Menikahi Duda Tampan

Menikahi Duda Tampan
S2-BAB 92


__ADS_3

Pukul 17.00 waktu setempat, Angga dan Edward sampai di rumahnya. Fikirannya mulai terganggu dan emosinya mudah membludak. Seperti hal tadi di kantor, ia habis-habisan memarahi karyawannya. Angga duduk di sofa, dan Edward di ambil alih oleh pembantunya untuk segera dimandikan.


"Kalo tiap hari hidup saya seperti ini? Bisa-bisa saya gila. Punya karyawan gak ada yang bener kerjanya. Punya istri malah pergi entah kemana. Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini?" Angga merebahkan tubuhnya sembari memijat kecil dibagian dahinya. Tiba-tiba, deringan ponsel membuatnya segera beranjak dan mengambil ponselnya yang berada di meja.


"Hallo?"


"Pak, besok harus ke Singapura untuk meninjau perkembangan perusahaan. Karena data-data perusahaan yang disana ada sedikit masalah."


"Oke. Siapkan tiket penerbangan untuk besok."


"Baik, Pak."


Angga memutuskan teleponnya. Baru saja ia bisa istirahat sebentar dan menghilangkan rasa penat setelah bekerja seharian, sekarang masalah muncul lagi. Ingin rasanya ia mengakhiri hidupnya di saat itu juga.


"Saya kuat. Masih banyak tanggungan yang harus saya lakukan. Anak saya masih kecil, orang tua saya udah tua. Angga berfikirlah positif, hari ini kamu banyak masalah, mungkin suatu saat nanti semua yang hilang dari dirimu akan kembali lagi kepadamu." Angga mencoba menenangkan dirinya. Kebahagiaan akan tercipta jika kita sendiri bisa merubah diri kita dan tentunya bersabar dengan apa yang saat ini kita jalani. Semua sudah ada yang mengatur, hanya saja kita terlalu ambisius untuk mencapainya.


Pembantu rumah segera membawa Edward kembali dari kamar setelah di mandikan. Edward duduk di samping Papanya. Pembantu itu masih terdiam di samping Angga dan hendak membicarakan sesuatu, tapi ia teringat kembali pesan apa yang di ucapkan oleh wanita yang tadi datang ke rumah majikannya.


Saya ceritain aja ya ke, Tuan? Kalo tadi ada wanita yang nyariin anaknya.


"Ya udah, Bi. Lain kali aja saya kesini. Bi, jangan kasih tau Tuan ya?"


"Kenapa, Mbak?"


"Udah, Bi. Rahasia kita aja ya? Assalamu'alaikum."


Tapi kalo di ceritain, mungkin Tuan juga udah tau. Wanita yang tadi kan sepupunya.


Pembantu itu masih terdiam membisu di samping Angga. Angga yang saat itu melihat wajah cemas pembantunya, membuatnya pun menanyakan hal itu. "Kenapa, Bi? Ada sesuatu?"


"E-enggak, Tuan. Itu makanannya udah siap. Tuan mau makan dulu?"


Ada yang aneh sama pembantu ini.


"Nanti aja, saya mau mandi dulu. Edward suapin ya, Bi, sekalian ajak main. Hari ini saya capek banget."


"Baik, Tuan." Angga beranjak dan segera pergi menuju kamarnya.


Selama dua Minggu ini bekerja, pembantu rumah tidak ada yang mengetahui istri dari Angga. Ia hanya tahu, jika istri Angga sudah meninggal empat tahun yang lalu setelah melahirkan Edward. Foto Sarah yang masih terpajang di area ruang tamu dengan jelas membuat pembantunya mengira jika Angga tidak menikah lagi. Angga sengaja meletakkan foto Alysa di kamarnya saja agar mereka tidak ada yang mengetahui konflik rumah tangganya. Pembantu rumah tidak diperbolehkan masuk dalam ke kamarnya, lantaran itu privasi dirinya.


***


Pagi hari, Alysa bangun dan merasakan sesuatu tidak enak. Sama seperti kemarin, pagi ini ia memuntahkan kembali isi perutnya. Wajahnya pucat, tubuhnya lemas tak berdaya. Setelah memuntahkan isi perutnya, Alysa pergi ke dapur untuk membuat teh hangat agar kondisi tubuhnya segera membaik.


Ibu datang menghampiri Alysa. "Nak, biar Ibu aja yang buat. Kamu istirahat aja," perintah Ibu membuat Alysa mengangguknya.


"Kamu mau makan bubur?" tanya Ibu. Alysa menggelengkan kepalanya seperti anak kecil.

__ADS_1


"Gak mau, Bu. Alysa mau nasi padang." tingkah laku Alysa merengek seperti anak kecil membuat Ibu kebingungan. Ada apa yang terjadi dengan anaknya itu.


"Nasi padang? Disini gak ada yang jualan nasi padang."


