
Sementara itu, siang hari Destia sedang berada di rumah Mamanya Angga. Ia merayu dan menggodanya agar semua keinginannya terpenuhi alias segera menikah dengan Angga.
"Tante, gimana nih? Masa gak ada perubahan sama sekali buat aku kedepannya."
"Sabar...Nanti juga tante akan menendang wanita kampung itu." jawab Mamanya Angga. Mamanya Angga melihat perut Destia yang sedikit menonjol dan itu terlihat dengan jelas, hingga menanyakannya. "Sayang, kok perut kamu gede ya sekarang? Jadi gendutan kayak gitu (tatapannya ke perut buncit Destia)." Destia yang menjadi dengar pun langsung terkejut bukan kepalang.
Astaga, kenapa gue bisa kecolongan gini sih? Aduhh parah, parah. Si tante udah ngelihat. Gue harus gimana nih? Argghhh...Sialan.
"Hah? Oh ini, aku sekarang gendutan tante hehe..." sembari menutupi perutnya yang kini sudah sedikit membuncit.
"Kenapa jadi gendutan? Kamu ngemil terus ya? Pipi kamu juga sekarang jadi tambah gede!"
Destia tak bisa menjawab, antara bingung dan juga malu entah apa yang harus di ucapkannya itu. "Tante jangan ngira aku hamil ya? Ini karena Tia ngemil terus!"
Mamanya Angga tersenyum. "Masa calon mantu udah hamil duluan." tertawa puas membuat Destia ikut tertawa walaupun ia merasa sakit hati dengan ucapannya.
"Destia masih perawan kok. Ehh tante, katanya Edward lagi study tour ya? Nah ini kesempatan tante buat ngebujuk Mas Angga." ide Destia membuat Mamanya Angga berfikir sejenak. Ada bagusnya juga, karena mungkin istrinya Angga juga tidak ada di rumah.
"Ide bagus tuh!"
Ya iyalah ide bagus, emang tante yang diem-diem tapi gak berfikir sesuatu!
Setelah berbincang-bincang, Destia memutuskan untuk pulang. Ia harus mengabari Adryan untuk melancarkan aksinya. Mobil yang di tumpangi Destia melaju menuju rumah Adryan. Ia disana akan mengatur strategi yang aman dan mungkin berhasil, menurutnya.
"Gue ke rumah lo sekarang. Ingat nanti malam lo harus kabari Mas Angga."
"Gue tunggu!"
Lima belas menit kemudian, mobil berhenti di depan rumah. Destia keluar dan segera pergi menemui Adryan. Ia benar-benar sudah tidak sabar untuk melihat Angga tak berdaya berada disisinya.
Destia membuka pintu dan duduk di sofa yang berseberangan dengan Adryan. Destia dengan serius menceritakan semuanya sedatail mungkin.
"Gini, lo harus ke Hotel kira-kira jam 6 sore ya. Lalu telepon target kita, buat perjanjian khusus, ya semisal kontrak atau apa gitu. Nah sebelum target datang, lo harus campuran minuman untuknya dengan obat tidur, gue soalnya gak tega kalau dia harus mabuk berat. Setahu gue, dia gak pernah mabuk-mabukan. Nah setelah itu, lo jangan kasih tahu siapapun termasuk pelayan yang membawa minuman." jelas Destia.
__ADS_1
"Berarti gue harus pesan minuman dulu!"
"Ya iyalah. Nanti gue stay di Hotel itu jam 7 malam. Gue udah nyiapin kamar khusus buat nanti."
"Gila bener lo, mau jadi pelakor hubungan orang! Haha..."
"Haha...Lo udah tahukan otak licik gue? Kalau gue menginginkan sesuatu pasti harus tercapai. Ingat ya, jangan lupa."
"YOI!"
***
Sore hari Angga masih sibuk bekerja di perusahaannya. Semua pekerjaan harus ia selesaikan malam ini juga, termasuk meeting dengan klien malam ini juga di Hotel X. Willy yang sedang berada di ruangan Angga pun merasa aneh dengan tingkah Direkturnya. Ia memperhatikannya dan sampai Angga menelpon seseorang.
Apa itu klien yang minta meeting di Hotel? Hotel mana yang mereka maksud?
Angga menutup teleponnya dan segera pergi meninggalkan Willy seorang diri. Willy beranjak dan mendekati kursi AnggamIa mulai membaca berkas-berkas yang diberikan dari perusahaan X (perusahaan Adryan). Willy membacanya satu per satu.
"Perusahaan ini bukannya gak ada ya?" gumam Willy. Willy yang merasa ada yang tidak beres dengan berkas itu, ia segera pergi mengikuti langkah Angga yang sudah sampai di lantai bawah.
Gila, Pak Angga cepet bener jalannya.
