


Waktu menunjukkan pukul 21.00 WIB. Alysa dan Angga segera pergi ke kamar. Tiba di lantai 3, Alysa melihat Edward yang sudah tertidur. Ia masuk dan segera mendekat. Alysa mengusapi pucuk kepala Edward dengan lembut, lalu menciuminya.


Mama sangat menyayangimu, Nak. Kalau Mama nanti pergi dari rumah ini. Kamu gak boleh nakal ya, kamu harus nurut sama Papa. Maafkan Mama, jika Mama tak ada lagi di rumah ini. Mama tidak akan pernah melupakanmu dan juga Papa. Kalianlah yang Mama sayangi.


Tak terasa bulir-bulir air matanya mulai mengalir membasahi pipi anak kecilnya. Tiba-tiba Angga datang dan duduk di tepi ranjang.


"Kenapa nangis?" tanya Angga lalu memeluk tubuh Istrinya.


"Gak apa-apa, Mas. Ayo kita tidur, Mas pasti capek banget."


"Ya udah, kita tidur."


Alysa segera menyelimuti Edward dan menciuminya, lalu segera pergi bersama Angga. Tiba dikamar, Alysa pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajah kaki dan juga menggosok gigi sebelum tidur. Setelah itu, ia kembali ke ranjang dan duduk bersebelahan dengan Angga. Angga mendekat dan kembali memeluk Alysa. Alysa menerima pelukan itu dan kepalanya tersandar di dada bidang Angga.


"Tadi Mama bicara apa?" tanya Angga.


"Bicara yang mana, Mas?" tanya Alysa balik.


"Yang duduk di kolam tadi," ujar Angga.


"Enggak bicara apa-apa. Cuma nanyain kondisi Alysa saja, Mas," ucap Alysa berbohong. Angga menciuminya dan menggelitikkan jari-jemarinya di tangan Alysa.


"Hmm...Kita itu yuk?" ajak Angga tersenyum.


"Aku lagi datang bulan, Mas," ucap Alysa membuat Angga terlihat kecewa.


"Ahhh...Gak jadi dong."

__ADS_1


"Hahah...Libur dulu aja."


***


__ADS_2