"Ada, Bu. Itu di depan, warung sebelum masuk ke komplek ini."


"Tapi, itu jauh banget, Nak. Nanti aja siang Ibu beliin. Sekarang makan bubur aja ya? Biar kamu cepet sembuh." Alysa kekeh dengan keinginannya itu. Ibu menghela nafasnya dan mengiyakan apa yang diinginkan anaknya. "Ya udah. Ibu beliin sekarang. Kamu istirahat aja."


"Jangan, Alysa aja yang beli, Bu. Deket kok, gak jauh. Ibu disini aja, gak usah kemana-mana."


Alysa segera pergi keluar dengan mengjinjitkan kakinya seperti anak kecil. Azkia dan Zaki yang baru saja keluar dari kamarnya merasa heran dengan tingkah laku Kakaknya itu. Azkia segera pergi ke dapur, dan Zaki duduk bersama Ayah di ruang makan.


"Bu, Kakak mau kemana?" tanya Azkia, lalu mencoba membantu sang Ibu memasak.


"Mau beli nasi padang."


"Nasi padang? Tumben banget beli nasi padang. Ehh, Bu. Kok, Kak Alysa jadi beda ya?"


"Beda gimana?"


"Tingkahnya itu kayak anak kecil. Tadi sebelum keluar, Kakak malah jinjit-jinjit kayak gitu. Biasanya, Kak Alysa anti banget sama yang gituan."


"Huss...Jangan bicara kayak gitu. Mungkin Kakakmu pengen balik lagi kayak anak kecil." Ibu tertawa kecil mendengar penuturan Azkia.


"Tapi itu bener, Bu. Bu? Apa, Kak Alysa hamil?" tanya Azkia membuat Ibu menghentikan acara memasaknya dan mengedarkan pandangannya pada Azkia.


"Hamil? Alysa hamil?" tanya Ibu merasa tidak percaya.


"Sudah, nanti kita periksakan aja biar tau kebenarannya. Ayo bantu Ibu lagi."


Sementara itu, Alysa masih berjalan untuk membeli nasi padang yang di inginkannya. Ada yang aneh dengan dirinya. Pagi-pagi begini ia menginginkan nasi padang?


"Nasi padang aku menginginkanmu...Ahh...Pasti enak banget..." Alysa mengusapi perut datarnya. Bukan karena ada bayi di dalamnya, tapi ia mengusapinya hanya karena lapar saja. Dan entah mengapa, tangannya tidak terlepas dari perutnya itu. Ia mengelusnya dengan lembut.


"Kamu pasti laper ya perut? Sabar ya, itu udah deket kok warungnya. Nanti kita makan yang banyak, biar gak cepet laper terus."


Alysa masih berjalan, warung nasi padang yang terletak di depan komplek sangat membuatnya kelelahan. Lantaran jaraknya cukup memakan waktu bila hanya berjalan kaki saja. Akhirnya yang ditunggu-tunggu pun sampai juga. Alysa langsung memesan dua bungkus nasi padang jumbo.


"Dua yang jumbo ya, Bu. Dibungkus aja."


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Alysa pulang dengan membawa dua nasi padang jumbo. Hatinya tersenyum puas, akhirnya keinginannya itu bisa terpenuhi. Walaupun ini begitu gila menurutnya, tapi ia hanya bersikap biasa saja dan tidak menaruh curiga dengan dirinya sendiri.


Sampai di rumah, semua anggota keluarga begitu heran melihat Alysa yang begitu aneh dengan tingkahnya.


"Kak?" tanya Azkia.


"Iya. Mau nasi padang gak? Ini, Kakak beli dua yang jumbo."

__ADS_1


"Enggak ahh." tolak Azkia, ia segera makan kembali dan pandangannya masih pada Alysa yang sedang makan nasi padang seperti anak kecil.


Apa bener dugaanku, kalo Kak Alysa lagi hamil? Soalnya mual-mual dan tingkahnya juga sedikit aneh.


Selepas sarapan bersama, Azkia dan Zaki segera pergi ke sekolah. Ayah segera memanggil Dokter ke rumahnya yang berada di ujung komplek rumah. Dokter itu merupakan langganan yang sering mereka panggil. Ibu menonton acara televisi di ruang tamu, dan Alysa merebahkan tubuhnya di ranjang.


"Bu?" teriak Alysa dari dalam kamar.


"Iya. Ada apa?" tanya Ibu.


"Alysa ke kantor aja. Soalnya udah mendingan."


"Besok aja. Ayah kan lagi manggil Dokter buat meriksain kondisi tubuh kamu, Nak."


"Tapi, Bu..." belum sempat ia melanjutkan ucapannya, Ibu segera memotongnya.


"Gak ada tapi-tapi, kamu istirahat aja. Dari kemarin kamu mual-mual terus dan wajah kamu sangat pucat."