Willy mencoba menghubungi Angga, namun ponsel yang dihubungi langsung tidak aktif. Tiba di luar lobby, Willy melihat Angga sudah melakukan mobilnya keluar dari area perusahaan. Bergegas Willy segera menuju parkiran untuk mengikuti Angga.
Mobil kejar-kejaran hingga Willy kecolongan. Mobil Angga sudah melaju jauh dari hadapannya. Willy tak menyerah, ia terus mencari dan mengejarnya kembali. Hingga akhirnya ia menemukan mobil Bos-nya yang terparkir di area minimarket. Willy menghentikan mobilnya sembari menunggu Bos-nya keluar.
Firasat ku jadi gak enak kayak gini. Apa Alysa tahu kalau Pak Angga akan meeting di Hotel malam ini? Kurasa, aku harus menghubunginya.
Namun sayang, Willy tidak mempunyai nomor telepon Alysa. Ia membanting stirnya dengan kesal. Angga keluar dari pintu minimarket dan segera masuk ke dalam mobilnya. Tidak berapa lama, mobil Angga melaju dengan kecepatan sedang membuat Willy segera mengikutinya.
Di sisi lain, Angga meminum sebotol kopi yang sudah di belinya tadi sembari melajukan mobilnya. Ia tidak merasakan apapun yang akan terjadi padanya. Ia masih berfikiran tenang, karena ia harus berprofesional sebagai seorang Direktur.
Angga mengaktifkan kembali ponselnya dan hendak menelpon Alysa. Tapi dengan cepat ia membungkam keinginannya itu. "Mama udah sampai belum ya? Kalau udah sampai pasti ngabarin juga."
__ADS_1
Angga berniat untuk menelpon rekan bisnisnya yang akan mengajaknya meeting malam ini. "Saya sudah di perjalanan!"
"Baik, Pak. Saya sudah disini.
Willy masih terus mengikuti mobil Angga dari kejauhan. Hingga akhirnya mereka pun sampai di sebuah Hotel yang begitu asing menurutnya. Seperti Hotel zaman dulu dari segi bentuknya. Willy memarkirkan mobilnya di area timur agar Angga tidak melihatnya.
Angga masuk ke dalam hotel itu dan Willy pun mengekorinya dengan mengendap-endap. Suasana Hotel malam itu sangat sepi, jadi Willy tidak begitu cemas. Angga menghampiri laki-laki yang sedang duduk di sofa dengan memainkan ponselnya. Dua minuman sudah terjajar dengan rapi di atas meja.
"Maaf, telah menunggu lama." Angga mengulurkan tangannya.
"Tidak apa-apa, Pak. Mari kita lanjutkan saja perbincangannya mengenai perusahaan." Adryan membalas uluran tangan Angga.
Mereka berbincang-bincang dengan serius, hingga Willy yang sedang memperhatikan pun merasa ingin mengetahuinya. Ia mencoba berjalan semakin mendekat agar tahu semuanya.
Gak aneh sih, cuma gitu doang. Tapi kenapa harus di Hotel segala? Perusahaan Pak Angga memiliki ruang meeting khusus yang gede banget, tapi kenapa malah disini?
Semua pertanyaan demi pertanyaan masih belum bisa Willy pecahkan satu per satu. Yang terpenting sekarang, Angga ada dalam pengawasan dirinya.
"Begitu, Pak. Apa ada yang kurang?" tanya Adryan.
"Saya rasa sudah jelas semuanya. Kapan Bapak bisa ke perusahaan saya lagi? Ya, kita bicara biar lebih intens aja."
"Saya tidak tahu, Pak. Saya masih banyak pekerjaan, ini juga saya menyempatkan diri kesini. Ayo di minum dulu, Pak." Adryan menawarkan minuman yang sudah di campurkan dengan obat tidur.
Minumlah, sebentar lagi Anda akan berada di alam bawah sadar.
Angga mengangguknya dan segera mengambil minuman itu. Willy yang juga merasa haus, ia segera keluar dari area Hotel dan hendak membeli sesuatu. Angga meminumnya dengan setengah gelas, rasa haus itu mulai terasa lega. Angga masih bisa berbicara dan bergurau bersama Adryan. Efek dari obat tidur yang ada di minumannya masih belum ada reaksinya.
Tiba-tiba, Angga merasa pusing di bagian kepalanya dan matanya seperti ingin tertidur disaat itu juga. Kenapa jadi pusing ya? Apa karena saya belum makan? sembari memegangi kepalanya. Adryan tersenyum tipis melihat hal itu.
Adryan mengambil ponselnya dan hendak mengirimkan sebuah pesan pada Destia.
***
__ADS_1
Kasihan Angga ihh, Author jadi gak tega:(
Jangan lupa Vote, like comment sebanyak-banyaknya. BAB ini cukup menegangkan, mana lagi ujan disini hadeuh🤧❤