"Hmm...Tapi, aku harus kerja, Bu."


Perbincangan mereka berakhir dengan datangnya Ayah beserta Dokter yang sudah beliau panggil. Dokter segera masuk ke kamar Alysa. Ia segera memeriksa kondisi tubuh Alysa yang sedikit lemas. Alysa pasrah, sebenarnya ia tidak ingin diperiksa dan tubuhnya sudah begitu membaik. Namun, orang tuanya memaksa dan ia harus mengiyakannya.


"Bagaimana, Dok?" tanya Alysa saat mereka berdua di kamar.


Dokter yang beridentitas wanita itu langsung tersenyum sembari meletakkan alat stetoskop dan beberapa alat lainnya pada tas kecil. Alysa terheran-heran dengan Dokter itu. Kenapa Dokter itu tersenyum saat ia menanyakan keluhan apa yang di deritanya saat ini?


"Ibu tidak apa-apa, hanya perlu istirahat yang cukup aja. Terus pola makannya di jaga ya, Bu. Biar kondisinya semakin membaik."


"Jadi kesimpulannya? Saya cuma demam aja? Tapi, kemarin saya mual-mual dan pagi tadi pun sama."


"Selamat ya, Bu. Ibu sedang mengandung," ucap Dokter masih tersenyum. Alysa yang mendengar ucapan Dokter langsung membulatkan matanya tidak percaya. Ia benar-benar tidak percaya dengan yang diucapkan Dokter itu. Ia hamil? Benarkah? Bagaimana mungkin?


A-aku hamil? Ini beneran aku hamil? Alhamdulillah Ya Allah, aku bersyukur. Ternyata, aku masih bisa hamil lagi.


Alysa terisak, antara bahagia dan sedih. Bahagianya, ternyata ia akan menjadi Ibu kembali. Sedihnya, sosok suami dan penyemangat hidupnya tidak ada lagi di sisinya. Ia merindukan sosok suaminya itu yang dulu selalu memperhatikan kondisi dirinya saat hamil. Ia begitu mengurusnya. Namun, berbeda dengan kehamilan keduanya kini. Ia harus mengikhlaskan suaminya bersama dengan wanita lain.


Ia sedih dan tidak tahu apa yang akan terjadi kehidupan selanjutnya. Ia bingung jika nanti anaknya akan mempertanyakan Ayahnya sendiri. Ia harus menjawab apa?


Dokter itu segera menyelimuti Alysa, Alysa segera tersadar jika masih ada Dokter di kamarnya. "Ini beneran kan Dok, kalo saya memang hamil?" tanya Alysa meyakinkan.


"Iya, Bu. Tolong di jaga ya kandungannya. Kandungan muda sangat rentan keguguran. Harap, Ibu juga bisa memperhatikannya ya?" jawab Dokter. "Kalo begitu, saya permisi dulu." Dokter itu segera oergi setelah mendapat anggukan dari Alysa.


Alysa menyandarkan kepalanya pada ranjang, fikirannya kini tidak bisa ia kendalikan dengan baik. Ia kembali memikirkan Angga dan entah sampai kapan ini akan berlanjut. Apakah suaminya itu sudah bahagia bersama istri barunya? Sampai-sampai tidak mencari keberadaan dirinya. Alysa menangis, ia memikirkan nasib anaknya ke depan akan seperti apa. Apa dia bisa menerima kenyataan jika Ayahnya tidak akan pernah mencari keberadaannya kelak nanti.


Mas, dulu kamu sangat menginginkan aku hamil lagi. Sekarang, aku udah hamil lagi, Mas. Kamu senengkan? Pasti seneng banget kalo kamu tau. Apa kamu udah bahagia sama istri barumu? Semoga selalu bahagia ya, karena mau punya anak lagi. Kamu pasti sangat menyayangi anak itu. Tanpa kamu tau, aku sekarang lagi hamil anak kamu, Mas. Kamu pasti gak bakalan nyangka kalo aku hamil lagi. Aku sangat merindukan dirimu, Mas. Dulu, pas aku hamil, kamu sangat menjaga aku. Kamu manjain aku, apa yang aku inginkan, akan kamu penuhi. Tapi sekarang, kamu udah bahagia sama yang lain. Aku ikhlas kok, Mas udah bahagia sama yang lain. Tapi bagaimana dengan nasib anak kita nanti? Apa dia bisa menerima kenyataan, jika dia tidak punya seorang ayah? Pasti suatu saat nanti jika dia udah besar, dia akan menanyakan keberadaan dirimu. Aku harus bicara apa? Apa aku harus berbohong, jika Ayahnya tidak akan pernah kembali?


***

__ADS_1


BAB ini mengandung bawang😭Alysa, kamu pasti kuat tanpa sosok Angga❤


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya🤗❤


__ADS_2